Adorigias menghancurkan kristal es yang menopang tubuhnya, lalu berputar ke atas seperti sedang mengumpulkan kekuatan. Tak lama monster itu kembali ke bawah dengan sedikit memiringkan tubuhnya, sementara ke enam tangannya bergerak tak beraturan. Saat hampir membentur lantai, Adorigias mengalirkan sihir listrik hitam yang menyebar ke segala penjuru ruangan beberap kali. Setelah melancarkan serangan itu, Adorigias langsung meluncur ke depan dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, mengincar siapa saja yang ada di depannya.
Lunar dan Ava berada tepat di depan Adorigias saat monster itu sedang menyeruduk. Keduanya terkena serangan mendadak itu. Tubuh Lunar membentur keras pintu barat, sedangkan Ava terpental hingga ke tengah-tengah ruangan besar itu. mereka diam beberapa detik, merasakan sakit di sekujur tubuh terkena benturan kuat tubuh Adorigias yang seperti dilapisi baja.
“Lunar!” teriak Mae saat menyaksikan temannya itu Mae berada jauh di sisi lain ruangan, bersama dengan Eucli dan Fenz. Mae berhasil selamat dari sihir listrik hitam berkat Fenz. Dari jarak jauh, Mae membuat kubus es untuk melindungi Lunar dan Ava yang masih belum bergerak sejak terpental.
“Sepertinya dia sedang tidak fokus,” ujar Fenz. Dia menyaksikan Lunar hanya melihat dengan tatapan kosong sihir listrik hitam Adorigias yang seharusnya bisa dihindari dengan mudah. “Apa yang sedang dia pikirkan sebenarnya?”
Mae termenung sesaat mendengar kata-kata Fenz. Dirinya dan Lunar memang harus segera pergi dari tempat ini untuk menyelamatkan Shein. Tapi sepertinya mereka harus menyelesaikan pengganggu terlebih dahulu. Mae yakin hal inilah yang membuat Lunar semakin tidak bisa fokus. Dia juga melihat beberapa kali Lunar hampir terkena listrik hitam Adorigias sebelumnya. “Ada seseorang sedang membutuhkan bantuan kami di tempat lain,” ujar Mae.
Lunar bangkit meski masih terhuyung-huyung. Ava dipindahkan oleh Mae menggunakan kubus esnya. Mendekati dinding tempat Mae, Fenz, dan Eucli berada. Dengan cepat Lunar melupakan rasa sakit yang masih terasa. Dia tidak boleh berlama-lama di tempat ini, atau Lithar akan segera menyelesaikan rencananya.
Monster di hadapannya tampak sedang menyiapkan serangan yang lebih berbahaya lagi. Tubuh gemuknya kini terangkat ke atas beberapa meter, terdiam, namun gerakan enam tangan kecilnya tampak berbeda dari yang sebelumnya. Dari jauh Lunar melihat Kenos mengeluarkan tinju api ke bagian titik kelemahan monster itu, namun tidak terlalu berdampak. Hanya membuat lapisan pelindung sedikit hangus.
Itasuke menebaskan aliran sihir listrik dari pedang panjangnya, sedangkan Moon mengeluarkan pisau angin dari tongkat sihirnya. Dan, anggota tim dewan penjaga melakukan serangan jarak jauh secara bersama-sama. Elara terlihat begitu penuh semangat mengayunkan scythe-nya memanfaatkan kesempatan saat Adorigias diam di udara.
Lunar tak ingin berdiam diri saja tanpa melakukan apapun. Dia melompat setinggi mungkin, lalu mengayunkan pedang Chill-nya pada ekor Adorigias yang terjuntai bawah. Saat pedangnya mengenai ekor monster gemuk itu, tangannya tersentak kuat hingga pedangnya terlepas dari genggaman. Lunar merasa itu hal paling bodoh yang pernah dia lakukan selama menjadi Arz. Tubuhnya ikut terjatuh bersamaan pedangnya, dan ekor monster itu tidak tergores sedikitpun. Beruntung Mae berhasil melindungi tubuhnya dengan sihir kubus es.
“Ya ampun, apa yang sedang dipikirkannya saat ini? Dilihat dengan mata biasa saja sudah jelas bagian itu sangat keras.” Fenz menutupi wajahnya dengan satu tangan, lalu menggeleng perlahan menyaksikan Lunar terjatuh lagi. “Sepertinya dia sudah tak sabar ingin pergi dari sini. Sampai-sampai melakukan tindakan ceroboh begitu.”
Mae ikut menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata Fenz dan tingkah Lunar yang sembrono. Lalu dia menggerakkan kubus esnya mendekati padanya. “Kita harus segera melenyapkan monster ini!” katanya sambil menunjuk Adorigias yang masih di atas mereka menyiapkan serangan berikutnya.
