Saat cahaya putih dari tebasan pedang Lunar yang mengenai tubuh bagian depan Mad Draygon memudar, muncul retakan dari lapisan ungu yang menutupi bagian tubuh makhluk itu. Dimulai dari retakan kecil, perlahan retakan itu membesar, menyebar mulai dari bagian da da makhluk itu, ke bagian wajah, punggung, dan ke seluruh tubuh makhluk itu hingga ujung ekor. Lalu seluruh lapisan pelindung itu terlepas, terlihat seperti kaca pecah yang berserakan, namun tak meninggalkan bekas apapun di tanah.
Semua orang yang melihatnya terkejut, bertanya-tanya apa yang telah terjadi, lapisan apa yang baru saja pecah yang tak meninggalkan secuil pun pecahan itu. “Apa yang telah aku lakukan?” gumam Lunar dalam hati.
Setelah lapisan berwarna ungu itu terlepas, tonjolan-tonjolan di tubuh Mad Draygon yang berwarna merah kini kembali terlihat. Dan, hal aneh pun terjadi di tempat itu. Sebuah retakan di langit, berwarna merah kehitaman, muncul di atas mereka. Retakan itu dengan cepat menyebar di seluruh langit planet itu, berjatuhan ke arah mereka. Meski pecahan itu berterbangan di atas mereka, tak ada satupun pecahan itu terasa mengenai tubuh mereka.
Lunar kebingungan, dia melihat ke sekeliling, suasana planet itu yang tadinya sunyi tanpa ada hawa keberadaan makhluk yang menempati planet itu, kini berubah. Suara-suara makluk asli Planet Orla mulai terdengar lagi. Nyanyian Mimi terdengar dari kejauhan, suara serangga dan kicauan burung pun ikut terdengar.
“Apa yang telah terjadi di sini?” kata Ava kebingungan.
“Entahlah, mungkin Lunar bisa menjelaskannya,” kata Mae dengan nada mengejek.
“Aku sendiri juga tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini.” Lunar masih memperhatikan keadaan sekitarnya, lalu menatap aneh pada pedang di genggamannya yang sebelumnya mengeluarkan cahaya, tapi saat ini cahaya itu sudah padam. “Itukah kekuaran sesungguhnya pedang ini?” gumamnya.
“Sepertinya Lunar telah menghancurkan dinding dimensi yang menutupi planet ini, aku menduga kalau makhluk di depan kita ini yang membuat dinding itu, sekaligus melindungi tubuhnya menggunakan lapisan itu. Dan, Lunar teah berhasil menghancurkannya.” Eucli memandang Lunar yang kebingungan dengan kekuatannya sendiri. “Bukankah begitu, Lunar?”
“Aku tidak yakin, Eucli. Tapi tidak ada waktu untuk mengaguminya. Lihatlah, mahkluk itu terlihat sangat marah!” teriak Lunar mengingatkan mereka semua.
Saat mereka terkagum dengan kekuatan Lunar, tanpa mereka sadari Mavis masih bertarung dengan makhluk itu. Mad Draygon kini terlihat tak terkendali, setelah lapisan ungu itu terlepas, gerakannya semakin tak bisa ditebak. Ia meraung, meluapkan amarahnya pada Mavis.
Beruntung Mavis dapat mengimbangi kecepatan terjangan Mad Draygon. Wanita itu menahan setiap serangan yang ditujukan padanya. Lalu Mavis melompat ke dahan pohon, terlihat seperti kelelahan. Napasnya terengah-engah, dia mengerutkan dahinya, lalu mengusap keringat dengan lengannya. Sedetik kemudian wanita itu menghilang di balik pepohonan. Mad Draygon kembali meraung saat melihat Mavis melarikan diri, lalu mengikuti wanita itu dari belakang dengan menyeruduk pohon-pohon. Beberapa kali makhluk itu menghempaskan tangannya pada pepohonan, mencari keberadaan Mavis.
“Hei… ke mana Mavis, apa dia terpojok? Kita harus mengikutinya!” teriak Lunar.
Mereka mengikut dari belakang, sambil sesekali menyerbu makhluk itu. Mae mengincar sayap dan menyerangnya dengan sihir, dia berhasil mematahkan salah satu sayapnya. Eucli mengikuti Mae, dan mematahkan sayap yang satunya lagi. Sedangkan Ava menembaki bagian kakinya.
Tiba-tiba suara Mavis terdengar dari kejauhan. “Jangan sakiti dia, biar aku yang menghadapinya. Biarkan dia mengikutiku.”
“Apa? Apa kau gila Mavis, kau sudah kelelahan,” teriak Lunar.
“Ya… anggap saja begitu.” Kini Mavis terlihat kembali, dan telah berada di depan Mad Draygon, mengkonfrontasi makhluk itu agar mengikutinya.
“Mau kau bawa ke mana makhluk itu?” tanya Eucli.
“Ke tempat favorit kami!”
“Hah?”
“Tidak jauh dari sini! Aku akan menghabisinya di sana, agar dia ingat kembali dengan hubungan kakak adik kami.”
“Terserah kau saja, Mavis.”
