Dalam sekejap Lunar dan Liccea telah kembali ke Planet Uiscela, setelah sebelumnya berada di tempat rahasia yang digunakan Sirin untuk bertemu dengan mereka. Dari kejauhan Lunar melihat teman-temannya memanggil namanya, mereka sedang mencarinya. Tetapi Lunar tidak bisa menceritakan kepada mereka tentang sesuatu yang baru saja dia lakukan. Dia sendiri tidak percaya dirinya mampu melakukannya, misi penyelamatan Fenz yang seminggu lalu telah dihentikan, namun baru saja dia berhasil melakukan hal itu.
Lunar berjalan bersama Liccea menuju kerumunan Arz dan juga tim peneliti Uricle. Mae kini menghadap ke arahnya, menyadari dirinya telah kembali setelah perjalanan yang tidak dapat diceritakan kepada wanita itu ataupun orang lain. Wajah Mae terlihat menyimpan kemarahan yang siap meledak. Entah sudah berapa kali wanita itu mencoba memanggil Lunar melalui pikirannya, tetapi Lunar mengabaikannya.
“Hei, Lunar!” teriak Mae saat Lunar sudah berada pada jarak lima meter di depannya. “Dari mana saja kau, kami mencarimu, loh!” Lalu pandangannya berpindah pada Liccea yang berjalan di samping Lunar. Wajahnya tidak mampu lagi menahan marah dan rasa khawatir yang telah meluap.
Lunar tidak tahu harus berkata apa. Dia siap menerima semua ocehan Mae nanti. Tetapi Liccea, secara tidak terduga mengatakan hal yang membuat Lunar terkejut. “Jangan marah dulu, Mae. Tadi kami ada sedikit urusan pribadi. Aku lah yang membawanya pergi dengan kekuatan teleportasiku.”
“Hah? Urusan pribadi seperti apa itu?” tanya Mae dengan wajah polos. Kemarahannya kini berganti dengan rasa penasaran yang tampak di wajahnya.
“Kau tidak boleh tahu, ini urusan antara pria dan wanita!”
Lunar berhenti berjalan saat Liccea mengatakannya, lalu memandang wajah Mae yang terlihat memerah. Sementara Liccea berjalan meninggalkannya setelah sebelumnya menepuk pundak Mae saat mereka berpapasan. “Sampai bertemu lagi besok, Lunar,” ujar Liccea sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh.
Mae terdiam, wajahnya masih terlihat polos dan mencerna setiap kata-kata Liccea. Entah dia tidak mengerti maksud perkataan Liccea, atau dia sedang membayangkan kata-kata yang diucapkan Liccea.
“Sudahlah Mae, lupakan perkataannya. Maaf karena telah mengabaikanmu tadi. Di mana Ava dan Eucli?” tanya Lunar untuk mengalihkan pembicaraan.
Beruntung Mae segera melupakan marahnya, dia kembali menatap Lunar kemudian menunjuk ke arah kerumunan Arz yang terlihat sedang bersiap-siap untuk meninggalkan planet itu. “Kami semua mencarimu, Taurus, dan Liccea. Misi hari ini dibatalkan karena kemunculan Darlz tadi, ditambah ada keanehan di tempat ini. Aku merasa tadi waktu terhenti sebentar, lalu kau, Taurus dan Liccea menghilang. Jadi, para dewan penjaga langsung menyuruh kita semua kembali ke armada. Terlalu berbahaya jika ada tim peneliti Uricle di sini. Lalu, apa kalian tidak bersama Taurus?”
Lunar mengingat saat Lithar muncul di hadapannya dan menghentikan waktu, pria itu juga membawa Taurus. “Dia ikut bersama pria misterius yang menggunakan pakaian laboratorium. Entah apa yang akan dilakukannya dengan Taurus, tapi aku yakin itu hal yang berbahaya.”
“Kalau begitu kita harus memberitahu Itasuke, aku yakin dia khawatir.”