“Tidak, kurasa kita harus pergi lebih dulu. Kita serahkan monster ini pada dewan penjaga yang lain,” kata Fenz penuh keyakinan. Lalu, dia menoleh kepada Elara dan memberi isyarat untuk memberi mereka kesempatan keluar dari ruangan itu.
Sebelum Elara yang mengerti isyarat yang diberikan Fenz, Adorigias dengan cepat membuat penghalang dari sihir listrik yang mengelilingi seluruh ruangan, dan di setiap sudut muncul tiang besar dengan bagian bulat berwarna merah di tengahnya. Sementara itu, monster gemuk itu masih berada di tengah ruangan dan terapung di udara sambil mengalirkan listrik hitam yang memenuhiseluruh ruangan. Tampaknya monster itu mengetahui rencana Fenz dan timnya yang ingin pergi darinya.
“s**l! Kita jadi terkurung seperti ini.” Fenz menarik Eucli bersembunyi di balik tiang besar sebelum sihir listrik hitam itu mengenai mereka. Fenz menduga kalau bagian merah di tengah tiang adalah titik kelemahan tiang itu, tanpa berpikir panjang dia menembaki bagian bulat merah dengan musket-nya. “Bagus! Ini berhasil.”
Perlahan bagian bulat berwarna merah di tengah tiang itu mengalami keretakan setelah beberapa tembakan Fenz mengenainya. Eucli dan Ava mengikuti usaha Fenz, begitu juga dengan anggota tim lain yang terjebak di sudut lain ruangan yang kini dipenuhi sihir listrik hitam yang menyambar-nyambar.
Lunar mengayunkan pedangnya, menebas bagian merah di tengah tiang beberapa kali bersamaan dengan tebasan musket Fenz, Mae, Eucli, dan Ava. Meski sudah lima orang yang mencoba menghancurkan bagian merah itu, tampaknya mereka harus berusaha lebih keras. Bagian merah itu tergores sedikit demi sedikit, dan belum menunjukkan kerusakan berarti.
Di tiang lain, tim Rez dan Elara bekerja sama untuk menghancurkan tiang di depan mereka. Ketua dewan penjaga itu memperlihatkan kemampuan sesungguhnya yang dimilikinya. Tak ingin menjatuhkan nama dewan penjaga sebagai pelindung armada Uricle. Tebasan blade terakhir dari Rez berhasil menghancurkan salah satu tiang. Namun, bahaya selanjutnya mengintai mereka.
Setelah tiang besar itu hancur, tubuh mereka tak memiliki pelindung dari sihir listrik hitam yang terus dikeluarkan Adorigias. “Awas!” teriak Rez sambil menahan sihir listrik hitam yang terus mengincar mereka dengan blade-nya. Dengan gerakan tangan yang cepat dia berhasil menghalau semua sihir listrik hitam yang nyaris mengenai semua anggota timnya dan Elara. “Ayo, kita pergi ke tiang yang di sana. Aku akan menahan sihir ini. Bergeraklah dengan cepat,” ujar Rez.
“Kami akan membantu Fenz dan timnya,” ujar Elara sambil memimpin anggota timnya berjalan ke tempat tim Fenz berada. Dengan gerakan cepat Elara memutar scythe-nya agar sihir listrik hitam tidak mengenai mereka saat berjalan menuju tiang lain. “Ayo cepat!”
Di sisi lain, Moon dan Kenos telah berhasil menghancurkan tiang besar di depan mereka. Saat dua tiang telah hancur, Adorigias tampak kehilangan keseimbangannya di udara. Sihir listrik hitam yang dikeluarkannya berkurang setengahnya. Monster itu terlihat mulai goyah dan hampir terjatuh saat satu tiang lagi berhasil dihancurkan tim Itasuke.
Lunar seperti mendapat harapan baru saat Elara dan timnya bergerak ke arahnya, ditambah hanya tersisa satu tiang yang menjadi bagian timnya. “Bagus sedikit lagi aku bisa pergi menyelamatkanmu, Shein,” gumamnya dalam hati.
“Hei, Lunar. Jangan lengah, gerakan ini hanya salah satu serangan terkuat dari Adorigias, setelah menghancurkan tiang ini, kita pergi dari sini. Biarkan dewan penjaga lain yang menghadapinya.” Fenz mengerti apa yang dipikirkan Lunar. Dia telah mengetahui serangan monster gemuk di depan mereka dan berencana mengambil kesempatan untuk keluar dari ruangan itu saat Adorigias kehilangan keseimbangan dan jatuh setelah keempat tiangnya dihancurkan.
