Setelah berjalan-jalan di shopping center, Lunar dan Mae segera menuju kapal induk. Mereka telah sampai pada exit 1 kapal itu, terlihat dari kejauhan tiga kapal telah siap untuk membawa mereka menuju Planet Uiscela. Eucli dan Ava berdiri di antara kerumunan Arz yang menunggu giliran untuk masuk ke dalam kapal.
“Hei, Lunar, Mae! Apa kabar, Lunar?” Suara Ava terdengar seperti biasanya, penuh dengan semangat.
“Baik.” Sementara Lunar menjawabnya dengan singkat.
“Kita akan ke Planet Uiscela yang baru ditemukan, loh. Aku dengar hampir seluruh wilayah planet itu laut semua.
“Hei, apa kabar kalian semua?” Eucli tampak berbeda dari biasanya, kini rambut yang dulunya diikat dua, kini dijadikan satu rumpun di belakang agak tinggi. Selain itu, jaket Arz yang selalu ditutup rapat dan dimasukkan ke dalam celana panjangnya, kini terbuka dan memperlihatkan kaus berwarna putih polos. Lunar menduga, Eucli melakukan itu untuk merubah suasana. Waktu satu minggu tidak akan cukup untuk menghapus ingatan tentang berbagai peristiwa buruk yang telah menimpa mereka.
“Baik, Eucli. Kau sendiri? Kau tampak berbeda,” jawab Ava mendahului Lunar dan Mae yang masih memperhatikan perubahan penampilan Eucli.
“Yah… apa aku terlihat aneh?” Wajah Eucli terlihat menyembunyikan rasa canggungnya karena semua teman satu timnya menyadari perubahan penampilannya.
“Ah… tidak, tidak. Kau terlihat sangat keren dan lebih segar.”
Sepertinya Ava telah mendominasi percakapan itu, dan dia terlihat sangat bersemangat untuk memulai misi baru mereka di planet yang baru ditemui itu.
“Ava benar, kau lebih keren dengan penampilan yang sekarang, Eucli. Kau juga Lunar, sudah aku bilang kau juga butuh perubahan,” ujar Mae sambil menatap Lunar dengan tatapan mengejek. Lalu dia mendekati Eucli dan merangkul tangannya. Mae tentu saja, melanjutkan kata-katanya, tanpa menghilangkan senyum cerahnya, dan tanpa memperdulikan pikiran Lunar. “Benar kan, Eucli. Sepertinya Lunar terlalu kaku dengan gayanya.”
Lunar menarik napas panjang, dia tidak tahu harus berkata apa. Dia juga tak ingin memperdebatkan masalah penampilan. Baginya mengenakan seragam Arz adalah gaya paling baik dan nyaman.
“Ya, kau benar Mae. Lunar memang kaku untuk masalah seperti itu. Saat aku pertama bertemu dengannya, dia sangat pendiam, loh.”
Ava menambah kepusingan di kepala Lunar, dengan cepat Lunar memotong pembicaraan itu. Tak ingin membiarkan waktu terbuang hanya untuk membicarakan masalah di luar pekerjaannya sebagai Arz. “Ayo cepat, sebentar lagi kapal akan berangkat. Tim lain sudah menunggu kita di dalam kapal.” Itu adalah cara yang sangat blak-blakan untuk menghentikan pembicaraan mereka.
“Cih, dasar tuan kaku, Lunar,” ujar Mae sambil menjulurkan lidah dan menarik salah satu kelopak mata bagian bawah saat Lunar berjalan meninggalkan mereka.
“Sudah… sudah… biarkan saja dia begitu, nanti kalau waktunya tiba dia akan memperhatikan penampilannya. Sama seperti…”
Eucli berhenti berkata saat hendak menyebutkan sebuah nama. Dan tanpa disadarinya, dadanya kembali sesak saat mengingat nama itu. Dia tertunduk menatap pada lantai logam di exit 1 kapal induk.
“Kau kenapa, Eucli?” tanya Mae khawatir dengan perubahan ekspresi Eucli.
