Mavis mulai berjalan perlahan, pada jarak delapan meter dari Mad Draygon yang sedang mengangkat satu tangannya ke atas, lalu mulai berlari kecil. Saat berada pada jarak enam meter, Mavis berlari dengan cepat. Sedangkan Mad Draygon mulai terbang beberapa meter di atas tanah, mengangkat tangannya, lalu di belakangnya telah muncul cahaya hitam dengan kilatan merah yang perlahan berubah menjadi kristal besar.
Mavis menghiraukan kristal-kristal hitam yang bergerak-gerak mengikuti arah larinya. Lunar dan semua yang ada di tempat itu khawatir dengan Mavis, mereka melihat semua kristal itu tertuju pada Mavis. Lunar mengingatkan wanita itu untuk mencari tempat untuk berlindung, tetapi peringatannya tak dihiraukannya.
“Awas… Mavis, berlindunglah, kau tidak mampu menahan semua s erangan itu!”
Mavis terus berlari dan bersiap melompat untuk menerjang Mad Draygon. Matanya menatap tajam pada makhluk yang siap meluncurkan kristal hitam dengan kilatan merah. Di sudut matanya, air mata terus menetes.
Satu kristal hitam telah meluncur lurus ke arah Mavis, tetapi wanita itu berhasil menghindari kristal pertama itu dengan berguling ke samping. Mavis kembali mengarahkan perhatiannya pada Mad Draygon yang telah siap meluncurkan kristal kedua. Dalam sekejap kristal hitam itu terlepas dari sesuatu yang menahannya dan meluncur dengan cepat ke arah Mavis.
Gerakan kabur berwarna hitam dan kilatan merah membuatnya menunduk, merasakan embusan angin di rambutnya dari kristal yang meluncur dengan cepat di atas kepalanya. Sekali lagi Mavis berhasil menghindari kristal hitam Mad Draygon. Mavis berputar, membungkuk dekat dengan tanah, menghindari ledakan kristal hitam yang tepat berada di belakangnya.
Namun, ledakan kuat pada tanah di belakangnya membuat tubuhnya terlempar beberapa meter. Mavis berhenti sejenak, merasakan sakit di punggungnya, lalu kembali bangkit dan siap menerjang Mad Draygon.
Tanpa berpikir panjang, Lunar berlari ke arah Mavis. Satu lagi kristal hitam telah meluncur ke arah mereka berdua. Lunar menarik Mavis mundur, dan mereka terjatuh ke tanah, dan kristal hitam meluncur di depan mereka. Beruntung Mae berhasil menghancurkan kristal itu dengan sihirnya.
“Apa yang kalian lakukan? Bukankah sudah kubilang untuk tidak ikut campur?” teriak Mavis marah.
“Kau sudah hampir mati, Mavis!”
“Biarkan aku mati! Pergilah dari tempat ini kalau kalian tidak tahan melihatnya! Aku… aku akan menghentikan penderitaan ini!”
Lunar tersentak mendengar ucapan putus asa yang keluar dari mulut Mavis. Tanpa menunggu mereka selesai berdebat, Mad Draygon telah meluncurkan satu kristal hitam lagi ke arah Lunar dan Mavis. “Awas!” teriak Lunar sambil menarik tubuh Mavis lalu mendorongngnya ke sebelah kanan, kemudian Lunar menyilangkan pedangnya ke depan dan menahan kristal hitam yang berputar-putar di depannya, bergesekan dengan pedang Chill.
Lunar merasakan hawa panas dari kristal hitam yang tak menunjukkan akan berhenti dan terus mendorongnya. Lunar merenggangkan kakinya, menahan kristal hitam yang terus meluncur tepat di depannya. Lunar menguatkan genggaman pedangnya, lalu dengan cepat dia menghempaskan kristal hitam itu jauh ke kiri depannya, lalu berlari menjauhi tempat itu, menghindari ledakan kristal hitam di tanah. Dia merasa beruntung pedang Chill yang digunakannya mampu menahan kristal hitam itu tanpa tergores sedikitpun.
Saat Lunar menahan kristal hitam, Mavis sudah berlari mendekati Mad Draygon dan berhasil melompati kakinya. Lalu melompat lagi menaiki tubuh makhluk itu. Sedangkan kristal hitam masih bergerak-gerak siap menyerangnya kapan saja. Mavis berlari di atas punggung Mad Draygon, lalu menebaskan twin dagger-nya pada bagian tubuh makhluk itu yang terlihat lunak dan mudah ditebas.
