Langit gelap dengan cahaya ungu ada di ujung lubang spiral putih yang membawa Lunar dan Liccea ke masa lalu, tepat saat Fenz bertarung sendirian melawan Darlz Ildar. Itu adalah waktu yang bertepatan saat dirinya di masa lalu baru saja pergi bersama Eucli membawa Mae dan Melfon. “Tempat ini… Planet Orla?”
“Ya, kau benar. Tepat seperti yang dikatakan Sirin,” ujar Liccea yang berdiri di hadapan Lunar tepat setelah dia keluar dari lubang spiral putih.
Elara dan Liccea telah berada di tempat itu sesuai dengan arahan Sirin. Elara dan Liccea yang ada di hadapan Lunar, keduanya adalah orang yang ada di masa lalu. Elara menyilangkan tangannya di pinggang saat Lunar berjalan ke arahnya, memperhatikan Lunar dari atas hingga bawah.
“Oh, ternyata dirimu. Begitu, ya. Rupanya kau orang yang terpilih. Entah bisa disebut kebetulan atau bukan.”
Lunar tercengang melihat Elara dan Liccea sudah berada di sana. “Kalian? Bagaimana kalian bisa ada di tempat ini?”
“Basa-basinya nanti saja, kalau berlama-lama kita bisa telat,” kata Liccea langsung mengarahkan mereka ke inti perjalanan mereka.
Tetapi Lunar yang belum mengerti situasinya, menoleh ke arah Liccea lalu Elara secara bergantian. Dengan wajah yang tak dapat menyembunyikan rasa ingin tahunya, Lunar melontarkan pertanyaan tanpa berpikir dahulu. “Telat kenapa?”
“Pertanyaan bodoh!” Liccea menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Lunar. “Kau ke sini untuk mengubah sejarah, kan?
“Mengubah sejarah?” Lunar tampak sangat kebingungan.
“Jangan terus-terusan bingung, Lunar. Sekarang kita harus membantu Fenz!” ujar Liccea sedikit kesal.
“Hei, Liccea. Ingatlah kalau aku juga belum diberi tahu semuanya. Sampai berani sekali menyuruh diriku yang seorang anggota dewan penjaga ini.”
“Terserah kau ingin berkata apa, senior. Tapi aku di sini juga hanya disuruh oleh Sirin.”
Tiba-tiba tempat mereka berpijak bergemuruh, dari arah berlawanan muncul Fenz yang sedang menahan tebasan pedang Darlz Ildar dan tampak kesulitan. Fenz menoleh ke arah Lunar, Elara, dan Liccea. Wajahnya tampak kebingungan dengan kehadiran Elara dan Liccea. Dia ingat kalau kedua orang itu sedang berada di tempat lain di planet itu dan sedang menghadapi pasukan Darlz.
“Hei, Lunar kenapa kau kembali lagi? Bukankah aku memerintahkanmu untuk membawa Mae dan Melfon! Dan, bagaiamana kalian bisa di sini, Elara, Liccea?”
“Penjelasannya nanti saja Fenz, kita harus menghentikan Darlz Ildar sebelum dia mendapatkan kekuatan yang lebih besar!” teriak Elara sambil mengeluarkan scythe dari capsule inventory-nya.
“Ada apa? Hanya itu kekuatan yang kau punya? Dasar Arz lemah. Hibur diriku lebih dari ini!” Cahaya merah di mata Darls Ildar tampak lebih terang, menatap tajam Fenz yang kewalahan. “Akan kuhancurkan tekadmu bersama dengan jasadmu!” Lalu Darlz Ildar mengarahkan tinjunya pada Fenz, mengabaikan keberadaan Lunar, Elara, dan Liccea.
Melihat Fenz terdesak, Elara langsung mengambil langkah cepat. Dia menangkis tinju Darlz Ildar dengan scythe-nya. Darlz Ildar menatap Elara dengan kemarahan di kedua matanya. Sesaat keduanya saling berpadangan, saling mengeluarkan hawa membunuh yang besar dan bisa dirasakan orang di sekitarnya.
