Kekacauan di dalam kapal induk semakin menjadi, ratusan Arz yang berada di bawah pengaruh Code Abyss terus berdatangan dan sedang berhadapan dengan Ruelia, Mari, dan puluhan Arz yang sudah terbebas dari pengaruh Code Abyss yang dikeluarkan Lithar.
Bukan hanya menghadapi Arz yang menggila, Ruelia masih menghadapi Lanxrehda yang baru berkurang setengahnya. Dari kejauhan mata-mata bercahaya merah dari pasukan Arz sedikit membuat nyali anggota tim dewan penjaga itu menciut.
“Apa itu?” Ruelia kebingungan dengan apa yang dilihatnya. Lalu bersembunyi di balik salah satu tiang penyangga kapal saat melihat beberapa peluru meluncur ke arahnya. “Arz? Ini gila, kita tidak mungkin bisa menang jika melawan mereka semua.”
Ruelia memberi isyarat dengan tangannya kepada Arz lain yang ada di belakangnya, termasuk Mari. Dia menyusun strategi dengan cepat, meski kemungkinan untuk menang hanya sedikit, dia tidak mungkin lari dari tempat ini, dia bersama Arz yang ada harus menahan para Arz agar tidak mendekati Lunar yang sedang berusaha menyelamatkan Shein.
Sementara itu, Lunar masih berhadapan dengan Itasuke. Lunar mengayunkan pedang Chill-nya dengan kekuatan penuh dan tanpa ragu lagi. Mengerahkan tebasan demi tebasan pada Itasuke yang dianggapnya sangat menyebalkan saat ini. Saat mereka beradu pedang, matanya menatap dewan penjaga nomor tiga itu dengan sinis. “Aku akan membuka matamu dan menyadarkanmu dari pengaruh orang gila yang ingin menyatu dengan jiwa Shein!”
Di wajah Itasuke terbentuk senyum simpul saat mendengar kata-kata yang terkesan begitu naif di telinganya. “Sadar? Aku sudah sangat sadar saat ini, Lunar!” Dengan pedang yang dialiri sihir listrik, Itasuke memberikan tebasan terkuatnya saat melihat celah pada gerakan Lunar. Itasuke melebarkan kakinya, lalu menunduk, dan mengincar bagian terbuka di perut Lunar.
Namun, tangannya tersentak kuat ketika pedangnya hampir mengenai tubuh Lunar. Sebuah peluru sihir yang becahaya ungu mengenai pedangnya. Itasuke memutar tubuhnya untuk mengurangi dampak dari sentakan itu. Lalu, menghadap ke atas, ke arah peluru sihir itu berasal. Matanya terbelalak saat menyaksikan kehadiran orang yang tak pernah dia duga sebelumnya ada di atas kotak besar yang bergerak horizontal.
“Fenz!” teriak Lunar mendahului semua orang yang ada di tempat itu.
“Hei, Lunar.” Pria itu tersenyum kepadanya, lalu melompat turun dari kotak yang pijaknya ke depan Lunar. “Syukurlah masih sempat.” Entah dari mana datangnya, tetapi kedatangan Fenz yang tiba-tiba membuat semua perhatian dari orang yang ada tertuju kepadanya.
Khususnya wanita yang selalu mencemaskannya, dan tidak mempercayai kenyataan kalau dirinya tewas dalam penyerbuan Darlz Ildar di Planet Orla. Keyakinan jika Fenz masih hidup ada di dalam hati terdalam Eucli, meski dia selalu menutupinya, tetapi saat menyaksikan Fenz berdiri di tengah-tengah mereka membuatnya tidak bisa lagi menahan perasaannya lagi. Air matanya menetes begitu saja melihat Fenz masih dalam keadaan sehat, berdiri dan menggenggam weapon yang sama dengan dirinya.
Eucli melupakan pertarungannya, lalu berlari ke arah Fenz. Tetapi Itasuke tampak masih terbawa suara pertempuran, dia tidak ingin melihat Eucli mengganggu pertarungannya dengan Lunar dan Fenz. Lalu, pria itu menebaskan pedangnya, melepaskan aliran sihir listrik yang sejak tadi menyelimuti pedanngya. Mengarahkan tebasan itu pada Eucli yang lengah.
Secepat kilat tebasan pedang Itasuke mengenai Eucli sebelum wanita itu sempat menggapai Fenz. Eucli terpental beberapa meter, terjatuh dalam posisi tubuh meringkuk, merasakan sengatan listrik di sekujur tubuhnya.
