Mila berjalan dengan gusar menuju ke ruangan Teddy. Dia sudah tidak tahan menghadapi sikap Amel yang semakin hari membuat kepalanya mau pecah. Ada saja kelakuan gadis itu yang menguji kesabarannya. Sebagai teman, dia dapat memahami keadaan Amel yang sedang memiliki masalah, tapi tidak saat dirinya menjadi supervisor. Karena itu Mila ingin meminta bantuan Teddy untuk menyelesaikan masalah ini. Mila mengetuk pintu ruang kerja Teddy dan menunggu hingga atasannya menjawab dari dalam.
“Masuk!” seru Teddy.
Mila membuka pintu dan masuk ke dalam. Dia mengangguk pada Teddy, kemudian menghampiri meja.
Teddy melihat wajah Mila yang tampak gusar. “Ada masalah apa Mil?”
“Mas ada waktu sebentar? Saya mau ngomong bentar.”
“Silakan,” sahut Teddy. “Ada masalah apa Mil? Kok muka kamu kusut begitu?