Sebelum pergi, Eucli menoleh pada Itasuke. “Terima kasih,” kata Eucli dengan suara yang hampir tidak terdengar jelas. Di wajahnya ada perasaan bersalah telah meragukan pria itu.
Itasuke menghampirinya, “Tak perlu berterima kasih. Penyebab kondisi ini juga sebagian karena kesalahanku. Aku hanya diam meski tahu Lithar melakukan Tindakan berbahaya.” Dahinya berkerut ketika mengingat semua kejadian di masa lalu, terutama saat dia tidak sengaja melihat Lithar bekerja di laboratorium uji coba pembuatan klon salah satu dewan penjaga Moon. Meski dia tahu semuanya, dia tidak dapat mengungkapkan pada semua orang tentang hal itu.
“Maaf telah meragukanmu, Itasuke.” Akhirnya Eucli mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Dia mengira para Hero benar-benar ada di pihak Lithar. Saat mengetahui para dewan penjaga bernomor ganjil juga dihianati pria gila itu, semua pikiran buruk tentang Hero yang sempat menguasainya seolah runtuh. Dan, kepercayaannya kembali seperti semula.
“Keraguan timbul karena kurang percaya. Kau sama sekali tak salah, sudah cepatlah kalian pergi dari sini. Anggap saja ini penebusan kesalahanku,” ujar Itasuke. Dia menepuk pundak Eucli, lalu berbalik menghadap anggota timnya yang sedang menghadapi Dark Moon.
Eucli mengangguk sebelum pergi meninggalkan itasuke dan timnya. Bergegas menyusul anggota timnya yang telah lebih dulu pergi. “Hati-hati, clone itu memiliki kekuatan yang sama dengan yang aslinya.”
“Tenang, meski dia punya kekuatan yang sama, dia tidak akan mampu mengalahkan kami berlima,” ujar Itasuke menatap tajam Dark Moon. Dia dapat mengingat dengan jelas saat klon itu telah disempurnakan oleh Lithar beberapa waktu lalu.
“Masih belum ada jawaban dari lab?” tanya Itasuke pada Miyuki yang kini berdiri di sebelahnya. Barrier es terbentuk di hadapan mereka untuk menghalau bola-bola api yang kuat dari musuh mereka.
Miyuki hanya menggelengkan kepalanya, wajahnya sedikit muram.
“Nampaknya, Lithar sudah kehilangan ketertarikannya terhadap Arz.” Itasuke mengayunkan pedangnya ke udara di sampingnya lalu turun ke bawah, lalu muncul kilatan listrik berwarna biru menyelimuti pedangnya.
“Aku pikir, dilihat dari setiap aksinya, dari awal dia memang tak tertarik dengan Arz.” Miyuki melemparkan grimoire ke depan, sementara tangannya mengarah ke depan tampak seperti sedang mengendalikan grimoire-nya agar tetap mengapung di udara. Dari grimoire-nya muncul partakel es yang dalam sekejap berubah menjadi kristal es berukuran kecil dalam jumlah banyak yang meluncur ke depan, ke arah Dark Moon.
“Kukira dia mengendalikan kita karena ada rasa takut, tapi begitu hampir mendekati mimpinya dia seperti langsung percaya diri.” Setelah mengatakannya Itasuke mengayunkan pedangnya, melepaskan listrik berwarna biru yang sejak tadi menyelimuti pedangnya. Dan, dengan cepat sihir itu melesat ke arah Dark Moon yang terlihat sudah terdesak karen serbuan bertubi-tubi yang dilancarkan anggota timnya.
“Jangan katakan itu sebagai mimpi, sungguh terlalu bagus untuknya yang memiliki mimpi. Dia semata-mata hanya terobsesi memiliki seluruh pengetahuan yang ada di dunia ini.” Kata-kata itu keluar dari Kien yang ada di sebelah Miyuki. “Orang itulah penghianat yang sesungguhnya!”
