Setelah mendapatkan waktu satu minggu untuk terbebas dari misi, Lunar kini mendapat misi baru untuk menjelajah di planet yang baru ditemukan Uricle. Planet Uiscela, sebuah planet yang dipenuhi dengan air dan pasir berwarna putih.
Sebelum melakukan misi itu, Mae meminta Lunar untuk menemaninya pergi ke suatu tempat yang sangat ingin dikunjunginya. Dia menagih janji yang Lunar buat kepadanya saat berada di Planet Orla.
Sepuluh hari setelah pertempuran dengan Darlz Ildar, kini kapal Arz terlihat telah pulih, Arz dan juga warga sipil melakukan aktifitasnya di kapal itu. Langit biru dengan awan putih yang bergerak-gerak menjadi scenery di kapal Arz. Lunar berjalan menuju tempat yang telah ditentukan Mae, tetapi dia melihat ada sesuatu yang berbeda di kapal itu.
“Apa… yang sebenarnya terjadi?” Lunar melihat ke sekeliling shopping center yang tampak berbeda. Di depannya dua orang Arz sedang berbincang, dan salah satu diantaranya terlihat aneh di matanya. Arz yang menggunakan seragam trainee itu memliki dua buah tanduk di atas kepalanya. Lunar memandanginya dengan wajah penuh rasa penasaran.
“Kau…” Seorang wanita berseragam trainee, menunjuk Lunar yang berada tak jauh darinya. “Ada apa lirik-lirik daritadi, senior?” Wanita itu meninggalkan temannya, lalu berjalan ke arah Lunar.
“Ah, bukan apa-apa.” Lunar merasa malu karena telah memperhatikan wanita aneh itu terlalu lama.
“Kau ini Arz, kan?” tanya wanita bertanduk yang sudah ada di depannya. Lalu wanita itu mengulurkan tangannya kepada Lunar. “Namaku, Mira. Salam kenal, ya”
“Ya…” Mata Lunar belum berpindah dari dua buah tanduk hitam yang menonjol di kepala wanita yang bernama Mira itu, dia terus menatapnya hingga membuat wanita itu memegangi tanduknya.
“Hm? Kau penasaran dengan ini? Tidak usah terlalu heran, ini memang sudah ciri khas kami para draykos.”
“Ah, draykos?” Lunar benar-benar tak mengerti yang sedang terjadi di sana, waktu satu minggu yang dia habiskan di dalam apartemennya, membuatnya tidak mengetahui keadaan Uricle.
“Kenapa ekspresimu seolah baru pertama bertemu dengan draykos? Tidak mungkin, kan? Kami kan salah satu dari empat ras yang ada di dalam armada Uricle.”
“Aku baru tahu soal draykos. Draykos itu apa sebenarnya?”
Wajah Lunar tidak dapat menyembunyikan rasa penasaran yang memenuhi pikirannya. Sepertinya waktu yang telah dia lewati telah banyak mengubah keadaan di sekitarnya. Dan, tak ada satupun anggota timnya yang memberitahunya tentang hal ini.
“Kau bicara apa sih, senior? Kalau ditanya begitu pun susah. Kami ini ras yang diciptakan untuk fokus pada kekuatan penye rangan.” Wanita itu terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu, tangannya tetap memegang dua buah tanduk yang menonjol di kepalanya. Saat dia telah mengingatnya, salah satu tangannya berpindah ke depan Lunar, memutar-mutar jari telunjuknya yang menghadap ke atas, terlihat seperti sedang memberikan pelajaran kepada muridnya.
“Ah… dulu ditemukan adanya kain yang keluar dari distorsi ruang, lalu di kain-kain itu ditemukan gabungan sel-sel darah naga dan Darlz. Dari sel-sel darah itulah, kami para draykos tercipta.”
“Sejak kapan draykos ada?” Lunar semakin menggila mendengar kata-kata Mira yang terdengar seperti dongeng. Dia tak mempercayai semua kata-kata wanita itu, tidak mungkin dalam waktu satu minggu sejarah Uricle berubah drastis. Dari yang dia ketahui, ras di armada Uricle hanya ada tiga, yaitu human, elf, dan cyborg. Tidak ada ras draykos di dalam catatan Uricle yang pernah dia pelajari saat trainee.
“Kau pasti sedang membodohiku ya, senior? Semua orang juga tahu, kalau kami sudah ada sejak 100 tahun lalu!”
“Oh…” Lunar merasa fustasi, dia yakin ada sesuatu yang aneh telah terjadi saat dia bebas misi. Lunar berjalan melewati Mira, lalu pergi meninggalkan wanita itu yang masih bingung dengan sikap Lunar.
