Keajaiban baru saja terjadi. Tapi “keajaiban” terlalu bermakna positif. Karena aku tidak tahu bagaimana harus menanggapi apa yang baru saja terjadi. Sama sekali tidak tahu. Mendadak aku menjadi tontonan seisi koloseum, dan itu membuatku risi. Aku tidak pernah menyukai perhatian yang berlebihan.
Si pria gundul itu sama sekali tidak bergerak, terbaring dengan sedikit bebatuan yang jatuh dari dinding koloseum yang berbenturan dengan tubuh besarnya. Keheningan hanya bertahan untuk beberapa saat sebelum aku mendengar suara bisik-bisik di sekitarku. Mereka ini payah dalam hal bicara secara diam-diam ya?
Kepala Jemi menoleh ke arahku, matanya membulat. Yah, Jemi. Aku tahu. Aku juga terkejut.
“Ris, kok...?”
Aku hanya bisa menggeleng pelan. Karena sungguh, aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku bisa saja mati. Aku benar-benar akan mati. Aku sudah tamat. Hanya saja, di saat yang sama aku bisa merasakan jantungku berdebar, nadiku berdenyut kuat diikuti perasaan aneh yang yang sebelumnya belum pernah kurasakan.
Angin di tanganku memudar hingga akhirnya benar-benar sirna. Tanganku berubah kosong. Bisikan-bisikan yang kudengar semakin kuat, namun dalam tiga detik berikutnya semua suara itu hilang, digantikan langkah kaki berat berikut bunyi baju zirah yang bergesekan. Lima tentara sudah membawa tombaknya, berjalan menuruni tangga hingga sampai ke boks tempatku berdiri.
Jordanius yang awalnya hanya diam kini bergerak untuk melepas tudungnya, meletakkannya sembarang di lantai boks.
“Jangan buat aku memulainya,” teriaknya. Sebelumnya aku sempat bertanya apa kira-kira kekuatan Jordanius, dan kurasa sekarang aku mulai menemukan jawabannya. Kedua tangannya mengepal, memunculkan sinar yang semakin lama semakin terang. Hanya dalam hitungan detik, tangannya yang kosong sudah menggenggam sesuatu yang kelihatan tajam dan berbahaya.
Listrik. Dan sekarang Jordanius menggenggam petir.
Semakin lama, petir itu membesar, dan ujung-ujungnya yang menyambar seolah duri yang ingin menyentuh baju bahkan kulitku. Aku baru saja ingin mundur, namun satu suara menghentikkan gerakanku. Dan mungkin bukan hanya aku, tapi semua orang.
“Pangeran Jordanius Levant, matikan!”
Itu teriakan. Teriakan yang begitu memerintah.
Dari balik lima tentara itu muncul seseorang. Aku belum pernah melihat ratu sebelumnya, tapi aku yakin itu pasti dia. Ini bukan hanya soal mahkota berwarna emas menyala. Tapi ini soal dirinya. Auranya. Dia ratu, dan sesuatu dalam diriku merasa tertindas hanya dengan presensinya.
Hanya dalam hitungan detik, kilat yang berasal dari Jordanius seketika hilang. Jordanius diam—bahkan mematung. Semua orang seketika membungkuk. Jemi langsung menepuk punggungku, membuatku ikut membungkuk. Kualihkan kepalaku sedikit untuk melirik Jordanius. Hanya dia yang tidak membungkuk—jika tentara tidak dihitung. Jordanius kelihatannya tidak menyukai ini.
Awalnya aku kira dia takut, itu sebabnya dia mematikan listrik yang ada di tangannya. Jelas, aku salah. Itu bukan keinginannya. Karena jika memang begitu, tidak seharusnya Jordanius memasang raut wajah kesal. Tidak. Tidak. Itu bukan hanya kekesalan.
Itu dendam.
Ratu tidak lagi bicara pada Jordanius. Dia justru menyuruh para tentara untuk menangkap Jordanius, sementara Jordanius sama sekali tidak bergerak.
“Bawa dia,” kata Ratu. Hanya dua kata dan itu terdengar menakutkan. Apa hanya perasaanku saja?