“Tidak… tidak ada apa-apa. Ayo, kita juga masuk ke dalam kapal, menyusul tuan kaku kita.” Eucli memaksakan senyum tipis untuk menutupi kegelapan perasaannya saat mengingat Fenz.
“Ayo…!” Ava mengangkat tangannya sebelum dia mengikuti Eucli dan Mae dari belakang.
Semuanya hening saat berada di dalam kapal yang akan membawa mereka ke Planet Uiscela. Lunar dan timnya adalah perwakilan tim dewan penjaga Fenz, yang kini dipimpin oleh Eucli untuk sementara waktu sampai ada kandidat pengganti dewan penjaga itu. Di seberang tempat duduk mereka, ada Kenos beserta timnya. Sedangkan dua kapal lainnya, ada tim Itasuke, bersama beberapa tim peneliti Uricle yang akan mengamati segala sesuatunya di planet baru Uiscela
Lunar memperhatikan seluruh anggota tim Kenos yang tampak mencuri perhatian. Seluruh Arz di tim itu memiliki rambut yang berwarna terang. Kenos dengan rambut orangenya, seorang wanita dengan rambut merah menyala, satu lagi rambut magenta. Satu pria yang duduk di depan Eucli dengan rambut panjang berwarna ungu muda. Pria yang duduk di depannya terlihat begitu segar dengan rambut hijaunya, sedangkan satu lagi di depan Ava, rambutnya sangat cocok dengan kulit putihnya, pria itu memiliki rambut putih, membuat kulitnya terlihat semakin cerah.
Rasa menggelitik timbul di dalam hati dan pikiran Lunar, baru kali ini ada hal yang mampu membuat dirinya ingin tertawa. Namun dia menahannya, agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka.
Lunar mengalihkan pandangannya dari tim Kenos, lalu menatap keluar jendela kapal, planet yang menjadi tujuan mereka kini telah ada di bawah mereka. Lalu terdengar peringatan bahwa mereka akan segera memasuki atmosfer planet, beberapa menit kemudian terdengar gemuruh disertai guncangan yang tak begitu kuat saat mereka sudah masuk ke dalam lapisan pelindung planet itu.
Tak butuh waktu lama melewati lapisan atmosfer planet yang tampaknya sangat tipis. Lalu dia dapat melihat dari kaca jendela kapal, sebuah pemandangan yang begitu berbeda dari perjalan sebelumnya.
Lautan luas ada di bawah mereka, disertai dengan hamparan pasir putih yang memanggil mereka untuk bermain di atasnya. Lunar baru pertama kali melihat pemandangan seperti itu. Rasa takjub seketika memenuhi pikirannya. Lalu suara Ava memecah semua imajinasinya.
“Aku ingin segera merasakan pasir putih dan berlarian di pantai itu. Sepertinya ini bukan misi tetapi liburan!”
“Kau benar, sepertinya kita harus mengganti pakaian kita. Seragam Arz tidak cocok di tempat ini.”
Lunar tidak menyangka Mae dapat mengatakannya dengan suara sekeras itu, hingga anggota tim lain menoleh kepada mereka.
Diantara kelompok itu ada seorang wanita berambut merah yang dibiarkan terurai, dan membingkai wajahnya yang lonjong. Dia bertubuh ramping dan kulitnya seputih salju. Dia bersandar pada dinding kapal dan melihat ke arah mereka dengan matanya yang indah. Kemudian tatapannya berhenti pada Lunar seakan tertarik padanya.
Lunar membelokan tatapannya, tidak ingin matanya bertemu dengan wanita yang belum dikenalnya itu. Lalu dia menepuk Mae yang duduk di sebelahnya, memintanya untuk mengecilkan suaranya. “Tidak bisakah kau berbicara pelan-pelan? Lihatlah, Kenos dan semua anggota timnya jadi terganggu.”
Wanita berambut merah itu tersenyum pada mereka, sedangkan matanya tetap mengarah pada Lunar. “Aku tidak terganggu kok, lagipula kita akan menjalankan misi bersama. Tidak baik 'kan, kalau tidak saling mengenal.” Wanita itu mengulurkan tangannya pada Lunar, “Kenalkan, aku Liccea.”