“Dia benar-benar membuatku muak!” Fressia ada jauh di dekat tiang besar penyangga kapal induk, tangannya menarik busur panah dengan kuat dan beberapa detik kemudian panah yang dilepaskannya pecah menjadi puluhan anak panah yang bercahaya kemerahan.
“Ayo kita habisi Dark moon ini lalu susul timnya Fenz, aku punya firasat buruk,” ujar Miyuki.
Itasuke setuju dengan kata-kata adiknya, setelah Lithar mengirimkan salah satu guardian terkuat dari Angel the Fallen, dia tidak bisa berhenti memikirkan keadaan inti kapal induk, selain itu aliran photon di tempat ini juga semakin tak stabil.
Lalu, suara yang nyaring membelah udara, semakin keras sedetik sebelum weapon yang digenggam Kien melontarkan isinya dan tersentak, membuat Kien terhuyung ke belakang. Salah satu peluru berkilau memelesat keluar, menghantam d**a Dark Moon dan meledak, mengakibatkan kilatan cahaya menyebar di sekujur tubuh sosok klon itu, dan tak lama tubuhnya mulai kejang tak terkendali, sementara kilatan listrik berwarna biru masih menyelimuti tubuhnya.
“Apa dia sudah mati?” Kien berjalan mendekati Dark Moon, ingin memastikan keadaan klon yang mereka hadapi. Namun, Itasuke menghentikannya. “Kenapa?”
“Lihatlah.” Itasuke memberi isyarat dengan gelengan kepala, tangannya mencengkeram pundak Kien, beruntung dia sempat menghentikan anggota timnya itu sebelum Dark Moon memberi serbuan secara tiba-tiba. “Sepertinya itu hanya jebakan. Ayo!” teriaknya memulai serbuan berikutnya.
***
Sementara itu, Lunar berlari kencang melewati beberapa tiang besar, sebuah pintu besar telah jelas terlihat di ujung jalan yang mereka lewati. Lunar memimpin di depan. Entah mendapat dorong dari mana, tetapi dia merasa dia ingin segera sampai di tempat Shein.
Mereka merasa perjalanan kali ini sangat mulus, tidak ada yang menghadang mereka hingga sampai di sebuah pintu logam dengan garis cahaya bergerak-gerak ke atas. Lunar terdiam beberapa saat, meski sudah berada di tempat yang menjadi tujuannya, hatinya belum siap. Mae menoleh padanya lalu menepuk pundaknya, membuat Lunar tersadar dari lamunan sesaat.
Lunar membuka pintu besar itu dengan menekan beberapa tombol pada panel yang ada di tengah pintu, terdengar bunyi desis singkat, dan kemudian daun pintu logam itu berayun membuka. Lunar menghambur masuk dengan Mae di sampingnya. Fenz, Eucli, dan Ava mengikuti di belakang, menyaksikan ruangan yang mereka masuki terlihat sangat luas dan sangat terang.
Dinding kaca bercahaya biru kemerahan ada jauh di depan mereka. Dan, mereka dapat melihat Taurus sedang berdiri membelakangi dinding kaca, kedua tangannya menggenggam machine g*n, dan salah satunya mengarah Lunar. Sepertinya pria itu telah menanti kedatangan mereka.
Lunar bergerak maju, mendekati Taurus yang masih diam dan menodongkan satu machine g*n-nya, jari telunjuknya sudah diletakkan pada pelatuk dan siap menembak kapan saja jika Lunar tidak hati-hati dalam bertindak.
“Hati-hati, Lunar!” bisik Mae. “Aku sedikit takut melihat Taurus yang sekarang, tatapan matanya berbeda.”
Lunar mengangguk dan tetap berjalan perlahan, dia tidak ingin membuat Taurus mengamuk karena gerakan yang tiba-tiba. Lunar tetap menggenggam pedang Chill di tangannya, siap untuk menepis peluru sihir Taurus jika pria itu tiba-tiba menembakkannya. Dia tidak ingin bertarung melawan temannya sendiri. Dia ingin membujuk Taurus dan mengatakan padanya bahwa Marlu masih hidup. Itu adalah harapan satu-satunya untuk membawa Taurus kembali.
