Eucli dan Ava berlari dari jalan yang pernah dilewati Lunar Mae, melewati puluhan Arz yang baru terbebas dari pengaruh Code Abyss dan masih kebingungan. Lalu keduanya mendekati Lunar, ada sedikit rasa khawatir di wajah Eucli dan Ava saat melihat Lunar yang tampak mengkhawatirkan. Lengan seragam Arznya terbakar dan memperlihatkan kulitnya yang sedikit hangus, ditambah lubang kecil di bahu kirinya yang telah tertutup darah yang sudah beku, dan di sudut bibirnya ada sedikit bekas darah.
“Apa yang sudah terjadi padamu, Lunar? Kau terlihat sangat kacau.” Ava menatap luka di tubuh Lunar satu persatu, dimulai dari luka bakar di lengannya yang sangat jelas terlihat sejak Ava berjalan dari ujung jalan itu.
“Panjang ceritanya, kita tidak punya banyak waktu untuk mengobrol di sini.” Lunar tak ingin mengingat semua kejadian yang telah menimpanya. Lalu menoleh pada Elara, “Kita semua akan pergi ke tempat Lithar?” Dia menunjuk semua Arz yang di sekeliling mereka.
“Tidak. Hanya dewan penjaga dan anggota timnya yang boleh memasuki tempat itu, selain itu sepertinya kita kedatangan tamu yang tak diharapkan.” Elara telah siap dengan scythe, menatap tajam ratusan monster Darlz yang datang dari langit-langit.
Semua Arz yang ada di sana terkejut dengan kedatangan tamu yang dimaksud Elara, dan semuanya langsung menodongkan weapon mereka ke arah atas, tempat munculnya Darl yang berbentuk burung berwarna hitam dengan sayap berwarna emas dan bulatan merah di bagian d**a.
“Serius ada Darlz di sini? Padahal ini di dalam kapal induk.”
Kata-kata itu terdengar dari salah seorang Arz yang tidak dikenal Lunar, namun dia ingat sebelumnya dia mengalahkan Arz yang hampir melukai Mae itu.
“Percayakan yang di sini pada kami,” ujar seorang pria berbadan besar yang diingat Lunar, pria itulah yang sudah memukul punggungnya hingga dia jatuh tersungkur. Mengingat semua itu membuatnya merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
“Ternyata Lithar mengirimkan pasukan Lanxrehda ke sini. Aku yakin dia sudah menyiapkan pasukan Darlz yang lebih kuat,” ujar Elara, ada emosi di dalam kata-katanya.
Lalu, wanita itu mengumpulkan semua anggota timnya. Kenos yang ada di dekatnya juga melakukan hal yang sama. Lunar menatap Eucli, memberi isyarat dengan anggukan kecil. Mae dengan sendirinya mendekati Lunar, sementara Ava masih sibuk memperhatikan Lanxrehda yang sudah semakin mendekati ke bawah.
Puluhan Arz di sekeliling mereka sudah memulai pertempuran mereka, sebelum ratusan Darlz sempat mendekati, Arz dengan keahlian pertarungan jarak jauh sudah menyerbu dan menghancurkan beberapa Lanxrehda. Sebelum monster-monster itu benar-benar lenyap, tubuh mereka berubah menjadi partikel berwarna hitam yang terus terbang ke bawah, meninggalkan kesan ngeri di mata Arz yang menyaksikannya.
“Cepatlah pergi!” teriak seorang Arz wanita pengguna sihir. “Jangan sia-siakan perjuangan kami! Tolong selamatkan kapal induk kita.” Ada harapan di wajahnya, Lunar yakin wanita itu tidak ingin kehilangan kapal induk yang telah menopang seluruh armada Uricle selama ini.
Elara dan Kenos mengangguk mengerti, lalu memberikan aba-aba kepada seluruh anggota tim mereka. Eucli telah mendapatkan kepercayaan dirinya sebagai pengganti Fenz, dia melakukan hal yang sama seperti Elara dan Moon.
Sebelum mereka berangkat, Elara mendekati Lunar. Lalu berbisik tepat di depan telinga Lunar. Getaran suara khas cyborg dari Elara membuat Lunar merinding. “Akan ada kejutan untuk kalian nanti.”
Mata Lunar membesar saat mendengar Elara mengucapkan kata-kata itu di depan telinganya. “Kejutan?” tanyanya sambil meredam rasa gugupnya karena Elara berbicara telalu dekat dengannya. Dia tidak ingin wanita itu mendengar detak jantungnya yang sudah berdetak dua kali lebih cepat. Entah apa alasannya, tapi suara khas cyborg memang selalu membuatnya takut.
