Gada Fauzan Subagja, nama pemuda yang sedang sibuk berkutat di depan komputer laboratorium gedung jurusan yang masih kosong. Orang Indonesia asli, bahkan orang Sunda yang lahir di Bandung juga. Mungkin banyak yang akan bertanya: apa dia kenal Riana? Jawabannya tidak, atau lebih tepatnya belum. Berbeda dengan Riana, Gada adalah mahasiswa jurusan Statistika angkatan 2020. Gedung mereka lokasinya tidak begitu berdekatan, jadi mereka jarang berpapasan, terlebih karena masing-masing memang jarang mengikuti kegiatan fakultas. Sebenarnya, Statistika bukan pilihan pertama Gada. Awalnya, pemuda itu ingin mendaftar ke Teknik Informatika, tetapi setelah menekuni sedikit ilmunya selama SMA, Gada tahu bahwa ia tidak memiliki minat yang cukup untuk terus belajar di bidang tersebut. Ia lebih suka mengolah data ketimbang menyusun algoritma, sehingga ia memutuskan untuk pindah haluan. Untunglah, ia tidak menyesali keputusannya.
Mendengar nama pemuda itu, orang-orang otomatis berpikir bahwa Gada memiliki badan raksasa berotot yang bisa membuat orang keder hanya dengan melihatnya. Mereka tidak salah-salah amat sih, mengingat kata “Gada” sendiri adalah alat pemukul, jadi mungkin mereka berpikir bahwa Gada adalah tukang pukul. “Hercules-nya Statistika”, begitu mereka menyebut pemuda itu andaikan mereka belum pernah melihatnya langsung. Sebenarnya, apa yang orang pikirkan tentang Gada berbanding terbalik dengan penampilan Gada yang sesungguhnya. Boro-boro berotot, badannya saja kurus nyaris kerempeng begitu. Badannya memang jangkung sekali, tetapi berat badannya terlampau terlalu ringan. Olahraga jelas bukan hobinya. Gada lebih suka berkutat di depan layar sampai berjam-jam dalam sehari, sampai lupa makan dan minum! Daripada gada alat pemukul, Gada lebih suka menyamakan dirinya dengan gada-gada, bendera kecil di puncak tiang perahu yang berfungsi sebagai penunjuk arah angin. Ya, dia merasa lebih cocok dianggap sebagai penunjuk arah yang mudah terbawa angin (secara harfiah, saking ringannya tubuh Gada) daripada sebagai tukang pukul. Rasanya lebih sesuai.
Apakah Gada adalah salah satu mahasiswa unggulan di angkatannya? Sayangnya, bukan. Gada bukan mahasiswa cemerlang yang sangat dibangga-banggakan dosen dan teman-teman seangkatannya. Ia hanyalah mahasiswa biasa yang bagus di beberapa mata kuliah, tetapi harus berjuang keras untuk dapat nilai pas-pasan di mata kuliah lainnya. Gada bisa jadi rajin untuk mata kuliah tertentu, tetapi bisa juga jadi sangat malas untuk mata kuliah lainnya. Untungnya, keuletannya di salah satu mata kuliah berhasil menggaet hati salah seorang dosen yang kini menjadikan Gada sebagai anak kesayangannya. Setiap kali ada informasi lomba atau beasiswa, dosen itu pasti akan menginformasikan Gada terlebih dahulu sebelum memberi tahu mahasiswa lainnya. Gada bahkan diberdayakan sebagai asisten praktikum dosen tersebut, padahal ia masih mahasiswa semester tiga. Tentu saja, Gada tidak mengeluh. Rezeki memang bisa datang dari mana saja.
Pagi itu, sebenarnya Gada tidak ada kelas. Si pemuda duduk di laboratorium komputer untuk menyiapkan bahan praktikum untuk adik-adik semester satu yang akan dimulai satu jam lagi. Sambil menunggu, ia putuskan untuk mengutak-atik tugas yang diberikan salah satu dosennya kemarin hari. Dia tidak berniat menyelesaikan tugasnya saat itu juga sih, tetapi ada baiknya ia mengira-ngira seberapa sulit tugasnya, bukan?
“Wah, Gada sudah sampai ternyata.”
Tentu saja, mendengar namanya disebut, Gada otomatis menoleh ke sumber suara. Asalnya datang dari pintu laboratorium, dan si pembuat suara adalah seorang pria paruh baya berkacamata dan berkumis tebal. Pria itu membawa sebuah tas selempang hitam di tangan kanannya, dan kunci kendaraan di tangan kirinya. Gada tersenyum melihat sosok pria tersebut. Inilah dosen yang amat membangga-banggakannya (meski ia sendiri biasa saja): Pak Novri.
