BAB-9. ALL YOU CAN EAT.
BRUKK!
“Rama!” terdengar suara jeritan Sekar saat aku menabrak pagar kost. Kepalaku terbentur cukup keras sampai-sampai aku mundur beberapa langkah.
Sejak tadi, aku memang sibuik memandangi Sekar yang ternyata jauh lebih cantik saat berada di bawah sinar matahari. Bahkan kecantikan bumi seisinya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan…
“Kamu baik-baik saja?” tanya Sekar khawatir. “Astaga! Kepalamu jadi benjol!” Ia membimbing langkahku, menjauh dari pagar dan berhenti di salah satu kamar. “Kok bisa sih!” gerutunya sambil terus menggandeng lenganku.
“Ram?” Sekar menggoyang-goyang lenganku karena aku masih diam dan hanya bisa menutup wajah. “Sakit banget ya?”
Aku mengangguk. Bohong.
Tidak terlalu sakit tapi… aku benar-benar malu. Bagaimana bisa aku menabrak pagar besi setinggi itu yang jelas-jelas ada di depan mataku? Dan sekarang aku tidak berani menatap mata Sekar yang sedang cemas. Kenapa pula aku baru menyadari dia secantik itu? Semua ini jelas salah Tuhan karena telah menurunkan bidadari terbaiknya ke muka Bumi. Sial! Sial! Sial!
“Mau ke klinik? Atau rumah sakit? Perlu aku panggil taxi online?”
“Tidak. Tidak perlu.” Aku menolak tegas. Luka ini benar-benar tidak seberapa. Demi menghapus kekhawatiran dalam suara Sekar, aku akhirnya mendongak, menunjukkan wajahku yang baik-baik saja. “Aku nggap papa, kok.”
“Nggak papa apanya!” Sekar menyentuh benjol di jidatku. “Nih, jadi benjol! Makanya lain kali hati-hati!” ia menggerakkan jemarinya di bagian itu selama beberapa saat.
Tolong hentikan! Jeritku dalam hati. Sentuhan kecil itu mengobrak-abrik pergerakan organ dalam tubuhku. Aku bergegas menepis tangannya dan menyingkirkan dari kepalaku demi mempertahankan kewarasanku sendiri. “Aku baik-baik saja, Sekar. Sungguh.”
Bahu Sekar merosot. “Dasar bebal!” wajah Sekar berubah cemberut, kesal. “Ayo kita cari es buat ngompres ini!” ia kembali meletakkan tangannya di kepalaku. Kali ini aku hanya bisa pasrah. Semakin aku menolak sentuhannya, semakin liar pula isi kepalaku ini.
“Nggak perlu. Nanti juga kempes sendiri.” Aku meraih tangan Sekar, menggenggamnya. “Ayo kita keluar! Cacing di perutku tidak berhenti protes.”
Sekar bersiap melayangkan protes tapi aku lebih dulu menggandengnya dan keluar dari sana. Motorku terparkir tepat di depan gerbang. Saat siang, nyaris tidak ada siapa pun yang melintas. Di gang ini hanya ada beberapa petak kost-kostan. Dari ujung hingga ujung semuanya kost-kostan. Satu sisi jalan berisi kost laki-laki dan sisi lainnya kost perempuan. Sepertinya tempat ini dimiliki oleh seseorang dan sengaja di desain seperti itu.
“Eh, aku cuma bawa satu helm,” ujarku saat kami tiba di dekat motor. “Bagaimana ini?”
“Ya kalau kamu bawa dua helm, itu artinya kamu tukang ojek.” Sahut Sekar santai. “Aku nggak pakai helm nggak papa kok. Lagian kita cuma makan deket-deket sini kan?”
“Yakin mau deket sini aja?” Aku memasangkan helm ke kepala Sekar. “Kamu aja yang pakai.”
“Loh, kok aku?” Sekar ingin melepas helm itu tapi aku lebih dulu menahannya. “Kan kamu yang nyetir. Atau aku ambil aja punyaku?”
Aku menarik pelan tangan Sekar lalu menggenggamnya erat. “Pakai aja. Jangan nolak!”
Setelah itu tidak ada lagi perdebatan di antara kami. Aku naik ke motor, disusul Sekar. Kami lagi-lagi duduk dalam situasi yang kikuk. Sepanjang jalan keluar dari gang, Sekar hanya diam, sesekali menyapa tetangga yang kebetulan dia kenal.
“Jadi mau makan apa?” tanyaku memecah lengang. “Mau steak?”
“Terserah kamu aja.
“Kamu bisa makan daging?” aku kembali bertanya. Kali ini dengan nada satu oktaf lebih tinggi karena suara klakson yang mengiterupsi pembicaraan kami. “Kalau bisa, kita makan daging aja.”
“Bisa kok.” Sekar menjawab sambil teriak.
