Satu jam lagi ritual pertama akan dimulai. Dan, Taehyung sudah merasakan masa heat nya datang. Tubuhnya terasa panas. Taehyung bahkan tidak berani menemui Aera lagi karena takut terjadi hal yang bahaya. Bukannya dia berlebihan. Tetapi memang Aera haruslah berjauhan dulu dengannya. Kalau tidak—bisa-bisa Taehyung menyerang. Tidak tahu juga vampire ternyata memiliki masa heat. Well, berbeda dengan heat manusia serigala yang pada saat mengalami itu, manusia serigala ingin segera melakukan klaim dengan matenya.
Sedangkan, vampire tidak. Vampire akan mengalami heat saat full moon. Dimana saat itu, vampire yang sudah mempunyai pasangan tidak dianjurkan melakukan klaim. Mereka terlebih dulu berdiam diri untuk menyempurnakan kekuatan. Disaat waktunya red moon, barulah vampire mengklaim pasangannya.
Akan tetapi, pada kasus Aera dan Taehyung. Mereka berdua tentu bukan pasangan. Aera adalah penyihir yang terpilih untuk membantu ketujuh vampire itu lepas dari kutukan. Ketika red moon sudah tiba, keduanya tetap melakukan ritual penyatuan guna menyatukan kedua kekuatan.
Aera sendiri sampai detik ini masih tidak mengetahui—kekuatan alami apa yang ia miliki sehingga dapat membantu Seokjin dan adik-adiknya. Dia tidak sehebat itu. Dia malah berpikir dirinya penyihir payah.
Sekarang, Aera tengah duduk sendirian di ruang tengah. Menunggu yang lain datang. Mereka bilang—mempersiapkan sesuatu di salah satu ruangan. Entah apa—yang jelas Aera ingin ritual pertama ini cepat selesai. Dan mengapa dua hari itu terasa lama? Apa dia sibuk menunggu? Ataukah tidak sabar lagi? Astaga! Aera seketika mengetuk kepalanya sendiri dengan telapak tangan.
"Kelihatannya kau gugup?" suara Jungkook dari belakang terdengar, pria itu melangkah menghampiri Aera. "Aku benar?"
Aera memejamkan mata seraya menarik napasnya dalam. "Aku gugup karena tidak pernah melakukan ini sebelumnya."
Pribadi yang memakai jubah hitam itu berdiri di hadapan Aera, lalu menampilkan senyuman manisnya. "Kau tenanglah. Tugasmu hanya berbaring nanti. Sisanya kami yang lakukan."
"B-berbaring?" Aera terkejut. "Berbaring maksudnya seperti apa?"
"Kau jangan salah paham." Jungkook terkekeh. "Aku dan para hyung akan membentuk lingkaran. Seperti menyatukan kekuatan kami. Kekuatan itu nantinya di alirkan ke dalam tubuhmu."
"Aku tidak mengerti, Jungkook." ujar Aera, putus asa.
Dari arah lain, datanglah Namjoon dan Taehyung. Tentu, Namjoon melihat wajah adiknya yang berubah kesal. "Ingat, jangan dekat-dekat dulu. Jangan membantahku dan pakai cincinmu."
Taehyung memutar bola mata. "Ini sudah kupakai, hyung." menunjukkan cincin biru itu di jari manisnya. "Kuakui cincin ini hebat. Rasa panas di tubuhku hilang."
"Tapi... Aku tidak bisa terus menerus melihat kelinci itu mendekati Aera."
"Lho, kenapa memangnya? Kau cemburu?"
Tidak ada jawaban. Taehyung memilih berjalan mendahuli Namjoon membuat pria berlesung pipi itu tertawa kecil. Oh ayolah, umur mereka sudah sangat tua. Namjoon pastinya tahu jika Taehyung sungguh cemburu.
*****
Seokjin menyiapkan beberapa lilin yang di taruh di dekat ranjang kecil. Disana juga ada Hoseok dan Yoongi tengah mengaduk darah seekor rusa. Tadi sore mereka berdua berburu. Biasanya, Yoongi itu malas sekali diajak berburu tetapi karena ini demi ritual dan demi kebaikan semuanya—dia berbesar hati. Diantara mereka, Yoongi cukup disegani. Sebab, dia pribadi yang jarang berbicara dan sangat tenang.
"Sudah selesai?" Seokjin bertanya. "Lima menit lagi dimulai. Katakan pada yang lain, masuklah ke dalam."
