Matahari merangkak naik seiring kedua bola mata indah itu terbuka. Ternyata dia masih di tempat ini. Dan, kemarin bukan mimpi. Semua yang telah dilakukan adalah kenyataan. Pahit jika mengingat semuanya, bahwa dirinya hanyalah sosok yang hadir karena mereka membutuhkannya. Atau lebih pahit—ia hanya dimanfaatkan. Aera menghela napas berat, mencoba mengais sedikit ketenangan yang sempat hilang. Padahal, seharusnya dia bangun dengan wajah yang ceria, sebab ritual pertama berhasil. Bukankah itu yang ia harapkan? Lalu mengapa tampak murung?
Kemudian pintu kamarnya diketuk, pun dengan lesu—Aera melangkah untuk membuka pintu kamarnya. Terkesiap saat melihat sosok yang begitu gagah itu berdiri di hadapannya.
"Aku sudah baik bukan? Mengetuk pintu seperti manusia." ujar Taehyung tanpa ekspresi, membuat Aera merotasikan matanya. "Ada kepentingan apa?"
"Apa harus mempunyai kepentingan agar aku bisa datang menemuimu?" Taehyung malah bertanya balik.
Untuk kedua kalinya, Aera menghela napasnya. Mengalah dan mempersilahkan si Kim itu masuk ke dalam, dengan hati yang belum membaik—Aera masih gelisah. Entah apa yang ia pikirkan, dan Taehyung mengetahui itu. Menyadari raut wajah Aera yang murung.
"Nanti sore, temani aku ke Llovera." Taehyung menatap Aera dengan tatapan mata yang mengisyaratkan. 'kau harus mau.'
Pun wanita itu tak sedikitpun takut. Kembali berubah menjadi Aera yang dahulu—suka sekali membantah dan keras kepala. Dia melangkah lebih mendekat pada Taehyung. Setidaknya cukup membuat si Kim menahan agar matanya tak berkedip.
Aera tersenyum miring. "Itu hutan bagian utara bukan? Kenapa minta ditemani olehku? Kenapa tidak minta---,"
"Jangan banyak bertanya dan ikut saja." kalimat itu benar-benar dingin, Aera agaknya lupa kalau Taehyung benci dibantah.
Taehyung membenci yang namanya penolakan, kau tahu?
Namun, Kim Aera ini kerap sekali memusingkan kepalanya. Semalam, Taehyung juga banyak memikirkan sesuatu. Tentang dirinya dan Aera. Apakah benar dia jatuh cinta? Apakah juga benar Aera sebaliknya merasakan hal yang sama?
Memikirkan cinta saja sudah rumit apalagi memikirkan keduanya bisa bersama.
"Tapi aku juga berhak---,"
"Pergilah mandi. Kau bau." Taehyung menyela ucapan Aera lagi, berlalu pergi dari kamar.
Amarah penyihir cantik itu pun terpancing. "Kau—vampire menyebalkan!" pekiknya kesal setengah mati.
Diam-diam tak jauh dari kamarnya, Taehyung tersenyum kecil. Mengganggu Aera menjadi hobi barunya sekarang.
*****
"Lanna juga datang ke pesta yang diadakan Volturi. Kau berikan saja sendiri." Yoongi bahkan tidak mau melihat ke arah Taehyung, ketika pria itu hendak memberikan kotak kecil padanya.
Sedangkan, Taehyung hanya bisa kembali menaruh kotak itu di dalam sakunya. Sudah bisa menebak jika hyungnya yang satu ini tidak mau membantu.
Pun dirinya tak tahu Lanna juga datang. Sekelompok vampire yang paling ditakuti itu juga tidak biasanya mengadakan pesta dan mengundang makhluk lain—seperti incubus. Perasaannya saja atau memang ada hal yang aneh? Taehyung diam dengan lamunan di kepalanya.
"Lagipula ulangtahunnya sudah lewat." lanjut Yoongi, segera membuyarkan lamunan Taehyung. "Tidak perlu memberinya hadiah. Kalian berdua tidak bisa bersama."
"Aku tahu, hyung." Taehyung menjawab lesu. "Apa salah? Aku ingin menjadi temannya."
"Kalimatmu itu bisa dipercaya tidak?" Yoongi terkekeh sinis. "Aku bisa merasakan semua perasaanmu. Hanya dengan melihat matamu, Kim Taehyung."
Bagaimana bisa ia lupa? Yoongi memiliki keahlian membaca emosi—seketika Taehyung terdiam membeku, tak berani mengatakan sepatah kata lagi. Mengundang, Yoongi untuk menyindirnya.
"Pikirkan ritualmu besok. Jangan memikirkan adikku yang tak bisa kau miliki."
"Aku tidak memikirkan dia, hyung!"
"Masih juga mengelak?" Yoongi menekan setiap kalimatnya, sampai Taehyung tak berani lagi membantah. "Kau tahu yang tertulis di buku itu? Kau tidak boleh mengingat apalagi memikirkan oranglain saat ritualnya berlangsung. Aku mengatakan ini karena semua demi kebaikan kita, Taehyung. Dan kebaikan Aera."
"Ya, aku memahami semuanya." memejamkan matanya, Taehyung lalu menatap Yoongi serius. "Aku pun berharap ada sesuatu yang baik terjadi. Hal yang tidak mungkin pasti bisa menjadi mungkin bukan?"