Lunar mengangguk, tanpa berkata. Ketua timnya itu seolah dapat mengerti apa yang dikhawatirkannya. Lunar mengerahkan kekuatannya untuk segera menghancurkan tiang yang tersisa. Lunar mengangkat pedangnya ke atas kepala, lalu mengayunkan pedangnya seperti membelah tiang itu. Dengan tebasan itu dan bantuan dari Elara dan timnya, tiang terakhir berhasil mereka hancurkan.
Setelah tiang terakhir hancur, seperti dugaan mereka semua, Adorigias langsung terjatuh dengan bagian merah di tengah tubuhnya menghadap ke atas. Sungguh kesempatan yang tidak boleh disia-siakan, pikir Lunar. Sementara kelima dewan penjaga dan timnya naik ke tubuh gemuk monster itu, Lunar beserta timnya menuju arah lain.
Lunar berlari menuju pintu barat, diikuti Mae, Fenz, Eucli, dan Ava. Lunar mendorong pintu itu sekuat, namun seperti ada kekuatan besar yang menghalangi pintu itu untuk terbuka. Dia teringat saat tubuhnya terpental dengan kuat ke pintu itu, tetap saja pintu besar itu tidak bergerak sedikitpun.
“Hancurkan saja pintunya!” teriak Fenz dari belakang. Lalu, tanpa menunggu Lunar mencerna kata-katanya, Fenz mengayunkan musket-nya sambil mengeluarkan aura berwarna ungu yang bergerak maju dengan cepat. Membuat retakan besar ditengah pintu.
Lunar mengikuti Fenz, menebaskan pedangnya beberapa kali pada tempat yang sama dengan s erangan Fenz. Mae tak ingin menunggu saja, setelah Lunar menambah retakan di pintu itu, dia mengeluarkan bola api besar dan langsung ditembakkan bersamaan dengan Eucli, dan Ava. Mereka bertiga memberi sebuan secara bersamaan ke arah retakan yang ditimbulkan Fenz dan Lunar sebelumnya.
Sebuah tinju api melesat dengan cepat dari belakang Lunar, dia menoleh dan mendapati Kenos memberi isyarat kepada mereka untuk segera pergi. Tinju api dari Kenos itulah yang menjadi penutup dan berhasil membuat pintu besar yang kokoh hancur berkeping-keping.
Lunar mengangguk ke arah lima dewan penjaga yang masih bertarung di belakangnya, sebelum dia keluar dari ruangan. Lalu berbalik dan berlari di belakang Fenz, dia memandang ke sekelilingnya, dan mendapati sebuah pintu besar di kejauhan. Pintu yang berbeda dari pintu-pintu sebelumnya. Garis-garis yang bercahaya membentuk sebuah pola dan terarah ke atas. “Itukah tempat Shein berada?” gumamnya.
***
Sementara itu, di tempat lain, seorang wanita berambut biru tua dan gelembung air di beberapa bagain tubuhnya, kedua tangannya terikat ke atas, terkurung di dalam sebuah tabung kaca yang berisi cairan berwarna hijau kebiruan. Di sekelilingnya aliran photon telah berubah warna menjadi kuning kemerahan, lantai kaca yang menjadi penopang tabung itu memantulkan cahaya aliran photon di bawahnya.
Seorang pria menggunakan baju serbaputih khas laboratorium berjalan perlahan, lalu berdiri di depan tabung kaca, memandangi wanita yang ada di dalamnya dengan tatapan ingin menguasai kekuatan wanita itu, dan dia mulai berbicara meskipun wanita itu hanya terpejam.
“Sungguh lama, waktunya tak dapat dihitung lagi, sejak pertama mengejarmu. Akhirnya kini aku bisa terhubung denganmu, Shein.” Pria itu mendekati, lalu memeluk tabung kaca seakan dia memeluk orang yang ada di dalamnya. “Tidak ada yang bisa mengganggu momen ini, momen yang telah aku tunggu. Kau dan aku akan segera menyatu, Shein.”
Saat pria itu mengucapkan nama wanita yang ada di dalam tabung kaca itu, matanya terpejam, dan dia mengucapkannya dengan lembut.
***
Lunar dan timnya bergegas menuju pintu besar di ujung jalan yang mereka lewati. Meski tidak tahu dengan pasti tempat Shein berada, mereka mengikuti aliran photon yang semakin kuat di depannya. Dan, Lunar berpikir kalau di sanalah tempat yang mereka tuju. Dia menatap tajam pintu itu, dan kepingan memorinya secara mendadak memenuhi kepalanya.
Dia melihat dirinya berlari di jalan yang sama bersama Mae, tiang-tiang yang tinggi, dan pintu besar yang mengeluarkan cahaya biru semakin terang di ujung jalan yang mereka lewati. Aliran photon yang kuat dapat dirasakannya seperti saat ini. Keyakinannya semakin kuat, kalau Shein benar-benar ada di balik pintu itu, sedang menunggu untuk diselamatkan dari rencana jahat Lithar.