BAB-5. PERTEMUAN KEMBALI.
Selamat siang, Pak. Terima kasih sudah membayar angsuran saya. Kalau Bapak mau datang, bisa kabari saya dulu.
Satu minggu setelah kejadian itu, aku masih bekerja seperti biasa. Gajiku sudah turun dan aku sudah membayar tunggakan serta angsuran Sekar untuk bulan berikutnya. Apa yang aku lakukan memang tidak sepadan dengan apa yang telah aku perbuat padanya. Tapi dengan ini, aku berharap aku masih bisa menebus dosaku pada Sekar.
Aku tertegun menatap ponselku. Sekar mengirim pesan singkat yang cukup untuk membuatku kembali merasa bersalah. Juga goyah. Aku tidak tahu persis apa maksud dari chat itu. Apakah dia ingin kami melakukan hal itu lagi? Atau dia hanya ingin memastikan kapan aku datang untuk menagih?
Setelah satu minggu bergelut dengan perasaanku sendiri, ragu-ragu ingin mengunjunginya untuk meminta maaf, ragu-ragu ingin mengirim pesan padanya karena takut itu justru membuatnya lebih terluka. Hari ini Sekar justru lebih dulu menghubungiku. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.
Tanganku bergetar saat hendak mengetik balasan. Keraguan kembali menyerbu, membuatku tidak bisa menyusun kalimat yang lebih baik. Seperti yang biasa kulakukan.
Aku mengambil napas panjang. Mencoba tenang, mengetik balasan. Pekerjaan ini sudah kulakukan selama dua bulan lamanya. Sudah banyak orang yang seperti ini. Dan selama ini aku baik-baik saja. Seharusnya dengan yang satu ini, aku juga bisa menanganinya dengan baik.
Selamat siang, Bu. Kapan Anda punya waktu? Saya akan ke sana kalau Anda sedang berada di rumah.
Setelah lama berpikir, akhirnya hanya itu yang bisa kukatakan. Cepat atau lambat kami memang harus membicarakan kejadian kemarin. Pertama aku harus meminta maaf karena telah mengambil sesuatu yang paling berharga darinya. Kedua, aku telah dengan sengaja membuatnya mengkhianati suaminya (hei, itu artinya aku juga mengambil hak suaminya), dan yang ketiga, aku sejujurnya penasaran kenapa dia bisa berada di posisi itu.
Tidak sampai lima menit, akhirnya balasan darinya datang juga. Aku memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya membaca pesan itu.
Besok siang pukul 11.00 WIB.
Tidak perlu bertanya dua kali, lokasinya sudah pasti di kostnya. Siang hari, Sekar selalu memilih waktu itu karena mungkin penghuni lain sedang keluar rumah.
Ya. Balasku singkat.
Aku memegang dadaku yang entah sejak kapan bergedup sekencang ini. Setiap kali membicaraka soal Sekar, bayangakan akan keintiman itu kembali berputar di kepalaku. Bagai potongan film yang terlanjur terpatri jelas di benakku. Aroma tubuhnya, hangat napasnya, lembut kulitnya, dan manis bibirnya. Semuanya… sempurna. Sekar… bahkan namanya pun tak kalah indah.
Lagi-lagi tanpa kusadari senyumku mengembang tiap kali bayangan gadis itu melintas di benakku.
“Hmm…” suara dehaman Evron membuyarkan lamunanku. Aku mendongak kesal dan menatapnya tajam. “Ciye… lagi jatuh cinta ya, Bang? Kok senyum-senyum sendiri?”
“Apaan sih!” gerutuku sambil melemparnya dengan sandal. Kami sedang berada di rooftop. Semua karyawan sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Karena tidak ada rencana keluar, aku memutuskan duduk di sini, menghabiskan secangkir kopi sambil menikmati senja.
“Nanti kalau Bang Rama resign, nasabah yang bernama Sekar itu biar aku yang urus. Kalau dia kesulitan membayar, biar aku datangi ke-”
“Evron! Stop!” Aku menyumpal mulut bocah itu dengan tissu. “Jangan berani-beraninya lo bahas soal dia lagi!”
“Eh?” Evron tampak kebingungan. Ia lalu mengangguk saat aku melotot padanya. “Bang, besok nggak survey ke lapangan, kan? Mau ikut aku ke rumah nggak? Aku harus ambil beberapa barang.”