“Kau sangat mengecewakan Eucli, kau lengah di tengah pertempuran. Meski aku telah menekan kekuatanku, kau terlihat begitu menderita. Ditambah ada sesuatu yang sangat menggangguku sejak tadi. Jelas keahlianmu ada pada penggunaan sihir, tapi kau malah ikut-ikutan menggunakan musket seperti kekasihmu itu.” Itasuke menunjuk Fenz yang baru saja tiba di arena pertempuran dengan ujung pedangnya. Matanya menatap tajam pada Fenz, lalu dalam sekejap pedangnya telah dipenuhi kilatan-kilatan listrik. Lalu dia menghempaskannya, sejenak dia tertunduk menatap lantai, ada sebuah perasaan mengganggunya saat dia melihat Fenz.
Lunar dan Fenz berlari mendekati Eucli yang kejang-kejang karena terkena sihir listrik Itasuke. Keduanya ingin menyelamatkan Eucli, tetapi aliran listrik membuat mereka tidak bisa menyentuh wanita itu. Eucli mengerang kesakitan, kulit tubuhnya nyaris berubah warna.
“Mae!” teriak Lunar spontan. Dia berharap Mae bisa menyelamatkan Eucli. Hanya dia satu-satunya pengguna sihir di timnya selain Eucli sendiri. Lunar mencari-cari Mae, dan mendapatinya sedang berada di dalam kubus es, bergerak ke arahnya dengan cepat. Lunar yakin Mae melakukan itu untuk melindungi tubuhnya dari serangan tim Itasuke.
Terdengar bunyi dentuman kuat dari sebelah kiri Mae, wanita itu menoleh, melihat Kien telah menembakkan sebuah peluru dari grenade launcher, kemudian peluru yang ditembakkan pria berbadan besar terpecah menjadi beberapa peluru kecil. Peluru-peluru itu terjatuh, menimbulkan bunyi dentingan saat mengenai kubus es Mae dan berserakan di lantai.
Dengan wajah tanpa emosi, Mae mengangkat tangannya hingga siku, telapak tangannya mengepal menyisakan jari telunjuk yang digoyangkan bersamaan dengan gelengan kepala kepada Kien. Memberi isyarat pada pria itu kalau usahanya sia-sia. Pertahan kubus es milik Mae belum pernah tertembus, bahkan bola api milik Diarla mengecil mengikuti ukuran kubus itu. Mae tersenyum simpul, lalu mempercepat gerakannya menuju tempat Lunar dan Eucli berada.
Lunar mengepalkan tangannya, kesal dengan tindakan pengecut dewan penjaga itu. Dia kembali berdiri, memutar tubuhnya lalu menghadap Itasuke. Begitu juga dengan Fenz, dengan musket barunya, dia menantang Itasuke.
Fenz mengayunkan musket-nya ke bawah, membelah lantai dengan aura berwarna ungu. Memisahkan dirinya dari Lunar dan anggota tim lainnya. Kini dia dan Itasuke saling menatap dengan hawa bertarung yang sama kuatnya. “Lunar! Mae! Tolong jaga Eucli, aku akan membalas perlakuan pria itu,” kata Fenz dengan emosi yang kuat di setiap kata-katanya.
Elara menghentikan pertarungannya dengan Rez saat melihat Fenz telah datang. “Akhirnya datang juga,” gumamnya.
“Itu kan…” Rez tidak mengira kalau teman baiknya itu masih hidup dan dalam keadaan sehat berada di tengah-tengah pertempuran antara Hero dan Arbiter ini. Namun dia sadar kalau temannya itu memegang peran sebagai Arbiter, dan itu artinya dia juga adalah musuhnya.
“Kau terkejut, Rez? Aku sendiri yang melatihnya agar dia benar-benar menjadi dewan penjaga yang sesungguhnya dan membuat kekuatan kedua kubu ini seimbang.” Elara kembali memperkuat genggaman tangannya pada scythe yang terarah pada Rez. Dia ingin segera menyudahi pertarungan sia-sia ini, dan menyadarkan Rez dari pengaruh Lithar.
“Fenz?” Moon juga tak kalah terkejut dengan kehadiran Fenz. “Dia masih hidup? Padahal tongkat sihirku ini Black Klays bilang dia sudah tiada. Bagaimana mungkin tongkat sihirku berbohong?” Dia memandang tongkat sihir berwarna hitam dengan kristal ungu di bagian ujungnya, ada sedikit keraguan di matanya saat berbicara dengan tongkat sihirnya itu.
“Moon! Bukalah matamu! Tidak semua yang dikatakan Black Klays adalah benar. Kau harus memikirkan segala sesuatunya sendiri,” teriak Kenos kesal. Tiba-tiba dari belakangnya, sebuah serangan es meluncur dengan cepat dan hampir mengenai Kenos. “Hei! Aku sedang berbicara dengan kapten timmu, tahu!” Serangan itu langsung meleleh saat mendekati tempat di dekat Kenos yang termperaturnya lebih tinggi dari tempat lain. Hal itu merupakan salah satu bentuk kekuatan Kenos yang mampu merubah temperatur di sekelilingnya.