Elara masih berada sangat dekat dengannya, tangannya yang terpasang part mecha memegang pundak Lunar. Lalu dengan segera dia melepaskannya dan berjalan mendahului Lunar. “Rahasia!” katanya dengan suara lantang. Salah satu tangannya terangkat ke atas ketika Elara berlalu, seolah memberi isyarat kepada Lunar untuk segera bergegas.
Melupakan rasa takut pada Elara yang sempat menghampirinya, Lunar berlari di belakang tim dewan penjaga nomor dua itu. Eucli dan Mae telah lebih dulu bergerak, sedangkan Ava ternyata menunggunya. Lunar menoleh, melihat temannya berlari di sebelahnya, dengan sangat bersemangat.
Mereka menyusuri jalan yang cukup besar untuk dilewati bersamaan, tetapi Lunar memilih tetap di belakang, berjaga-jaga jika ada musuh yang berhasil lolos dan mendekati mereka. Semakin jauh mereka berlari, jalan yang dilalui semakin bersinar terang, sepertinya mereka telah mendekati sumber cahaya biru yang menerangi jalan itu.
Saat mereka telah sampai di sebuah pintu besar dengan garis bercahaya yang mengelilingi pintu itu, Elara berhenti sejenak. Memastikan keadaan di depan mereka. Lunar menduga mereka telah sampai di tempat Shein berada, dia sedikit lega. Tapi pertarungan dengan Lithar telah di depan mata. Seketika kelegaan itu sirna.
Elara dan Kenos membuka pintu besar itu, weapon telah siap di genggaman mereka. Perlahan pintu itu terbuka, mengeluarkan suara berdesis kuat saat pintu besar bergeser dari tempatnya. Semua yang ada di sana sudah siap jika pasukan Lithar tiba-tiba berhamburan saat pintu terbuka. Mata-mata mereka menatap tajam ke depan, Lunar yang berada di belakang merasakan ketegangan yang sama dengan mereka yang ada di depan.
Saat pintu besar itu telah terbuka seluruhnya, mereka semua terkejut. Pintu yang mereka buka bukanlah pintu menuju tempat Shein, melainkan hanya pintu ke sebuah ruangan besar yang menghubungkan jalan di belakang mereka dengan jalan yang akan membawa mereka ke tempat Shein. Rupanya mereka baru setengah jalan untuk sampai ke jantung kapal induk.
Ketegangan Lunar mengendur, dia mengembalikan pedang Chill ke capsule inventory. Lalu berjalan mengikuti tim Elara dan Kenos yang sudah lebih dulu memasuki ruangan itu. Lunar menghela napas panjang, suasana di tempatnya berada sekarang sangat menguras energinya. Sekejap ada ketenangan, dan beberada menit bahkan detik ke depan suasana dapat berubah drastis.
Sebuah suara dentuman terdengar saat mereka semua memasuki ruangan besar itu, pintu di belakang mereka tertutup dengan sendirinya secara cepat. Suara yang ditimbulkan dari pintu tertutup itu berhasil memacu adrenalin mereka semua. Dan, tanpa disadari Lunar telah mengeluarkan pedang Chill-nya lagi hanya karena suara yang terdengar sepele.
Beberapa detik kemudian, ketegangan mereka kembali muncul saat secara tiba-tiba bola api besar dari atas menghantam lantai logam di depan mereka. Menimbulkan suara gedebum keras dan perubahan suhu yang menjadi lebih panas.
“Siapa yang melakukannya?” tanya Ava terkejut. Dia memutar kepalanya, mencari sumber bola api yang sangat kuat mendarat di hadapan mereka. “Panas sekali.”
“Tak perlu dipertanyakan lagi. Sihir yang dikeluarkan oleh pengguna sihir terkuat di Uricle. Dewan penjaga yang membinasakan semua penyusup,” ujar Elara sambil menutupi wajahnya dari hawa panas yang menerpa dari depan.
Asap tebal dan panas menutupi jarak pandang mereka. Elara dan Kenos sudah dapat menebak siapa yang ada di balik asap itu. Mereka telah siap dengan weapon masing-masing. Tak lama, satu-persatu lawan yang sudah mereka duga sebelumnya, berdatangan dari langit-langit dan mendarat di depan mereka, menyingkirkan asap yang sebelumnya menutupi udara di tempat itu. Namun kedatangan orang-orang itu jauh lebih cepat dari dugaan Elara.
Rez, dewan penjaga nomor satu Uricle berada di seberang mereka, mengacungkan weapon-nya pada temannya sendiri. Dibelakangnya berdiri lima anggota tim dewan penjaga nomor satu itu. Lalu dari belakang Rez, Itasuke dan Moon berjalan lambat ke kanan dan kiri Rez dengan anggota tim masing-masing berjajar di belakang mereka.