“Apa dia punya banyak nyawa?” gerutu Lunar sambil berlari ke arah Mad Draygon. Dia merasa tidak tahan melihat tingkah gila Mavis, dan berencana untuk membantunya. Lunar tidak memperdulikan semua ocehan Mavis yang sepertinya sudah kehilangan akal sehat. Dan di sisi lain, Lunar tidak menduga kalau rencana sesungguhnya Mavis adalah mengalahkan Mad Draygon sendirian. Lunar telah menghilangkan prasangka buruk tentang Mavis yang selama ini memenuhi pikirannya.
Lunar telah sampai di bagian bawah Mad Draygon yang masih berada di udara, beberapa kristal hitam sudah terlepas dari tempatnya, dan tersisa empat. Lunar baru menyadari kalau satu kristal telah mengenai Mavis saat wanita itu berada di atas punggung Mad Draygon.
Mavis tergeletak di atas punggung Mad Draygon yang terlihat cekung, tubuhnya dipenuhi luka akibat ledakan kristal hitam itu. Begitu juga dengan Mad Draygon, ledakan kristal hitam di atas punggungnya membuat cekungan besar dan terlihat sangat mengerikan. Kulit hitamnya kini hangus dan mengeluarkan asap disertai darah yang berwarna ungu.
Lunar berlari dan menggapai tubuh Mavis yang terlihat sudah tak berdaya. Lalu dia mengangkat tubuh Mavis sambil menghindari kristal hitam yang tertuju pada mereka berdua. “Mereka berdua sama-sama gila, bagaimana bisa makhluk ini melukai tubuhnya sendiri!” gerutu Lunar sambil melompat turun dari punggung Mad Draygon.
Tapi dalam sekejap, Mavis memberontak, meminta Lunar untuk menurunkannya, dan dia ingin kembali bertarung dengan Mad Draygon. Dia meronta, dan melepaskan pegangan Lunar dengan kuat, lalu mendorong Lunar hingga terjatuh dari punggung Mad Draygon.
“Sudah kukatakan berkali-kali, jangan libatkan dirimu dalam pertarungan ini, Lunar!” kata Mavis dengan nada marah, wajahnya menunjukkan emosi yang tak menentu. Di satu sisi ada kesedihan dan di sisi lain amarah pada seseorang yang meluap-luap.
Lunar tidak menduga kalau Mavis akan mendorongnya, dan membuatnya terjatuh dari punggung makhluk itu. Lunar tak dapat mengelak, kini tubuhnya terjun bebas dan hampir membentur tanah dengan keras. Mae dengan cepat membuat kubus es menggunakan sihirnya. Menyelimuti tubuh Lunar dari benturan keras. Lalu membuat kubus es itu bergerak ke arahnya.
“Hampir saja! Sudah lupakan Mavis, kita biarkan saja dia berbuat semaunya!” kata Mae kesal.
Meski baru mengenal Mavis, Lunar dapat merasakan penderitaannya. Dia memandang pertarungan Mavis dengan makhluk yang disebut wanita itu sebagai adiknya. Lunar berharap Mavis berhasil mengakhiri penderitan dirinya dan juga makhluk yang dianggapnya adik itu.
Mavis terhuyung-huyung, lalu mengambil napas panjang. Dengan sisa kekuatannya dia berlari menuju leher Mad Draygon. Kini dua kristal telah menuju ke arahnya. Dengan cepat Mavis menghindari kristal itu dengan melompat tinggi lalu berputar di udara. Kristal itu meluncur jauh ke langit di atasnya. Memanfaatkan kesempatan itu, Mavis kembali ke punggung Mad Draygon.
Butuh waktu beberapa saat untuk makhluk itu meluncurkan kristal hitam yang kini tersisa dua. Tanpa membuang waktu, Mavis menusuk dan menikam leher Mad Draygon dengan twin dagger-nya. Makhluk itu mengerang kesakitan dan terjatuh ke tanah. Kristal hitam yang di belakangnya terlepas bersamaan, mengarah kepadanya dan juga Mad Draygon.
Lunar berlari kencang, berusaha menyelamatkan Mavis, namun dalam sekejap dua kristal hitam itu menghantam tubuh Mad Draygon dan Mavis. Menghasilkan ledakan besar disertai suara yang memekakkan. “Mavis!” teriak semua yang ada di tempat itu bersamaan.
Mereka mendekati Mavis yang tampak terengah-engah, berada di samping kepala Mad Draygon. Tubuhnya hangus, begitu juga Mad Draygon. Asap berwarna hitam memenuhi tempat itu. Mavis membuka matanya perlahan, menatap Mad Draygon yang sudah tak berdaya.
Kedua mata wanita itu basah dengan air mata, lalu tangannya memegang wajah Mad Draygon. “Kini kita bisa bersama lagi Drayneel.”