Mau tidak mau Hoseok yang keluar memanggil saudaranya, melihat tatapan Yoongi seolah berkata 'kau saja.' baiklah, Hoseok mengalah. Dia tidak mau Yoongi hyungnya itu marah. Pernah kala itu, ketika Hoseok tidak mau dimintai Yoongi membersihkan halaman rumah mereka, Yoongi mendiamkannya satu minggu penuh. Bukan tidak mau atau apa—halaman rumah mereka begitu luas. Hoseok mana sanggup membersihkan seorang diri. Jadilah hari itu Hoseok meminta maaf pada Yoongi, tidak dimaafkan dengan gampang, Hoseok bahkan merelakan motor sport terbarunya untuk Yoongi. Sudah kapok. Tidak akan lagi memancing Yoongi marah, bisa bangkrut Hoseok.
Memanggil Jimin dengan berbisik, Hoseok melambaikan tangannya. "Jim, dimana mereka?"
"Masih di bawah. Aku panggilkan nanti. Hyung tunggu saja di dalam."
Oh terimakasih Jimin adikku! Ingin berkata semanis itu—tapi Hoseok gengsi. Pria itu mengangguk, tersenyum ceria untuk Jimin.
Sesampainya di lantai bawah, disana hanya ada Jungkook dan Aera. Lalu kemana perginya dua orang lagi? Pun ia langsung bertanya. "Kook, dimana Namjoon hyung dan Taehyung?"
"Tadi kulihat ada di sekitar sini."
"Ah, menyusahkan!" gerutu Jimin. "Naiklah kesana bersama Aera. Biar aku yang mencari dua vampire itu."
Jimin kalau sudah kesal terlihat menyeramkan. Jungkook dapat melihat rahang pria itu sedikit mengeras. Maka tanpa banyak berkata lagi, Jungkook meraih tangan Aera. "Ayo, noona." katanya, lembut.
Noona katanya? Tidak salah dengar? Memangnya aku lebih tua darimu! Batin Aera merasa aneh.
*****
Cukup menguras emosi memaksa Taehyung untuk segera bergegas. Pasalnya, Taehyung tampak sekali malas-malasan. Jimin sampai perlu menendang kaki si Kim itu saking kesalnya. Yang terjadi hanya saling bertatapan kelewat tajam, tidak ada pertengkaran memang. Namun setidaknya Seokjin perlu berdehem keras-keras agar kedua vampire itu berhenti berperang lewat mata.
"Baiklah, Taehyung dan Jimin. Tolong jangan memancing keributan." kata Seokjin memperingati. "Kita harus bersatu malam ini. Tidak ada yang boleh menyimpan amarah."
Yoongi menambahkan dengan santai. "Dan Jungkook, apa yang kau lakukan sampai Taehyung kesal padamu?"
Sepertinya, Taehyung lupa jika hyungnya yang satu itu mempunyai keahlian membaca emosi.
"Aku?" Jungkook menunjuk dirinya sendiri. "Kurasa tidak ada. Memangnya kesalahanku apa?" mata bulatnya begitu polos mengerjap kebingungan.
"Sudah, ayolah kapan kita mulai!" Jimin berseru. Kebetulan, Aera masih berdiri kaku disebelahnya—bingung hendak berbuat apa.
Pada akhirnya, Seokjin menghampiri Aera dan menepuk pelan pundak wanita itu. "Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Asal kau mau mengikuti ritual ini sebaik mungkin."
"Maaf, aku masih bingung." Aera menunduk. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan? Apa---,"
"Berbaring disana. Tidak ada yang harus kau lakukan." Taehyung berujar tegas. "Kau mau ini cepat selesai bukan? Dan dengarkan perintahku."
Aera semakin menunduk, tidak berani menatap Taehyung. Dia mendadak berubah penakut dan tidak memberontak seperti biasanya.
"Hyung, jangan terlalu keras padanya." Jungkook melihat Aera pun tak tega. "Oh, kau membelanya? Kau menyukai Aera?!" ditanya dengan nada tinggi begitu, Jungkook tersulut emosi. "Jika aku menyukai Aera, apa urusanmu?!"
"Beraninya—kau!"
"Berhenti bertengkar!" Yoongi berteriak, sejak tadi dia diam. Emosinya ikut tersulut. "Mengapa kalian kekanakan begini?!"
Karena Aera berdiri di tengah Jimin dan Jungkook, Jimin spontan saja mengusap punggung penyihir cantik itu—bermaksud menenangkannya. "Tenang, oke?" bisik Jimin.
Situasi berubah mencekam dan tidak ada pilihan lain bagi Seokjin selain membujuk Taehyung. Begitu tahu jika sebenarnya Taehyung diam-diam mulai tumbuh perasaan pada Aera.
Geram menunggu lama, Yoongi menarik tangan Aera, tidak terlalu kasar tapi mengejutkan Aera. Taehyung melihatnya tak bisa lagi mencegah, tangannya sudah dicengkram erat oleh Seokjin.
"Sekarang kau tidak usah takut." Yoongi berkata sebab dia merasakan ketakutan Aera. "Ini tidak akan lama."
"Berbaringlah, Aera." ucap Hoseok, tak lupa tersenyum agar Aera tak lagi takut.
