Itasuke menjatuhkan Fenz dengan sekali tendangan kuat, lalu mengejar Fenz yang terpental beberapa meter menjauh darinya. Tangannya yang menggenggam pedang diayunkan ke samping tubuhnya, lalu saat telah berada di hadapan Fenz dia menghentikan gerakannya dan tampak terhuyung-huyung. Itasuke berusaha menyeimbangkan pijakan kakinya.
Sementara Fenz yang terbaring hanya terdiam menatap penuh rasa heran dengan perubahan yang terjadi di sana. Lantai yang mereka pijak berguncang hebat, mengeluarkan suara desisan kuat, arena pertarungan itu bergerak kembali ke posisi semula dengan kecepatan yang tak masuk akal, menyatu seperti sebelum Rez memecah ruangan itu.
Dalam sekejap sebuah ruangan besar telah kembali utuh, dengan dua pintu besar di sisi barat dan timur. Kedua kubu Hero dan Arbiter berkumpul di tengah ruangan itu saat cahaya biru dari aliran photon yang menerangi ruangan besar tempat mereka berada berubah menjadi kemerahan.
Lunar memandang ke sekelilingnya, menyaksikan sebuah keanehan yang terjadi di sana. Tak satupun mengetahui apa yang sedang terjadi, termasuk para Hero, dewan penjaga yang bernomor ganjil ataupun Arbiter.
Mae yang sedang melakukan sihir pemulihan pada Eucli menghentikan tugasnya itu, tubuhnya hampir terjengkang karena guncangan yang baru saja terjadi. Sementara Eucli masih dalam posisi meringkuk. Beruntung Lunar sempat menarik kerah seragam Arznya.
Ava berlari mendekati Lunar dan Mae, saat ruangan itu menyatu kembali, ternyata posisi dirinya berada sangat tidak menguntungkan. Dia bisa saja terkenal serangan telak dari pihak lawan dan dia tidak ingin itu terjadi.
Rez kebingungan, hal yang sedang terjadi saat ini diluar perkiraannya. Dia tidak tahu penyebab perubahan warna cahaya di dalam kapal induk itu. Tidak pernah terjadi sebelumnya aliran photon berubah warna, apalagi merah yang biasanya adalah penanda adanya bahaya yang mengintai.
“Apa maksud semua ini?” gumam Lunar dengan wajah yang tampak panik. Di dalam pikirannya dia mengkhawatirkan Shein, “Apa mungkin ini indikator tubuh Shein? Apa Lithar sudah berhasil menyatu dengannya?” Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya dan membuatnya gila jika dia tidak segera keluar dari tempat ini dan menemukan Shein.
Belum sempat mereka semua mencerna keadaan tiba-tiba suara seorang pria menggema di seluruh ruangan tempat mereka berada. “Aku bisa melihat kalian semua dari sini. kalian sungguh telah menyuguhkan penampilan terbaik kalian, dan aku sangat terhibur.” Pria itu kemudian terbahak-bahak. “Sungguh menggelikan melihat kalian semua melukai teman kalian sendiri.”
“Lithar? Apa yang kau inginkan?” Rez menatap pada langit-langit, kemudian matanya berkeliling mencari keberadaan orang yang suaranya terdengar sangat nyaring.
“Tapi aku sudah bosan dengan penampilan kalian. Aku sudah menyiapakan hadiah untuk kalian semua. Sementara itu jangan ganggu aku, bersenang-senanglah dengan hadiah yang kuberikan ini.”
Suara jentikan jari Lithar terdengar meski dirinya tidak berada di ruangan itu. Lalu, tiba-tiba serpihan baja yang berasal langit-langit ruangan berjatuhan, setelah sebelumnya suara dentuman keras terdengar dari atas tempat mereka berpijak. Sesuatu yang besar dan kuat telah membentur dan menghancurkan langit-langit kapal induk yang keras.
