Mendadak keheningan menghiasi arena pertarungan antara Hero dan Arbiter. Enam dewan penjaga yang seharusnya bersatu untuk melindungi armada Uricle kini terpecah menjadi dua kubu dan saling mengeluarkan aura bertarung yang lebih dulu menyerang mental satu sama lain. Bagi yang memiliki aura bertarung kuat dan tidak ada keraguan di hatinya, dia akan bertahan menghadapi perang dingin yang akan menjadi pembuka pertarungan berikutnya.
Di bagian tengah, Rez beserta timnya berhadapan dengan dewan penjaga nomor dua yang berperan sebagai Arbiter. Blade yang tampak sangat berat telah digenggam pria berbadan besar itu, namun dirinya tidak terlihat kesulitan dengan ukuran weapon yang digunakannya. Mata yang bercahaya merah miliknya menatap tajam wanita yang di tubuhnya terpasang part mecha.
“Berarti tak perlu segan-segan lagi! Mengalahkan orang yang mengancam Arz dan Uricle adalah kewajiban kami para Hero.” Rez tampak sudah tidak tahan terus menunggu, lalu dia mengacungkan blade ke arah Elara, menantang wanita yang telah bertarung melawan Darlz bersamanya selama ini.
Elara melebarkan kakinya dan membentuk kuda-kuda bertarung. “Akan kuakhiri keangkuhanmu itu! Karena alasan itulah kami para Arbiter ada.”
Lantai yang mereka pijak secara tiba-tiba berguncang, lalu terbelah menjadi beberapa bagian yang terus bergerak membentuk tiga arena pertarungan. Dari celah lantai yang terbagi keluar cahaya biru yang berasal dari aliran photon di bawahnya. Mereka semua terbagi menjadi beberapa kelompok, sesuai dengan lawan yang telah mereka pilih.
Ruangan besar tempat mereka berada yang sebelumya utuh, kini terpecah menjadi kotak-kotak besar yang mengapung, di sekeliling mereka kotak-kotak besar terapung yang bergerak secara vertikal dan horizontal.
Semua orang yang ada di tempat itu kebingungan dengan perubahan ruangan tempat mereka berada. Lunar memandang ke sekeliling, menyeimbangkan tubuhnya yang tergundang akibat pergeseran lantai dan dinding ruang besar yang telah berubah drastis.
“Sudah kusiapkan panggung untuk kita.” Suara Rez terdengar begitu lantang, kini dia, Elara, semua anggota tim kedua dewan penjaga itu telah berada ada di atas Lunar dan yang lainnya. Pertarungan mereka telah dimulai beberapa detik setelah perubahan tempat itu.
Rez tidak ragu-ragu menebas Elara dengan blade, begitupun Elara tidak ragu mengayunkan scythe lalu menebas Rez dengan kekuatan penuh. “Ternyata kau masih kokoh, ya.” Rez menatap tajam lawannya, dia mendorong Elara yang bertahan dengan scythe, hingga membuat wanita itu hampir keluar dari arena pertarungan mereka yang tidak memiliki pembatas.
Jika seseorang terlempar keluar dan tak sempat berpegangan atau menyelamatkan diri dan terjatuh ke dalam aliran photon, sudah dapat dipastikan dia akan mendekam di dalamnya. Tidak ada yang tahu seberapa dalam photon itu, atau tidak ada yang tahu apakah seseorang mampu bernapas di dalamnya, selain itu itu belum ada yang mengetahui dasar dari tempat itu.
“Akulah yang harus bilang begitu! Rez!” Elara berhasil menghempaskan Rez ke belakang sebelum dia benar-benar terdorong keluar dari arena pertarungan yang jelas berbahaya itu. Lalu Elara memutar kakinya saat tubuh Rez masih terhuyung, menendang lutut Rez dan membuat pria itu hampir terjatuh. “Kenapa kau mematuhi Lithar?
Rez bertahan dengan kaki satunya, menopang tubuhnya dengan menghentakkan blade yang dia gunakan ke lantai untuk menghentikan laju tubuhnya yang terpental karena tendangan Elara. “Karena hal itu diperlukan untuk menjaga Arz!”
Elara benar-benar tidak puas dengan jawaban Rez, sebelum pria itu sempat bangkit, Elara menghantamkan scythe-nya untuk membuat blade milik Rez terpental. “Lalu apa hasil yang kau dapatkan dari mengikutinya? Apa kau lupa saat melawan Darlz Ildar? Berapa banyak kapal yang kita korbankan?”
Rez tidak membiarkan Elara mempermalukan dirinya dengan menyerah begitu saja pada pukulan Elara barusan. Sebelum scythe milik temannya itu sempat menyentuh blade ditangannya, dia memutar kakinya di lantai, menendang kaki Elara yang terlihat goyah.
Elara melompat tinggi untuk menghindari tendangan Rez, lalu berputar di udara dan meluncur ke atas Rez dengan scythe yang telah siap diayunkan untuk menyerangnya. “Kau pun pasti setidaknya sadar, bukan? Tentang keburukan pria gila itu.”