Lunar merasa tidak mungkin akan menolak jabatan tangan wanita itu, di sisi lain dia merasa canggung. Dalam hatinyaa bertanya-tanya, mengapa wanita itu bertanya kepadanya terlebih dahulu bukannya pada Mae ataupun Ava. Dengan perasaan yang campur aduk dia mengulurkan tangan kanannya, lalu menjabat tangan Liccea.
“Aku Lunar,” jawabnya singkat. Lalu dia segera menarik tangannya, tetapi Liccea mencengkram erat tangannya sambil melebarkan senyumnya hingga kedua matanya menyipit. Lunar menarik sekali lagi tangannya, dan akhirnya wanita itu mau melepaskan tangannya.
“Aku Ava, senang berkenalan denganmu. Dan yang di samping Lunar, Mae. Kau pasti sudah mengenal Eucli, kan.”
“Ya,” jawab Liccea dengan senyuman yang masih cerah di wajahnya, tetapi dia tidak membalas uluran tangan Ava dan langsung kembali bersandar pada dinding kapal. Matanya belum berpindah dan masih menatap Lunar.
Lunar merasakan keanehan dari sikap Liccea, tetapi guncangan kapal yang telah mendarat membuatnya melupakan hal itu. Begitu juga dengan Ava yang tidak merasa tersinggung dengan sikap Liccea, semangatnya masih membara saat mereka bersiap turun dari kapal.
Tim Kenos turun terlebih dahulu dari kapal itu. Lunar memilih posisi paling belakang. Saat mereka telah menginjakkan kaki di pasir putih planet itu. Keceriaan mengembang di antara mereka, membuang segala kekhawatiran mereka pada planet yang baru ditemukan itu. Alat penyeimbang grafitasi telah terpasang pada Uricle device, untuk mencegah mereka terombang-ambing di dalam planet yang belum diketahui tingkat gravitasinya.
Pasir putih planet itu membuat cahaya Ilosila, bintang besar yang menjadi pusat dari galaksi itu terasa lebih terang dan menyengat mereka. Baru kali ini, Lunar merasa ingin melepas jaket Arz karena udara panas planet itu. “Jadi seperti ini suhu planet terdekat kedua dari pusat galaksi, panas sekali,” gumamnya dalam hati. Lunar membuka ritsleting jaket Arz-nya, memperlihatkan kaus putih di dalamnya. Keringat telah membasahi kaus putih itu, meski baru sesaat dia menginjakkan kaki di planet itu.
“Aku baru pertama kali melihat lautan!” Ava berlari mendekati air laut yang bergerak-gerak menyapu pasir putih. Tanpa berpikir panjang, pria itu langsung menjeburkan dirinya ke air laut itu. Namun dalam sekejap Ava keluar dari sana dalam posisi membungkuk, kedua tangannya memegang pasir putih di bawahnya. Dan wajahnya tampak kaget dengan air laut yang membasahi tubuhnya.
“Lunar…” katanya suara parau. “Kuberi sedikit peringatan… ternyata air laut, rasanya sangat asin.” Ava memejamkan matanya, kini wajahnya terlihat menderita karena tidak sengaja meminum air laut.
Tanpa disadari, Lunar tertawa melihat tingkah konyol temannya itu. “Siapa yang menyuruhmu meminumnya,” katanya sambil tertawa lepas.
“Hei… akhirnya kau tertawa ya!” ujar Ava sambil bangkit dan mengibaskan rambutnya yang basah, lalu berjalan ke arah Lunar.
Saat mendengar kata-kata Ava itu, Lunar langsung berhenti tertawa dan memalingkan wajahnya karena malu.
“Tidak perlu malu, teman. Belakangan ini kau sering murung, sesekali kau butuh tertawa. Kalau mau, kau bisa ceritakan semua masalahmu pada temanmu ini!”