Lunar, Mae, Eucli, dan Ava mengikuti Mavis dan Mad Draygon dari belakang. Mereka terpaksa menyetujui keinginan Mavis, tanpa mengetahui maksud sesungguhnya wanita itu. Mereka berempat sudah dalam posisi siap menyerbu jika makhluk itu tiba-tiba mengamuk dan membahayakan Mavis.
Mereka terus berlari memasuki hutan rimbun yang kini telah kembali bersuara, di sekitar mereka terlihat beberapa makhluk asli planet itu yang ketakutan dan bersembunyi di balik pepohonan. “Mereka telah kembali, sebenarnya apa yang terjadi di sini?” kata Lunar penasaran.
“Entahlah, tapi kau berhasil menghancurkan kekuatan yang menutupi planet ini, Lunar.” Ava menyemangati Lunar, dan kini prai itu terlihat seperti sangat mengagumi kekuatan Lunar. Dia memandang Lunar dengan penuh semangat.
“Hentikan tatapanmu itu, Ava. Kau membuatku merinding. Lebih baik kau perhatian jalan di depan.” Lunar mengingatkan Ava, kalau sebenar lagi dia akan menabrak pohon besar yang ada di depannya.
Ava berteriak saat dia sudah tak sempat lagi untuk menghindar, dan menghantam pohon di depannya dengar keras. “Kenapa kau baru bilang sekarang, Lunar!” gerutunya sambil berusaha menahan rasa sakit.
Lunar menggeleng, lalu mempercepat langkahnya kembali. Menatap lurus ke depan ke arah Mavis membawa mereka. Di depannya ada Mad Draygon yang mengamuk dan beberapa kali menghancurkan pohon-pohon yang menghalangi jalannya. Tanah bergetar saat makhluk itu sesekali menyeruduk dan menghamtakan tangannya ke tanah.
Setelah berbelok di beberapa pepohonan, tempat yang dimaksud Mavis mulai terlihat. Sinar matahari menyelimuti pohon besar yang berdiri kokoh di hadapan mereka. Sinar ini membentuk seberkas cahaya, dan terdapat beberapa sinar kecil yang menyelinap. Lunar menatap ke atas, Mavis telah berada di sebuah tempat terbuka di atas pohon itu, sebuah dahan besar yang menonjol ke depan. Mavis berada di atas dahan besar itu, menatap Mad Draygon yang kini ada di hadapannya. Kini mata mereka menatap satu sama lain, dengan ketinggian yang sama.
Lunar dapat mendengar suara Mavis yang samar-samar tertiup angin. Dia memperhatikan keduanya dari bawah, bersembunyi di sebuah lubang besar di bawah pohon itu bersama Mae, Eucli, dan Ava.
“Drayneel, apa kau ingat tempat ini? Tempat yang paling kita sukai. Hari itu, kau sengaja menggantikanku, ya. Aku tidak tahu apa-apa. Maafkan aku, Drayneel.”
Lunar memperhatikan Mad Draygon yang tiba-tiba diam, terlihat sedang mendengarkan dan mengerti kata-kata yang diucapkan Mavis, lalu dia menurunkan pedangnya. Mae, Eucli, dan Ava juga terdiam, menghentikan s erangan mereka lalu memandang ke arah Mavis yang sedang berbicara pada Mad Draygon. Kata-kata yang diucapkan Mavis membuat makhluk itu tenang. Ia menghentikan s erangannya dan menatap Mavis yang telah menurunkan weapon-nya.
Makhluk itu memandang Mavis dengan matanya yang bercahaya merah, di matanya Mavis terlihat dipenuhi energi negative Darlz yang mengalir dan bergerak-gerak.
“Maafkan aku, Drayneel. Kau pasti tahu dari awal, ya. Kau pun pasti tahu perasaanku setiap kali menjalankan tugas, ya.”
Semua yang ada di tempat itu terkejut melihat Mavis menjulurkan tangannya dan berusaha menyentuh ujung kepala Mad Draygon yang sedang menunduk. Namun secara tiba-tiba makhluk itu meraung melihat energi negative Darlz yang mengalir di dalam tubuh Mavis.
Mad Draygon meraung sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, dan juga mengibaskan ekornya yang berbentuk seperti ujung tombak, kemudian menghantamkan kedua tangannya pada tanah di depan Mavis berkali-kali. Lalu kembali dalam posisi ingin menyeruduk Mavis yang masih diam.
Lunar yang melihat hal itu langsung berlari dan menangkap tubuh Mavis, keduanya berguling di tanah beberapa kali, lalu bangkit dan bersiap menerjang Mad Draygon. Lunar menggenggam erat pedang Chill-nya, membuat kuda-kuda bertarung. Namun Mavis menghentikannya.
Mad Draygon yang ada di depan mereka kini bertingkah aneh, ia meraung lalu menghantamkan kepalanya ke tanah beberapa kali seperti sedang berusaha berontak dari sesuatu yang mengendalikannya.