Tiga tentara bergerak untuk membawa Jordanius, dan di situlah Jordanius akhirnya bergerak. Hanya saja sebelum mereka sempat berbalik, suara Ratu lagi-lagi terdengar.
“Bawa gadis itu juga.”
Aku mencoba untuk mengangkat kepala, memandangi sang ratu. Semua yang kurasakan ini serasa mimpi. Tapi ketika menatap mata ratu, aku tahu apa ini. Mimpi buruk.
Dan ini jelas bisa bertambah buruk.
*
Ibu pernah beberapa kali mendongeng padaku, tapi cerita si gadis yang tiba-tiba beruntung dan diundang ke kerajaan adalah dongeng yang paling kuingat hingga saat ini. Dulu aku bilang bahwa gadis itu pasti beruntung, dan pasti akan menyenangkan karena mendapat kesempatan untuk menghabiskan waktunya di kerajaan bersama pangeran terkenal yang tampan.
Tapi aku tahu sekarang. Cerita memang tidak pernah seindah kenyataan. Karena aku sama sekali tidak merasa beruntung. Justru, aku merasa kebalikannya.
Lagi pula, hei, memangnya siapa yang merasa beruntung datang ke kerajaan dengan dua tentara di kiri dan kanan yang siap menjepitmu. Bahkan hanya dengan tubuh besar mereka aku yakin bisa kehilangan diri sendiri. Dan lagi, ini kerajaan yang seharusnya tidak kudatangi. Sejak awal, aku memang salah.
Ibu bilang jangan bermain dengan api jika tidak ingin terbakar.
Tapi, tunggu. Di sini bahkan ada si penghasil api. Si Jenderal Vic--oh, maksudku Victor. Dia datang tak lama setelah aku dan Jordanius dibawa ke hadapan raja—ayahnya Jordanius. Dan sekarang Victor menatapku seolah dia senang aku berada di sini. Yang, yah, bisa diartikan dia senang karena aku sial.
Aku salah apa memangnya padamu, Jenderal?
“Kau akan dihukum karena mencoba melakukan hal bodoh lagi, Pangeran Jordanius,” suara Raja Levant terdengar tegas. Beberapa pengawal kemudian bergerak untuk membawa Jordanius pergi, meninggalkanku tersisa sendirian untuk diadili.
Aku memilih untuk menundukkan kepala ketimbang melihat ekspresinya. Tapi nyatanya, aku tetap disuruh untuk mengangkat kepala dan menatap apa yang kuhindari. “Dan kau, Nona Oriane....”
“Ya, Raja?” Meski sudah menahan diri, aku tetap tidak tahan untuk merapatkan bibir, merasa terintimidasi. Alis tebal dan mata Raja Levant benar-benar memberikan kesan itu, bahkan dipertegas. Bisa saja aku dibunuh di tempat dalam beberapa detik lagi. Jelas statusnya sebagai raja membuatku seharusnya takut. Bahkan orang biasa seperti si gundul itu—dia orang biasa kecuali jika dia penjahat sekaligus mantan pengasuh Jordanius, itu penjelasan yang bisa kudapatkan ketika mereka menangkapnya—punya kekuatan yang seram. Mungkin raja ini punya kekuatan menghancurkan manusia jadi kepingan.
Aku bahkan tidak ingin membayangkannya.
Namun di sisi lain, aku mulai memikirkan lagi kemunculan angin itu. Apa itu akan muncul lagi? Bagaimana sebelumnya dia bisa muncul? Kok aku bisa...
“Kurasa kau butuh penghargaan karena sudah menyelamatkan seorang pangeran.”
Tunggu. Tunggu dulu. Apa katanya?
Mataku mengerjap beberapa kali, mencoba untuk mencerna apa yang baru saja Raja Levant katakan. d**a yang sebelumnya berdebar seketika berhenti, dan satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah merasa d***u.
Ini sesuatu yang berada di luar dugaanku. Kurasa Ratu pun berpikir begitu, karena keningnya mengerut atas keputusan yang Raja Levant ambil. Hanya saja kerutan kening yang dalam itu tak berlangsung lama, dan tatapan Ratu kembali datar, seperti biasanya. Tinggal tersisa aku yang tidak mengerti dengan situasi ini.
