BAB-3. SATU SESI SATU…
Sepulang dari kost Sekar, aku langsung bersembunyi di kamar. Pikiranku masih berkecamuk. Sebagian menyesali perbuatanku beberapa hari yang lalu dan sebagian lagi menyesali apa yang baru saja terjadi. Seumur hidup, rasanya baru kali ini aku melakukan kesalahan seperti sekarang. Aku meninju pahaku beberapa kali sebelum akhirnya mengarahkan tinjuku pada tembok yang sejak tadi mengejekku.
“Bang…” terdengar suara ketukan di pintu. “Masuk, ya?”
Aku menatap daun pintu dengan kesal. Orang di balik pintu itu adalah orang yang sama yang memberinya ide untuk mengirim pesan itu pada Sekar. Dia adalah orang yang seharusnya disalahkan atas apa yang terjadi hari ini.
“Bang…” suara itu kembali terdengar. Aku memilih untuk tetap mengabaikannya.
Tepat sesuai dugaannku, meski di abaikan, dia akan tetap membuka pintu tanpa seijinku. Aku meliriknya sinis lalu kembali fokus pada kancing kemeja yang sejak tadi kulepas.
“Bang, ada masalah? Kok cemberut?”
“Ngggak.” Sahutku datar. “Ngapain lo ke sini?”
“Tadi gue lihat Bang Rama buru-buru banget. Terus wajahnya kusut. Jadi ya aku samperin aja.” Evron duduk di satu-satunya kursi yang ada di kamar Rama. “Ada apa sih, Bang? Ada masalah sama nasabah? Yang mana? Perlu aku bantu?”
“Diem lo!” Aku melempar kemeja kotor ke wajah Evron yang terus nyerocos. Anak ini, kalau dia bukan saudara Dante, mungkin sudah sejak tadi aku meninjunya.
“Eh?” Evron sama sekali tidak tersinggung. Dia justru memicingkan mata saat aku berdiri hendak mengambil baju. “Maaf, Bang,” ucapnya sambil nyengir lebar.
Melihat dia tidak merasa bersalah sama sekali, aku hanya bisa mengembuskan napas panjang. Evron memang masih sangat muda. Dia nyaris tidak pernah memikirkan hal-hal besar dan tidak peduli dengan apa pun yang ada di sekitarnya. Jadi percuma kalau aku melampiaskan kekesalanku padanya.
“Tadi Dante nanyain tentang nasabah yang belum bayar itu.” Akhirnya Evron mengungkapkan maksud kedatangannya. “Dante bilang kalau Bang Rama tidak bisa menanganinya, kasus ini mau dilempar ke orang lain.”
“Jangan!” Aku reflek mencegahnya. Aku tahu maksud Evron. Nasabah yang dimaksud Dante adalah Sekar. Jika urusan Sekar diurus oleh rekan kerja yang lain… “Gue bisa… Maksudnya, gue tadi udah ke sana. Dia udah bayar kok.” Aku buru-buru merevisi kalimatku. Aku tidak akan membiarkan Sekar didatangi oleh debt kolektor lain.
“Oh… bagus deh.” Evron mengambil ponsel di sakunya lalu mengetik pesan singkat. “Aku udah bilang ka Dante,” ucapnya santai. “Tadi Bang Rama ke sana?”
Aku mengangguk, berusaha memasang ekspresi senormal mungkin. “Dia udah bayar untuk tiga bulan.”
“Sykur deh. Kalau dia nggak bayar juga, takutnya Dante marah.”
“.…”
“Kalau Dante marah, dia pasti udah ngambil motor Bu Sekar.”
“... “ Aku juga tahu itu.
“Ngomong-ngomong,” Evron menyandarkan kepalanya di kursi. “Gimana wajah Bu Sekar, Bang? Dia cantik kah? Bang Rama nggak ngikutin saran aku kemarin kan?” godanya sambil memasang senyum.
Aku melotot pada Evron. Anak ini… apakah di rumah tidak ada yang mengjarinya sopan santun? Namun yang kutatap dengan ekspresi marah itu hanya menyengir lebar tanpa dosa.
“Kemarin aku cuma bercanda, Bang. Aku sering denger dari anak-anak lain kok soal itu. Katanya memang ada beberapa nasabah yang tidak bisa membayar angsuran lalu menawarkan tubuhnya sebagai gantinya. Tapi sejauh ini, kayaknya karyawan kita belum ada deh yang kayak gitu. Mereka lurus-lurus aja tuh.” Evron mengambil camilan di meja, memakannya dengan santai. “Kata Dante, dia nggak mau bikin Bang Rama stress. Jadi kalau ada nasabah yang susah ditangani, bakal dilempar ke orang lain. Makanya tadi Dante buru-buru nanyain soal Bu Sekar. Mungkin mau dilempar ke staff lain, Bang.”
