Secara tiba-tiba, sihir bola api menghujani Lunar dan timnya saat mereka ada di persimpangan terakhir di ujung jalan menuju pintu besar yang bersinar semakin terang. Mae berhasil melindungi mereka semua dengan kubus es yang sempat dibuatnya di detik terakhir.
Seakan tidak memberi mereka kesempatan pergi dari tempat itu, sihir bola api terus menghujani mereka tanpa henti. Mae sedikit kesulitan mempertahankan kubus es yang sedikit demi sedikit mulai retak. “Siapa yang sudah mengirimkan sihir yang begitu kuat ini, tapi aku merasa aku pernah merasakan kekuatan ini sebelumnya.” Mae berusaha menutupi retakan di beberapa sudut kubus es yang melindungi timnya. Dari ujung tongkat sihirnya partikel es terus mengalir ke segala arah.
“Aku juga merasa demikian, kalau dugaanku benar, sihir bola api sekuat ini hanya bisa dilakukan oleh Moon.” Eucli mengernyitkan dahinya, berusaha membantu Mae memperkuat pertahanan mereka. Namun dia ragu kalau Moon yang melakukannya, karena dewan penjaga itu masih bersama dengan dewan penjaga lain menghadapi Adorigias, dan juga Moon sudah ada di pihak mereka. Tapi kekuatan sihir yang mereka rasakan membuat dia yakin kalau Moon yang melakukannya.
Tak lama terdengar suara langkah kaki dari belakang mereka, Lunar memutar tubuhnya dan mendapati sosok misterius berjalan keluar dari sebuah tiang besar yang digunakannya untuk menyembunyikan diri. Lunar terkejut, melihat sosok itu, sebelumnya mereka telah melewati tiang besar itu tetapi tidak merasakan kehadiran siapapun di sana.
Sosok misterius itu kian mendekat, menggenggam tongkat sihir yang diarahkan kepada mereka, dari ujung tongkat sihir itu muncul pola aktivasi sihir berwarna merah. Dalam sekejap bola api muncul di atas mereka dan menghujani Lunar dan timnya secara membabi buta.
Sosok misterius itu berjalan perlahan sambil tetap memberikan serbuan tanpa henti. Lunar menyipitkan matanya untuk melihat sosok itu, cahaya dari bola api yang membentur kubus es Mae membuat pandangannya sedikit terganggu. Saat sosok misterius itu semakin dekat, Lunar terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Wanita itu berhenti pada jarak dua meter, begitu pula dengan bola api yang dikeluarkannya. Seolah dia memberi kesempatan kepada Lunar dan timnya untuk melihat dengan jelas kehadiran dirinya
Mae, Fenz, Eucli, dan Ava tersentak bersamaan, jelas mereka mengenali wanita yang ada di depan mereka saat ini. Meski wajahnya sangat mirip dengan seseorang yang mereka kenal. Namun, penampilannya sangat berbeda. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna hitam yang diikat kebelakang dan menyisakan rambut halus yang membingkai wajahnya yang mungil, sama seperti Moon. Selain itu, mata yang dimiliki wanita di depan mereka memiliki iris berwarna merah dan tatapan lebih tajam dari Moon. Tidak ada kelembutan dari tatapannya.
Sedetik kemudian mereka semua merasakan hawa membunuh yang kuat datang dari wanita itu. Dan wanita itu mulai mengangkat tongkat sihirnya, memberikan serbuan selanjutnya pada mereka sebelum mereka semua dapat mencerna keadaan.
“Wajah itu dan juga tongkat sihir itu, sama seperti milik Moon.” Seingatnya, bentuk tongkat sihir Moon juga sama seperti tongkat sihir yang diberikan Shein kepada Mae. Tapi dengan warna yang berbeda. Kini di depan matanya, Lunar melihat satu lagi tongkat sihir yang sama digunakan oleh seseorang yang mirip Moon.
