Lunar berlari kencang, lalu dia memperkuat pijakannya pada pasir putih untuk melompat setinggi mungkin. Pedang Chill telah siap dia tebaskan pada sayap monster yang telah menyerbu Arz yang sedang menjalankan misi di planet baru, Uiscela.
Saat Lunar hendak menebas sayap monster Darlz itu, tiba-tiba sihir kilatan listrik meluncur dari belakangnya, dan langsung menghanguskan monster Darlz itu. Lunar berbalik, menoleh ke arah asal sihir itu dilepaskan. Mencari orang yang telah mengalahkan monster Darlz dengan satu sera ngan.
Lunar tercengang saat melihat orang yang melakukan sera ngan itu adalah Taurus. Hal itu dapat dilihat dari kilatan listrik yang masih tersisa di machine g*n-nya.
“Ah, Lunar…
“Taurus?”
“Bisakah kau berhenti mengangguku? Aku ingin menghabisi seluruh Darlz demi Marlu. Marlu lama sekali perginya. Oh iya, dia kan terluka.
“Apa yang kau katakan, Taurus?
“Seharusnya semua Darlz kubinasakan saja sejak awal. Aku harus bisa lebih kuat. Demi kebaikan Marlu.
Dari belakang Lunar muncul lima monster Darlz yang bentuknya sama dengan monster sebelumnya. Taurus langsung menghabisi kelima monster Darlz itu dengan menghujani monster-monster itu menggunakan kristal es dari sepasang machine g*n yang digenggamnya.
“Mengagumkan,” Lithar tiba-tiba datang dan berdiri di atas batu besar. Dalam sekejap Lunar merasakan waktu terhenti disekitarnya saat pria itu menepuk kedua tangannya. Lunar melihat ke arah kerumunan Arz yang mematung.
“Apa kau datang ke tempat ini juga karena saran dari Shein? Tapi terserah kalian saja, urusanku di sini bukan denganmu, melainkan pria itu,” kata Lithar, tangannya menunjuk Taurus.
Lunar berbalik ke arah Lithar, dia tidak mengerti mengapa hanya dia sendiri dan Taurus yang bisa bergerak bebas.
“Siapa kau? Apa kau juga ingin menggangguku?” teriak Taurus dengan nada marah.
Senyum licik mengembang di wajah Lithar, kemudian berubah menjadi tawa yang terdengar menjijikan di telinga Lunar.
“Tidak, bagiku Darlz juga sangat mengganggu. Karena itu aku ingin menawarimu bantuan, Taurus."
“Bantuan?”
“Bukankah kau menginginkan kekuatan lebih?” Suara Lithar terdengar puas dengan kata-kata provokasinya pada Taurus, dia yakin pria itu akan mengikuti kemauannya.
“Benar,” jawab Taurus singkat dan suaranya menunjukkan dia sedang serius.
“Misalnya kekuatan yang melebihi kekuatan enam dewan penjaga. Kekuatan yang bisa membantumu membunuh apapun yang kau inginkan."
“Tekadku sudah sangat bulat. Aku harus lebih kuat dari siapapun,” jawab Taurus penuh keyakinan.
Lunar merasakan niat jahat Lithar, dia berusaha mencegah Taurus mengikuti kemauan Lithar yang pastinya akan membawa bencana untuk mereka semua.
“Berhenti, Taurus. Jangan dengarkan dia."
Sekali lagi Lithar “Keputusan itu adalah bukti dari tekadnya. Menghormati keputusan penting seperti ini, bukankah kewajiban seorang teman?
Lithar menghilang, lalu dalam sekejap telah berada di depan Taurus.
“Sampai jumpa lagi. Ayo kita pergi, Taurus.” Lithar menyentuh pundak Taurus dan dalam sekejap keduanya menghilang dari hadapan Lunar.
“Kekuatan apa itu? Dan dia tahu Shein sering bertemu denganku. Orang macam apa dia?” gumam Lunar dalam hati.
Seorang wanita keluar dari kerumunan Arz dan tim peneliti Uricle, lalu berjalan mendekatinya. “Sepertinya Lithar mulai menunjukkan pergerakannya.”
Lunar menoleh ke sumber suara, dan mendapati seorang Arz anggota tim Kenos, Liccea. Dengan wajah yang tidak mampu menyembunyikan rasa pernasarannya, Lunar “Ya?”
“Sini ikut denganku!” Liccea menepuk pundak Lunar, dan tanpa persetujuan dari Lunar, wanita itu membawanya ke suatu tempat yang sangat asing baginya. Tempat itu dibenuhi dengan kubus-kubus berwarna biru terang yang terapung di udara.