Kini, giliran Yoongi yang terdiam. Entah mengapa Yoongi sulit membaca emosi Taehyung saat ini. Namun, secuil rasa yang dapat ia baca—jika Taehyung bersungguh-sungguh dengan kata-katanya.
*****
Sejak tiba di Llovera, Aera sama sekali tidak berniat berbicara. Seolah bibirnya terkunci. Selama perjalanan pun, Taehyung tidak berbaik hati mengajaknya menggunakan transportasi manusia. Semacam mobil misalnya? Atau yang lebih sederhana, menaiki seekor kuda. Tidak sesuai ekspetasinya. Pria vampire itu mengajaknya berlari dengan kekuatannya. Sehingga menyebabkan tatanan rambut Aera berantakan.
"Apa yang kau lihat?"
"A-apa?" gugup, Aera.
"Maksudku, kau lihat itu?" Taehyung menunjuk salah satu burung yang melintas, terbang melewati mereka. "Warna bulu disayap burung tadi? Apa warnanya?"
"Abu-abu?"
Taehyung berdecak. "Ternyata kau penyihir sungguhan."
"Aku memang penyihir!" kesal, Aera.
"Malam ini aku mau kau bersikap seperti vampire. Jadi, mendekatlah."
"Apa yang kau lakukan?!"
"Berlebihan sekali. Kubilang mendekat." pinggang Aera ditarik pelan oleh Taehyung, jarak mereka begitu dekat. Detik yang berlalu sampai harus memaksa Aera mengontrol deru napasnya. "Kupikir setelah melakukan ritual kemarin. Kau bisa sama denganku."
"M-mana bisa seperti itu!" Aera spontan memekik karena gugup.
Jantungnya tidak baik-baik saja sekarang. Bahkan saking berlebihannya, Aera lupa caranya bernapas. Didekat, Taehyung si vampire dengan segala pesona ini. Siapa yang tahan?
"Warna sayapnya biru." kata Taehyung seraya meniup telinga Aera. "Kau tidak bisa masuk ke dalam kalau tidak menyamar."
"Jadi, apa yang mau kau lakukan?" Aera mati-matian tak mau melihat ke mata Taehyung. Telinganya ditiup pun sudah hampir meruntuhkan jantungnya.
Melihat kegugupan Aera, Taehyung melepas lingkaran di pinggang berganti dengan dirinya yang memegang pergelangan tangan Aera. Haruskah dia berkata—Aera cantik hari ini? Dalam gaun berwarna hitam yang tampak sederhana itu, Aera terlihat cantik sekali. Serasi dengan warna kemeja Taehyung.
Beberapa detik Taehyung mengamati Aera, hingga Aera perlu menepuk pelan pipinya. "Taehyung?"
"Ah, ya?" merasa kikuk, Taehyung mengusap tengkuknya. "Minumlah sedikit darahku. Kau pernah meminumnya waktu itu kan?"
"Iya, tapi itu dicampur darah hewan. Rasanya tidak enak."
"Minum sedikit, Aera. Atau gunakan cara yang kedua? Kau pasti menyukainya." seringai Taehyung adalah hal yang paling Aera benci. Perasaannya berubah cemas dengan melihat itu. "Cium aku."
Tidak diberi kesempatan berkata lagi, sebab di detik yang sama seusai Taehyung berkata demikian. Bibirnya dibungkam dengan lemah lembut. Detik pertama memang Taehyung menciumnya lembut sekali hingga Aera tidak sadar, Taehyung menggigit lidahnya sendiri. Cara yang licik. Tentu saja, Aera secara tidak langsung meminum darahnya lewat ciuman itu.
Tangan Aera terangkat lemah, mendorong d**a Taehyung. "Sudah, cukup." ujarnya dengan napas terengah, energinya selalu terkuras habis setiap Taehyung menciumnya.
Oh sial, dia malu sekarang.
"Bagaimana? Enak?"
Ingin berteriak memaki rasanya, saking sebalnya tapi Aera memilih diam. Taehyung tersenyum penuh kemenangan.
Karena, Aera tetap diam. Taehyung terlebih dahulu mengaitkan tangan Aera di lengannya. "Selain burung, warna daun di pohonnya?"
"Bukan hijau tapi berwarna emas?"
Daunnya mirip dengan daun di musim semi. Memanjakan mata dan membawa Aera dalam ketenangan.
"Bagus. Kau sekarang bisa kusebut vampire jadi-jadian." Taehyung menyengir tanpa rasa bersalah, mengacaukan keindahan Llovera yang sedang Aera nikmati.
Sontak, Aera memukul pundak si Kim keras-keras. "Kau ini menyebalkan sekali! Aku membencimu!"
Sayangnya, Aera tak pernah tahu apa yang bisa Taehyung lakukan—karena yang terjadi selanjutnya, tangan Aera ditarik kedepan membuatnya jatuh di pelukan Taehyung.
"Kurasa kita tidak usah ke pesta yang diadakan Volturi. Aku mau menculikmu ke suatu tempat. Sebelum red moon, aku hanya ingin memikirkanmu Aera." bisik Taehyung di telinga Aera.
"Buat diriku tidak bisa berhenti memikirkanmu."
Katakan dugaan Aera salah, bukannya dipeluk Taehyung justru menciumnya lagi. Bahkan kali ini ciumannya begitu memabukkan. Seakan waktu ikut berhenti menyaksikan bagaimana indahnya kedua pasangan berbeda itu. Keduanya berbeda tapi perbedaan itulah yang menyatukan.
[]