Lunar melihat sekali lagi ke sekeliling shopping center, dan mendapati begitu banyak Arz dari ras draykos sedang melakukan aktifitas di sana. Dia yakin ada sesuatu yang telah mengubah sejarah Uricle, atau mungkin seseorang telah memanipulasi mereka dengan sejarah baru.
“Lunar…” Tiba-tiba suara lembut yang sudah familier ditelinganya muncul, diikuti bayangan wanita berpakaian laboratorium muncul di sebelahnya. Tanpa menunggu Lunar menyadari kehadirannya, wanita itu melanjutkan kata-katanya
“Pergeseran sumbu waktu yang diakibatkan distorsi ruang, mengubah segalanya.”
Lunar menoleh pada sumber suara itu, dia mendapati Shein telah berdiri di sebelahnya.
“Perubahan yang diakibatkannya bahkan melebihi perhitunganku. Darah Mad Draygon yang melintas di masa lalu, melahirkan draykos.”
Lunar mendengarkan kata-kata Shein, tapi tak sepenuhnya mengerti.
“Kenapa cuma aku yang tidak tahu tentang draykos?”
“Segeintir aksi yang kau perbuat bersama timmu telah memicu sumbu waktu yang mengubah masa lalu. Bukan hanya kau, tetapi seluruh anggota timmu baru saja mengetahui kehadiran ras baru itu.”
“Tapi kejadian itu baru terjadi beberapa hari lalu!”
“Ya… beberapa hari saat kalian beristirahat, sepertinya membuat kalian tidak terkena sihir manipulasi pikiran yang dilancarkan Lithar kepada seluruh penduduk Uricle, termasuk anggota dewan penjaga dan Arz.”
Lunar semakin tidak mengerti tentang perubahan sekitarnya. “Apa maksudmu dengan sihir manipulasi pikiran Lithar?”
Sebelum Shein menjelaskan segalanya, Mae muncul dari belakangnya, wajahnya tampak terkejut saat melihat Lunar sedang berbicara dengan Shein.
“Mae?” kata Shein dengan suara yang sangat lembut.
“Eh… kita sudah dua kali bertemu, kan?” kata Mae dengan wajah polos, telunjuk kanannya menyentuh bibirnya yang berwarna pink.
“Kau melihatnya?” tanya Lunar ragu.
“Apa seharusnya aku tak boleh melihatnya?”
“Jika dia menyadari eksistensiku, tidak jadi masalah. Dia berbeda dari Lithar. Lunar… Mae… Aku yakin kalian pasti bertanya-tanya. Tapi seiring waktu berjalan semua pasti akan terjawab.”
“Semuanya pasti terjawab? Jadi hanya tinggal menunggu, kan?” Tanpa mengetahui arah pembicaraan Lunar dan Shein, Mae melontarkan pertanyaan dengan wajah polosnya.
“Dapatkah kau mempercayaiku lagi? Apa kau masih dapat mempercayaiku?
“Aku sedikit bingung, tapi aku percaya padamu. Karena suaramu terdengar tidak asing dan membuatku merasa rindu.”
Shein tersenyum saat Mae mengatakannya, dia merasa bahagia Lunar dan Mae bisa bersama lagi, lalu dalam sekejap bayangan Shein menghilang.
“Orang tadi sangat misterius, ya. Tapi kesannya membuatku nyaman dan merasa aku mengenalnya. Sudahlah lupakan dia. Ayo, Lunar. kau sudah membuat janji kepadaku, kan.”
“Ya, jadi tempat yang ingin kau kunjungi itu, shopping center?”
“Kau benar,” kata Mae sambil mengerlingkan matanya lalu berjalan mundur di depan Lunar yang menggelengkan kepalanya dan menghela napas.
“Kenapa, Lunar? Kau mau ingkar janji?”
“Tidak, ayo… kau mau kemana? Tempat ini kan luas, dan lagi kita harus cepat. Kita hanya punya waktu empat puluh lima menit sebelum berangkat misi lagi.”
“Bisakah kau sebentar saja melupakan tentang misi?” Mae cemberut lalu berbalik dan menyilangkan kedua tangannya di belakang punggungnya. Dia berjalan sambil menendang udara di kakinya. Wajahnya tampak kesal dengan sikap Lunar yang selalu mementingkan misi.
Tanpa berkata, Lunar mempercepat langkahnya dan menyusul berjalan di samping Mae. “Kau jelek kalau cemberut begitu, Mae.” Saat mengucapkannya, Lunar teringat dengan mimpi-mimpi dan kilasan masa lalu yang sempat melintas di kepalanya. Kata-kata yang terdengar tidak asing dan sering dia ucapkan dulu.