“Kau tersiksa, ya? Aku tahu, kok. Maaf Drayneel.” Suara Mavis terdengar berat saat mengucapkannya, lalu di sudut matanya menetes air mata. Sedetik kemudian Mavis kembali dalam posisi siap bertarung. “Sebentar lagi, kakak akan membuatmu merasa lebih baik.”
Tiba-tiba Mad Draygon menghantamkan tangannya pada Mavis, tetapi serangannya itu berhasil ditangkis Mavis dengan menyilangkan twin dagger yang terpasang di kedua lengannya.
“Terima kasih, Lunar, dan semuanya. Mulai dari sekarang, kalian tidak perlu terlibat dalam pertarungan ini. Semuanya akan aku lakukan sendiri!” Kesedihan terlihat di wajah Mavis saat mengatakannya.
“Tapi…” Lunar merasa khawatir dengan Mavis, bukannya dia meragukan kekuatan Mavis, tetapi bertarung sendirian melawan makhluk sebesar dan sekuat itu sama saja seperti bunuh diri. Terlebih saat ini Mavis sedang dikuasai perasaannya yang tak menentu.
Mavis mencegah Lunar dan yang lainnya ikut dalam pertarungannya dengan Mad Draygon, dia yakin dapat mengakhiri penderitaan makhluk itu sendirian. ”Dia adalah adikku. Jadi ingin ku akhiri dengan tanganku sendiri.” Mavis tersenyum meski air matanya telah mengalir di pipinya yang putih.
“Drayneel… Kakak akan mengakhirinya. Jadi… mengamuklah sesuka hati sampai kau merasa puas! Semua jejak akan terhapus tanpa tersisa sedikitpun. Jadi… buatlah orang yang melihat agar selalu mengingatmu! Mengamuklah dengan penuh semangat, senang, dan setulus mungkin! Kau adalah adik dari seorang Mavis, jadi buatlah kesan yang bagus! Kesan yang dapat membekas dalam hati! Aku… Mavis, akan menghabisi musuh di depanku!”
Mad Draygon menunggu hingga Mavis menyelesaikan kata-katanya, lalu setelah melihat Mavis telah siap menyerangnya, makhluk itu pun kembali dalam posisi siap bertarung. Mavis mengawali pertarungan mereka, dia melompat setinggi yang dia bisa lalu mengarahkan twin dagger-nya ke tubuh bagian depan Mad Draygon yang kini dipenuhi tonjolan-tonjolan berwarna merah menyala-nyala.
Makhluk itu mengibaskan ekornya saat Mavis hampir menebas tonjolan merah di dadanya. Mavis menghindari kibasan ekor Mad Draygon, lalu melompati tangan makhluk itu dan membuat gerakan berputar di udara. Dalam sekejap Mavis kembali menebaskan twin dagger-nya pada punggung Mad Draygon, darah berwarna merah gelap mengalir saat tebasan pedang itu berhasil merobek lapisan kulit di punggung makhluk itu.
Mad Draygon meraung kesakitan, lalu dia mengibaskan ekornya pada Mavis yang ternyata tidak menyadari s erangan itu. Tubuhnya terpental lalu terjatuh ke tanah, berguling beberapa kali hingga membentur batang pohon. Mavis mengerang, berguling di tanah menahan sakit. Dengan cepat dia berusaha bangkit dan mengabaikan rasa sakit yang kini menjalar di sekujur tubuhnya.
“Mavis!” Teriak Lunar spontan, lalu dia hendak berlari membantu wanita itu, namun langkahnya terhenti dengan gerakan tangan Mavis yang menolak bantuan dari Lunar. “Bukankah sudah aku bilang, Lunar. Apapun yang terjadi jangan libatkan dirimu dalam pertarungan antara kakak dan adik ini.”
Lunar terdiam, dia tak tahan melihat pertarungan itu dan ingin sekali melompat dan membantu Mavis.
“Meski tanpa ucapan pun, aku paham,” kata Mavis di dalam hatinya. Dia menevaskan twin dagger-nya pada bagian leher Mad Draygon. “Kalau diingat, dulu kita tak pernah sekalipun bertengkar meskipun kakak-beradik. Kita selalu bersama dalam suka, maupun duka… bahkan kita selalu mengisi kekosongan masing-masing… selalu begitu.”
Mavis mengingat semua kenangan bersama Mad Draygon, sebelum makhluk itu berubah menjadi naga raksasa dan memburu para Arz. Dia ingat ketika mereka bersama-sama duduk di atas pohon besar yang menjadi tempat mereka bertarung saat ini, memandang matahari yang hampir terbenam. Mavis menangis saat dirinya menebaskan twin dagger-nya ke tubuh Mad Draygon, dirinya sendiri tak mempercayai kenyataan pahit yang mengharuskan dirinya membunuh makhluk yang dianggapnya sebagai adik.
Makhluk itu mengerang kesakitan, dan di sekujur tubuhnya kini telah dipenuhi luka. Sejenak Mad Draygon terdiam, memandang Mavis yang kini berdiri di depannya. Lalu ia mengangkat satu tangannya ke udara, siap dihempaskan pada Mavis yang masih diam dan menatapnya dari jarak yang tak terlalu jauh.