Rez menahan scythe Elara dengan mengangkat blade-nya ke atas kepalanya, dia mendongak lalu mendorong Elara sekuat tenaga. Rez terdiam mendengar kalmat terakhir yang diucapkan Elara, sejenak berpikir dan mengingat-ingat sesuatu.
Saat kedua dewan penjaga itu bertarung, masing-masing anggota tim mereka juga bertarung di arena yang sama. Haru dan Haku melakukan serangan kombinasi untuk menghentikan Gray salah satu anggota tim Rez yang berencana mengganggu pertempuran ketua timnya dan ketua dewan penjaga. “Lawanmu adalah kami! Jangan ganggu kedua orang tua itu, Gray!” teriak Haku.
Di sisi kiri bawah Rez dan Elara, Kenos telah mengawali pertempurannya dengan Moon. Pria itu mengepalkan kedua tangannya di depan dadanya, menyatukan tinju yang saling berhadapan, lalu perlahan dari jari kedua tangannya muncul corak bercahaya merah yang terus menjalar ke lengan. Sedetik kemudian corak berwarna merah juga terlihat mengitari wajahnya, lalu berhenti atas keningnya. Lalu, dibagian tengah corak berbentuk diamond berwarna merah muncul.
Kini tubuh Kenos bercahaya merah, dari balik seragam Arz-nya terlihat pendar kemerahan yang membentuk garis di seluruh tubuh pria itu. “Moon! Apa kau benar-benar tidak sadar jika kau berada di pihak yang salah?”
“Kau yang salah!” teriak Moon. Tanpa menunggu reaksi Kenos, wanita itu mengeluarkan sihir dari tongkat sihir yang telah terbentuk pola aktivasi sihir berwarna merah, lalu dengan cepat bola api turun dari atas dan hampir menimpa Kenos.
Kenos mengangkat tangannya ke atas, membuka telapak tangannya yang dipenuhi corak bercahaya merah, perlahan bola api itu tersedot masuk ke telapak tangannya dan menghilang tanpa sisa.
“Kau!” Moon mulai geram, “Beraninya kau memakan apiku, Kenos!” Moon semakin serius, dia merasa telah memilih lawan yang salah.
Kenos satu-satunya orang yang mampu melahap sihir miliknya karena pria itu juga menggunakan sihir dengan elemen yang sama, terlebih kekuatan unik yang dimilikinya mampu menghisap api yang dikeluarkan lawannya. Seluruh Arz di armada menyebutnya Flame Eater. Kenos tertawa puas melihat kemarahan Moon. “Kemarahanmu juga akan kuhisap, Moon. Hingga kau sadar kau ada di pihak salah.”
“Terserah apa katamu! Tapi aku akan menghentikanmu dan teman penghianatmu itu!” Moon mencari cara lain, api adalah sihir terkuat yang dia miliki. Dia dapat mengeluarkan sihir api dalam berbagai bentuk. Tetapi lawannya adalah Kenos, jelas elemen api tidak akan bekerja padanya. Dia mengetahui kelemahan Kenos, tetapi dirinya tidak dapat menggunakan elemen kelemahan lawannya itu.
Kenos meluncur dengan cepat, dia menendang lantai dengan kuat untuk meningkatkan kecepatan larinya, sambil mengarahkan tinjunya ke arah Moon yang masih memilih elemen sihir yang akan digunakannya. “Aku tahu aku akan menang!”
Moon mengelak, dia sudah memilih elemen lain yang diyakini dapat mengimbangin Kenos. “Kalau ini kau tidak bisa menyerapnya, kan?” Angin kencang keluar tongkat sihirnya, diikuti beberapa pisau angin yang melayang di udara mengarah pada lawan di depannya.
Kenos menghindari satu persatu pisau angin yang terarah kepadanya, dia merubah arah langkahnya dengan cepat. “Cih, kau memang pintar, Moon! Tapi aku tidak akan mengalah hanya karena angin itu.”
Setelah menghindari sihir Moon, Kenos bergerak cepat, meluncur dengan tinju apinya ke arah Moon. Pukulan pertamanya berhasil menjatuhkan tongkat sihir Moon, lalu dia menangkap salah satu tangan wanita itu. “Sadarlah! Kau tidak boleh hanya bergantung dengan kata-kata tongkat sihirmu itu. Kata-katanya bisa saja salah.”
“Diam!” Moon menghempaskan tangan Kenos, lalu menedang dengan kuat lawannya. “Tongkatku tidak pernah salah, dia mengatakan semua yang kulakukan demi kebaikan armada Uricle.”
Kenos menahan tendangan Moon dengan kakinya, lalu meraih kedua tangan wanita itu dengan cepat. “Kalau kau yakin tongkatmu benar, kenapa wajahmu seperti ini? Aku melihat ada keraguan di wajahmu.”
Kenos dan Moon saling menatap tajam, mengeluarkan aura bertarung yang sama kuatnya. Kenos ingin segera menghentikan pertarungan sia-sia ini, dia tidak memiliki niat untuk melukai Moon.