“Pagi, Pak,” sapa Gada sambil membungkukkan kepalanya sedikit. Ia menunggu sang dosen menghampiri dirinya sebelum mencium tangan beliau. “Biasa, Pak, siapin bahan praktikum pagi-pagi. Enak, gedungnya masih kosong, jadi sepi dan bisa konsentrasi.”
“Bagus itu. Pertahankan.” Pak Novri manggut-manggut. Wajahnya jelas sekali menyatakan kalau beliau tidak salah pilih mahasiswa kesayangan. “Gimana progress praktikum? Sesuai materi yang saya ajar, ‘kan? Mahasiswa pada bisa mengikuti atau tidak?”
“Iya, Pak, saya sudah ikuti silabus yang bapak kasih sambil memastikan ke mahasiswa bapak kalau materinya sudah diajarkan di kelas,” respons Gada sigap. “Cuma minggu lalu saya nyaris kecepetan kalau nggak ngerem, Pak. Untung saja waktu itu ada yang mengingatkan saya untuk berhenti.”
“Wah, kamu terlalu baik itu. Harusnya dilanjutkan saja, jadi saya enak ngajarnya,” balas sang dosen yang disambung oleh kekehan kecil keduanya. “Ya sudah. Saya mau ke ruangan saya dulu. Nanti saya pantau sebentar saja, ya. Yakin lah kalau di tangan Gada, praktikum pasti aman.”
Gada tergelak pelan. “Oke, Pak.”
Masih dengan membawa tas selempang dan kunci kendaraannya, Pak Novri melangkah ke arah pintu laboratorium. Namun, belum sempat dosen tersebut melangkah keluar, mendadak beliau memutar badannya. “Oh iya, Gada, saya hampir aja lupa. Saya ke sini karena ada yang mau saya berikan sama kamu.”
“Oh?” Alis Gada naik sebelah. “Ada apa, Pak?”
Pak Novri kembali menghampiri Gada sambil menyerahkan selembar brosur warna kuning yang diambilnya dari dalam tas. Cepat-cepat Gada menerima brosur itu agar sang dosen tidak perlu menyodorkannya terlalu lama. Mata si pemuda membaca sekilas judul besar pada brosur tersebut: kompetisi analisis data seismik. Otomatis, dahi Gada terkernyit. “Analisis data … seismik, Pak? Ini bukannya untuk anak geologi dan geofisika ya, Pak?”
“Baca dulu, makanya. Memang syaratnya mengkhususkan mahasiswa dari dua jurusan itu saja?” tanya Pak Novri balik, bermaksud menantang, yang tentu saja dibalas Gada dengan gelengan. Memang tidak ada syarat khusus jurusan bagi calon peserta yang mau mendaftarkan diri. “Saya mau kamu coba ikut lomba itu. Lumayan lo, buat pengalaman. Kebetulan, sekarang kan saya ada proyek olah data sama beberapa teman di BMKG, nah, kamu bisa saya ikut sertakan di situ buat belajar kilat. Lombanya masih lama kok, tiga minggu lagi, masih ada waktu lah buat belajar.”
Gada tertegun. Bukannya ia tidak mau berpartisipasi, tetapi tiga minggu untuk mempelajari bidang ilmu baru yang tidak familier sama sekali di otaknya? Pemuda itu tidak yakin. “Tapi, Pak―”
“Kamu mikir apa lagi, sih?” potong Pak Novri cepat. Tampaknya dosen itu gemas dengan Gada yang kelihatan setengah hati. “Sudah, ikutan saja. Kamu toh gak harus menang, saya juga gak minta kamu menang. Coba saja buat pengalaman. Lagi pula, sekarang kan lomba-lomba statistika sedang tidak musim. Kamu nganggur tuh, lebih baik diisi dengan kegiatan serupa.”
Tampaknya, Gada memang tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran tersebut. “Oke, Pak. Nanti saya lengkapi persyaratan pendaftarannya setelah praktikum.”
“Nah, gitu dong!” Pak Novri menepuk pundak Gada bangga. “Kalau sudah daftar, kabari saya, ya! Saya seharian akan ada di ruangan saya, soalnya tidak ada kelas.”
Gada mengangguk pelan. Semoga saja dia tidak mengecewakan sang dosen.
*