Bukan hanya Lunar yang merasa mengenal jantung kapal induk, Mae juga merasa demikian. Sambil berjalan cepat dia tak henti-hentinya memperhatikan di sekeliling mereka. Cahaya biru dari aliran photon membuatnya sangat nyaman. “Tempat ini terasa sangat familier, ya?”
Lunar menoleh saat kata-kata itu keluar dari mulut Mae. “Ya, dulu kita pernah atau mungkin sering melewati jalan ini.” Dia tak bisa lagi menahan diri untuk tidak mengatakannya, dia ingin segera mengungkap jati dirinya dan juga Mae. Sejenak Lunar memperhatikan perubahan ekspresi Mae saat dia mengungkap kebenaran itu.
“Apa maksud perkataanmu itu, Lunar?” Mae ragu-ragu. Sebuah kebenaran bahwa dirinya merasa sangat mengenal tempat ini, namun dia belum sepenuhnya yakin dengan kata-kata Lunar bahwa mereka dulunya sering berada di sini.
Di hadapan mereka, tiba-tiba bayangan Shein muncul. Kini bayangannya terlihat semakin pudar. Ada ketakutan dan kesedihan yang tampak di wajahnya. Lunar dan Mae berhenti berlari, saat Shein mulai berbicara. “Shein?” gumam Lunar.
“Kalian berdua telah kunanti. Mulai dari titik ini, kita telah mendekati kesimpulan. Ini akan menjadi permintaan terakhirku pada kalian. Datanglah ke inti kapal induk. Di sanalah aku meminta pertolongan kalian.”
“Pertolongan? Apa mungkin…” Lunar tidak melanjutkan perkataannya, suara lirih Shein membuatnya ingin mengetahui lebih jauh keadaan wanita itu.
“Kumohon, cepatlah…” Shein mengangkat tangannya hingga merapat ke tubuhnya sebelum dia menghilang.
“Shein!” teriak Lunar dan Mae secara bersamaan.
“Reaksi Shein terlihat semakin aneh, ayo kita harus cepat!
“Iya.”
Uricle device yang sebelumnya tidak berfungsi dengan baik, secara mendadak Sirin menghubungi Lunar yang masih cemas dengan perubahan Shein yang semakin aneh.
“Lu-nar! Lu-nar!” Suara Sirin terdengar putus-putus dari Uricle device dan ada gemerisik yang membuat suaranya menjadi tidak jelas. Sedetik kemudian suara Sirin yang keluar dari alat itu mulai membaik. “Kau bisa mendengarku?”
“Sirin?”
“Siapa dia?” tanya Mae yang tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
“Maaf, kita tak punya waktu untuk berkenalan! Anggap saja aku adiknya Shein! Pokoknya, sudah dimulai! Dia memulainya lebih awal dari dugaan! Kalian berdua berhati-hatilah, apa pun yang terjadi bukan sebuah keanehan. Kalian akan menghadapi-“
Sambungan komunikasinya dengan Sirin langsung terputus sebelum anak laki-laki menyelesaikan perkatannya. Lunar dapat menduganya, bahwa yang dimaksud Sirin adalah mereka akan menghadapi Lithar. “Sirin!”
Belum sempat Lunar mencerna kata-kata Sirin, sirine tanda bahaya mengeluarkan bunyi yang membuat kepala Lunar berdenyut. “Apa lagi sekarang?” tanyanya sambil menoleh ke kanan kiri, lalu Uricle device mereka menampilkan wajah Rez yang terlihat akan mengumumkan sesuatu yang penting.
“Kepada seluruh Arz: Aku adalah Rez, dewan penjaga nomor satu. Situasi darurat ini akan kujelaskan sendiri. Beberapa waktu lalu, ada penyusup yang memasuki kapal induk. Orang ini adalah anggota tim dewan penjaga nomor empat yang telah tiada.”
Lunar terkejut mendengarnya, dia telah mengetahui orang yang dimaksud Rez mungkin dirinya. Dia mengepalkan tangannya, merasa kesal dengan keadaan yang sama sekali tak memihaknya. Isu buruk yang beredar di seluruh armada menjadi semakin menggila.
Suara Rez masih terdengar jelas dari Uricle device, meneruskan pidatonya.
“Dia bersama temannya masuk ke dalam inti kapal induk dan mengancam keselamatan kapal induk dan seluruh armada yang ada. Bersama dengan sebuah organisasi asing, dia telah membeberkan informasi rahasia armada Uricle. Terlebih lagi, mereka membantu orang tak dikenal untuk menyusup dalam armada, yang diduga sedang menyelidiki aktifitas armada. Selain itu, telah ada beberapa bukti dia telah menjalin hubungan dengan Darlz. Dia tidak turut melawan Darlz yang jelas-jelas musuh kita.”
Wajah Rez pada Uricle device digantikan dengan wajah-wajah yang telah dikenalnya. Liccea, Mavis, Sirin, Eucli, dan Mae. Semuanya adalah bagian dari dewan penjaga Uricle.