“Mavis!” teriak Lunar. “Bertahanlah, Mavis! Eucli… Mae… bisakah kalian menolongnya?”
Mad Draygon yang sudah terlihat lemah, memandang Mavis di sampingnya, dan mulutnya membuka, terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Ada apa Dryneel?” tanya Mavis dengan suara yang semakin pelan. Eucli ada di sampingnya dan mengobati luka-lukanya dengan sihir pengobatan.
Samar-samar suara Mad Draygon terdengar, “Aku benar-benar merasa bahagia, aku akhirnya bisa beristirahat. Aku berharap kita dapat berbincang lebih lama, dan bersama kakak lagi.” Makhluk itu meneteskan air mata, dan suaranya terdengar lirih di telinga mereka semua yang ada di sana.
Mavis tersenyum mendengar suara Mad Draygon, dia tidak merasa takut ataupun khawatir jika makhluk itu tiba-tiba menyerangnya. Tangannya mengusap air mata yang mengalir di sudut mata Mad Draygon.
“Akhirnya kau bisa berbicara dengan bahasaku, Drayneel. Bawa aku bersamamu, kita akan bersama-sama lagi seperti dulu.”
“Tidak, kau harus tetap hidup, kak Mavis.”
“Apa kau benar-benar berharap demikian dari dalam hatimu, Drayneel?’
“Oh, tidak… Sepertinya penderitaanku akan membawamu juga, kak.”
“Ayo pergi bersama, Drayneel.” Mavis masih mampu tersenyum saat mengatakannya, meski rasa sakit telah menggerogoti seluruh tubuhnya yang tampak hangus.
“Kakak, ini terasa sangat nyaman dan hangat, tanganmu kak, akhirnya aku bisa merasakannya lagi setelah sekian lama.”
“Tentu saja, ini adalah tangan kakakmu, Drayneel.”
“Ah… jadi seperti inilah kematian, aku merasa terbebas dari semua penderitaan yang selama ini diberikan orang-orang itu. Ini adalah kekuatan yang mengalahkan penderitaan kita selama ini. Kak… aku ingin mendengar nyanyianmu untuk terakhir kali, bisa kau melakukannya?”
“Ya, Drayneel.”
Mavis mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya untuk membuka mulutnya, dengan napas yang terputus-putus, dia mulai menyanyikan sesuatu. Suara Mavis terdengar semakin lirih, sesekali dia harus menarik napas panjang, dan terbatuk. Cairan merah segar keluar dari mulutnya sesekali. Semakin lama suara Mavis mengecil hingga akhirnya dia terdiam, menarik napas panjang lalu hening, kedua matanya menutup.
Setelah selesai menyanyikan lagu yang diinginkan Mad Draygon, Mavis dan Mad Draygon menutup matanya bersamaan, dan keduanya terlihat bahagia meski di sekujur tubuh mereka terdapat bekas luka bakar berwarna hitam yang masih mengeluarkan asap.
Eucli menghentikan sihir pengobatannya saat merasakan Mavis sudah tidak bernapas lagi. Lalu menggerutu dan menghempaskan tangannya ke tanah. Menyesali dirinya yang mengikuti permintaan Mavis untuk bertarung sendirian. Lunar dan Mae menyesali kalau mereka sempat menaruh curiga pada Mavis.
Perlahan tubuh Mad Draygon berubah menjadi partikel berwarna merah kehitaman, dan terbang terbawa angin yang menerbangkannya ke langit, meninggalkan Mavis yang sudah tak bernyawa. Lunar tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain menunduk menatap tanah, pikirannya kalut bercampur dengan rasa bersalah.
Sejenak keheningan menghiasi tempat itu.
“Kita harus membawa Mavis kembali ke armada,” kata Eucli secara tiba-tiba memecah lamunan Lunar.
“Ya,” jawabnya singkat.
“Bagaimana dengan…” Ava berhenti berbicara saat Mae menarik tangannya.
Mae dapat menebak apa yang akan dikatakan Ava, “Diamlah, Ava. Jangan bicarakan itu,” bisiknya pada Ava yang kebingungan.
“Maksudku…”
“Diamlah, Ava. Semua misi kita di planet ini sudah selesai.”
Lunar meraih tubuh Mavis, lalu menggendongnya. “Ayo kita kembali ke armada,” katanya menahan segala perasaan campur aduk. Tanpa menunggu persetujuan yang lain, Lunar berjalan di depan. Eucli telah menyingkirkan harapan yang dia yakini hanya harapan kosong semata, dan melangkah mengikuti Lunar di belakang. Mae dan Ava tak lama juga berjalan meningkalkan tempat itu. Cahaya matahari sore menyinari mereka saat meninggalkan Planet Orla yang tampak masih kacau.