Seusai menunggu Aera berbaring di ranjang kecil itu. Ketujuh vampire tersebut menjauh dari Aera. Tampak membicarakan sesuatu. Sialnya, Aera tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Dalam hati—Aera berulang kali berharap agar semua ini berjalan cepat.
Terdengar bunyi lonceng yang bergema, pertanda waktunya tiba. Ini perasaannya saja atau Aera merasa—ada sesuatu yang berbisik di telinganya. Tidak begitu jelas. Tapi bisikan itu sangat ramai. Hal yang seketika membuat Aera kehilangan kesadarannya.
"Apa dia tidak apa-apa?" Taehyung khawatir. "Dia pingsan atau tidur, hyung?"
"Tidak apa-apa. Aku sengaja membuatnya tertidur." Seokjin menjawab enteng.
"Hyung bercanda? Bukankah selama ini hyung tidak mempunyai keahlian apapun?!" segala rasa khawatir dan takutnya memuncak. Taehyung hampir saja marah. Kalau bukan Hoseok yang dengan cepat menenangkan adiknya.
Tak ada yang berani bicara. Seokjin selaku yang katanya tidak ada keahlian apa-apa pun bungkam. Yoongi sebagai kakak tertua kedua juga tidak ada niat menjelaskan. Maka tinggal lah Namjoon yang terpaksa membuka suara.
"Selama ini hyung merahasiakan kekuatannya darimu." Namjoon menghela napas berat. "Dia takut kau pergi meninggalkan kami."
"Jadi selama ini kalian semua membohongiku?!" bentak, Taehyung.
"Bisakah kita mulai ritualnya?! Tidak ada waktu lagi membahas diriku!" kedua mata Seokjin berubah semerah darah—pria itu benar-benar marah.
Dalam waktu seketika semuanya terdiam. Melihat dengan jelas betapa menyeramkannya Seokjin dilanda amarah. Urat ditangannya menonjol. Di sebelah kanan pria itu, Yoongi dapat merasa hawa panas kemarahan Seokjin.
"Kita mulai dan kumohon kalian semua tenang." Yoongi mewakilkan Seokjin memimpin jalannya ritual. "Dan, Seokjin hyung lebih baik tenangkan dirimu sebentar."
"Tidak perlu." Seokjin menarik napasnya. "Aku bisa mengontrol emosiku sendiri." kemudian tatapannya beralih pada Taehyung. "Lepas cincin biru itu."
"Hyung, tapi---,"
"Namjoon, sebenarnya aku ini siapamu? Kau tidak percaya?"
"Bukan begitu. Apakah bisa? Dia sedang dalam masa heat, hyung." Namjoon melirik cemas. "Bagaimana kalau dia menyerang Aera?"
"Dia tidak bisa menyerangnya." Seokjin percaya diri mengatakan itu. "Kalau tidak di lepas, kekuatannya tidak bisa menyatu."
Tanpa ragu lagi Taehyung melepaskan cincinnya. Tepat saat itu, tubuhnya sangat panas. Seolah dalam dirinya bukanlah sosok Taehyung lagi—ada sesuatu lain yang memacunya untuk menyerang Aera. Sayang, dia tak bisa menyerang apalagi mendekat. Disana—matanya melihat ada cahaya merah yang melindungi Aera. Sebuah perisai yang menghalangi dirinya untuk menyentuh penyihir itu.
*****
Yang lainnya berusaha mencari ketenangan guna untuk menyatukan kekuatan mereka. Disisi lain, Taehyung mati-matian menahan gejolak rasa panas dalam tubuhnya. Begitu menyiksa hingga Taehyung beberapa kali berteriak. Mengganggu konsentrasi mereka yang sedang berpegangan tangan, membentuk lingkaran di tengah Aera.
Sampai pada detik selanjutnya, diwaktu yang sama cahaya merah yang mengelilingi Aera hilang. "Hyung! Jangan!" Jungkook berteriak, kala Taehyung hendak menuju Aera—tentu dengan taringnya yang sudah muncul. "Jangan lakukan itu!"
Sebagian dirinya menolak, dan sebagian lagi memaksa Taehyung untuk segera menggigit Aera. Dia merasa panas, haus, dan lapar.
"Biarkan dia." kalimat Seokjin sontak menyadarkan Taehyung. "Aku ingin melihat seberapa besar dia mencintai penyihir itu."
Akal sehat Taehyung bekerja cepat. Ada yang tidak beres disini. Ada yang aneh dari kakaknya itu. "Kau mau aku membunuhnya, hyung?!" detik itu juga, Taehyung berteriak marah. "Kau sudah gila?! Bagaimana bisa kau merencanakan hal gila ini! Dan ritual red moon itu---,"
"Red moon tetap dilakukan!"
"Lalu mengapa kau mau membunuhnya!"
