Riana Rusita Jayanti, nama gadis yang sedang duduk di kursi terdepan ruang kuliah yang masih kosong. Ya, gadis Indonesia asli. Kedua orang tuanya orang Sunda, dan Riana pun dilahirkan di Bandung. Kini, gadis berambut hitam pekat dengan kulit cokelat terang itu tengah berumur 20 tahun dan berkuliah di salah satu universitas di kota kelahirannya. Dipilihnya jurusan Geofisika karena kesukaannya terhadap gunung dan bebatuan yang jadi “teman” masa kecilnya. Memang, dulu Riana dan keluarganya tinggal di salah satu pedesaan di Jawa Barat yang lokasinya tepat di kaki gunung. Namun, saat Riana menginjak usia masuk SD, ayahnya akhirnya dapat pekerjaan tetap di kota. Mereka sekeluarga pindah dan sejak saat itu pula, Riana tidak lagi hidup di desa. Namun, tentu saja kenangan akan tempat bermain masa kecilnya masih melekat di hati.
Tiga semester sudah Riana lalui di kampusnya ini. Tidak perlu diragukan lagi, otaknya yang cerdas dan ketekunannya yang tiada dua mampu membuat Riana memperoleh IPK sempurna selama tiga semester terakhir. Tentu, berkat nilai-nilainya yang sangat baik, Riana dijadikan salah satu mahasiswa kesayangan para dosen dan andalan teman-teman satu angkatannya. Setiap ada kegiatan akademik, Riana pastilah jadi salah satu perwakilan yang berpartisipasi. Untungnya, selain karena didorong untuk ikut serta, gadis itu memang menyukai kegiatan-kegiatan akademik yang dapat menambah daftar prestasi serta pengalamannya. Banyak foto wajah Riana terpampang di akun sosial media jurusan mereka, khususnya pada kolom apresiasi karena Riana tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga selalu meraih gelar juara. Kecerdasannya memang menakjubkan, sekaligus mengerikan.
Pertanyaan berikutnya sudah pasti: sudah cerdas begitu, apa orangnya juga cantik? Kebanyakan orang menganggap orang-orang pintar itu pasti penampilannya tidak menarik, tetapi itu tidak berlaku untuk Riana. Badannya mungil dan kurus, matanya besar dan lebar, dan rambut hitamnya panjang bergelombang. Biasanya, gadis itu selalu menguncir rambutnya ke kampus dengan alasan “supaya praktis”, tetapi ada kalanya Riana membiarkan rambutnya tergerai, dan saat itulah pesonanya begitu kuat memancar. Matanya yang cokelat terang, meski dilapisi kacamata berbingkai hitam, tetap saja terlihat indah. Banyak yang sepakat dengan betapa menariknya penampilan Riana, tetapi sayang, gadis itu punya standar khusus rupanya.
Semua orang yang pernah menyatakan perasaan mereka kepada Riana berakhir ditolak dengan alasan yang sama: bodoh. Para cowok ini mengira Riana berpikir bahwa mereka tidak pantas bersanding dengan kecerdasan sang gadis (nyatanya memang tidak), tetapi sebenarnya bukan hanya itu. Mereka yang pernah menyatakan perasaannya pada Riana hanya salah sangka karena Riana bersikap baik kepada mereka sesekali, tetapi tidak pernah ada satu pun yang benar-benar berusaha membuat Riana jatuh cinta. Gadis itu juga bukannya tidak mau mencoba. Tentu saja ia mau! Ada rasa iri yang kadang lewat kala ia melihat teman-temannya pulang kuliah bersama pasangan masing-masing, tetapi masa iya hanya agar “punya teman pulang”, Riana harus menurunkan standar? Hatinya tidak bisa diatur seenak jidat begitu.
“Hoi.” Tahu-tahu, bahu Riana disentuh oleh entitas yang muncul entah dari mana. “Ngelamunin apa, Neng?”
Spontan, gadis yang disentuh bahunya itu menoleh dan mendapati wajah familier di depan mata. Kalau saja cengiran iseng perempuan di hadapannya itu tidak ia kenali dengan baik, mungkin tangan Riana sudah melayang untuk menghajar orang itu. “Gila. Cari mati, ya?”
“Cari mati kok datang kuliah? Itu sih namanya cari stres!” Gadis itu terkikik ria sambil menempatkan dirinya tepat di sebelah Riana. “Lagian, masih pagi udah ngelamun. Pamali, tau!”
(Pamali: larangan/pantangan dalam adat dan kebiasaan.)
Gadis itu adalah teman terdekat Riana yang selalu setia duduk di sampingnya di kursi terdepan. Putri namanya, tetapi kepribadiannya yang seenak jidat membuatnya ogah dipanggil dengan nama yang sering diinterpretasikan dengan gadis manis. Putri lebih suka dipanggil Puput, meski saat dipanggil dengan nama yang lebih pendek lagi, pada akhirnya ia tetap dipanggil “Put”.
“Teu dihaja, geulis. Lagian emangnya ada orang yang niat ngelamun?” Putri mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan retoris Riana. Riana mendengus, terkadang sebal dengan temannya itu, tetapi memang hanya Putri yang bisa (dan mau) memahami dirinya. “Aku gak niat ngelamun, kok. Gak ada kerjaan sih, jadi otomatis ngelamun.”
(Teu dihaja, geulis: tidak disengaja, cantik.)
“Nggak ada kerjaan? Tumben amat?” Mata Putri spontan melebar. “Oh, wajar ding, lagi gak ikutan lomba apa-apa soalnya, ya? Makanya, Ri, ih, ikutan kepanitiaan geura! Belajar doang mah bosen!”
(Geura: segera.)
“Hoream, tau? Rapatnya lama dan buang-buang waktu. Kamu kan inget, aku pernah ikut sekali waktu semester dua, tapi kepanitiaannya nggak jelas dan acaranya malah dibatalin,” balas Riana sambil menggembungkan pipi kirinya sebelum dikempiskan lagi. “Kayak nggak perlu, gitu. Mending belajar atau ikut lomba.”
(Hoream: malas.)
Putri meniup poni ikalnya yang sedikit menutupi mata. “Susah kamu mah.”
Riana tersenyum tipis. “Makasih.”
“Aku nggak muji, Rianaaa!” Putri tertawa geli sambil meninju ringan lengan sahabatnya itu. “Oh, tapi aku jadi keinget. Tadi malem ada poster lomba baru yang diadain sama kampus sebelah. Kamu bisa ikutan, tuh.”
“Serius?!” Spontan, mata Riana berbinar-binar. Ya, gadis itu hanya akan menunjukkan tatapan seperti itu saat ia dijuruskan untuk mengikuti kegiatan akademik, sesuatu yang benar-benar ia sukai. Cepat-cepat sang gadis mengakses ponselnya dan membuka akun sosial media kampus yang dimaksud. Benar rupanya kata Putri, ada kompetisi analisis data seismik yang akan diadakan dalam tiga minggu. Melihat kata “kompetisi”, matanya otomatis membelalak bahagia. Tambahan kata “seismik” jelas membuatnya semakin kegirangan. “Wah, asyik ini mah! Aku daftar, deh!”
“Gelo maneh. Lomba dibilang asyik,” kekeh Putri. Ditepuk-tepuknya pundak Riana sambil berkata, “Tapi bagus deh, seenggaknya kamu nggak akan ngelamun lagi.”
Riana menyipitkan matanya, berusaha menunjukkan tatapan kematian ke arah Putri. “Gelo maneh.”
Yang ditatap hanya tertawa puas.
(Gelo maneh: gila kamu.)
*