Sebuah monter Darlz yang besarnya hampir satu per tiga bagian ruangan itu meluncur dari atas, menembus langit-langit yang terbuat dari baja. Lalu, dengan cepat membenturkan bagian bawah tubuhnya yang tampak sangat keras ke lantai. Berputar-putar beberapa kali ke sudut ruangan yang berbeda, sedangkan ekornya yang besar dan tebal nyaris menyapu semua orang yang ada di sana.
Lunar menarik tubuh Mae dan Ava, lalu menekan kepala kedua temannya, membuat mereka bertiga membungkuk hampir menyatu dengan lantai saat monster Darlz raksasa itu mengibaskan ekornya. “Sungguh berbahaya sekali,” gumamnya sambil menoleh ke arah monster Darlz itu yang terhenti di depan piintu barat.
“Makhluk apa lagi sekarang?” gerutu Mae yang sejak tadi ditarik Lunar ke sana dan ke sini. “Dan, tidak bisakah kau menggunakan cara yang lebih baik daripada menarik kerah seragamku terus?” Mae menarik bajunya hingga terlepas dari genggaman tangan Lunar, lalu merapihkan kerutan di dekat lehernya.
“Apa yang kau harapkan di saat seperti ini, Mae? Kau ingin aku menyelamatkanmu dengan cara begini?” Lunar menekuk sikunya, sementara telapak tangannya dilemaskan dan jari telunjuk dan ibu jari disatukan saat mempraktekan cara menyelamatkan yang mungkin diinginkan Mae.
Mae tersipu malu, “Terserah kau saja! Lain kali jangan asal menarik kerah bajuku,” ujarnya sedikit kesal. Namun dia berpikir lagi, jika Lunar tidak menariknya mungkin dia sudah ikut terseret ekor monster Darlz. Dia merasa bersalah telah marah dengan cara Lunar menolongnya.
Lunar mengabaikan gerutuan Mae, lalu bangkit dengan cepat dan memperhatikan setiap bagian tubuh monster Darlz yang ada di hadapannya dengan sedikit kengerian di matanya. “Makhluk apa itu? Besar sekali, dan juga sepertinya keras.”
Sebuah monster Darlz terbang berputar-putar di dekat pintu barat, tubuhnya terlihat gemuk dengan bagian merah di tengah yang bergerak menutup dan membuka. Monster itu memiliki enam buah tangan yang ukurannya jauh lebih kecil dari tubuhnya, bergerak-gerak seperti sedang mengendalikan sesuatu.
Di kedua bahunya terdapat kepala yang lebih kecil dari yang di bagian tengah dan tidak memiliki mata ataupun mulut, namun berbentuk sama, seperti kepala burung hantu namun terbuat dari logam berwarna emas. Dan, menggunakan jubah yang berbentuk bulu burung berwarna hitam dengan list merah dan emas.
Lunar kagum sekaligus merasa ngeri dengan makhluk yang ada di hadapannya. Dia terdiam sejenak mencari bagian kelemahan monster itu.
Fenz berdiri di sebelahnya, dahinya ketika menyaksikan monster Darlz itu menggerak-gerakkan ke enam tangannya yang jauh lebih kecil dari tubuhnya. “Menunduk! Itu adalah Adorigias, dia akan menembakkan laser yang dapat membekukan apapun yang mengenainya!”
Lunar mengikuti arahan Fenz, dia baru pertama kali melihat monster Darlz ini. Namun dia yakin para dewan penjaga dan seniornya pasti sudah mengetahui monster yang ada di hadapan mereka saat ini. Lunar melompat tinggi saat Adorigias berputar mengendalikan laser berwarna putih dan kilatan merah dengan tangannya.
Suara Lithar terdengar kembali setelah terdiam menyaksikan hadiah yang dimaksudnya sudah menghampiri para dewan penjaga di salah satu ruangan besar di kapal induk. “Bagaimana? Kalian senang dengan hadiah yang kuberikan? Mengatur momen yang pas itu ternyata susah, ya. Aku mencari saat kalian semua berkumpul.”