“sepertinya sosok di depan kita adalah sebuah klon yang dikirimkan Lithar untuk menghentikan kita.” Fenz merasa sangat yakin dengan ucapannya, dia memperhatikan sosok yang mirip Moon dengan lebih jelas. Sosok dengan Wajah yang sama seperti dewan penjaga nomor lima, kekuatan sihir yang sama kuat, dan juga tongkat sihir berwarna hitam persis seperti milik Moon.
“Tapi aku yakin tidak melihat bahkan merasakan kehadiran siapaun di sana,” ujar Mae yang sudah siap membentuk kubus es yang baru untuk melindungi mereka. Mae berpikir mungkin itu salah satu kekuatan yang dimiliki oleh klon itu agar mereka lengah.
Tanpa menunggu mereka siap, sihir bola api sudah menghujani mereka lagi, dan sosok yang mirip Moon itu tidak bergerak sedikitpun. Bahkan di wajahnya tidak menunjukkan emosi apapun meski hawa membunuh yang dimilikinya sangat kuat.
Mae semakin tersiksa karena mempertahankan kubus es yang hampir hancur, meski Eucli sudah membantunya, kekuatan sihir bola api yang baru saja dikeluarkan oleh sosok misterius itu semakin memojokkan mereka. “s**l! Dia tidak memberi kita kesempatan melawan.”
Lunar tak bisa terus bergantung dengan kubus es Mae, dia merasa harus menghentikan orang yang menye rang mereka. Lunar menerobos keluar dari kubus es, dan bersiap memberikan s erangan balasan pada sosok yang disebutnya sebagai Dark Moon.
Lunar berhenti, tatapan aneh melintas di wajahnya. Ada rasa bersalah saat dia menatap wajah orang yang mirip Moon itu. Tebasan pedang Lunar meleset, mengenai udara di samping tubuh Dark Moon. “Aku tidak boleh begini, dia bukan Moon.” Hal itu membuat Lunar mengumpulkan kekuatannya pada tebasan selanjutnya. Namun, Dark Moon berhasil menghindar.
Kubus es Mae menghilang setelah Lunar menerobosnya, dan beruntung karena tebasan pedang yang diberikan Lunar pada Dark Moon dapat menghentikan sihir bola api dan memberi mereka semua kesempatan untuk memberi balasan.
Mae mengarahkan tongkat sihirnya ke depan, saat pola aktivasi berwarna putih kebiruan terbentuk, partikel es perlahan keluar lalu membentuk paku es yang dengan cepat melesat di lantai menuju Dark Moon yang sedang berhadapan dengan Lunar. Mae kesal saat melihat serangannya itu dapat dihindari dengan mudah oleh wanita misterius itu.
Fenz maju setelah melihat hujan paku es Mae gagal, kemudian memperhatikan gerakan Lunar dan Dark Moon yang sedang bertarung jarak dekat. Wanita misterius itu dapat dengan mudah menghindari tebasan pedang Lunar.
Fenz mengayunkan musket-nya, menciptakan aura ungu yang melesat cepat ke arah Dark Moon yang membelakanginya. Dia memanfaatkan kesempatan itu, berharap wanita misterius itu tidak menyadari serangannya.
Lunar melihat serangan Fenz, dia berusaha membuat Dark Moon lengah. Lunar terus memberi s erangan tanpa henti, tak membiarkan wanita misterius itu membalikkan tubuhnya. Namun, dirinya tercengang ketika wanita misterius yang sedang dihadapinya tiba-tiba melompat tinggi lalu berputar di udara beberapa kali menghindari s erangan Fenz tanpa menoleh sedikitpun.
Lunar melompat ke kiri untuk menghindari aura ungu dari serangan Fenz yang meluncur bebas ke arahnya. Lalu kembali mengejar Dark Moon yang bergerak ke arah Mae dan Eucli.
Mae tidak tinggal diam, dia menyambut wanita misterius itu dengan menhujani paku es yang sama. Mae menambah sedikit kecepatan paku esnya itu. Eucli mengarahkan tangannya ke depan, membentuk pola aktivasi sihir berwarna putih kebiruan, menggunakan element yang dapat mengimbangi kekuatan Dark Moon. Dari pola aktivasi sihir yang dibentuk Eucli keluar ribuan jarum es yang bergerak lurus ke depan.