Raja Levant yang sebelumnya berdiri kini kembali duduk di tahtanya, tangan bergerak menopang dagu. “Lagi pula, kau anak Panglima Theodore Oriane. Kekuatanmu sama persis sepertinya.”
Tolong jangan bahas kekuatan itu. Aku sama sekali tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu bagaimana kekuatan Ayah—hanya pernah melihatnya sekali. Dan sekarang Ayah bahkan tidak ada kabar.
“Victor juga sudah mulai sibuk dengan persiapan pengangkatannya, jadi kurasa Jordanius membutuhkan penjaga baru,” tutur Raja Levant lagi. Terima kasih banyak, karena itu justru menambah kebingunganku. Penjaga apa lagi sih? “Bagaimana menurutmu, Victor?”
Aku mengarahkan tatapanku ke arah Victor yang berada tak jauh dariku, di sebelah kanan. Aku harap aku punya kekuatan yang sama seperti Nenek. Dengan begitu aku bisa bilang dan minta tolong pada Victor untuk mengatakan...
“Kurasa itu saran yang bagus, Paduka.”
Hah?
Mataku sontak melotot, dan di saat yang sama Victor menoleh ke arahku. Kedua alisnya terangkat, namun dia tersenyum. Senyum yang sama sekali tidak bersahabat untukku. Dan seakan belum cukup, Victor kembali bersuara, “Jika dibutuhkan, aku bisa mengajarinya secara pribadi. Sebagai seorang wanita dia punya potensi yang kuat yang bisa dikembangkan. Pangeran Jordanius pasti aman bersamanya.”
“Aku setuju dengan Victor.” Kali ini giliran Ratu yang membubuhi komentar, dan itu membuat Raja Levant puas. Tiga suara melawan satu. Aku bahkan ragu jika aku punya hak untuk bersuara dari awal.
“Kalau begitu, kau akan mendapat pelatihan khusus, Nona Oriane.”
“Tapi,” entah darimana tapi suaraku keluar begitu saja, “Ne—maksudku Nyonya Oriane...”
“Itu bukan masalah. Dia pengajar di sini. Dia pasti tidak bermasalah jika cucunya akan masuk ke kelas bersama Pangeran. Itu justru kehormatan.”
Masa bodoh dengan kehormatan. Aku tidak ingin lebih banyak terlibat. Mengalami kejadian aneh dengan orang-orang berkekuatan ini membuatku ingin pulang. Tempatku bukan di sini. Tapi tempatku juga jelas bukan lagi di Kerajaan Bulan. Terlebih dengan kekuatan yang muncul dari tanganku... entahlah. Aku jelas bukan penduduk Kerajaan Bulan.
Tidak ada pilihan. Hanya ada satu opsi, dan “pilihan” seharusnya punya lebih dari satu. Yang bisa kulakukan hanyalah membiarkan Raja Levant mengambil keputusan. Tidak ada sanggahan, bantahan, apalagi penolakan. Raja kemudian mempersilakan—atau mengusir, entahlah—aku keluar ditemani Victor.
Kami berjalan keluar, dengan Victor yang sudah ada di depan dan aku mengekori dari belakang. Begitu melangkah keluar melalui pintu dan kembali merasakan udara luar ruangan, suara Victor terdengar.
“Kau beruntung. Panglima Theodore Oriane punya nama bagus. Kau pasti akan punya relasi bagus di sini, terlebih dengan kekuatanmu itu.”
Aku tahu itu pujian. Itu sesuatu yang bisa menenangkanku. Bagaimanapun, posisi memang hal yang krusial, dan Ayah memberikan kemudahan akan hal itu. Namun di sisi yang sama, itu membuatku terbebani. Karena, tidak, yang Victor katakan tidak akan semudah itu. Keberuntungan yang sama jelas tidak datang dua kali. Tidak pernah dalam hidupku.
“Yang itu kebetulan!” jeritku pada akhirnya, membuat Victor berbalik. Dia menatapku dengan sebelah alis yang terangkat, membuatku menelan ludah susah payah.
“Aku... tidak tahu aku punya kekuatan.”
Kening Victor justru melipat, makin dalam. “Hah? Maksudmu tidak tahu? Tapi kan semua penduduk Kerajaan Matahari memang punya kekuatan.”
Sial. Aku salah bicara. []