Saat Lunar telah hampir sampai di exit 1, secara tiba-tiba seseorang menarik tangannya lalu memaksanya untuk mengikuti orang itu. Lunar yang masih terkejut, perlahan menoleh pada seseorang yang membawanya menjauh dari exit 1. Lunar lebih terkejut saat mengetahui orang itu adalah Mae.
“Kau ingin membawaku kemana?” Lunar memegangi pergelangan tangannya yang sedikit sakit. Dia tak menyangka kalau Mae memiliki tenaga sebesar itu hingga dapat membuatnya sedikit terseret.
Ada kecemasan di wajah Mae saat di menyusuri lorong-lorong kapal, menjauh dari exit 1 . “Diam saja, dan ikuti aku! Di sini keadaannya tidak dapat ditebak, Lunar.”
Lunar merasakan tangannya mulai kebas, lalu melepaskan genggaman tangan Mae yang mulai terasa sangat berlebihan hingga membuat aliran darah di pergelangan tangannya menjadi tidak lancar. “Kita mau kemana? Tunggu… kau tidak bermaksud melakukan itu sekarang kan, Mae?”
Lunar mengira kalau wanita itu bermaksud untuk melakukan latih tanding saat melihat sebuah ruangan yang berwarna biru di ujung jalan yang mereka lewati. “Keadaan saat ini sedang gawat, Mae. Tidak ada waktu untuk melakukannya!” ujarnya sedikit panik.
“Diamlah, Lunar. Kita tidak akan melakukannya sekarang, mungkin nanti setelah semua permasalahanmu selesai.” Wajah Mae tidak berubah sedikitpun, rasa khawatir telah menyelimuti wajahnya. “Ayo cepat! Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu.”
Lunar mempercepat langkahnya, mengikuti Mae yang sudah sangat tergesa-gesa. Wajah yang biasa terlihat polos, kini menjadi sedikit muram. Saat telah berada sepuluh meter dari ruangan itu, Mae menarik tangannya lagi, lalu memaksanya untuk berlari mengikutinya.
Lunar pasrah, entah apa yang akan ditanyakan Mae padanya, dia berpikir mungkin isu-isu buruk tentangnya sudah sampai di telinga seluruh anggota timnya. Mungkin Mae jauh-jauh datang ke kapal ini untuk menerjangnya dengan puluhan pertanyaan yang telah disiapkan wanita itu.
Ruang itu berwarna biru, dipenuhi dengan benda-benda berwarna biru, dan juga lampu putih dan biru. Ruangan itu biasa digunakan oleh para Arz untuk berkumpul dan melakukan latih tanding. Jauh di seberang lorong, sebuah ruangan yang serba merah juga dibangun. Para Arz akan membentuk dua tim, merah dan biru, lalu menguji kemampuan mereka. Tentu saja ada batasan-batasan dan aturan yang dibuat untuk melakukan latih tanding.
Lunar masuk ke dalamnya, dan dia merasa baru pertama kali masuk ke blue room. Seingatnya dia tidak pernah melakukan hal konyol itu, karena baginya setiap Arz memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bukan dinilai dari seberapa kuat atau siapa yang paling kuat di dalam Armada Uricle.
Lunar berjalan di belakang Mae, tetapi ketika dia melihat temannya itu berputar dan menghadapnya, dia berhenti. Mae berbicara sebelum Lunar sempat mengumpulkan kata-kata.
“Apa yang telah kau lakukan, Lunar? Semua orang membicarakan hal buruk tentangmu. Tapi aku sama sekali tidak mempercayai isu itu. Tapi, kau tahu, alasanku mencegahmu untuk pergi ke exit 1 karena di sana banyak orang berkumpul dan menyebutmu sebagai penghianat.”
Tidak ada eskpresi curiga di wajah Mae, sedikitpun Lunar tidak menemukan keraguan pada sikap maupun kata-kata Mae. Wanita itu ada di pihaknya pikirnya. Hal itu membuatnya sedikit lega. Lalu, Lunar teringat pada Eucli dan Ava. Bagaimana dengan mereka, apakah termakan isu tidak jelas yang beredar atau sama seperti Mae.