“Hei, sapaanmu itu kasar sekali, Moon!” teriak Kenos kesal, tangannya menunjuk ke sebelah kiri Rez. Tanpa menunggu, Kenos langsung mendekati ke arah Moon, memilih wanita itu sebagai lawannya.
“Itasuke?” gumam Lunar yang berjalan pelan ke depan saat melihat tiga dewan penjaga yang dikatakan Elara akan mengamuk. Perhatiannya tertuju pada orang yang berdiri di sebelah kanan Rez. Orang yang telah berusaha menyelamatkan Fenz saat pertempuran di Planet Orla. Dan juga, kapten tim Taurus, seseorang yang disayangkan Lunar telah berada di bawah pengaruh Lithar.
“Hei, Lunar.” Itasuke seperti mendengar Lunar yang menggumamkan namanya, dia memiringkan tubuhnya dan memandang jauh ke depan, pada Lunar lalu matanya berpindah menatap ke sebelum Lunar, ke arah Eucli. “Dan, Eucli. Sudah lama kita tak berjumpa, tetapi malah bertemu di saat seperti ini ya. Omong-omong, pihak yang kau ikuti adalah pihak yang dianggap musuh oleh Arz. Kenapa kau malah membantunya?” Itasuke merubah posisi berdirinya, yang sebelumnya terlihat santai, namun dengan cepat dia mengeluarkan pedang panjang, dan kilatan listrik telah menyelmuti pedangnya. Lalu mengacungkan pedang itu kepada Lunar, seolah telah memilih lawan yang akan dihadapinya.
Eucli seketika marah ketika Itasuke menyebut Lunar sebagai musuh Arz. Jelas-jelas Lunar telah bertarung sekuat tenaga melawan Darlz yang merupakan musuh utama Arz. “Dia adalah anggota timku dan juga juniorku. Melindungi junior adalah kewajiban senior, kan!” Eucli menerima tantangan yang diberikan Itasuke, wanita itu mengeluarkan musket dari capsule inventory-nya.
Lunar terkejut saat melihat Eucli yang dulunya adalah seorang Arz yang biasa menggunakan tongkat sihir sebagai weapon, kini mengganti weapon-nya menjadi weapon yang sama seperti yang digunakan Fenz.
Itasuke tertawa saat melihat Eucli mengeluarkan musket yang mirip dengan milik Fenz. “Rupanya kau belum bisa melupakan dia ya? Kau itu lebih cocok menggunakan tongkat sihir, jika kau menggunakan benda itu, kekuatanmu tidak akan maksimal. Tentu saja aku tidak mau menghadapi musuh yang setengah-setengah.”
“Apa kau bilang? Akan kubuat kau kesulitan menggunakan musket ini!” teriak Eucli dengan wajah penuh amarah. Dengan cepat Eucli bergerak ke samping untuk memberi jarak dari Elara, lalu maju ke depan.
Itasuke mengikuti gerakan Eucli seolah mengerti maksud isyarat yang ditunjukan wanita itu. “Kau yakin ingin menghadapiku?” tanya Itasuke dengan sedikit mengejek.
Eucli tampak telah begitu marah dengan provokasi yang diberikan Itasuke, dia tak berkata apapun, namun matanya menunjukkan perasaannya. Lunar berjalan mengikuti di belakang Eucli, dia yakin jika perbedaan kekuatan diantara Itasuke dan Eucli akan membuat wanita itu terpojok. Mae dan Ava pun melakukan hal yang sama.
Sementara itu, Rez dan Elara saling menatap. Di antara keduanya belum ada yang memulai pertarungan, namun dari mata Rez dapat terlihat pria itu kecewa dengan temannya, begitu juga sebaliknya.
“Kau juga ada di pihaknya ya, Elara. Aku tahu kau orang yang keras kepala, tapi tak kusangka kau akan melakukan sejauh ini. Jika kau berdiri bersamaan dengan orang itu,” Rez menunjuk Lunar dengan pedang besarnya, “Artinya kau bisa kuanggap sebagai musuh. Dan aku tidak segan untuk menghabisimu demi melindungi Uricle.” Rez berjalan mendekati Elara. “Enam dewan penjaga bukanlah sekelompok orang sembarangan.”
Melihat Rez berjalan ke arahnya seolah menantangnya bertarung, Elara juga berjalan ke depan, menerima tantangan yang diberikan ketua dewan penjaga itu. “Kaulah yang paling tahu akan hal itu!” Elara mengacungkan scythe-nya ke depan, ke arah Rez yang berhenti berjalan dan memberi jarak diantara mereka sebelum memulai pertarungan.