BAB-8. PERMINTAAN MAAF.
Sekar terperanjat mendengar pengakuanku. Ia reflek meremas tangannya sendiri dan beringsut menjauh dariku. Mulutnya terbuka sedikit, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi sesaat kemudian ia kembali terdiam.
“Aku minta maaf soal itu.”
Sekar mendongak, menatapku sekilas lalu kembali menunduk. “Tidak. Aku lah yang seharusnya minta maaf. Maaf karena aku telah ceroboh dan… dan…” ia hampir menangis saat mengatakannya. “Aku benar-benar dalam posisi terdesak dan tidak bisa berpikir logis. Seharusnya aku bertanya padamu lebih dulu sebelum memaksamu…” kata-katanya terhenti dan genggaman tangannya semakin menguat. Aku hendak mengucapkan satu dua kata tetapi urung kulakukan karena aku ingin tahu sampai sejauh mana dia akan bicara
Lama menunggu, Sekar kembali bersuara. “Aku juga seharusnya tahu, sejak awal kamu memang sudah menolakku. Dan aku seharusnya mendengarkan penjelasanmu lebih dulu. Aku minta maaf.”
Baru saja aku tahu, ternyata rasa bersalah Sekar jauh lebih besar dari yang kurasakan. Permintaan maafnya tulus meskipun aku tidak bisa membaca matanya secara langsung. Di sini, bukan dia yang bersalah. Tapi aku. Aku telah menerima lebih banyak dari yang seharusnya kuterima darinnya. Tapi justru dia lah yang paling merasa bersalah dengan hubungan ini.
“Kamu tidak perlu terlalu merasa bersalah.” Aku mengatakannya dengan tenang. Meskipun awalnya aku terpaksa melakukannya, pada akhirnya aku juga menikmatinya. Justru aku lah yang paling diuntungkan di sini. Aku merasa seperti telah memanfaatkanmu. Maaf, ya.”
Tepat seperti dugaanku, Sekar justru menggeleng-masih menyalahkan diri sendiri. “Itu salahku. Sepenuhnya salahku. Jangan merasa bersalah.” Ia mengambil napas panjang. “Bagaimana aku bisa menebusnya? Kalau aku harus mengembalikan uangmu-”
“Tidak perlu.” Aku memotongnya cepat. “Jangan pikirkan soal uang itu mulai sekarang.”
“Tidak bisa,” Sekar kembali meremas tangannya. “Aku tidak mau berhutang pada orang lain. Apalagi… orang yang tidak kukenal. Sekali lagi aku minta maaf.”
Aku memilih kata-kata paling pas agar tidak menyinggungnya. “Aku akan menganggap semuanya seperti perjanjian awal kita. Aku akan menganggap aku memang sengaja mengirim pesan itu padamu dan kamu menerima tawaranku. Bagaimana? Dengan begitu kurasa kita bisa impas. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah padaku. Atau sebaliknya.”
“Tapi… tetap saja kamu yang paling dirugikan.”
Aku menggeleng. “Aku sama sekali tidak merasa dirugikan. Justru kamu lah yang paling dirugikan di sini.”
“Itu sudah menjadi konsekwensinya. Saat aku sepakat artinya aku sepenuhnya sadar akan keputusanku.”
Sekar salah tapi tidak sepenuhnya benar. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia bertemu dengan pria selain aku? Apa kira-kira yang akan dia lakukan?
“Bagaimana kalau mulai sekarang kita saling memaafkan? Aku memang tidak bisa mengembalikan apa yang telah aku ambil darimu, tapi aku masih berharap kamu memaafkanku atas apa yang telah aku perbuat padamu.”
“Kamu tidak harus mengembalikan apa pun padaku.” Sekar mengulurkan tangannya lagi. “Aku minta maaf.”
Aku menerima jabat tangannya. “Aku juga minta maaf. Mulai sekarang kita anggap semuanya impas. Kamu tidak bersalah padaku. Juga sebaliknya.”
Kami berdua tersenyum… untuk pertama kalinya.
Untuk pertama kalinya juga aku merasa lega sekaligus senang karena akhirnya bisa mengobrol dengannya. Sampai kapan pun perasaan bersalah itu akan terpatri jelas di hati kami, tapi setidaknya… hari ini kami saling memaafkan satu sama lain.
Di tengah suasanya yang mulai membaik, tiba-tiba perut Sekar berbunyi. Cukup keras hingga aku bisa mendengarnya. Aku melepas tangannya, kikuk entah karena apa.
Sekar hanya tersenyum malu-malu.