Tanpa membuang waktu, Lunar berlari dan menebaskan pedang Chill-nya pada tangan kiri Darlz Ildar. Membuat makhluk itu terpaksa mundur beberapa langkah. “Bukankah, kau orang yang tadi?” tanya Darlz Ildar, amarahnya semakin meluap karena Lunar mengganggu pertarungannya dengan Fenz.
“Kami akan membuatmu tunduk di sini, Ildar! Kami tidak akan melakukan kesalahan lagi!” Elara menggertak.
“Lunar, Elara, aku juga akan…” Fenz tidak melanjutkan kata-katanya dan langsung terjatuh dengan posisi kaki kanan menopang tubuhnya yang terlihat sudah lemah.
“Orang yang terluka hanya akan mengganggu. Tunggu dan lihat saja, Fenz. Aku akan menunjukkan padamu kekuatan dewan penjaga yang sesungguhnya! Lunar, jika kau dan Liccea takut juga tidak perlu maju, aku akan menghadapi Ildar seorang diri.”
“Hei, enak saja kau bicara, senior! Tentu saja aku akan ikut bertarung, sudah lama aku tidak menghadapi lawan yang kuat. Kami juga sudah siap tempur!”
Liccea adalah seorang Arz yang menguasai pertarungan jarak menengah, dia pengguna twin dagger, sekaligus dapat menggunakan kekuatan anti sihir. Hal itulah yang membuatnya dapat mematahkan sihir Lithar saat pria itu menghentikan aliran waktu saat tiba-tiba muncul di Planet Uiscela.
Elara memulai sera ngan mereka, dengan kekuatan penuh dia mengangkat scythe ke atas, lalu saat berada di depan Darlz Ildar yang masih mengumpulkan kekuatan, Elara langsung menghentikan makhluk itu untuk menyerap energi kegelapan yang ada di sekitarnya. Makhluk yang dihadapinya itu terdorong karena tebasan kuat dari scythe Elara, dari belakang Liccea langsung melakukan sera ngan berikutnya dengan cepat.
Namun, Darlz Ildar memutar tubuhnya dan berhasil menghindari sera ngan Liccea. Dalam sekejap Darlz Ildar berbalik lalu menghantamkan tinjunya pada Liccea yang masih berada di atas kepalanya. Tapi, Lunar berhasil menyelamatkan Liccea, dia menahan tinju Darlz Ildar dengan pedang Chill-nya. Lunar merasa kekuatannya meningkat setelah Sirin melepaskan penghalang yang dipasang oleh Lithar saat pedang itu dicurinya sepuluh tahun lalu.
Saat pedang itu menyentuh tangan Darlz Ildar, pedang itu mengeluarkan cahaya putih, lalu dari cahaya putih muncul partikel es yang merambat ke tangan Darlz Ildar. Membuat kekuatan Darlz Ildar melemah.
“Jadi, Darlz Ildar sempat dilemahkan?” ujar Elara saat melihat Lunar membekukan tangan Darlz Ildar.
Partikel gelap terlihat keluar dan terlepas dari tubuh Darlz Ildar setelah Lunar menyerangnya. Makhluk itu terhuyung-huyung saat energi kegelapan yang diserapnya itu menjauh darinya.
“Kurang! Kekuatanku justru dirampas! Bagaimana mungkin terjadi? Apa itu kekuatanmu? Tidak mungkin!” Darlz Ildar berteriak, merasa kekuatannya melemah, ia segera mengumpulkan kembali energi kegelapan yang ada di tempat itu.
“Kekuatanku! Tubuhku! Mengapa terasa kurang! Aku menginginkan kekuatan sejatiku! Tubuh ini sepertinya menghalangi kekuatanku yang sesungguhnya!”
Darlz Ildar mengangkat tangannya ke atas seperti sedang menyerap energi kegelapan, lalu ia menoleh pada pohon besar yang bercahaya ungu di belakangnya.
