Lunar menatap anak panah yang bercahaya merah datang dari depannya, sudah terlambat baginya untuk menghindar. Dia hanya terdiam ketika anak panah yang dilepaskan Mari berubah menjadi puluhan anak panah yang melesat dengan cepat di depan matanya. Dia menutup matanya seolah dia menyerah dan berpikir bahwa dia akan pingsan untuk beberapa hari atau mungkin hidupnya akan berakhir saat ini juga.
Ketika dia menutup matanya, dia mendengar teriakan dari belakangnya. Lalu berubah menjadi suara yang senyap terdengar ketika sebuah ledakan menerpa wajahnya. Ternyata tidak sesakit yang dibayangkan.
Lunar membuka matanya sedikit lalu tercengang dengan apa yang dilihatnya. Sebuah barrier es terbentuk di depan tubuhnya yang dengan mudah menghentikan puluhan anah panah yang datang dari Mari di depannya.
Lunar segera membalikkan badannya. Dia melihat seseorang yang membuatnya merasa sedikit lega.
“Mae!” teriak Lunar.
Wanita itu bergegas mendekat padanya, wajahnya kini tambah lebih muram dari sebelumnya. Saat dua dewan penjaga beserta anggota timnya datang ke arena pertempuran mereka.
"Kurasa kita kehilangan kesempatan kita." Mae bergerak mendekatkan diri ke Lunar. "Kita akan terkurung di sini dan melakukan pertempuran tidak berarti, atau tertangkap mereka. Mereka tidak akan mengumumkan dengan lantang: 'Sekarang kalian telah dibebaskan dari tuduhan atas kalian, karena kami telah melakukan kesalahan' Kita harus mengambil kesempatan lain."
Lunar benci harus mengakuinya, tetapi Mae memang benar. Mereka seharusnya pergi dari tempat ini sebelum para dewan penjaga itu muncul. "Maaf. Tadi rasanya sangat aneh jika harus berhadapan dengan sesama Arz. Dan, setelah mereka semua mengacungkan weapon di depan muka kita, sepertinya tak ada gunanya berusaha mencoba melakukan apa pun. Jumlah mereka sangat banyak."
Mae hanya mengatakan, "Ya, baiklah. Aku pun merasakan hal yang sama denganmu. Tapi, apa kau ingin menyerahkan diri? Kita tidak bisa menyerah begitu saja seperti yang kau lakukan tadi, Lunar."
Lunar menyipitkan mata seolah sedang berpikir, tetapi tak berkata apa-apa. Dirinya merasa sangat bodoh membiarkan anak panah yang seharusnya dapat dihentikannya dengan pedang, tetapi dia malah memejamkan mata dan pasrah. Kedatangan Elara dan Kenos sungguh membuat nyalinya menciut.
Mae menggelengkan kepala. Dia lelah terus bertahan dari amukan Arz yang tampak berbeda. Lalu dia berpikir mungkin energi negative Darlz telah memenuhi tubuh para Arz itu, dan membuat mereka kehilangan kendali dirinya. Dia tak mengerti sama sekali apa yang sedang terjadi. Bahkan dewan penjaga juga ikut memojokkan mereka.
“Kita harus melawan, meskipun kalah jumlah dan yang kini kita hadapi adalah dua dewan penjaga, tidak ada yang tahu siapa yang akan menang atau kalah. Ayo!”
Lunar tak ragu-ragu lagi. Dia mengayunkan sikutnya ke wajah Arz yang menodongkan machine g*n di samping kepalanya bersamaan dengan tendangannya ke lutut Arz satu lagi di belakangnya. Kedua Arz itu tersungkur ke lantai, kaget, tetapi dengan cepat pulih kembali. Dari sudut matanya Lunar melihat Mae membanting seorang Arz ke lantai. Namun, Arz yang berada di belakang belum tersentuh dan dia mengacungkan tongkat sihir yang diujungnya telah terbentuk pola aktivasi sihir.
Lunar menyerbu ke arahnya, menendang ujung tongkat sihir ke arah langit-langit sebelum wanita itu sempat sepenuhnya mengaktifkan sihirnya, tetapi dia memutar weapon itu dan menghantamkannya ke sisi kepala Lunar. Rasa sakit menyengat pipi dan rahangnya. Lunar kehilangan keseimbangan, dan jatuh berlutut, kemudian terperenyak di atas perutnya. Dia berusaha mendorong tubuhnya berdiri dengan tumpuan kedua tangan, tetapi sebuah sodokan menyakitkan menimpa punggungnya, membanting dirinya jatuh lagi ke lantai logam yang dingin dan keras. Napasnya seolah terempas keluar dari paru-parunya. Lutut seseorang menekan tulang belakang Lunar. Ruelia yang secara tiba-tiba telah menyergapnya.