“Tempat apa ini?”
“Bisa dibilang tempat sembunyi. Aku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang. Dia juga telah menunggumu, Lunar.”
Lunar tidak mengerti mengapa wanita itu membawa ke tempat itu, meninggalkan Mae, Eucli, dan Ava. Terlebih lagi sepertinya wanita itu mengetahui rahasia tentang Lithar, dilihat dari perkataannya tentang pergerakan Lithar. Dan, wanita itu bisa menghilang dalam sekejap, membawanya ke tempat yang sangat berbeda. Menyingkirkan rasa ragunya, Lunar mengikuti Liccea dari belakang saat wanita itu mulai menyusuri tempat misterius itu.
“Siapa yang ingin bertemu denganku?”
“Lihat saja, nanti juga akan bertemu k “Lihat saja, nanti juga akan bertemu kok. Lebih cepat lebih bagus kan, Lunar. tetapi kalau langsung bertemu jadi pasti bingung ya.”
“Biar kujelaskan ciri fisiknya, dia seorang anak laki-laki yang tengil dan selalu ingin berada di tempat yang tinggi.”
“Lalu kau menuruti perintah orang menyebalkan itu?”
“Hmm… Soalnya sama-sama menguntungkan untuk kami berdua, sepertinya? Dia juga sudah berjasa bagiku. Yuk, lanjut jalan.”
Mereka melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan yang kini terlihat tak beraturan. Bebatuan berbentuk kotak sempurna dengan berbagai ukuran, terapung lebih banyak di udara, membentuk jalan setapak ke atas. Di kanan dan kiri mereka dinding batu berwarna biru dengan garis-garis yang bercahaya biru lebih terang, menjulang tinggi.
“Terima kasih, Liccea. Omong-omong, aku dengar semua perkataanmu di jalan loh!” Suara anak laki-laki terdengar dari kejauhan, tepatnya jauh di atas mereka. Lalu, Lunar menangkap sosok anak-laki sedang duduk di atas kubuh yang terapung.
Lunar tercengang saat melihat tubuh anak laki-laki itu yang dipenuhi dengan gelembung air bergerak-gerak di beberapa bagian. Selain itu, rambut biru anak laki-laki itu mengingatkannya dengan Shein. “Apa Liccea juga tahu tentang keberadaan Shein? Jadi itu alasan dia terus memperhatikanku saat di atas kapal,” gumamnya dalam hati.
“Aku tahu, dan memang sengaja agar kau dengar! Sifatmu itu benar-benar bikin kesal, Sirin.”
“Sekali lagi terima kasih untuk pujianmu itu, Liccea.”
“Mungkin aku menuruti kemauanmu berkat orang yang kupanuti, ya?” kata Liccea dengan suara yang terdengar mengejek anak laki-laki itu.
“Apa yang kau katakan Liccea? Bukannya kau sendiri yang menyuruhku bersikap selayaknya manusia?” Setelah mengatakannya, anak laki-laki itu tiba-tiba menghilang dari kubus batu yang didudukinya, lalu dalam sekejap telah berdiri di hadapan Lunar.
“Kekuatan apa yang dimilikinya, hingga mampu berpindah tempat tanpa bergerak sedikitpun? Liccea dan juga Lithar juga melakukan hal itu sebelumnya.Sepertinya mereka bukan orang sembarangan,” kata Lunar dalam hati mengagumi kekuatan teleportasi yang dimiliki orang-orang yang baru ditemuinya itu.
“Pertama-tama, salam kenal, Lunar. Namaku Sirin. Maaf membuatmu datang ke tempat ini, ya. Cuma inilah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk bertemu tanpa diketahui oleh Lithar. Hal yang penting saat ini adalah bertemu denganmu yang disayangi Shein!”
“Apa kau tahu siapa Shein?”
“Bisa dibilang, aku ini semacam adiknya Shein.”
“Kenapa kau juga menghindari Lithar seperti Shein? Memangnya apa yang akan dia lakukan?”
Wajah Sirin seketika berubah, ada kesedihan di dalam matanya yang biru. “Tujuan Lithar hanyalah satu, yaitu memahami Shein.”
“Memahami? Hanya itu? Apa yang kau maksud dengan memahami? Apa ada
maksud lain?“
“Hal itu tak sesimpel yang kau pikirkan, Lunar. Setiap tindakan yang dia lakukan,
semata-mata untuk dapat mencapainya. Mungkin membawa Taurus yang emosinya sedang tidak stabil karena kehilangan Marlu juga termasuk.”
“Lalu, apa yang sebenarnya dia ingin lakukan?”
