BAB-7. SEBUAH PENGAKUAN.
“Selamat siang.” Aku meraih handle pintu, menguncinya.
Hari ini tidak ada coklat, ucapanku minggu lalu mungkin didenger baik olehnya. Aku memang tidak berbohong saat aku mengatakan kalau aku tidak membutuhkan coklat. Kehadirannya saja sudah membuatku cukup tertarik.
Namun tetap saja, Sekar mengulurkan sebuah pengaman, memberikannya padaku dengan tangan gemetar. Sama seperti sebelumnya, tidak ada makeup di wajanya tetapi aku bisa mencium aroma parfum yang sama persis seperti yang dia pakai minggu lalu. Juga minggu sebelumnya.
“Bersiaplah!” ucapku saat menerima pengaman itu.
Sekar hanya mengangguk patuh. Ia berjalan menuju ranjang, duduk di sisinya, menunduk dengan wajah merah muda, dan memainkan jemarinya sendiri karena gugup.
Sejujurnya, bukan hanya dia yang merasa gugup. Aku pun demikian. Ketakutanku juga sama besarnya seperti hari-hari sebelumnya. Aku takut bagaimana kalau tiba-tiba ada yang menggedor kamar ini? Bagaimana jika suaminya datang dan bagaimana kalau Sekar sedang menjebakku dan memaanfaatkanku.
Sementara pikiran itu terus berkecamuk, aku telah selesai melucuti pakaianku. Aku bergabung dengannya di sisi ranjang, masih dengan tangan memegang pengaman.
“Apa kita bisa mulai sekarang?” tanyanya dengan suara gemetar.
Aku mengambil napas panjang. Meski begitu menginginkannya, tapi aku tidak bisa terus menerus mengabaikan ketakutan di wajah Sekar. Aku melirik wanita itu sekilas, lingerienya hari ini berbeda dengan model sebelumnya. Model kali ini lebih ketat, dengan sedikit sekali motif. Itu membuat kulitnya yang putih jauh lebih bersinar di balik kain hitam penuh dosa itu.
“Kamu siap?” tanyaku sembari memasang pengaman. Tidak ada lagi percakapan setelah itu. Aku meraih bahu Sekar lalu membawanya ke ranjang, mencium bibirnya dengan hati-hati. Kuperlakukan wanita itu dengan selembut mungkin, berharap sedikit saja rasa takut itu hilang dari wajahnya.
Satu jam berlalu kami masih bergelung di ranjang. Sekar mulai berani membalas ciumanku. Kadang, dia reflek mencekeram punggungku dengan kukunya yang tajam. Atau menjambak rambutku secara tidak sengaja. Kami terus memberi dan menerima kehangatan di sana. Bagiku, ini adalah pertemuan terakhir kami. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bersamanya.
Mungkin setelah hari ini, kami tidak akan bertemu lagi.
Satu jam berikutnya akhirnya aku mencapai puncak. Sekar terengah di pelukanku, sementara aku masih berada di atas tubuhnya. Aku membenamkan wajah di lehernya, menikmati aroma wanita ini yang entah sejak kapan menjadi canduku. Dan kali ini, Sekar tidak buru-buru bertanya apakah aku sudah selesai atau belum. Sekar membiarkanku berada di posisi itu hingga beberapa saat kemudian.
Lima menit berlalu, dia belum melayangkan protes. Aku memejamkan mata, berkata dalam hati sebentar lagi. Seandainya saja hubungan kami tidak terlalu gelap, aku tidak akan segan bertanya padanya apa yang sebenarnya terjadi.
Bolehkan seperti ini selamanya?
Bagian lain dari diriku mulai menginginkan lebih. Entah karena aku hanya menyukai sesi percintaan ini, atau aku benar-benar tertarik padanya. Saat aku membuka mata lima menit kemudian, aku menyari Sekar sejak tadi hanya menatap langit-langit dengan ekspresi datar. Dan saat aku hendak menyingkir, dia justru menggenggam erat tanganku. Aku terperanjat, sedikit bingung, bertanya dalam hati, sejak kami tangan kami saling berpegangan.
Gugup karena tindakan cerobohnya barusan, Sekar buru-buru berkata, “Maaf.”
Aku mengangguk, kembali menyingkir dari sana. Membiarkannya pergi ke kamar mandi dengan terburu-buru.
Lima belas menit kemudian aku sudah selesai berkemas. Aku mengambil sepatu meletakkan di bawah kursi. Setelahnya, aku meraih tas dan memakainya. Lalu berjalan cepat menuju pintu, membuka dan menutupnya lagi. Seperti yang biasa kulakukan setelah menghabiskan waktu berjam-jam dengannya.