Mae terlihat kewalahan menghadapi Mari dan dua orang Arz yang mengitarinya. Puluhan anak panah sihir berhasil dia tahan dengan barrier es, namun seorang Arz berhasil mendekat saat dia membentuk barrier es di depannya. Mae bergeser sedikit ke samping saat Arz itu mengayunkan twin dagger, lalu menunduk dan memukulkan tongkat sihirnya ke kaki Arz itu.
Belum pernah dilihat Lunar, Mae ternyata mampu melakukan serangan fisik pada musuhnya. Wanita itu langsung memutarkan kakinya, menendang hingga Arz pengguna twin dagger terjatuh. Dalam sekejap Mae menyerangnya dengan sihir bola api yang di arahkan pada lantai di tempat Arz itu tersungkur. Ledakan bola api yang terkena lantai membuat Arz itu terdorong beberapa meter.
"Lokasi penghianat ditemukan!" Elara tersenyum saat mengatakannya, tangannya dilipat di depan sedangkan dia berdiri dengan posisi yang terlihat begitu santai, seolah dia sangat percaya diri. Wanita itu baru berbicara setelah beberapa menit kemunculannya dengan Kenos. Masih diam dan hanya menyaksikan pertarungan Lunar dan Mae.
Pada tahap tertentu, mendengar dirinya disebut penghianat membuat Lunar tak dapat menahan diri lagi. Tetapi kini dia dalam posisi yang tidak menguntungkan. Dia menyerang atau dia yang diserang, pilihan yang mudah menurutnya. Tetapi kenyataan bahwa Elara dan Kenos ada di hadapannya dengan membawa semua anggota tim mereka, membuat Lunar merasa lebih dikhianati. Setelah semua hal yang mereka lakukan bersama, Elara juga ikut bersamanya mengubah masa lalu, tapi wanita itu kini dibawah pengaruh Code Abyss.
Lunar tidak bisa menyerah begitu saja, dia mengumpulkan kekuatannya lalu mendorong Ruelia yang menginjak punggungnya. Setelah diam beberapa saat, kekuatannya telah kembali mengalir.
Elara tersenyum dan bergerak mendekati Lunar yang telah berhasil bangun. Sedangkan Ruelia masih terkejut dan kembali menodongkan rifle-nya. Setelah berjalan beberapa langkah, Elara terlihat seperti tersandung sesuatu, mungkin tubuh Arz yang tak sadarkan diri. Dia terhuyung ke depan beberapa langkah, lalu wanita itu berusaha menyeimbangkan tubuhnya dengan cepat. Kemudian meraih dan berpegangan pada pundak Lunar, lalu memutar kakinya ke belakang menendang rifle Ruelia hingga terpental jauh. Sambil tetap berpegangan pada Lunar, Elara memutar tubuhnya lalu menendang dengan kaki satunya. Tepat mengenai wajah Ruelia.
"Maaf, tapi aku sangat ingin menendangmu sejak lama." Setelah melakukan aksi tak terduga itu, Elara berdiri di samping Lunar lalu memerintahkan anggota timnya untuk menghentikan Arz yang berada di bawah pengaruh Code Abyss.
Lunar tercengang melihat semua aksi Elara barusan. Dia tidak mengerti apa maksud wanita itu, mengapa dia tidak menyerangnya malah menyerang Ruelia. Dan, wanita itu memberi perintah aneh pada anggota timnya. Jauh di depannya, Kenos melakukan sesuatu yang semakin membuatnya tak mengerti. Kenos dan seorang anggota timnya malah menghilangkan pengaruh Code Abyss pada semua Arz yang pingsan."Liccea?" gumam Lunar.
Lunar melihat Haru menghentakkan kakinya lalu melesat bagaikan busur panah. Dia lincah saat melompati orang-orang yang menyerangnya, lalu muncul di depan Lunar yang masih mencerna keadaan. Dengan wajah penuh semangat, gerakan tangannya memunculkan angin kencang yang menuju ke belakang Lunar, lalu mengenai seorang Arz yang hampir melukai Lunar. Kemudian Haru berdiri di depan Elara.
Lunar cemas, dia menggenggam erat pedangnya laluberusaha menjauhi Elara dan Haru. Matanya mencari Mae yang berada jauh darinya.
"Tenang," kata Elara, sedikit senyum di wajahnya. “Kau tidak usah khawatir begitu. Kita bukanlah musuh.” Setelah mengatakannya, Elara menatap pada Haru. “Terima kasih untuk bantuannya. Jadi bagaimana?”
