“Ayo Lunar!” teriak Mae saat melihat Arz yang berhadapan mereka telah berjatuhan setelah terkena sihirnya. Mereka tidak bisa melewatkan kesempatan ini. Tidak ada banyak waktu untuk bersantai dan memeriksa semua Arz itu. Hanya untuk memastikan mereka baik-baik saja. Lunar merasa dia harus segera sampai ke tempat yang disebutkan Shein. Yang diyakininya tempat wanita itu berada saat ini, dan sedang dalam bahaya.
Namun sebelum mereka sempat melarikan diri, beberapa peluru meluncur ke arah Lunar. Beberapa peluru dapat ditahannya secara spontan, tapi dia merasakan sakit di bahunya yang terus menyebar ke bagian tubuhnya yang lain. Dia memberanikan diri melihat gulungan asap yang menutupi bahunya yang sakit. Setelah asap itu menghilang, dia menyaksikan sebuah lubang kecil di seragam Arznya dan dari lubang itu keluar cairan berwarna merah segar.
Lunar memegangi bahunya yang sakit, meski hanya luka kecil dan tidak terlalu dalam. Tapi rasa sakit yang dia rasakan saat peluru sihir menembus kulit dan dagingnya cukup membuat jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Kini di hadapannya, beberapa Arz telah berdiri sambl menodongkan weapon ke arahnya dan Mae. Mata-mata mereka bercahaya merah dengan tatapan ingin membunuh yang kuat.
“Musuh bernama Lunar dikonfirmasi.... Habisi penghianat di tempat,” ujar seorang Arz pria dari depannya, membelakangi puluhan Arz yang sudah tergeletak di lantai. Dan, di samping kiri dan kanan pria itu, beberapa Arz bermunculan lagi. Lunar menduga mereka telah diteleportasi oleh Lithar. Dia ingat kata-kata Sirin bahwa apapun yang terjadi tidak perlu merasa heran. Akan banyak keanehan terjadi di tempat ini.
“Kau tidak apa-apa, Lunar? Bagaimana dengan lukamu? Mau kuberi pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan?”
Lunar tidak menduga kalau Mae masih sempat menanyakan kondisinya di saat mereka sudah terkepung. Di dalam hatinya dia menginginkannya, tetapi tidak ada waktu untuk melakukannya sekarang. Selain itu, lukanya sudah tidak begitu terasa sakit, dan darah segar sudah tidak sederas sebelumnya. Tubuhnya dapat dengan cepat memulihkan lukanya, seperti yang pernah dikatakan seorang perawat di medical center.
“Tidak, tidak perlu. Lukaku sudah tidak terlalu sakit. Kau bisa membuat mereka tertidur lagi? Atau ada cara lain, Mae?”
Lunar yakin masih ada kekuatan tersembunyi dalam diri Mae, seperti yang dia lihat di dalam mimpinya. Wanita itu memiliki energi sihir yang besar, dia pasti punya banyak jenis sihir yang dapat membuat mereka keluar dari situasi sulit ini.
Pria di depannya kembali menyerangnya, diikuti Arz lain yang tampak tidak ingin memberi kesempatan pada Lunar dan Mae. “Hentikan! Aku tidak punya niat melawan kalian,” teriak Lunar sambil menahan setiap serangan yang ditujukan padanya. Dia tidak bisa seperti ini terus, selain menghabiskan tenaganya, luka di bahu kirinya membuat dia sedikit kesulitan.
Lunar menangkis serangan demi serangan dengan pedangnya. Terlintas di pikirannya bahwa lebih mudah untuk menyerbu mereka semua daripada harus terus menerus bertahan. Seperti yang dipikirkannya, tubuhnya secara tidak disadari lama kelamaan dia menyerang semua Arz yang lebih dulu menyerangnya. Dia menebaskan pedangnya pada Arz di depannya, mengarahkan serangannya pada weapon para Arz itu.
Lunar merasa menikmati semua itu, terus bertahan tidak akan menyelesaikan masalahnya. Lunar melompat tinggi lalu membuka tangannya dan mengayunkan pedangnya pada weapon ketiga Arz yang melakukan serangan kombinasi. Dia berhasil menjatuhkan weapon semua Arz itu, lalu mendarat tepat di belakang ketiga Arz sebelum mereka semua berbalik dengan cepat Lunar memukulkan gagang pedangnya pada tengkuk lawannya. Seketika tiga Arz dapat dijatuhkannya.
Belum sempat Lunar merayakan kemenangan atas tiga Arz itu, bola api meluncur dengan cepat dan hampir mengenainya dengan telak. Tetapi bukan panas yang dia rasakan, di depan wajahnya partikel es menyelimuti bola api yang ditembakkan seorang Arz dari jauh. Beruntung Mae dapat menghentikan bola api itu dengan sihir kubus es.
“Lunar!” teriak Mae.