“Ya. Kau benar.”
Lunar dan Mae berlari kembali ke rombongan Arz, menghampiri Itasuke yang masih mencoba menghubungi Taurus melalui Uricle device-nya. Lunar menceritakan kejadian yang menimpa Taurus saat semua orang mematung karena aliran waktu dihentikan oleh Lithar. Itasuke terlihat marah mendengarnya, dia mengepalkan tangannya hingga urat-urat di tangannya menonjol.
“Ayo kita kembali ke armada,” kata Itasuke sesaat setelah meredam emosinya.
Lunar dan Mae menyetujuinnya, mereka merasa planet ini masih menyimpan misteri yang membahayakan. Akhirnya mereka kembali ke armada Uricle tanpa melakukan pengamatan apapun di planet itu.
***
Di tempat lain, Lithar sedang berdiri menghadap dinding kaca yang bercahaya biru. Pada dinding itu terlihat garis-garis yang membentuk lingkaran di bagian tengah dan memancarkan cahaya putih. Pria itu mendekati dinding kaca itu, lalu meletakkan salah satu tangannya.
“Nampaknya kau mulai banyak bertindak ya, Shein. Takkan kuganggu kok, silahkan berbuat semaumu. Soalnya justru lebih menghibur. Tapi perjuangan sia-sia tak cocok denganmu. Uricle, Arz, dan semuanya juga ada dalam genggamanku.”
Lithar mendekatkan wajahnya pada dinding kaca itu, lalu menggesekkan kepalanya sambil memejamkan kedua matanya. Senyum licik telah mengembang di wajahnya. “Menikmati seluruh permainan adalah keuntungan dari memiliki umur panjang ya, Shein.”
Bayangan Shein muncul di belakangnya tanpa sepengetahuannya. Memandang punggung Lithar dengan perasaan khawatir, lalu memejamkan matanya dan menghilang.
“Meski begitu, aku sangat terkesan dengan bidakmu. Siapa sangka kau begitu cemas dengan pergerakanku?” Tangan Lithar masih memegang dinding kaca, kemudian perlahan dia mengelus dinding itu, seperti sedang memahami yang ada di balik dinding kaca.
***
Lunar duduk di kamarnya, memikirkan hal yang dia lakukan kemarin. Dia masih tidak mempercayai bahwa dirinya berhasil menyelamatkan Fenz. “Apa benar-benar kulakukan? Kalau Fenz masih hidup, di mana dia berada saat ini?” Pertanyaan-perntanyaan itu terus berputar di kepala Lunar sejak dia kembali dari Planet Uiscela.
Suara dari Uricle device yang terpasang di apartemennya membangunkan Lunar dari lamunan panjang. Seperti yang dikatakan Liccea, keesokan harinya wanita itu menghubungi Lunar. Dia berjalan ke arah Uricle device yang terpasang di dekat pintu kamarnya. Meski Lunar belum mengetahui apa yang direncanakan wanita itu dan Sirin, Lunar tetap menjawab panggilan Liccea.
“Hei, Lunar. Ini aku, seperti yang kukatakan kemarin.”
“Ya, aku sudah menduga kau akan menghubungiku. Lalu apa yang akan kita lakukan? Kembali ke masa lalu lagi?”
“Kau ingat perkataan Sirin, kan? Terlalu beresiko jika terus menerus mengubah masa lalu. Jadi kita harus melakukan yang terbaik di masa ini. Lalu kita rancang masa depan.”
“Hmm… kedengarannya bagus.” Lunar memegang dagunya saat mendengar kalimat terakhir Liccea itu. “Merancang masa depan? Masa laluku saja aku tidak tahu dengan jelas seperti apa, gumamnya dalam hati.
“Aku menunggumu di Planet Uiscela. Pakailah kapal yang ada di exit 11, Sirin sudah meretas pengawasanmu, kok.”
“Pengawasan?”