Aku spontan menggeleng. Besok adalah jadwalku bertemu dengan Sekar. Semakin cepat aku bertemu dengannya semakin cepat pula masalah ini selesai. “Gue besok mau keluar.”
“Eh?” Evron tampak kaget. “Tumben amat?”
“Mau beli sesuatu.” jawabku asal.
“Oke.”
**
Siang esok harinya, aku sudah berdiri di depan kamar kost Sekar. Sama seperti seminggu sebelumnya, saat siang hari suasana kost sepi. Aku mengetuk pintu dengan hati-hati. Jantungku kembali berdegup kencang saat mendengar suara handle pintu bergerak dari dalam.
“Selamat siang,” sapaku ramah.
Sekar tidak membuka pintu sepenuhnya. Ia hanya melongok sekilas, menjulurkan kepalanya sedikit keluar lalu menyuruhku masuk.
“Silakan, Pak,” katanya sopan.
Aku hendak melepas sepatu tetapi Sekar melarangnya. “Bawa masuk saja.”
Awalnya aku bingung tapi saat melihat rentetan sandal perempuan di kamar lain, aku seketika sadar, sepertinya ini kost wanita. Dan biasanya pria tidak diijinkan masuk diam-diam.
Setibanya di dalam, aku langsung melepas sepatu. Lampu kamar Sekar kali ini tidak menyala. Hanya ada cahaya remang-remang dari lampu tidur. Aku melihat Sekar keluar dari balik pintu. Ia memakai lingerie… lagi.
Kali ini berwarna nude pink. Bagian d**a berbentuk huruf V dengan aksen ruffle kecil di sepanjang garis leher. Di bagian d**a terdapat sebuah pita kecil, membuat penampilan Sekar jauh lebih manis. Di balik lingerie transparan itu, kulit Sekar bersinar lembut. Potongan kain yang presisi mengikuti bentuk tubuhnya yang… sekali lagi memesona.
Aku meneguk salivaku. Sekilas godaan itu terlalu besar untuk dilewatkan. Sekar berjalan mendekat sementara aku reflek mundur dua kali untuk mengindarinya. Sisi baik dari diriku terus mengatakan kalau ini bukanlah sesuatu yang benar untuk dilakukan. Aku kemari bukan untuk mengulang dosa yang sama. Sebaliknya, aku kemari untuk meluruskan niatku membantunya. Untuk meminta maaf padanya dan untuk mengakhiri semua ini.
Namun bagian lain dari diriku sungguh menginginkannya.
Sekar mengulurkan tangan. Ia membuka telapak tangan, memberiku sebuah pengaman dan coklat. Sama seperti minggu lalu.
“Bu… maaf,” aku mencoba mencari kata yang tepat untuk menolaknya. Harga dirinya mungkin akan terluka karena penolakan ini. Tapi itu hanya sesaat. Setelah penjelasanku berakhir, dia akan mengerti kalau penolakanku akan menyelematkan kami berdua. “Saya tidak bisa melakukannya lagi.”
Sekar mendongak, menatapku sekilas dengan wajahnya yang bersemu merah. Oh… bahkan dengan tatapan polos itu aku sudah tergoda… dia terlalu… indah untuk dilewatkan.
Ia kembali menunduk, menarik kembali tangannya, menyembunyikan coklat dan pengaman itu di belakang punggungnya. Sekar menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, sekilas aku bisa melihat dengan jelas kalau dia sedang mati-matian menahan tangis.
Aku tidak tahu apa yang ada di benaknya saat itu dan kenapa alasan dia ingin menangis. Apakah karena penolakanku atau karena dia sudah sangat tertekan dengan nominal yang terus menghantuinya setiap hari?
“Tidak ada yang bisa kulakukan selain ini.” Ia berkata dengan suara serak. Jemari kakinya bergerak gelisah sementara tangannya yang bebas terus meremas ujung lingerinya. “Aku juga tidak punya pilihan.” Setelah satu kalimat terucap, Sekar akan menggigit bibirnya lagi… dan lagi…
Dan entah mengapa hal itu membuatku semakin merasa bersalah.
“Apakah terakhir kali kita melakukannya, aku membuatmu terluka?”