Kebetulan sekali, di dekat sini ada sebuah restoran all you can eat. Bertahun-tahun tinggal di kawasan ini membuatku tahu mana saja tempat yang enak dengah harga bersahabat. Aku terus membawa motorku ke lokasi restoran itu. Jaraknya tidak sampai lima kilo meter tetapi karena lalu lintas yang padat, kami harus berlama-lama berada di jalanan itu.
“Maaf!” ucapku saat aku mengerem mendadak. Mobil di depanku tiba-tiba berhenti. Tanpa kusadari, gerakan itu hampir membuat Sekar terjatuh. Aku reflek meletakkan tangan di pinggangnya agar dia tidak terjatuh. “Kamu baik-baik saja?”
“Ya.” jawab Sekar dengan sedikit terkejut. “Pelan-pelan aja!”
“Ada mobil ngerem mendadak.” Tanganku masih berada di paha Sekar. Aku mencari tangannya yang ada di pangkuan lalu meletakkan di perutku. “Pegangan! Biar nggak jatuh!”
Kalian benar. Itu hanya modus.
Sepuluh menit kemudian kami akhirnya sampai. Syukurlah tempat itu tidak terlalu ramai. Aku segera mengambil daftar menu dan memesan paket terbaik di sana. Selain ingin mengobati rasa rindu dengan tempat ini, aku juga ingin memberi yang terbaik untuk Sekar.
“Kamu yakin memilih menu itu?” bisik Sekar saat kami sudah sampai di meja kami. “Aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membayarnya.” ia meringis, malu.
“Aku yang akan bayar. Tenang saja!” tanganku terulur, reflek menepuk pelan kepalanya.
Akhirnya kami bisa mengorbol santai layaknya teman dekat. Tiga minggu mengenalnya, ini kali pertama aku melihat Sekar tidak canggung di hadapanku. Sekar menerima minuman yang aku sodorkan, juga beberapa camilan, dan es krim. Kami menikmati makan sore itu sambil terus mengobrol. Syukurlah dia makan banyak dan tidak malu-malu saat menyendok potongan daging ke dalam mulutnya.
“Kamu suka?” tanyaku masih dalam mode mengunyah. “Ini salah satu tempat makan favoritku karena harganya terjangkau.”
Sekar mengangguk. Mulutnya masih penuh dengan daun selada. “Sejujurnya aku pecinta daging.” ia terkekeh geli. “Dan sayur. Keduanya kombo maut!”
“Ternyata kamu juga suka makan. Tapi kenapa bisa kurus sekali?” Aku meraih tissue, mengelap mulutnya yang belepotan.
Sekar hanya mengedikkan bahu. “Entahlah. Gen mungkin.”
Aku mengangguk-anggukan kepala. “Ngomong-ngomong, kalau makan di sini, kita harus menghabiskan semuanya biar nggak rugi.”
“Heh!” Sekar melotot. “Mana bisa?”
“Bisa!” Aku mengambi potongan daging dengan sumpit lalu menjejalkan ke mulutnya. “Aku akan membantumu menghabiskannya.”
Ia tertawa kecil lalu kembali melahap makanan di atas meja.
Ternyata tak butuh waktu lama menghabiskan makanan yang kami pesan. Sekar cukup ahli jika menyangkut daging. Dia nyaris tidak menyentuh makanan denga karbohidrat tinggi. 90% makanan yang masuk ke mulutnya adalah perdagingan. Entah mengapa aku senang melihat hal itu.
Kami keluar dari restoran sebelum matahari tenggelam. Jalanan sudah bisa dipastikan dua kali lebih pada dari sebelumnya. Sekar berdiri di sebelahku, menatap dua perempuan yang sedang menaiki motor sambil tertawa keras. Mereka tampak senang hanya karena candaan ringan.
“Mau langsung pulang?” tanyaku memecah lengang. “Atau mau mampir kemana dulu?”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku?”
Ah… senang rasanya dia juga ikut menanyakan pendapatku.
“Aku… bebas.”
“Tidak ada seseorang yang menunggumu? Keluargamu? Atau temanmu?”
Aku menggeleng. Mungkin hanya Evron yang setia menungguku di rooftop. Dia mengecualian. “Bagaimana denganmu?”
Sekar juga menggeleng.
“Bagaimana kalau kita beli es krim?”
“Boleh.” ia mengulum senyum manis yang seketika mengobrak-abrik kewarasanku.
Sekar mulai melangkah mendekati motor kami tapi aku lebih dulu menarik tangannya. “Ada kedai es krim enak di sekitar sini. Kita bisa jalan kaki saja dan meninggalkan motorku di sini.”
“Oke.”
Aku ragu-ragu melepas tangannya. Kami berjalan beriringan di sepanjang trotoar. Langit mulai gelap dan jalanan semakin ramai. Aku melirik Sekar sekilas dan sepertinya dia menyadari perubahan sikapku.
“Ada apa?” tanyanya sambil mendongak.
“Hmmm…” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Bisa kita ketemu minggu depan?”
untuk visual dan AU bisa langsung ke IG @littleeva93