“Cerita bagaimana? Tidak ada yang ingin aku ceritakan.”
Lunar memalingkan pandangannya dari Ava ke hamparan lautan di depannya. “Apa kau tahu tentang draykos?” tanyanya sambil tetap memandang ke lautan lepas.
“Draykos? Ras keempat itu? Aku juga baru melihatnya dua hari yang lalu saat mengunjungi shopping center. Sepertinya ada sesuatu yang berubah saat kita menjalankan misi minggu lalu.”
“Jadi, kau juga baru mengetahuinya? Bagaimana dengan Eucli, ya. Sepertinya hanya kita berempat yang tidak tahu.”
“Mungkin saja, tapi aku tidak begitu terganggu, seperti aku sudah terbiasa melihat mereka. Coba kita tanyakan pada Eucli,” kata Ava sambil menarik tangan Lunar, lalu menghampiri Eucli yang sedang bersama Mae dan Arz lainnya, mengamati keadaan planet itu.
Ava menarik Eucli keluar dari kerumunan Arz, “Maaf Eucli, ada yang ingin kami tanyakan kepadamu.”
“Ada apa Ava? Kenapa kau terburu-buru begitu. Apa yang sedang kalian lakukan? Kita sedang menjalankan misi, loh!”
“Apa kau tahu tentang draykos?” kata Lunar tanpa menunggu Eucli berdiri seimbang.
“Draykos? Aku baru melihatnya beberapa hari terakhir, tetapi seperti aku sudah lama melihat mereka. Memang ada yang aneh dengan draykos?”
“Begitu ya, sepertinya benar kata Shein.” Lunar mengingat kata-kata Shein saat bayangan wanita itu tiba-tiba muncul di shopping center. Lunar menelaah setiap kata-katanya tentang Lithar yang memiliki kekuatan untuk memanipulasi pikiran orang lain. “Mungkin orang itu yang membuat seluruh Arz langsung terbiasa dengan kehadiran draykos,” gumamnya dalam hati.
“Shein? Siapa dia? Aku baru mendengarnya.” tanya Ava dengan wajah dipenuhi rasa penasaran.
“Apa? Tidak, bukan siapa-siapa.” Tanpa disadari Lunar telah menyebutkan nama wanita misterius yang kadang muncul di hadapannya. Tidak banyak yang tahu tentang Shein. “Sudah, lupakan tentang perkataanku, ayo kita fokus dengan misi kita,” katanya untuk mengalihkan perhatian Eucli dan Ava.
Lunar segera melupakan pikiran-pikiran aneh tentang draykos untuk sementara, tak ingin mengganggu misi yang akan dilakukannya. Lalu dia berjalan di belakang Eucli dan Ava, tetapi matanya menangkap sebuah monster yang terbang dari jauh ke arah mereka.
Sebuah monster berbentuk burung berukuran seperti manusia, berwarna hitam dengan bulu pada bagian sayap berwarna emas dan bulatan merah di d**a. Terbang dengan kecepatan tinggi mengarah pada kerumunan Arz, di mulutnya telah terbentuk cahaya hitam dengan kilatan merah disekeliling. Perlahan cahaya hitam itu membesar, dan dalam jarak lima meter dari kerumunan Arz, monster itu menembakan laser berwarna hitam itu pada Arz yang belum menyadari kehadirannya.
“Awas!” teriak Lunar memperingatkan.
Belum sempat mereka semua menangkap kata-kata Lunar, laser itu langsung mengenai pasir putih di dekat mereka, menimbulkan ledakan besar dan suara menggelegar. Pasir putih itu berterbangan di udara, menutupi padangan mereka, lubang besar berwarna hitam terbentuk di tempat itu.
“Apa itu?” kata Ava dengan wajah tercengang melihat monster yang telah terbang di atas mereka. “Darlz? Di planet yang baru ditemukan sudah ada Darlz?
“Biar kupancing!” ujar Lunar, tangannya telah menggenggam pedang Chill. Tanpa menunggu persetujuan Arz lain, Lunar langsung menerjang ke arah monster itu.