Serbuan Mae dan Eucli berhasil membuat Dark Moon terhenti, tubuhnya membeku terkena serangan kombinasi yang dilakukan Mae dan Eucli. Ava seperti tak ingin melewati kesempatan, dia menembaki Dark Moon yang membeku dengan riffle-nya. Dentingan peluru terdengar saat tembakannnya mengenai Dark Moon kemudian jatuh ke lantai. Itu adalah usaha sia-sia, es yang membekukan tubuh Dark Moon tak tertembus sedikitpun.
“Jangan, Ava! Kau hanya akan menghancurkan es yang kami buat,” teriak Mae.
Semuanya terdiam beberapa saat, Lunar yang hampir menebaskan pedangnya juga terhenti di depan Dark Moon. Dia memperhatikan dari dekat sosok misterius itu, meski dari balik es yang membuatnya terdiam. “Benar-benar mirip Moon. Bagaimana Lithar bisa membuatnya?”
“Entahlah, yang penting kita sudah menghentikannya. Ayo pergi!” ujar Mae. Dia tak ingin berlama-lama di tempat ini, menunggu es itu mencair dan Dark Moon kembali menghadang mereka. Mae berbalik lalu berjalan menuju pintu besar yang sudah ada di depan mata.
Lunar ragu jika mereka dapat mengalahkan wanita misterius itu dengan begitu mudah, namun dia juga tidak bisa berlama-lama menunggu wanita itu dapat bergerak lagi. Dia juga tidak bisa melakukan hal bodoh, bertaruh jika sosok itu akan mati saat dia berhasil menebas bongkahan es yang membekukan Dark Moon.
Fenz setuju dengan Mae, lalu dia berjalan mengikuti Lunar dan Mae dari belakang. Eucli ada di sampingnya masih belum mau berbicara banyak padanya setelah kemunculannya yang tiba-tiba.
Ava ada di paling belakang, berjalan mundur sambil tetap memperhatikan Dark Moon dan menodongkan riffle-nya pada wanita misterius itu. Dia tercengang saat tiba-tiba melihat mata Dark Moon terbuka dan bergerak-gerak, diikuti retakan pada es yang menyelimuti wanita misterius itu. “Di-a… dia hidup lagi!” teriaknya sambil menem baki Dark Moon tanpa pikir panjang.
“Apa?” Lunar menoleh saat mendengar kata-kata Ava dan desingan peluru di belakangnya. Menatap ngeri pada sosok yang berhasil keluar dari es yang membekukan tubuhnya. Kini hawa membunuh wanita misterius itu semakin kuat terasa. Membuat bulu kuduk Lunar berdiri. “Hawa macam apa ini? Sebuah klon bisa mengeluarkan hawa membunuh sebesar ini?”
“Dia memiliki kekuatan yang sama seperti Moon, dan kalian belum melihat kekuatan Moon yang sesungguhnya.” Fenz memegang dagunya sambil melipat salah satu tangan di depan dadanya, mengingat-ingat kekuatan yang dimiliki temannya. “Yang tadi kalian lihat saat pertarungan dengan Adorigias hanya separuh kekuatannya. Ditambah sosok di depan kita adalah klon sudah pasti Lithar membuang perasaan yang tidak diperlukan.” Setelah mengatakannya, Fenz langsung mengayunkan musket-nya ke lantai, membenturkan ujung pedang yang terpasang di weapon-nya itu, seketika aura berwarna ungu keluar dan bergerak dengan cepat menghadang Dark Moon yang sudah berhasil terlepas dari bongkahan es sepenuhnya.