Lunar berbalik ke arah Mae, lalu dia mengangguk tanpa berkata apapun. Dengan cepat dia berlari ke arah Arz yang telah menembakkan bola api padanya. Dia tidak merasa marah karena Arz itu hampir melukainya, tetapi dia harus menghentikan semua orang yang ada di sini. Tidak ada gunanya terus menerus dalam posisi bertahan.
Arz pengguna sihir itu melihat Lunar dengan mata bercahaya merah yang dipenuhi hawa membunuh, di ujung tongkat sihirnya terlah terbentuk pola aktivasi sihir berwarna merah. Beberapa detik kemudian sihir bolah api telah berhasil ditembakkan ke arah Lunar.
Lunar dapat melihatnya dengan jelas, dia tidak ingin merepotkan Mae lagi. Dia menunduk lalu meluncur dengan kakinya saat bola api itu nyaris mengenai wajahnya. Tak ingin memberi kesempatan lain pada Arz pengguna sihir di depannya, Lunar langsung menendang kaki Arz pengguna sihir itu. tanpa menunggu pria itu bangkit, Lunar langsung membuatnya tak sadarkan diri dengan memukul tengkuknya.
“Hei, Lunar!” Mae terkejut melihat Lunar yang sudah berubah. Temannya yang sebelumnya ragu-ragu menyerang Arz, kini telah menjatuhkan beberapa Arz. Bukan hanya itu, semua Arz yang dikalahkannya tergeletak tak dapat bergerak. Dia mengira Lunar telah menghabisi mereka.
Lunar mengerti apa yang akan dikatakan Mae selanjutnya, sepertinya dia telah terbawa suasana yang semakin memanas. Sepertinya usahanya berhasil, dia tidak memberikan luka serius pada para Arz itu. “Aku hanya membuat mereka pingsan, tenang saja Mae!”
Mae mengangguk tanda mengerti, lalu kembali bertarung dengan musuhnya. Dia mengurung beberapa Arz di dalam kubus es, lalu mendorong mereka semua menjauh dari tempatnya dan Lunar berada. Dia berpikir kemungkinan dia dapat menggunakan cara ini untuk kabur dari sini, lalu mencari jantung kapal induk tempat Shein berada
Mae berlari mendekat ke Lunar yang masih bertarung dengan Arz lain. Tongkat sihirnya diarahkan pada Arz yang berhadapan dengan temannya itu, lalu partikel es keluar dari tongkat sihirnya, meluncur dengan cepat lalu membentuk kubus es.
“Sini, Lunar. Aku akan mengurung mereka semua dengan itu!” ujarnya sambil mendekatkan punggungnya ke punggung Lunar. Mengamati pergerakan Arz di depannya. Sementara Lunar menahan serangan dari Arz pengguna twin dagger yang telah menempel padanya.
“Bagaimana?” Lunar tidak mampu mengucapkan kata-kata lain, atau merangkai kalimat panjang. Tangannya sudah kerepotan menahan serangan twin dagger lawannya, dan kepalanya tak mampu lagi berpikir selain pertarungannya.
“Aku akan menggunakan sihir kubus es lalu mendorong mereka semua menjauhi kita.”
Lunar seperti mendapat titik terang atas situasi mereka saat ini. Dia langsung menghempaskan Arz yang ada dihadapannya dengan kuat, membuat Arz itu terjatuh dan twin dagger-nya terpental jauh.
Lunar tetap memasang kuda-kuda bertarung dan memperkuatnya. Pedang Chill digenggamnya erat, berjaga-jaga ada yang mengganggunya saat dia sedang membuat rencana dengan Mae. “Lalu, bagaimana? Apa kau tidak akan kehabisan energi sihir?”
“Itulah masalahnya, jika aku menggunakan terlalu banyak sihir di tempat ini. Aku ragu masih bisa bertarung nanti. Selain itu, aku rasa Arz yang kita hadapi saat ini belum semuanya dikerahkan. Dan, ada sesuatu yang terus menerus menggangguku. Apa dewan penjaga juga akan menghadapi kita di tempat ini?”
“Entahlah.” Lunar juga berpikiran sama seperti Mae. Jika mereka berhadapan langsung dengan semua dewan penjaga, dia tidak yakin mereka bisa menang. Namun, dia percaya selalu ada jalan keluar di setiap kesulitan. “Kita tak punya cara lain, lakukan saja sebisamu, Mae.”
“Oke! Aku harap para dewan penjaga sedang sibuk dengan hai lain.” Mae langsung mengarahkan tongkat sihirnya ke depan, dia berencana akan mengurung para Arz yang ada di depannya, lalu yang di belakangnya. “Kau tahan yang lainnya, Lunar!”
“Ya, aku akan melakukan sebisaku juga, Mae!”
Lunar menjauh dari Mae, berlari dengan cepat sementara pedang Chill-nya telah siap ditebaskan ke sekumpulan Arz yang juga sudah siap menyerangnya. Lunar harus berhati-hati, dia tidak boleh lengah lagi. Dua buah luka sudah cukup baginya, dia tak ingin menambah luka lagi di tubuhnya, meski dia yakin pertarungan sengit sudah ada di depan matanya.