Moon termenung, memikirkan kata-kata Kenos. Dia tidak bisa melepaskan kedua tangannya. Namun, keyakinannya pada tongkat sihir miliknya membuat kekuatan dari dalam dirinya keluar. Sekuat tenaga dia melepaskan cengkraman tangan Kenos, lalu bergerak cepat meraih tongkat sihir yang terjatuh di dekatnya.
Sedikit jauh dari tempat tim Kenos dan Moon bertarung, tim Lunar terlihat sangat tidak seimbang menghadapi Itasuke yang merupakan dewan penjaga. Sudah dapat dipastikan kemampuan bertarung Itasuke berada di atas mereka semua, meskipun jumlah mereka sama. Taurus tidak ada di sana, Lunar sudah dapat menebaknya pria itu berada di sisi Lithar saat ini. Dan, Ruelia telah terbebas dari pengaruh Code Abyss, sedang bertarung bersama Arz lain menghadapi Darlz jauh di belakang mereka.
Lunar memperhatikan satu persatu anggota tim lawan di depannya, tampaknya dirinya dirugikan dalam masalah kemampuan. Semua anggota tim lawan kebanyakan ahli dalam jarak jauh, sedangkan dirinya petarung jarak dekat. Kecuali Itasuke, dia terpaksa memilih dewan penjaga itu sebagai lawan bertarungnya. Di luar dugaannya, dia terpaksa menghadapi orang terkuat di tim itu.
Itasuke yang ada di seberang merasakan hal yang sama, matanya telah menatap tajam Lunar yang lebih dulu menatapnya.
Lunar maju tanpa menunggu, sambil berlari dia mengayunkan pedang Chill-nya, namun dia ragu-ragu saat telah berada tepat di depan Itasuke. Pria yang dihadapinya adalah temannya, sesame Arz, dan juga mereka juga bagian dari dewan penjaga itu sendiri.
Itasuke marah, menghempaskan tebasan pedang Lunar dengan pedangnya, lalu memutar tubuhnya hingga ke belakang Lunar lalu menendang punggung Lunar. “Setiap serangan penuh rasa ragu, dan tak diiringi dengan niat untuk melawan. Rasanya sungguh menggelitik.” Itasuke tersenyum simpul, setiap kata-katanya terdengar begitu menusuk dan diniatkan untuk memprovokasi lawannya. Lalu dia bergerak cepat melesat ke arah Lunar tanpa memberi kesempatan untuk melalukan pertahanan.
Lunar menahannya dengan pedangnya, mata mereka bertemu. Lalu saling mengeluarkan hawa bertarung yang kuat. Lunar tampak telah mendapat semangat bertarungnya setelah mendengar ejekan Itasuke.
Itasuke menghempaskan pedang Lunar hingga terpental beberapa meter, lalu dengan cepat mengarahkan tinjunya ke wajah Lunar. “Apa kau pikir kau dapat mengalahkanku dengan kekuatan itu?”
Tingkah Itasuke semakin membuat Lunar geram, dia berlari mengambil pedangnya. Sedangkan Itasuke mengejarnya dari belakang, dengan cepat mengayunkan pedang yang telah dialiri sihir listrik. Lunar berhasil meraih pedangnya, lalu memutar tubuhnya saat tebasan pedang Itasuke nyaris mengenainya.
Lunar dalam posisi terduduk di lantai, menahan tebasan pedang Itasuke di depan wajahnya. Kilatan sihir listrik terlihat jelas di depan matanya. Itasuke tak hanya sampai di situ, dia nampak sekali ingin menghabisi Lunar. Matanya yang bercahaya merah dipenuhi keinginan melenyapkan orang yang disebut sebagai penghianat Arz.
“Itasuke! Kenapa kau berpihak pada Lithar?” tanya Lunar dalam keadaan terpojok.
“Apa kau tahu? Jika Lithar mati sekarang, bisa merepotkan.” Itasuke semakin mendorong Lunar hingga nyaris membuat kepala Lunar menyentuh lantai. “Kendali penuh Uricle ada padanya. Jika dia mati, Armada Uricle pun ikut runtuh. Aku tahu betul apa yang diperbuatnya. Tapi demi seluruh armada, pengorbanan itu tak sebanding.”
Lunar terengah-engah, kemudian berusaha melepaskan dirinya dari Itasuke, memanfaatkan kesempatan saat pria itu sedang berbicara. Lunar mendorong dan menendang sekuatnya. “Kau tahu yang diperbuat Lithar, tapi tidak menghentikannya?
Itasuke mundur beberapa langkah ke belakang, “Mungkin bisa dianggap seperti itu.” Lalu kembali menerjang ke arah Lunar.
Lunar berlari ke arah Itasuke, menyambut pria itu, saat ini dirinya tidak ragu lagi setelah mengetahui dewan penjaga yang menjadi lawannya saat ini hanya mendiamkan setiap tindakan berbahaya yang di lakukan Lithar. “Apa kau tahu keselamatan kapal induk sedang dipertaruhkan saat ini?” Lunar kesal, lalu melampiaskan perasaannya pada setiap tebasan pedangnya pada Itasuke.