“Mae… apa kau tahu sesuatu tentang draykos?’
“Draykos? Aku baru mendengar kata-kata itu.”
“Jadi kau belum melihat mereka? Para draykos, padahal di tempat ini banyak sekali draykos yang berpapasan dengan kita sejak tadi.”
“Aku tidak merasa ada keanehan dengan orang-orang yang ada di tempat ini, tapi draykos… aku baru mendengarnya darimu, Lunar.”
“Ras baru di armada ini, draykos. Ras yang dibuat dari campuran sel darah naga, manusia, dan Darlz,” kata Lunar dengan wajah yang serius. “Apakah Eucli dan Ava juga tahu mengenai ras baru ini?”
“Entahlah… tapi Lunar, bisakah kau fokus dengan janjimu dulu?”
Dengan terpaksa, Lunar mengikuti permintaann Mae. Dia sedikit menyesal telah membuat janji akan menemani Mae kemana pun yang dia mau, tetapi dia juga berhutang pada wanita yang telah menyelamatkannya dari s erangan Diarla.
Lalu mereka menyusuri shopping center, memasuki toko-toko yang menjual perlengkapan Arz, lalu Mae meminta untuk masuk ke sebuah toko pakaian dan aksesoris wanita. Sekali lagi Lunar menghela napas, meski dia merasa kesal tapi dia tetap mengikuti Mae, menepati janji yang terlanjur dia buat pada wanita itu saat berada di Planet Orla.
“Lunar! Coba lihat ini, apa kau menyukainya?”
Mae mencoba salah satu pakaian yang ada di toko itu, lalu meminta pendapat Lunar mengenai pakaian itu.
“Kenapa kau tanya itu padaku? Aku tidak mengerti apapun tentang pakaian wanita,” gerutu Lunar.
“Aku butuh pendapat orang lain, Lunar.”
“Bagus,” jawab Lunar dengan singkat. Wajahnya memerah saat melihat Mae menggunakan pakaian kasual, ini adalah pertama kali dia melihat wanita itu menggunakan pakaian selain seragam Arz yang berwarna biru tua dengan celana panjang warna senada, ditambah sepatu boots khusus misi.
“Jawaban macam apa itu, Lunar! Sesekali kau juga harus merubah gaya pakaianmu.”
“Aku nyaman dengan pakaian ini, jika ada situasi darurat aku sudah siap menghadapinya.”
“Cih… terserah kau saja!”
Mae kembali ke ruang ganti sedangkan Lunar terlihat gelisah, sesekali dia melihat penunjuk waktu yang ada di Uricle device miliknya. “Sudah dua puluh menit aku menemaninya berkeliling!” gumamnya kesal. Lalu kembali duduk di kursi ruang tunggu toko itu.
“Dia cantik, kekasihmu ya.”
Lunar terkejut saat mendapati seorang pelayan toko menghampirinya dan mengatakan hal yang tak terduga itu.
“Bukan!” jawabnya sambil memalingkan wajahnya dari pelayan toko itu.
Pelayan itu tersenyum kepadanya, lalu kembali mengatakan hal lain untuk menggodanya. “Jangan begitu, kau harus mengakuinya. Jangan sampai dia diakui kekasih oleh orang lain.”
Lunar berbalik menghadap pelayan toko yang masih tersenyum padanya. Lalu dia segera menghilangkan emosinya, tidak ingin menimbulkan keributan di tempat itu. Tak lama Mae keluar dari ruang ganti dan sudah mengenakan seragam Arz.
“Kau terlihat lebih baik dengan pakaian itu.”
Mae melihat dirinya sendiri dari ujung kaki, lalu dia menghadap pada cermin besar yang ada di samping pintu ruang ganti. “Ini yang kau bilang bagus?” katanya dengan nada mengejek.
Lunar mengabaikan kata-kata Mae, lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu keluar toko. “Cepatlah, kita akan terlambat.”
Mae menggelengkan kepalanya, lalu mengikuti Lunar dari belakang sambil memasukan barang-barang yang dia beli ke capsule inventory.
“Berapa menit lagi, Lunar?”
“Lima belas menit sebelum peluncuran, atau kita akan ditinggal Eucli dan Ava,” katanya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Maaf, Lunar”
“Tidak perlu minta maaf, Mae.” Lunar menoleh pada Mae lalu dia melakukan hal yang tak terduga, tetapi terasa dia sering melakukan itu. Lunar mengusap rambut Mae, seperti wanita itu adalah adiknya sendiri. “Ayo!,” katanya sambil tersenyum.