“Itu tidak akan berkerja padaku, kau harus berlatih lebih giat lagi, Lyon!” Kenos mengepalkan tinjunya, lalu mengarahkan jauh ke depan. Dari tinjunya pada udara di depannya itu tercipta aura berwarna merah lalu menjadi bola api yang melesat ke arah Lyon. Dan, seketika tinju api Kenos membuat Lyon terpental dan jatuh ke lantai.
“Maaf, tapi aku harus membuatmu diam saat aku bicara dengan dia.” Kenos memutar tubuhnya menjadi menghadap pada Moon yang tampak marah karena salah satu anggota timnya dikalahkan Kenos.
Di sisi lain arena pertempuran antara Hero dan Arbiter, Fenz dan Itasuke masih saling menatap tajam, belum ada satupun yang melakukan pergerakan.
“Aku tak menyangka pertemuan kita langsung bertarung seperti ini, Itasuke. Kau ingat kata-katamu saat di Planet Orla? Kau ingin mengajakku duel, kan? Ayo kita lakukan sekarang!”
“Ya, aku pun tak menyangka kau bisa selamat dari reruntuhan monolith. Padahal aku sudah mengutuk diriku sendiri karena gagal menyelamatkanmu. Tapi saat ini kita adalah musuh, aku harus menghentikanmu!”
Fenz memulainya lebih dulu dengan menghantamkan musket-nya ke lantai, lalu dari tebasan itu keluar aura berwarna ungu yang bergerak cepat ke arah Itasuke.
“Kau tidak sabaran ya, Fenz. Aku masih mengagumi musket yang ada di tanganmu itu, loh. Aku masih belum percaya, akan ada orang yang dapat memakai cosmogenic weapon itu selain dewan penjaga nomor empat terdahulu.”
“Tentu saja. Itu artinya, latihanku selama ini tidak sia-sia.”
“Kalau begitu, akan kutunjukkan juga kekuatan cosmogenic weapon khas dewan penjaga nomor lima ini!” Itasuke mengangkat pedang ke depan wajahnya, lalu tangan kirinya mengeluarkan kilatan listrik yang lebih kuat dari sebelumnya dan mengalirkan sihir listrik yang kuat itu pada pedang di depannya. “Keluarlah, Agiri!”
Fenz tak mau kalah dari Itasuke, dia mengeluarkan aura berwarna ungu yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Lalu mengangkat musket-nya ke depan, mengarah pada Itasuke. “Kau juga, keluarkan kekuatanmu, Nebulos Dysonia!”
Saat Fenz mengerahkan semua kekuatannya, penghalang pada musket-nya yang berwarna hitam terlepas, kemudian cosmogenic weapon-nya itu menjadi sebuah musket yang sangat indah, berwarna silver dengan pegangan dan garis berwarna ungu tua yang berkilauan saat terkena cahaya biru dari aliran photon di sekelilingnya. Fenz melebarkan kakinya, memperkokoh pijakannya dan meluncur dengan cepat ke arah Itasuke.
“Ternyata kau sekarang lebih memilih pertarungan jarak dekat ya, Fenz.” Itasuke tersenyum simpul saat keduanya bertemu mengadu weapon satu sama lain. Di matanya terlihat wajah Fenz yang sangat serius.
“Ini semua berkat Elara. Dia yang telah melatihku seperti di neraka. Akan kutunjukkan hasil latihanku yang seperti di neraka itu padamu, Itasuke!” Fenz menarik kakinya, lalu menendang kaki Itasuke. Dengan gerakan yang cepat, Fenz mengarahkan tinjunya pada tubuh Itasuke, sementara tangan satunya masih menahan pedang Itasuke.
“Kau sudah lebih kuat ternyata.” Itasuke menahan semua serangan yang dilancarkan Fenz. Meskipun tangan dan matanya sibuk menatap dan menahan serangan Fenz. Dia tidak lengah sedikitpun.
“Memangnya kau saja yang bisa bertarung jarak dekat?” Fenz mendorong Itasuke lalu mengayunkan musket-nya, menghempaskan tubuh Itasuke menjauh darinya. Lalu, dia memutar tubuhnya untuk memperkuat ayunan kakinya yang di arahkan ke bahu Itasuke.
“Aku tak pernah bicara seperti itu. Tapi akan kutunjukkan pertarungan jarak dekat yang sesungguhnya padamu.” Itasuke menghindari tendangan Fenz dengan kakinya. Lalu, dia memutar kaki satunya dan menghentakan pedangnya ke lantai untuk memperkokoh gerakannya.