Lima menit bersembunyi di balik samping lemari, aku akhirnya mendengar suara itu. Isak tangis yang seketika menghancurkanku. Aku mengepalkan tangan, menyadari kebodohan, keegoisan, dan kecerobohanku selama ini. Di balik tembok yang memisahkan kami, semakin lama semakin dalam suara tangisannya. Suara yang menjelaskan betapa hancurnya dia selama ini.
Lima menit kemudian terdengar suara gemericik air. Sepertinya Sekar sedang mandi. Aku masih menunggu di sana. Jika memang ini menjadi pertemuan terakhir kami, maka sudah sepantasnya aku meminta maaf padanya karena sudah membuatnya terjebak dalam hubungan terlarang ini.
Pintu kamar mandi terbuka, aku bersiap menghadapi kemarahannya karena masih bersembunyi di sana. Sekar berjalan keluar, ia memakai bathrobe putih dengan aksen kelinci lucu di bagian d**a kirinya.
Setibanya di dekat lemari, ia terlonjak mendapati aku yang berdiri menjulang di sisi lemari. Sekar mundur beberapa langkah lalu berhenti karena kakinya menabrak ranjang. Wajahnya seketika pucat setelah melihatku.
“Aku harus ke toilet,” ucapku beralasan. “Bolehkah?”
Sekar mengangguk. Ia menunjuk pintu toilet dengan tangan gemetar, lagi.
Aku bergegas menuju pintu yang ditunjuk Sekar. “Katakan padaku kalau kamu sudah selesai berpakaian.” ucapku sebelum menutupnya.
Sesampainya di dalam, aku menatap jam di pergelangan tanganku. Aku akan menandai berapa lama dia akan mengurungku di sini. Sebelum mendapat aba-aba darinya, aku tidak akan keluar dari sini.
Tujuh menit berlalu, terdengar suara ketukan di pintu. Aku segera keluar dari sana dan bergabung dengannya di ranjang. Di kamar itu tidak banyak perabotan, hanya ada sebuah kursi yang mustahil kami duduki berdua. Ranjang adalah tempat paling luas yang bisa kami pakai bersama.
“Terima kasih.” Sekar lebih dulu bersuara.
“Untuk apa?” tanyaku setenang mungkin.
Sekar menggigit bibir bawahnya, ragu-ragu berkata. “Terima kasih sudah membayar angsuranku. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika Anda tidak membantuku, Pak.”
Kata ‘Anda’ dan ‘Pak’ adalah perpaduan maut yang selalu berhasil membuatku geli. Sebelum tawaku meledak dan menghancurkan suasana, aku lebih dulu berkata. “Kamu tahu siapa namaku?”
Sekar menggeleng.
“Kita memang belum berkenalan.” Aku mengulurkan tangan padanya. “Rama.”
“Sekar,” sahutnya seraya menjabat tanganku.
“Mulai sekarang, jangan panggil aku Pak. Panggil saja Rama.”
Kening Sekar mengerut, ia lalu menggeleng cepat. “Pak Rama. Tidak sopan kalau hanya memanggil nama.”
“Rama saja. Aku yang menyuruhmu.”
“Atau Mas?”
Kali ini aku yang menggeleng. Mas? Itu terdengar seperti panggilan untuk suaminya. Aku tidak mau disamakan dengan suaminya yang entah berada di mana itu.
“Rama.”
Sekar hendak melayangkan protes lagi tetapi aku menahannya lebih dulu. “Tidak ada perdebatan. Panggil aku Rama saja.”
Kami terdiam lagi cukup lama. Sekar hanya hanya duduk dengan takut di sisiku sedangkan aku tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Aku seharusnya meminta maaf padanya. Tapi topik itu pastilah akan mengarah pada percintaan kami sebelumnya.
“Kenapa Anda tidak pergi?”
“Kamu.” Ralatku.
Sekar akhirnya mendongak, menatapku dengan tatapan sayunya itu.
“Panggil saja ‘kamu’. Jangan Anda. Itu terlalu formal.” Aku melihatnya tersenyum kecil. Senyum itu membuatku berantakan di dalam. Astaga.
“Aku sengaja menunggumu,” ucapku memecah lengang.
“Kenapa?” tanyanya polos.
“Kurasa aku harus meluruskan sesuatu.” Aku mengambil napas sebelum memulainya. “Sejak awal, aku hanya bercanda dengan tawaran itu. Aku minta maaf karena telah jahil mengirim chat itu. Aku tidak tahu kalau kamu akan menanggapinya dengan serius.”
untuk visual dan AU bisa langsung ke IG @littleeva93