“Apa? Organisasi rahasia macam apa yang mereka maksud. Jelas orang-orang yang bersamaku adalah anggota tim dewan penjaga. Mana mungkin kami membeberkan informasi tentang armada yang kami cintai dan ingin kami lindungi? Selain itu, kita sudah bertarung mati-matian hingga kehilangan teman kita saat melawan Darlz Ildar.” ujar Lunar kesal.
“Kenapa aku ikut pada daftar itu?” tanya Mae tak percaya dengan tuduhan yang diberikan padanya. Dia bahkan belum pernah berbicara pada orang-orang itu saat misi, apalagi bertemu dengan mereka di luar misi. Mae menoleh lalu menatap tajam Lunar yang masih terpaku melihat Uricle device.
Rez masih melanjutkan pidatonya, kini dalam suaranya terselip kemarahan yang ditujukan pada orang-orang yang disebutnya anggota organisasi rahasia.
“Kepada seluruh Arz! Dengarkan baik-baik! Saat ini mereka menyusup ke dalam kapal induk kita yang mutlak harus dijaga! Perbuatan ini jelas sekali penghianatan yang mengancam seluruh armada Uricle! Sebab itulah, atas nama Rez sebaga dewan penjaga nomor satu kunyatakan hal ini sebagai Code Abyss!”
Rez mengakhiri pidato itu dengan mengumumkan sesuatu yang belum diketahui Lunar maupun Mae. Sesuatu yang lebih mengejutkan saat papan hologram di Uricle device berubah bercahaya merah, lalu di bagian tengan muncul lambang dewan penjaga yang berbentuk daun semanggi belah enam berwarna merah dengan dikelilingi partikel berwarna hitam.
“Apa maksud semua ini? Aku benar-benar tak mengerti. Inikah kesimpulan yang dimaksud oleh Shein? Tapi kita tak bisa berhenti di sini, Mae. Kita harus pergi ke tempat Shein. Aku yakin ini semua ulah Lithar.”
Mae mengangguk setuju. Lalu dia mulai berlari setelah Lunar menepuk pundaknya. Namun, baru beberapa meter mereka berlari, sambungan komunikasi dengan Sirin yang sempat terputus kembali berfungsi. Uricle device Lunar seketika aktif dan papan hologram menampilkan wajah Sirin yang tampak cemas sekaligus merasa bersalah.
“Kita dituduh! Pantas saja selama ini dia diam saja melihat kita! Meski sudah tahu tentang kita, tapi dia sengaja menjebak kita sekarang! Aku minta maaf pada kalian. Tampaknya situasi ini lebih buruk dari perkiraanku.”
Lalu, beberapa Arz telah berdiri di hadapan mereka. Weapon para Arz itu mengarah pada Lunar dan Mae. Mata-mata mereka bercahaya merah. Lunar yakin itu adalah efek dari Code Abyss.
“Bagaimana mereka bisa sampai di sini? Dan, kenapa kita tak terpengaruh Code Abyss? Bukankah kita juga melihat lambang dewan penjaga tadi?”
“Lithar mentelportasi Arz ke sana! Akan kuhambat sebisanya. Berusahlah untuk segera sampai ke tempat Shein berada! Masalah Code Abyss, hanya berlaku pada…” ujar Sirin sebelum komunikasi mereka kembali terputus.
Puluhan Arz yang menghadang mereka mulai menggumamkan sesuatu, sementara mereka telah siap menye rang Lunar dan Mae.
“Lokasi musuh yang Bernama Lunar, dikonfirmasi. Habisi penghianat di tempat!” kata salah satu Arz yang berada di barisan terdepan. Tanpa menunggu lama, para Arz itu langsung menye rang Lunar dan Mae secara berkelompok.
“Kalau begitu kita habisi mereka sebelum mereka menghabisi kita!” teriak Mae, lalu dia menghindari s erangan sihir yang ditujukan padanya. Mae menatap tajam pada Arz yang telah menyerangnya. Lalu, dengan cepat dia mengarahkan tangannya ke depan, di ujung tongkat sihirnya telah terbentuk pola aktivasi sihir.
Sementara Lunar hanya menghindar setiap s erangan dari Arz yang membabi buta, dia berguling ke samping saat seorang Arz menebaskan pedang besar padanya. Dia tidak setuju dengan ucapan Mae, kata-kata Mae terdengar sangat kejam. Meski wajahnya terlihat polos, dia memang selalu begitu, wajah polosnyalah yang menyembunyikan sisi kelam yang sesungguhnya. Seperti yang telah dilihat Lunar dalam mimpinya.
“Tapi, mereka juga Arz seperti kita! Apa kau yakin membunuh mereka?” teriak Lunar yang terus menerus membuat posisi bertahan dengan pedang Chill-nya.
“Tidak ada waktu untuk ragu-ragu, Lunar. Kau ingin menyelamatkan Shein, kan?”
Mae benar, tetapi tetap saja Lunar tidak dapat melakukan hal itu. Sama saja dia melakukan apa yang dituduhkan semua orang kepadanya. Lunar mencari cara agar mereka bisa pergi dari sini tanpa harus menyakiti Arz lain.