“Seperti yang telah kita duga. Ada tiga tim yang siap menghadang kita. Kita akan disibukkan oleh enam dewan penjaga yang ikut mengamuk.” Seperti yang biasa Lunar lihat, Haru tetap bersemangat meski suasa di tempat ini sedang genting.
Entah apa yang ada sedang mereka bicarakan. Mendengar ucapan Haru membuat kepala Lunar semakin khawatir. Dia memutar tubuhnya dan mencari keberadaan Mae. Lalu dia mendapati wanita itu sedang berjalan ke arahnya bersama Kenos. Sementara di belakangnya para Arz sudah kembali normal. Cahaya merah di mata mereka sudah menghilang. Seketika Lunar merasa bersalah telah melukai orang-orang itu.
“Bagaimana lukamu, Lunar?” Kini Mae telah berada di sampingnya, memutar kepalanya lalu menarik seragam Lunar. Mencari luka bekas tembakan peluru sihir yang sudah dilupakan Lunar. “Tidak sakit?” tanya wanita itu dengan wajah polosnya.
“Aku malah lupa kalau ada luka di bahuku.” Lunar memegang bahunya, rasa sakit sudah menghilang sama sekai, atau dia memang berusaha mengabaikannya. Luka bakar di lengannya juga tidak menimbulkan rasa sakit yang berarti.
“Maaf, senior. Sepertinya ada sesuatu yang mengendalikanku.” Mari berjalan ke arahnya, wanita itu sudah tidak berada dalam pengaruh Code Abyss lagi, dan sikapnya sudah kembali seperti semula.
“Ya, aku tidak apa-apa.” Meski Lunar sedikit kesal, tetapi dia menahannya.
Ruelia datang setelah Mari, dengan wajah yang tampak merasa bersalah, wanita itu memutar bola matanya, dia tidak berani menatap Lunar ataupun Mae, dan juga Elara. Sungguh perbedaan sikap yang mencolok dari sebelumnya. “Maaf, rasanya seperti aku sedang bermimpi lalu dalam sekejap kembali ke dunia nyata.”
Lunar hanya mengangguk tanpa berkata, dia dapat memaklumi semua kesalahan yang dilakukan para Arz itu. Lalu kembali memperhatikan pembicaraan antara Elara dan Haru. Haku, saudara kembar Haru berlari mendekati mereka setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Lunar berpikir kalau kondisi di tempat ini sepertinya sudah terkendali. Namun satu hal yang mengganjal di pikirannya, tentang enam dewan penjaga yang mengamuk.
“Apa maksudmu dengan enam dewan penjaga akan mengamuk?”tanya Lunar pada Elara yang masih berkoordinasi dengan anggota timnya.
Elara menoleh kepadanya setelah wanita itu selesai memberi perintah pada Haru dan Haku. Kenos berjalan mendekati mereka.
“Komando Lithar adalah hal mutlak dipatuhi oleh tiga pahlawan. Tiga pahlawan itu adalah dewan penjaga bernomor ganjil berikut anggota timnya. Sedangkan kami anggota genap disebut sebagai arbiter yang bertindak sebagai pengimbang mereka. Masalahnya nomor empat dan enam yang asli telah terbunuh sepuluh tahun lalu, dan digantikan Kenos dan Fenz. Keseimbangan dewan penjaga ini jelas sudah goyah.”
Kenos dengan percaya diri berkata, “Artinya, aku sebagai dewan penjaga nomor enam yang baru, harus mengambil dua peran agar tetap seimbang.” Lalu dia melipat kedua tangannya di depan dadanya.
“Aku sudah berusaha menutupinya.” Dengan kejamnya Elara langsung meruntuhkan rasa percaya diri yang dirasakan Kenos.
“Kau serius, Elara?” Kenos kesal dengan sikap Elara yang blak-blakan. Tapi setelah itu dia terdiam, dia benar-benar menghormati Elara yang jauh lebih tua darinya.
“Tapi tak bisa kujamin sempat atau tidak. Ayo, jangan cuma mengobrol di sini. Tunggu, lihatlah. Aku yakin kalian telah menunggu dua orang itu.” Elara menunjuk jauh ke balik kerumunan Arz yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan saat ini.
Lunar melihat kedua orang yang dimaksud Elara, jika benar yang dikatakan wanita itu. Dua temannya yang baru datang tidak terkena pengaruh Code Abyss. Saat Ava melambaikan tangan dengan wajah penuh semangatnya, Lunar merasa lega.