“Bilang ke Dante, Bu Sekar udah bayar. Tiga bulan sekaligus malahan.” Aku mengambil ponsel dari dalam tas kerja. “Pergi sana! Aku mau istirahat.”
“Dia udah punya suami kan, Bang? Tadi ketemu sama suaminya?”
Aku menggeleng. Lagi-lagi jantungku berpacu dengan cepat mengingat hal itu. Fakta Sekar sudah memiliki suami cukup mengusikku. Saat berhadapan dengannya tadi, aku benar-benar lupa soal itu.
“Oh, mungkin suaminya kerja.” Evron terus mengunyah camilannya. “Dia cantik, Bang?”
“Hmmm…” tidak kupungkiri kalau Sekar memang cantik. Meski melihatnya sekilas, aku bisa langsung tahu wajah cerahnya dan senyum hangatnya.
“Yah, sayang banget kemarin aku nyaranin Bang Rama buat ke sana.” Evron seketika tampak lesu. “Tahu gitu aku aja yang nyamperin dia. Usianya masih dua puluh tahun loh, Bang. Kenapa ya dia buru-buru nikah?”
Itu juga yang membuat aku penasaran. Sekar masih berusia dua puluh tahun dan sudah menikah. Dia mengambil pinjaman, tidak bisa membayar, tetapi suaminya tidak di sana. “Vron, kalau lo emang se penasaran itu, kenapa nggak ke sana aja, heh?”
Wajah badmood Evron langsung berubah ceria. “Eh, bolehkah, Bang? Boleh aku yang ke sana nyamper Bu Sekar? Oke, lain kali aku-”
“Jangan macam-macam!” Aku reflek bangkit dari kasur dan menempeleng kepalanya. “Jangan pernah temui dia!”
Evron bersungut-sungut kesal. “Apa maksudnya? Dia nasabah kita. Jad-”
“Kalau lo nekat dateng ke sana,” Aku menyilangkan kedua tangan di depan d**a sambil melotot pada Evron. “Gue bakal bilang ke Dante kalau-”
Evron mengangkat tangan sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Ia membuat gerakan seperti sedang mengunci mulutnya lalu menangkupkan kedua tangan dan menyembahku. “Ampun, Bang. Ampun! Maaf, ya. Janji deh nggak akan ku samperin dia apa pun yang terjadi.”
“Mulai sekarang dia akan membayar angsuran tepat waktu. Bilang ke Dante untuk tidak ikut campur urusanku dengan Sekar.”
“Eh? Urusan kalian berdua? Ini nggak ada sangkut pautnya sama perusahaan, Bang?” Evron bertanya polos.
Sial! Aku malah keceplosan.
Kali ini aku tidak tahan lagi. Aku menghampiri Evron dan menarik kerah kemejanya lalu menyeret bocah itu keluar dari kamarku. “Pergi lo!” ucapku kesal. “Jangan muncul di hadapan gue sampai besok!”
“Kenapa, Bang?” Evron memasang ekspresi sedih yang sengaja dibuat-buat. “Bu Sekar-”
“Jangan sebut namanya lagi!” Aku mendorong pelan punggung Evron keluar dari kamarku lalu menutup pintu keras-keras sebelum menguncinya.
Di hari yang buruk ini, kenapa aku harus bertemu dengan Evron? Jika bukan karena bualannya, aku dan Sekar pasti tidak akan melakukan hal itu.
Aku tidak tahu bagaimana perasaan Sekar saat ini. Apakah dia juga sedang berkecamuk sama seperti yang aku rasakan saat ini atau mungkin sudah melupakan kejadian tadi.
Ponselku bergetar di atas nakas. Sebuah pesan singkat masuk dan aku langsung tahu siapa pengirimnya.
Dante: Ada apa, Ram? Kok mendadak ngumpet di kamar?
Aku menghela napas panjang. Sebelum membalas pesan Dante, sebaiknya aku membayar angsuran Sekar. Dengan cekatan jariku mengetik nominal tiga kali angsuran di bagian transfer. Transaksi selesai satu menit kemudian. Kini seharusnya nama Sekar aman dari daftar hitam.
Saat hendak membalas pesan Dante, pandanganku justru tertuju pada chatku pada Sekar tempo hari. Aku mengklik nama Sekar, melihat history chat di sana.
Selamat pagi, Bu Sekar.
Untuk angsuran bulan ini dan bulan lalu jangan lupa, ya.
Paling lambat besok, Bu.
Karena saat itu Sekar tidak kunjung membalas, aku iseng mengetik lagi sesuai saran dari Evron.
Bu Sekar, bagaimana? Apakah sudah bisa mengangsur?
Kalau belum saya punya penawaran menarik.
Bagaimana kalau satu kali angsuran diganti dengan satu sesi bercinta?
Saya akan datang besok siang, Bu. Bisa dipikirkan baik-baik penawaran saya.