"Karena aku tidak bisa membiarkan kejadian di masa lalu terulang!" Seokjin berteriak keras, secepat angin dia menghampiri Taehyung dan mencekik lehernya. "Aku tidak mau kau dan Aera bersatu!"
Seluruh saudaranya terbelalak melihat itu. Tanpa mereka sadari—di detik jam yang sama, Aera membuka kedua matanya. Melihat Taehyung disakiti, dia mengarahkan kekuatannya untuk menyerang Seokjin. "Jangan sakiti, Taehyung!" teriakan Aera bergema, diikuti kekuatannya yang membuat Seokjin terpental jauh. Vampire itu meringis kesakitan ketika punggungnya menabrak pintu.
Bagaimana bisa itu terjadi? Mereka semua bertanya-tanya dalam benak. Sekaligus terheran melihat Kim Aera tersadar dan membantu Taehyung berdiri.
"Taehyung, kau baik-baik saja kan?" Aera bertanya penuh kecemasan. "Menjauh, Aera. Aku tidak mau menyakitimu."
"Ritualnya berhasil." di sebelah Hoseok, Yoongi berkata sedingin angin malam. "Semua kekuatan kami sudah terkumpul dan di alirkan pada Aera. Itu mengapa dia bisa membantumu. Dan aku tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba terbangun."
"Apa karena dia sudah terkoneksi dengan Taehyung?" Namjoon menebak. "Dan bagaimana bisa? Dia bukan vampire seperti kita."
"Atau jangan-jangan, Aera..." Hoseok seketika merinding. "Dia berubah menjadi vampire?"
Yoongi terlihat lelah sekali. Lantas dia berjalan menghampiri Aera dan Taehyung. "Aera, sewaktu kau diculik Luxe. Dia memberikanmu sebuah kotak putih bukan? Apa kau sudah membukanya?"
Pria Min itu tahu sebab dia tidak sengaja melihat Aera membawa kotak putih sewaktu pulang kemari. Yoongi menebak kotak itu tidaklah penting—faktanya jika dilihat, kotak tersebut menyimpan sesuatu di dalamnya.
"S-sudah. Aku menemukan sebuah kalung dan ini aku memakainya." Aera menunjukkan kalung berbentuk bulan purnama yang melingkar di lehernya.
Jungkook terkejut bukan main melihat kalung itu. "Kalung itu—kalung yang sama seperti ibu!"
"Sebenarnya ada apa ini?" kepala Taehyung begitu pening.
Yang tahu jawaban ini, tetap diam tengah memulihkan kondisinya. Seokjin terbatuk-batuk, "T-tidak mungkin."
"Apanya yang tidak mungkin, hyung?!"
Walaupun Taehyung lemas, dia masih bisa mengendalikan kekuatannya. Melangkah begitu cepat menghampiri Seokjin, dan menarik kerah baju pria itu. "Jelaskan apa yang terjadi?!"
"Aera... Dia sama seperti ibu." Seokjin mengacak rambutnya.
"Hyung, bercanda!" Jungkook marah, dia bahkan ikut mendekat hendak menyerang Seokjin. "Ibu bahkan tidak bisa bertahan lama saat dia berubah menjadi vampire!"
"Maksudmu apa?!" Taehyung benar-benar emosi sekarang. "Dia tetap penyihir! Aera tidak mungkin berubah menjadi vampire! Tidak mungkin!"
Kesal mendengar keributan ini, Yoongi memecah itu dengan suaranya yang tenang. "Hentikan. Jungkook, Taehyung." beruntung kali ini dia tidak berteriak. "Aera memang tidak berubah. Aku bisa membaca perubahan emosi di tubuhnya." ujar Yoongi serius. "Tapi, ada kemungkinan dia bisa berubah menjadi vampire kalau dia sendiri yang menginginkan itu."
"Yoongi, aku tidak---,"
"Kau mau berubah tapi kau menolaknya." Yoongi tersenyum remeh. "Kau mencintai Taehyung. Tapi, Taehyung masih mencintai adikku."
Aera tidak bisa membendung air matanya lagi. Dia menangis. Melangkah mundur, hendak pergi dan Jimin mencegahnya. "Tetap disini, Aera."
Matanya bertemu dengan mata Taehyung. Segera, pria itu bangkit menyusul Aera. "Kau tidak boleh berubah. Aku tidak mau kau mati, Aera."
Apakah ini jawaban dari semua pertanyaan Aera? Dia mempunyai kalung yang sama seperti Ibu ketujuh vampire itu. Luxe ternyata benar—dia mendapatkan jawaban yang dicarinya selama ini. Bahwa kedatangannya kemari untuk menyelamatkan mereka dari kutukan. Atau bisa jadi—ia akan egois. Berubah menjadi vampire agar bisa bersama sosok yang dicintainya.
[]