“Kamu lapar?” tanyaku sembari memandangi lantai. Ruangan ini cukup sempit, sulit sekali mencari alasan untuk tetap berada di sana tanpa membuatnya curiga.
“Tidak.” jawabnya sopan. “Kamu lapar?” ia balik bertanya.
Aku mengangguk jujur. Seingatku, aku terakhir makan tadi malam. Aku telah melewatkan sarapan dan makan siang karena terlalu gugup menunggu kabar darinya.
“Maaf…” Sekar sedikit salah tingkah. “Tapi aku tidak punya apa-apa di sini.”
Aku menoleh sekilas padanya. “Eh? Aku tidak bermaksud mau makan di sini. Aku memang lapar, jadi aku bisa…” kata-kataku terhenti, menyadari makna tersirat dalam kalimat Sekar.
Dia tidak punya apa-apa? Apakah artinya dia belum makan? Sejak kapan? Apa dia sengaja tidak makan karena tidak punya uang? Atau mungkin sedang diet?
“Kamu sedang diet?” tanyaku penasaran.
Ia ragu sesaat kemudian mengangguk dengan senyuman. “Iya. Berat badanku naik terus belakangan ini.”
Bohong. Aku bisa melihat dengan jelas dia sedang berbohong soal diet atau apa pun itu. Dia sudah sangat kurus jadi tidak mungkin rasanya kalau Sekar sedang diet.
Jadi kemungkinannya hanya dua. Pertama dia tidak selera makan dan yang kedua dia tidak punya uang.
“Bagaimana kalau kita keluar dan makan bersama?”
Sekar mendongak, menataku sekilas lalu menggeleng. “Tidak perlu. Pulanglah! Masih ada pekerjaan yang harus kamu lakukan, kan?”
“Tidak juga. Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Ayo kita makan di luar untuk merayakan perkenalan kita.” Bujukku.
“Hmmm….”
“Kenapa? Kamu ada acara? Atau…” Aku ragu-ragu sejenak. Sebenarnya aku ingin menayakan kemana suaminya tapi bagaimana kalau pertanyaanku justru menyinggung perasaannya? “Mungkin kamu sedang menunggu seseorang? Teman atau keluarga?”
“Tidak ada. Aku sendirian di kota ini. Tidak ada siapa-siapa di sini.”
“Oh… kalau begitu ayo kita keluar! Aku akan menraktir makanan enak.”
“Tapi aku tidak bisa membalasnya…” ia kembali mengucapkan itu dengan penuh rasa bersalah.
“Tidak perlu.” Aku buru-buru bangkit dan menggamit tangannya. “Anggap saja kamu sedang menemani aku malam siang. Ada rekomendasi teman makan enak?”
“Tidak ada.” Ia menjawab pelan. “Aku tidak terlalu mengenal daerah ini. Aku juga baru beberapa bulan di sini.” Ia melepas tanganku.
“Baiklah. Kalau begitu aku yang akan menentukan di mana kita akan makan siang.”
“Boleh aku ganti baju dulu?”
“Tentu.” Aku berbalik dan mengambil sepatu yang tadi kusembunyikan. “Aku akan menunggu di luar,” ucapku sambil memakai sepatu. Saat aku menarik handle pintu, aku sempat berbalik sebentar. Kulihat Sekar sedang mengambil sebuah baju dari lemarinya. Ia berjinjit karena baju yang akan dia pakai berada di rak paling atas. Sekilas, aku bisa melihat beberapa bercak merah muda di kulitnya yang halus itu.
Aku meninggalkan terlalu banyak jejak di tubuhnya.
Buru-buru mengusir pikiran jahatku, aku segera keluar dari sana dan duduk di teras. Menunggunya.
Tak sampai lima menit, akhirnya Sekar keluar. Hari ini dia memakai celana jeans panjang dan sweater warna biru muda. Rambut panjangnya digerai, membuatnya hickey yang kutinggalkan sedikit tertutup. Meski ada beberapa yang masih terlihat jelas, Sekar sepertinya tidak terlalu memerhatikan.
“Motorku di luar…” ucapku saat kami telah berdiri di depan pintu. “Ada sesuatu yang mau kamu makan hari ini?”
“Tidak ada. Kamu saja yang menentukan menunya.”
“Baiklah.”
Kami berjalan beriringan menuju pintu gerbang. Sekar menegakkan punggungnya, terlihat lebih santai dari sebelumnya. Kalau biasanya aku melihatnya hanya di bawah cahaya lampu, hari ini di bawah sinar matahari yang tidak terlalu terik, Sekar seolah bersinar… mengalahkan cahaya matahari itu sendiri.
BRUKK!
untuk visual dan AU bisa langsung ke IG @littleeva93