“Pada saat ini, Arz seperti boneka yang dikendalikan Lithar. Meski begitu, dia
membiarkan beberapa aspek karena masih belum memahami Shein. Alasan Shein selalu menggunakan kalimat yang tidak kau mengerti adalah mencegah Lithar memahaminya, sekaligus dia ingin kau mencari tahu maksud dari perkataannya.”
“Oh, begitu… Tapi akhir-akhir ini aku merasa perkataannya lebih mudah
dipahami.
“Ya… Arti di balik perkataannya sudah menjadi lebih jelas. Penyebabnya juga mungkin karena Lithar semakin memahami dia. Karena kita tak punya banyak waktu, jadi kami ingin kau mengambil tindakan. Kita harus mengembalikan Arz menjadi Arz yang sesungguhnya.”
Lunar merasa ragu dengan kata-kata Sirin, terlebih mereka baru bertemu pertama kali dan Lunar tidak mengerti arah pembicaraan mereka.
“Kalau mendadak seperti ini, wajar saja kalau kau kurang percaya, Lunar.”
Sirin bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Lunar, membuat terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut anak laki-laki itu, seperti dapat menyelam ke dalam pikiran Lunar. “Jadi izinkan aku memberimu sedikit bukti. Bukti bahwa kita berdua bisa mengubahnya.”
Sirin menjulurkan tangannya ke depan Lunar, lalu cahaya putih menyilaikan keluar dari telapak tangannya. Membuat Lunar menyipitkan kedua matanya karena tidak tahan melihat cahaya itu. “Ayo, kita mulai perubahannya sekarang. Aku akan membuka penghalang yang membuat kekuatan dirimu yang sesungguhnya sulit keluar. Nah, coba kau gunakan pedang Chill yang diberikan Shein, lalu selamatkan Fenz.”
“Hah? Apa maksud perkataanmu itu, Sirin?”
“Sudah lakukan saja! Kau hanya perlu kembali ke masa lalu, dan selamatkan Fenz yang terjatuh ke dalam lubang di area monument penyegelan Darlz.”
Meski ada keraguan di dalam hatinya, tetapi Lunar tetap melakukan yang diminta anak laki-laki itu. Dia mengeluarkan pedang Chill dari capsule inventory-nya. “Sejujurnya aku masih bingung dengan cara kerja dan kekuatan yang dimiliki pedang ini.”
“Kau cukup bayangkan dan ingat dengan jelas waktu dan tempat yang ingin kau datangi. Dan, satu hal yang harus kau ingat. Kau tidak bisa datang ke tempat yang dirimu ada di sana, jadi tidak bisa ada dua Lunar di satu tempat dan waktu yang sama! Beruntung tragedy kapten timmu terjadi saat kau berada di tempat lain.”
Lunar terkejut mendengarnya, di dalam hatinya dia tidak sepenuhnya percaya dengan kata-kata anak laki-laki yang berdiri di depannya itu. Hal itu terdengar seperti bualan. Bisa berada di tempat aneh seperti saat ini saja, sudah membuatnya merasa dikelilingi oleh misteri.
“Sebenarnya, siapa dia, apa yang dia inginkan, dan tempat apa ini?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sampai detik ini. Ditambah anak laki-laki itu berbicara dengan kekuatan yang dimilikinya yang terasa sangat tidak mungkin. Tetapi dia merasa tidak ada salahnya mencoba, dia sudah penasaran sejak lama dengan kekuatan pedang yang diberikan Shein itu.
Lunar menggenggam pedangnya dengan erat, sambil berusaha mengingat area monument penyegelan dan juga waktu saat Fenz bertarung dengan Darlz Ildar. “Apakah aku hanya perlu mengingat dan membayangkannya?”
“Kau benar, cepat lakukan. Kita harus mencegah tindakan berbahaya Lithar!”
Pedang Chill di genggamannya bercahaya terang saat Lunar telah mengunci ingatannya akan sebuah tempat, dan juga waktu yang pas. Dalam sekejap lubang spiral putih muncul di depannya, dan Sirin menyuruhnya untuk masuk ke dalam lubang spiral itu.
“Masuklah dan jangan buat kekacauan, waktumu hanya sebentar. Liccea dan Elara telah menunggumu di sana.”
Dengan keraguan yang masih memenuhi hati dan pikirannya, Lunar tetap masuk ke dalam lubang spiral putih tanpa tahu dirinya akan menuju ke waktu yang tempat yang benar atau tidak. Tapi harapan untuk menyelamatkan Fenz menguatkannya. Kemudian Liccea mendekati Sirin yang kembali duduk di atas kubus batu yang mengapung di udara.