Tiba-tiba terdengar suara berdesing dari salah satu machine g*n Taurus, diikuti sebuah peluru yang dialiri sihir listrik meluncur lurus ke depan, ke arah Lunar. Lunar menepis dengan pedangnya sesaat sebelum peluru sihir itu mengenai kepalanya.
“Tunggu, Taurus. Kami tidak berniat bertarung denganmu,” ujar Lunar. Lunar dan Mae menghentikan langkahnya, tidak ingin membuat Taurus merasa didesak. Begitu juga dengan Fenz, Eucli, dan Ava.
“Taurus! Kami ke sini untuk membawamu kembali, Marlu masih hidup. Dia berhasil selamat.” Ava maju beberapa langkah dan berdiri di sebelah Lunar, lalu menurunkan riffle-nya.
Sementara Taurus terlihat tidak ingin mendengar perkataan mereka, dia tetap menodongkan satu machine g*n-nya pada Lunar, sementara satunya di arahkan pada Ava.
“Ternyata benar kata Lithar, kalian akan datang ke tempat ini. Perkataan Lithar memang tidak pernah salah. ” Suara Taurus terdengar berbeda dari sebelumnya, dan di matanya yang menatap pada Lunar dan timnya tersebut tersembunyi pancaran dingin.
Bukan hanya tanduk di kepalanya yang menunjukkan perubahan tubuh Taurus yang dulunya adalah elf, kini berganti menjadi draykos. Perubahan iris mata Taurus yang berbeda antara mata kanan dan kiri, warna kulit yang menjadi putih pucat, dan juga adanya tanda berbentuk tiga titik melingkar membentuk seperti segitiga di tengah dadanya.
“Apa yang sudah dilakukan Lithar padanya, pertama aku melihat Taurus setelah berubah menjadi draykos belum seperti sekarang ini,” gumam Lunar.
Semua anggota tim Lunar memperhatikan perubahan fisik yang dialami Taurus, dan mereka hanya bisa terdiam menyaksikannya. Meski ada kekhawatiran di dalam hati mereka, tetapi mereka tidak bisa membuat Taurus kembali seperti semula.
“Taurus. Kau dengar kata-kata Ava tadi bukan?” Lunar berjalan satu langkah ke depan dengan hati-hati. Namun, Taurus terlihat tidak ingin mendengar kata-katanya, dan langsung menembakkan machine g*n-nya saat melihat Lunar bergerak.
“Diamlah, Lunar. Semua sudah terlambat. Apa pun yang kau sampaikan takkan berarti lagi. Aku hanya percaya dengan perkataan Lithar. Siapa pun yang mendekati harus kubunuh. Itulah yang dikatakan Lithar padaku.
“Berhentilah, Taurus!" teriak Mae
“Lithar sudah berjanji kepadaku. Jika aku patuh, dia bisa menghidupkannya lagi." Ekspresi Taurus tidak berubah sedikitpun, tetap dingin dan dengan hawa membunuh yang kuat
“Jangan termakan omong kosong Lithar, Marlu memang masih hidup.” Lunar tetap berjalan perlahan, meski dia sudah kehilangan kesabarannya.
“Kau yang berbohong! Kau melihatnya sendiri bukan, jasad Marlu ditemukan beberapa hari setelah pertempuran melawan Darlz Ildar. Kau juga menyaksikan pemakamannya.”
Taurus menembakkan kedua machine g*n-nya tepat kepada Lunar, namun Lunar berlari sambil menepis semua peluru listrik yang ditembakkan Taurus dengan pedangnya. Saat telah berada di depan Taurus, Lunar menggunakan tangan kosong, meninju tepat di wajah Taurus. Dan, dia berhasil membuat Taurus terjengkang ke belakang.
“Dengarkan aku, Taurus!. Aku bersumpah telah menyelamatkan Marlu!” Lunar menjatuhkan tubuhnya dalam posisi setengah berlutut di depan Taurus.