“Apa kau berniat menghabisi seluruh dewan penjaga?” Rez tampak sangat kesal. Dia merasa telah dihianati oleh Lithar. “Jika kau melakukan ini, berarti aku tidak akan segan-segan menganggapmu sebagai musuh Uricle.
“Enam dewan penjaga? Aku sudah tidak memikirkannya sekarang. Aku hanya memanfaatkan kalian demi mencapai cita-citaku saja. Tapi sekarang, aku sudah mendapatkannya. Selamat tinggal Rez, para Hero, dan juga Arbiter. Kalian sudah memainkan peran dengan sangat bagus. Jangan coba-coba menggangguku.” Lithar tertawa puas setelah mengungkap kebenaran rencanya, lalu suaranya tidak terdengar lagi.
Rez terlihat geram, dia melampiaskan amarahnya dengan menghempaskan tangannya ke samping dengan kuat. Menyesali keputusannya menentang para Arbiter yang ternyata benar-benar ingin melindungi armada.
“Apa kau masih ingin berpihak pada orang itu, Rez?” Ada sedikit nada yang terdengar mengejek saat Elara mengucapkannya. Dia menatap Rez yang tertunduk, wajah temannya itu terlihat sangan muram.
“Dia mengirim Adorigias, ya? Dia tahu benar cara menghadang musuh. Tapi aku tidak akan membiarkannya menyelesaikan rencananya kali ini!” Itasuke maju terlebih dulu, mengincar bagian yang terbuka lebar berwarna merah di tengah tubuh monster Darlz itu.
“Jadi kau sudah sadar dengan perbuatanmu, Itasuke?” Lunar berlari mengikuti Itasuke dari belakang.
“Ya. Maaf atas kata-kata dan perbuatan memalukan yang kulakukan pada Eucli tadi. Bisa kau lupakan sejenak masalah kita? Ayo kita habisi makhluk gendut ini!” Itasuke menancapkan pedang yang telah dialiri sihir listrik ke bagian merah yang terbuka lebar di tengah-tengah tubuh Adorigias.
“Oke!” Lunar mengikuti hal yang sama seperti Itasuke. Sesuai dugaannya, bagian merah itu adalah titik kelemahan monster Darlz itu. Tetapi meski sudah tertusuk dua pedang, bagian merah itu tidak langsung hancur seperti Darlz lainnya.
“Jangan senang dulu, Lunar! Monster ini tidak sama seperti monster Darlz lainnya. Ia adalah guardian terkuat dari Angel The Fallen, Darlz yang pernah mengacau berpuluh tahun lalu dan sempat disegel oleh pendahulu kita.”
“Angel The Fallen? Darlz Angel?” Lunar terkejut saat mendengar nama itu, dia pernah membacanya dalam salah satu buku di ruang baca kapal 11, tapi dia yakin jika monster Darlz itu sudah tidak ada. Namun mengapa salah satu guardian terkuatnya ada di tempat ini.
“Ya, sepertinya Lithar mencoba membangkitkannya menggunakan kekuatan Shein.” Itasuke berputar di udara, menghindar listrik hitam yang dikeluarkan Adorigias.
Sesuai dengan bentuknya yang besar, lapisan-lapisan yang tampak seperti baja berwarna hitam menyelimuti tubuh monster itu. Meski di bagian tengah tubuh gemuknya terbuka dan memperlihatkan bagian merah yang merupakan titik kelemahan. Menghancurkan bagian merah itu tidak semudah yang dibayangkan Lunar. Ada seperti lapisan transparan yang sangat kokoh melindungi titik kelemahannya.
Pikiran Lunar berpacu, dia ingin segera menyelesaikan pertarungannya di tempat ini lalu menyelamatkan Shein. Dia tidak ingin Lithar menyelesaikan rencana jahatnya itu. Dan, jika ucapan Itasuke benar, mungkin tujuan Lithar yang sesungguhnya adalah membangkitkan Angel The Fallen, Darlz yang memakan seluruh pengetahuan di alam semesta.