“Oh! Pasti ada di sana, kekuatan dan tubuh sejatiku!”
“Hei, jangan memalingkan wajahmu saat lawanmu masih ada di depanmu! Sudah kukatakan, aku akan mengalahkanmu di sini,” teriak Elara sambil berlari, scythe miliknya telah terangkat dan siap ditebaskan pada Darlz Ildar yang terlihat mulai melemah. Lunar dan Liccea mengikuti Elara memberi sera ngan tanpa memberi kesempatan Darlz Ildar untuk menahannya.
“Lenyaplah bersama segala ambisimu!” teriak Elara yang telah berhasil membuat Darlz Ildar tersudut dengan sera ngan beruntun mereka bertiga.
Seketika tempat mereka berpijak runtuh, monument penyegelan yang ada di depannya hancur berkeping-keping. Darlz Ildar menahan sera ngan mereka dengan tangannya, namun dia juga ikut terdorong bersama reruntuhan tempat itu.
Di detik-detik penentuan itu, seorang pria bertopeng yang menggunakan jubah khas Darlz tiba-tiba muncul dan membantu Darlz Ildar keluar dari situasi sulit itu.
“Kau!” Lunar menatap pria bertopeng itu, dia telah bertemu beberapa kali dengan pria itu. Tapi di luar dugaannya, pria bertopeng itu mengacaukan rencana mereka untuk mengalahkan Darlz Ildar sebelum makhluk itu mendapatkan kekuatannya dan berubah menjadi monster yang akan membahayakan Uricle.
Darlz Ildar memanfaatkan kesempatan yang diberikan pria bertopeng itu, kemudian ia langsung terbang dan menyatu dengan pohon besar yang bercahaya ungu.
“Gawat! Kita gagal menghentikan Darlz Ildar. Semuanya, ayo kita kembali!” ujar Elara saat melihat pohon besar itu menjadi lebih terang dan cahaya ungunya berubah menjadi merah.
Sesaat setelah Darlz Ildar menyatu dengan pohon besar itu, area monument penyegelan berguncang hebat, suara gemuruh yang memekakkan membuat suasana di tempat itu menjadi semakin mencekam. Pria bertopeng memandang ke arah pohon besar yang bergetar, lalu dia masuk ke dalam lubang spiral hitam dan menghilang.
“Kita harus membawa Fenz ke nemesis-nya. Kami berdua akan membantunya untuk kembali ke armada, lalu kau harus kembali ke masa depan! Tidak baik berlama-lama di masa yang bukan milikmu, Lunar,” ujar Elara.
Tanpa menunggu persetujuan Lunar dan Liccea, Elara membawa mereka berdua dan juga Fenz yang dipapah Lunar dengan kekuatan teleportasinya. Dalam sekejap mereka telah berada di depan dua buah nemesis yang terletak di perbatasan antara area monument dan hutan hijau Orla.
“Kau jadi menolongku, Lunar.”
“Ah, tidak. Sepertinya aku tidak melakukan apapun, Fenz.”
“Bisa bertahan hidup setelah melawan Darlz Ildar sendirian sudah termasuk keajaiban, Fenz.”
“Ah, kau benar Elara. Sepertinya aku benar-benar sok berani sampai menghadapinya sendirian demi anggota timku bisa pergi.”
“Yah, seperti itulah dirimu.”
“Aku merasa payah sekali. Aku yang begini tak mungkin bisa melindungi orang!” Fenz tertunduk karena merasa malu dengan sikapnya yang sok pemberani, tetapi malah membuatnya kesulitan menghadapi Darlz Ildar. Sampai-sampai menyusahkan Lunar untuk kembali menyelamatkanku.”
“Selama kau jadi Arz yang egois, mustahil bisa melindungi orang lain. Tapi bukan berarti aku membenci orang yang punya tekad bodoh sepertimu. Karena itu, akan kulatih caramu bertarung.”