“Kau pikir aku akan percaya dengan kata-katamu?” teriak Taurus sambil mendorong Lunar. “Tolong jangan tatap aku dengan tatapan kasihan seperti itu. Aku sendiri pun tahu sedang dimanfaatkan. Tapi memangnya siapa yang peduli dengan hal itu? Asalkan dia bisa hidup kembali, semua akan aku lakukan demi bisa bertemu dengannya lagi.” Lalu, dia bangkit dan menodongkan sepasang machine g*n-nya tepat di kepala Lunar.
“Lunar!” Melihat temannya terdesak, Mae langsung membentuk kubus es untuk melindungi Lunar, kemudian membentuk kubus es berukuran besar untuk dirinya, Fenz, Eucli, dan Ava.
“Tak peduli?” Lunar bangkit, lalu menepis kubus es Mae, membuat sihir kubus es yang melindunginya hancur.
“Hei, Lunar! Apa kau gila? Dia tidak akan mendengarkan perkataan kita,” teriak Mae kesal melihat kubus esnya dihancurkan.
Fenz merasa dia tidak bisa hanya diam menyaksikan Lunar melakukan tindakan bodoh, saat dia hendak maju keluar dari kubus es, Lunar menghentikannya dengan gerakan isyarat.
Lunar menghempaskan kedua tangan Taurus, membuat kedua machine g*n pria itu terjatuh. “Kau pikir aku dan semua orang tak memedulikanmu? Kau lihat Fenz? Bukankah kau ada bersamanya saat dirinya dinyatakan hilang di planet Orla? Aku berhasil menyelamatkannya. Apa kau masih belum percaya?”
“Aku tak butuh perhatian kalian semua!” teriak Taurus frustasi. “Tanpa Marlu, tak ada yang bisa kulakukan lagi! Hanya dia yang kubuthkan di dunia ini! Diamlah kau pembual!”
Taurus bergerak cepat meraih machine gun-nya, berguling di lantai, lalu tanpa ragu menem bak Lunar.
Fenz tak tahan lagi, dengan cepat dia keluar dari kubus es Mae dan mengayunkan musket-nya ke lantai, dari ayunan musket-nya keluar aura berwarna ungu yang meluncur dengan cepat menghalau peluru listrik Taurus yang hampir mengenai Lunar.
“Sudah hentikan Lunar, kau cepat pergilah dari sini. Kami yang akan menghadapinya di sini. Aku sudah menyiapkan kejutan untuknya,” ujar Fenz.
Lunar menoleh, dirinya baru ingat kalau dia harus cepat pergi menyelamatkan Shein. Dia terlalu terbawa emosi setelah melihat dan mendengar kata-kata Taurus. Lunar mengangguk setuju, lalu memutar kakinya dan menendang Taurus yang sedang lengah. Dan, dengan cepat menarik tangan Mae kemudian berlari menuju dinding kaca yang bercahaya biru kemerahan.
Taurus mencegahnya dengan menembakkan beberapa peluru listrik, tetapi Mae sudah membuat barrier dari es untuk melindungi mereka berdua. Kemudian Fenz dan Ava, dari belakang mengalihkan perhatian Taurus, memberikan serbuan bertubi yang membuat Taurus gagal menghadang Lunar dan Mae.
Saat telah berada di depan dinding yang tampak seperti kaca itu, Lunar menatap pembatas antara ruangan tempat mereka berada dan ruangan tempat Shein berada. Dia mengingatnya, dia pernah berada di tempat ini, bersama Mae dan Shein. Meski bentuk ruangan itu sedikit mengalami perubahan. Lalu, tanpa ragu Lunar dan Mae melangkah maju, melewati dinding kaca transparan di depannya, menuju tempat Shein yang telah menantikan kedatangan mereka untuk menyelamatkannya.
Taurus murka, dia telah ditugaskan oleh Lithar untuk menghentikan siapa pun yang datang dan mencoba mengganggu rencananya. Dia menembakki Fenz, Eucli, dan Ava secara acak. Kekuatan yang diberikan Lithar kepadanya, membuat dirinya mampu menggunakan sihir dengan sangat baik.