Sementara Mae mengurung beberapa Arz yang melawannya di dalam kubus es. Tapi, perbedaan jumlah mereka terlalu besar. Dia tidak dapat terus menerus menggunakan sihir yang sama pada semua orang. Jika dia melakukannya, sihir sebelumnya akan melemah. Dan juga, meski dia mengatakan ingin membunuh para Arz yang terkena Code Abyss itu, dia tetap tidak tega melakukannya. Dia tidak bisa menggunakan sihir dengan kekuatan penghancur yang besar. Lalu, dia memikirkan sihir lain yang mungkin dapat menyelamatkan mereka dari situasi ini.
Di sisi lain, Lunar berhadapan dengan lima Arz dengan berbagai keahlian. Satu Arz yang terus menerus menyerangnya memiliki kemampuan pertarungan jarak dekat sepertinya. Beruntung Lunar dapat membaca setiap s erangan yang ditujukan padanya. Arz itu menggunakan twin dagger, menebaskan dua pedang pendek yang terpasang di lengannya. Lunar menangkisnya dengan cepat, lalu menghempaskan Arz itu jauh ke samping. Sementara Arz lain menyerangnya dengan sihir dari jauh.
Hembusan hawa panas terasa hingga menembus seragam Arz yang dikenakannya. Lunar tidak sempat menahan sihir bola api terlanjur mengenai lengan kirinya. Seragam Arz kesukaannya itu terbakar dan membuat lubang besar yang memperlihatkan kulit putihnya yang kini sedikit terbakar.
“Lunar!” teriak Mae saat melihat Lunar mengerang kesakitan dan memegangi lengannya. Lalu dia menahan Arz lain yang hendak meny erang Lunar dari arah lain dengan pedang besar. Partikel es dari tongkat sihirnya meluncur melewati Lunar, lalu mengenai Arz pengguna pedang besar yang telah mengangkat pedangnya. Seketika Arz itu terkurung dalam kubus es yang dia buat.
“Jangan lengah Lunar! Sepertinya mereka serius ingin membunuh kita. Apa kau yakin terus-terusan bertahan begitu?” teriak Mae kesal.
“Aku tidak ingin tuduhan yang ditujukan padaku benar-benar terjadi.” Lalu, Lunar teringat dengan sihir yang digunakan Mae saat mereka menyusup masuk ke dalam kapal.
“Mae! Gunakan sihir yang mampu membuat orang tertidur yang tadi kau gunakan! Itu sepertinya cara terbaik,” ujar Lunar penuh keyakinan.
“Kau benar, tapi setelah ini kita tidak bisa menggunakannya lagi. Sihir itu belum sempurna, aku baru bisa menggunakannya beberapa hari lalu. Aku ingin menyimpannya untuk saat-saat genting.”
“Tidak apa, kita akan cari cara lain untuk selanjutnya.”
“Oke.” Mae menyetujui usulan Lunar, dan di dalam hatinya dia berharap dia masih bisa menggunakan sihir itu beberapa kali lagi.
Mae mundur beberapa langkah, mencari tempat aman untuk berkonsentrasi. Dia berdiri di belakang Lunar. “Diam, Lunar! Kau tahan semua s erangan mereka. Aku butuh konsentrasi untuk membuat mereka semua tertidur.”
Tanpa menoleh Lunar mengangguk, dan pedang Chill-nya sudah siap digenggaman. Dia menatap ke arah Arz yang juga sudah siap dengan weapon masing-masing. Lalu ada sesuatu yang terbesit di pikirannya. “Apa aku gunakan kekuatan itu saja?” gumamnya. “Tapi aku belum yakin tempat Shein berada, semua mimpi-mimpi itu terasa samar.”
Mae yang ada di sebelah kiri di belakangnya sedang memusatkan pikirannya. Lunar melihat dengan sudut matanya, partikel ungu kehitaman dan pola aktivasi sihir dengan warna yang sama sudah terbentuk. Lunar mengurungkan niat yang sempat terpikirkannya saat melihat Mae sudah siap.
Terdengar desingan dari rifle saat sebuah peluru terlepas dari tempatnya. Lunar melihatnya datang dari seorang Arz yang sejak tadi hanya diam dalam posisi setengah berlutut. Lunar mengikuti arah peluru yang telah terlepas, saat telah mendekati Mae, Lunar menepis peluru itu dengan pedangnya. Lunar menghela napas panjang, dia tak tau mengapa dia begitu percaya diri melakukannya.
Partikel ungu kehitaman secara tiba-tiba melewatinya dari kiri lengannya, meluncur dengan cepat pada puluhan Arz. Dalam hitungang detik partikel itu menyelimuti seluruh Arz yang terkena Code Abyss, lalu membuat semuanya terjatuh dan tergeletak di lantai logam. Dentingan dari weapon yang berjatuhan secara berbarengan ke lantai logam terdengar berirama. Namun bukan irama yang enak didengar. Lebih mengarah pada irama yang membuat orang merasa pusing.
Lunar menyaksikan semua Arz di depannya jatuh dan tidak bergerak, sementara partikel berwarna ungu kehitaman masih menyelimuti mereka semua.