“Ruelia! Mira!” teriak Lunar spontan saat melihat kedua orang yang dikenalnya tiba-tiba muncul di depannya. Sepertinya kedua orang itu juga diteleportasi oleh Lithar. Membuat situasi semakin gawat pikirnya. Sepertinya dugaan bahwa mereka akan bertarung melawan dewan penjaga semakin jelas.
“Aku kecewa, senior. Aku pikir kau orang yang jujur meski sedikit kikuk.”
“Pikiran kalian sedang dikendalikan! Sadarlah!”
Lunar berusaha menyadarkan Ruelia dan Mira, meski dia tahu kemungkinan mereka terbebas dari pengaruh Code Abyss sangat kecil, atau mungkin nol persen. Terbesit di pikirannya kemungkinan ada sihir yang mampu menghilangkan pengaruh Code Abyss. Mungkin Code Abyss sendiri adalah sihir tingkat tinggi yang dapat dihilangkan perngaruhnya dengan sihir lain.
Sedikitpun kata-kata yang Lunar ucapkan tidak berpengaruh pada Ruelia dan Mira. Keduanya tampak sangat ingin membunuhnya. Jika harus menghadapi keduanya secara bersamaan, itu adalah pilihan terburuk. Ruelia adalah anggota tim dewan penjaga Rez, dia pasti Arz yang sangat kuat hingga dapat dipilih oleh Rez. Sedangkan Mira, seorang Arz trainee. Dia tak ingin melukai keduanya.
“Ruelia memang begini dari dulu, kok. Karena dapat kesempatan untuk membunuhmu secara legal, jadi aku merasa senang sekali bisa melakukannya sekarang!” Tatapan mata Ruelia lebih mengerikan dari sebelumnya. Dalam keadaan normal saja tatapan mata dan sikapnya sudah membuat Lunar merinding. Saat ini Ruelia tidak mampu menggunakan akal sehatnya.
“Buka mata kalian! Lunar bukan penghianat! Kami tak ingin bertarung dengan kalian!” Suara Mae terdengar kesal, di wajahnya tampak ada sedikit emosi. Lunar menoleh padanya saat dia mengatakannya. Lunar tak mengerti mengapa wanita itu mau membantunya meski keselamatannya juga terancam.
“Seluruh Arz sudah diberitahu kebenarannya. Bukti-bukti tentang penghianatan yang dilakukannya juga sudah dibeberkan ke seluruh armada. Sebab itulah, kau harus dibunuh, senior!”
Mira telah menarik busurnya dengan kuat, panah sihirnya telah bercahaya hijau dan siap melesat kapan saja.
“Pola pikirmu benar-benar aneh, Mira!” Lunar masih berusaha menyadarkan kedua orang itu, meski kata-katanya tidak sedikitpun mengubah keadaan.
“Percuma! Percuma! Semua sia-sia! Apa kalian belum paham juga tentang Code Abyss? Kami semua tidak boleh membantah. Ruelia sih tidak perduli pada perintah. Hanya kebetulan sekali ingin membunuh seseorang!” Tanpa menunggu tanggapan Lunar, Ruelia menembakan rifle ke arah Lunar dan Mae secara acak.
Dan, di saat bersamaan, Mira juga telah melepaskan anak panah bercahaya hijau, dan muncul puluhan anak panah dari satu tembakan saja.
“Percuma, Lunar! Mereka tidak mau mendengarkan kita.” Mae dengan cepat membuat barrier dari es yang melindungi dirinya dan juga Lunar dari serbuan bertubi-tubi Ruelia dan Mira. Beruntung barrier es itu berhasil melindungi mereka dengan sangat baik. Lalu, Mae siap membuat barrier es kedua saat dia melihat panah Mari telah bercahaya hijau.
“Kau juga akan kubunuh loh Mae, jika kau mengganggu kami.” Mari melepaskan anak panah kedua, dia tampak sekali tak ingin memberi kesempatan pada Lunar dan Mae.
“Kalau kalian ingin melawan juga boleh, kok. Karena hasilnya tidak akan berbeda. Kalian akan mati di sini.” Di wajah Ruelia terbentuk senyum yang terlihat mengerikan, kepalanya dimiringkan sementara mata bercahaya merah itu membuat Lunar merinding.
Belum sempat Lunar berpikir, Elara dan Kenos beserta timnya muncul di sana. Dari belakang Ruelia dan Mira. Lunar merasa dirinya akan berakhir di sini, sebelum dia dapat menjangkau Shein, membantu wanita yang memohon dirinya menyelamatkannya. Dia dan Mae terpojok, mereka kalah jumlah dan juga kemampuan dua dewan penjaga beserta timnya itu tidak akan sebanding dengannya dan Mae. Lunar hampir menyerah.