“Kau serius, Elara?”
“Kalau aku yang bertindak, seharusnya takkan menarik perhatian Lithar.”
“Terima kasih, Elara.”
“Liccea, sampaikan pada Sirin bahwa kami ikut bekerja sama.
“Aku sudah menduganya, kok, mungkin dia akan mengatakan itu.”
“Lunar, aku ingin minta tolong satu hal kepadamu. Tolong rahasiakan dari Eucli bahwa aku masih hidup.”
“Tapi Eucli pasti sangat senang jika dia tahu kau masih hidup.”
“Justru itu yang menjadi masalahnya, dia itu tidak dapat menyembunyikan emosinya. Jika tahu aku masih hidup, semua akan tampak di wajahnya. Kita tidak akan membiarkan Lithar mengetahui kebenaran ini, dan merusak rencana Sirin, kan.”
Fenz menguatkan langkahnya, dan hendak menaiki nemesis, “Selain itu, kurasa hal ini dapat menjadi obat mujarab untuknya. Jadi hingga saatnya tiba, tolong jaga dia untukku.”
“Ayo cepat Fenz, tempat ini akan segera hancur!” teriak Elara mengingatkan.
Lunar mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi, dia menggenggam pedang Chill-nya, merasakan energi yang mengalir di tubuhnya, lalu mengunci ingatannya pada waktu dan tempat yang ingin ditujunya, yaitu tempat persembunyian Sirin.
Dalam sekejap Lunar telah sampai di tempat Sirin dan Liccea berada. Suara Sirin terdengar saat dirinya telah kembali setelah melintas waktu, mengubah sejarah untuk menghentikan rencana jahat Lithar.
“Bagaimana? Apa kau sudah percaya pada kami?”
Lunar melihat keduanya telah berada di hadapannya, dengan tatapan penuh harap pada Lunar. Dengan keyakinan penuh Lunar menyetujui rencana Sirin dan akan membantunya. “Apa yang harus kulakukan untuk membantumu?”
“Kau telah mengubah masa lalu dan menyelamatkan Fenz. Tapi sebaiknya tidak perlu bertanya alasan kami membiarkan hal itu terjadi. Karena sedikit saja informasi terbeber, bisa sangat mempengaruhi masa depan.”
“Ternyata kau cepat paham ya, Lunar. Meski sedang kebingungan, pokoknya tetap lakukan saja.”
“Ya,” jawab Lunar sambil mengangguk.
“Kau dan Shein ingin menghentikan Lithar, kan Lunar?”
“Ya.”
“Kalau tidak, Arz takkan kembali ke jalan yang benar. Biar sedikit ku jelaskan, dulu saat penyerbuan Darlz Ildar, Lithar dan organisasi terlarangnya bersedia membantu dengan syarat. Dewan penjaga terdahulu tidak dapat menolaknya karena keadaan mereka yang sudah tersudut oleh Darlz Ildar. Lalu, sejak saat itu Lithar bebas melakukan hal yang diinginkannya pada Arz. Rez dan Kenos ada di bawah kendalinya.”
Mendengar cerita singkat itu membuat Lunar merasa Lithar adalah orang yang sangat licik, dia juga mengingat bagaiamana organisasi milik pria itu, Void melakukan uji coba pada Mavis dan Mad Draygon.
“Meski ada beberapa yang tidak kumengerti, tapi aku bersedia membantu,” jawab Lunar tanpa ragu.
“Terima kasih, Lunar! Sebaiknya kalian segera kembali ke rombongan di Planet Uiscela.”
“Baik, kalau begitu sampai ketemu lagi Sirin.” Liccea melambaikan tangannya pada Sirin yang telah kembali ke tempat duduknya di kubus batu yang terapung di udara.
Liccea membawa Lunar kembali ke Planet Uiscela dalam sekejap dengan kekuatan teleportasinya. Dan, hingga kini Lunar tidak tahu di mana tempat persembunyian Sirin sebenarnya.