Lunar berlari zig-zag menghindar dari listrik hitam yang turun dari atas. Saat mengeluarkan sihir itu, tubuh gemuk Adorigias terdiam, dan Lunar ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menghancurkan lapisan pelindung titik kelemahan monster itu.
Adorigias tidak membiarkan Lunar mendekati dengan mudah, saat Lunar telah berada dua meter di depannya. Monster itu mengubah tipe serangannya dengan cepat. Pola aktivasi sihir telah terbentuk di bawah tubuhnya, dan dalam sekejap mata kristal es besar berwarna keluar dari pola aktivasi sihir yang masih terlihat.
“Awas!” teriak Mae. Dia telah berada di belakang Lunar, melindungi Lunar dari kristal es Adorigias dengan barrier es. “Kenapa kau begitu ceroboh?”
“Aku tidak tahu dia bisa melakukannya.” Lunar mundur beberapa langkah, sedangkan kristal es merah masih terbentuk sempurna di bawah tubuh gemuk Adorigias dan belum menunjukkan akan hancur.
Fenz dan Ava menembaki kristal es merah dari jauh, berharap peluru mereka dapat menghancurkannya dan petarung jarak dekat dapat menyerbu Adorigias. “Ah, ternyata sulit.” Ava menggerutu, dia telah menghabiskan separuh cadangan peluru rifle-nya untuk menghancurkan kristal es merah itu. Lalu, dia mengubah arah tembakannya ke titik kelemahan monster itu untuk menghancurkan lapisan pelindungnya.
Kien dengan grenade launcher-nya dan Fressia menggunakan panah, ada jauh di kanan Fenz dan Ava, melakukan hal yang sama dengan mereka berdua. Sekuat tenaga dengan weapon masing-masing berusaha menghancurkan kristal es merah dan lapisan pelindung di bagian tengah tubuh Adorigias.
Di sudut lain ruangan itu, Rez masih terdiam menyaksikan tim dewan penjaga nomor tiga dan empat bertarung menghadapi Adorigias di depannya. Sementara itu Elara, Kenos, dan timnya sudah mulai memasuki arena pertempuran di bagian tengah.
Kenos berhenti sejenak sebelum beranjak pergi, tidak menoleh pada Rez saat mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini. “Hei, Rez. Kau takkan bilang ini semua untuk menjaga perdamaian Arz, kan? Lebih tepatnya, jangan katakan itu. Jika kau masih tetap bersikeras, akan ku bunuh kau sekarang juga!”
Kata-kata terakhir Kenos terdengar seperti cambuk bagi Rez, yang menghilangkan keraguan dalam hatinya. Rez menatap ke depan, “Awalnya aku tak tahu cara untuk membebaskan diri dari pengaruhnya. Mungkin karena aku tidak memiliki pilihan lain, aku hanya bisa mematuhinya. Tapi dalam kondisi seperti sekarang ini, tak ada lagi yang namanya kedamaian dengan mengorbankan sebagian Arz!” Lalu, dia memerintahkan anggota timnya untuk menyerbu Adorigias.
“Bagus!” Kenos tersenyum simpul, lalu melesat dengan api yang membara di sekujur tubuhnya.
“Aku juga akan melawan Lithar sekuat tenaga!” ujar Moon mengikuti dari belakang. “Ayo, kita tunjukkan kekuatan tim dewan penjaga nomor lima, kita harus menghancurkan monster gemuk itu!”
“Baik!” jawab seluruh anggota timnya secara serentak.
Saat seluruh tim dewan penjaga telah memasuki arena pertempuran, kristal es merah yang ada di bawah tubuh Adorigias tiba-tiba hancur dan menghilang tanpa meninggalkan bekas. Kemudian, monster itu mengubah tipe serangannya lagi.