“Iya, setiap gerak-gerik Arz selalu diawasi langsung oleh Lithar. Terutama dirimu yang dekat dengan Shein.”
Lunar tercengan mendengarnya, dia tak percaya jika ada orang yang mau melakukannya. Dia membayangkan semua hal yang dilakukannya selama ini, termasuk hal-hal personal yang dia lakukan saat sendirian. “Jadi selama ini aku diawasi?”
“Jangan kaget begitu, sebisa mungkin kau jangan menunjukkan ekspresi yang berbeda. Santai saja, Lunar. Dan jangan sampai ada yang tahu jika kau menemuiku dan Sirin. Aku tunggu di sini ya,” kata Liccea mengakhiri pembicaraan mereka.
Lunar berganti pakaian dengan seragam Arz-nya, dia merasa jika dengan seragam itu dia dapat bergerak leluasa. Lalu secara diam-diam dia menuju exit yang dimaksud Liccea. Sebuah kapal kecil telah siap di sana. Tanpa membuang waktu, Lunar langsung melesat dengan lightspeed menuju Planet Uiscela.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke planet tujuannya. Dalam sekejap Lunar telah masuk ke dalam lapisan atmosfer Planet Uiscela. Lalu dia mencari koordinat yang telah diberikan Liccea sebagai titik temu mereka.
“Lunar!” teriak Liccea dari kejauhan saat Lunar keluar dari kapal yang dikemudikannya. "Tidak ada yang mengikutimu, kan?”
“Ya. Jika kalian bisa sampai melakukan ini, lalu apa gunanya diriku ini?”
“Aku hanya disuru Sirin saja. Dia yang menginginkanmu ikut serta dalam misi ini. Dan, dia ingin kau mengetahui situasi yang sesungguhnya.”
Tanpa menunggu Lunar mencerna kata-katanya, Liccea berbalik dan meminta Lunar mengikutinya. “Ayo sini, ikuti aku.”
Mereka berjalan menuju sebuah pintu gua yang besar, lalu masuk ke dalamnya. Tanpa ragu mereka terus masuk ke dalam gua yang terlihat semakin menurun. Lunar tak menyangka kalau di dalam gua itu sangat terang, cahaya menembus masuk ke dalam gua melalui pantulan air yang ada di atas gua yang aneh itu.
Meski air mengelilinginya, tetapi di dalam gua itu air laut tidak memenuhi gua, hanya sedikit air yang menggenanginya. Sesaat Lunar mengaggumi tempat itu.
“Luar biasa…”
“Ini salah satu gua bawah laut Uiscela.”
“Memang apa yang akan kita lakukan di sini?”
“Belakangan ini, kami menemukan laboratorium di seluruh planet yang ada, termasuk planet yang baru ditemukan. Lithar telah lebih dulu sampai di planet-planet baru dan melakukan penelitian di sana. Tetapi semuanya selalu dihancurkan sebelum Arz menyelidikinya. Kami ingin mendapatkan data dari lab yang belum dihancurkan. Karena itu, kita ada di sini, Lunar.”
Lunar dan Liccea terus menyusuri gua bawah laut yang terlihat semakin luas. Di kanan dan kiri gua itu, air laut mengalir dari atas. Tetapi anehnya air laut di tempat itu tidak menenggelamkan gua itu.
Di ujung jalan, Lunar dapat melihat sebuah tempat yang membuatnya tercengang. Sebuah tempat penelitian yang dipenuhi dengan bola-bola kaca berukuran manusia yang tersusun rapih di rak-rak batu. Beberapa bola kaca itu telah retak dan sebagian lagi hancur. Api sihir menerangi tempat itu dan membuat Lunar dapat melihat jelas kondisi di sana.
Saat telah berada cukup dekat, Lunar terkejut melihat yang ada di dalam bola kaca itu. Tengkorak dari makhluk yang dianggap langka ada di dalamnya.