“Tampaknya kita akan berada di sini lebih lama, tidak mudah mengalahkan klon yang memiliki kekuatan setara dewan penjaga,” ujar Eucli. Dia sudah mengerahkan jarum esnya, berharap serangannya mampu menahan Dark Moon seperti sebelumnya. Dia mengetahui jika kekuatan terkuat Moon adalah elemen api, dan dia memilih es untuk memadamkan api Dark Moon.
“Aku rasa begitu.” Fenz mengayunkan sekali lagi musket-nya ke arah yang berbeda, mengikuti gerakan Dark Moon yang mengubah larinya karena menghindari jarum es Eucli.
Suara desingan dari peluru yang ditembaki Ava memenuhi jalan itu, ditambah suara dari sihir yang dikeluarkan Mae dan Eucli membuat suasana di tempat itu semakin memanas meski keduanya menggunakan sihir es. Aura berwarna ungu yang dikeluarkan Fenz membuat kesan angker begitu terasa. Lunar mengabaikan suara-suara aneh yang dia dengar, dan memusatkan perhatiannya pada gerakan-gerakan Dark Moon yang berubah dengan cepat mengimbangi lawannya.
Lunar menggenggam pedang Chill dengan kuat, berharap ada kekuatan lain yang dimilikinya selain kekuatan fisik. Dia mengingat Itasuke yang dapat menggunakan sihir listrik yang dialirkan pada pedangnya, lalu dewan penjaga itu juga dapat melepaskan sihir listrik dari pedangnya lalu melemparkan sihir itu pada lawannya.
Lunar membayangkan jika dia juga punya kemampuan seperti yang dimiliki Itasuke. Lalu, cahaya berwarna putih menyelimuti pedang Chill sesaat setelah dia membayangkannya. Lunar menatapnya penuh keanehan, dia hanya membayangkan jika pedangnya mempunyai kekuatan elemen light, namun hal itu langsung terjadi begitu saja.
Dengan penuh keyakinan, Lunar mengayunkan pedangnya dari jauh, ke arah Dark Moon yang bergerak semakin cepat mendekati Mae. Lalu, dia membayangkan jika cahaya dari pedangnya itu terlepas dari pedangnya seperti yang dilakukan Itasuke, dan melesat ke arah musuhnya.
Seperti yang ada di pikirannya, cahaya putih itu benar-benar terlepas dari pedang Chill, membentuk pisau dari cahaya putih yang melesat dengan cepat, bergerak seperti bumerang yang mengejar Dark Moon sebelum pisau itu mengenai sosok yang dianggap pelemparnya sebagai musuh.
Lunar senang sekaligus terkejut dia bisa melakukan hal itu, hanya dengan membayangkannya dia mampu membuat bumerang sehebat itu. Bukan hanya mengejar Dark Moon, serangannya juga dapat membedakan musuh dan temannya. Bumerang cahaya yang dilancarkan Lunar berbelok saat hampir mengenai Mae. Lunar diam di tempat, menantikan bumerang dari cahayanya mengenai Dark Moon dengan sedikit khawatir.
Mae, Fenz, Eucli, dan Ava hanya bengong menyaksikan bumerang cahaya yang dikeluarkan Lunar bergerak-gerak mengikuti Dark Moon. “Mungkin kita bisa meninggalkannya di sini?” tanya Mae dengan wajah polos.
“Serahkan dia pada kami.” Tiba-tiba suara Itasuke terdengar dari jalan di belakang mereka, suara yang terdengar terengah-engah.
Lunar menoleh, mendapati sosok yang kekuatannya menjadi ide ayunan bumerangnya. “Bagaimana…?” Lunar menghentikan ucapannya. Itasuke langsung membungkamnya saat mereka berpapasan.
“Tidak ada waktu untuk menjelaskan, pergilah dari sini. Kami yang akan menghadapi klon itu. Anggap saja, kami berhasil menyusul kalian.”
Tanpa bertanya lagi, Lunar mengangguk setuju, dia memang ingin segera mengakhiri pertarungan tak berarti dengan klon itu, tetapi berkatnya dia dapat mengeluarkan kekuatan aneh yang tersembunyi di dalam tubuhnya.