Dari belakang Mae, bayangan Shein muncul secara mendadak. Suaranya yang lembut terdengar, membuat Lunar menerawang jauh ke belakang Mae. Bayangannya kini terlihat samar, tidak seperti biasa saat Shein menemui Lunar.
“Karena eksistensi Lunar telah dianggap sebagai hambatan besar.”
Mae berbalik saat dia mendengar suara Shein, banyak hal yang ingin dia tanyakan kepada wanita yang terasa familier itu. Sejak pertemuannya beberapa waktu lalu, Mae menaruh sedikit rasa penasaran pada Shein dan hubungan wanita itu dengan Lunar.
Lunar maju beberapa langkah mendekati Shein, dia menduga semua isu tak jelas yang beredar itu muncul karena dia telah menyelamatkan Fenz dan Marlu. Atau mungkin Lithar telah menyadari segala tindakannya. “Shein? Apa ini akibat dari mengubah masa lalu?”
Wajah Shein sedikit muram, kesedihan terdengar memenuhi suaranya yang semakin lemah. Dia menatap pada lantai, mencoba menghindari kontak mata dengan Lunar dan Mae. Sesaat kemudian dia memejamkan kedua matanya.
“Bisa dianggap benar, juga tidak. Kami semua telah lama menantikan momen ini. Semua berkat dirimu. Tanpa segala upayamu, momen ini pasti tidak akan tercapai. Karena ada dirimulah, kita semua bisa ada di ruangan ini.”
Lunar tidak dapat memahami tujuan dari Shein, semua kata-kata yang keluar dari mulutnya dan ekspresi wajahnya sangat bertentangan. Dia memandang Shein yang terasa menghindari menatap matanya, wanita terlihat sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
“Tapi, seluruh armada menganggapku seolah penghianat yang telah melakukan kejahatan besar. Ini bukan hasil yang kau harapkan, kan?”
Akhirnya Shein membuka matanya dan menatap Lunar dengan perasaan bersalah, lalu menatap Mae sejenak dan kembali tertunduk, menatap lantai logam yang memantulkan bayangan mereka semua.
“Ini semua adalah efek samping yang dibutuhkan untuk mencapai kesimpulan. Bukan hasil yang permanen. Semua yang terjadi telah mengarah ke arah yang bagus. Hanya dibutuhkan sebuah sentuhan akhir, lalu menyelesaikannya. Pergilah ke peyangga Uricle, ke jantung kapal induk. Aku ingin kau datang bersama Mae. Lalu, aku memohon pada kalian berdua untuk menyelamatkanku.”
Keanehan Shein semakin terasa, setelah mengatakan kalimat terakhir, bayangannya terlihat memudar lalu lenyap dalam sekejap mata.
“Shein!” Lunar telah menyadari hal itu sejak pertemuannya dengan Shein di apartemennya, bayangan wanita itu tidak terlalu jelas seperti saat pertama mereka bertemu. Dan, kali ini Lunar merasa Shein dalam bahaya. Dia mengingat kata-kata Sirin tentang Lithar yang ingin memahami Shein. Mungkin benar dugaannya, Lithar lah yang ada dibalik semua kekacauan ini.
“Ayo Mae, kita harus pergi ke kapal induk! Sepertinya Shein dalam bahaya.”
Lunar langsung menarik tangan Mae sebelum wanita itu sempat mengatakan sesuatu. Lunar tak ingin membuang waktu, tak ingin membiarkan rencana Lithar mengacaukan seisi armada dan juga Shein.
“Tunggu, apa kau gila? Kau ingin berhadapan dengan semua Arz yang ada di sana?”
Mae sedikit kewalahan mengikuti langkah Lunar yang sangat cepat, dia harus berlari kecil untuk mengimbanginya. Sementara dia harus tetap memikirkan cara untuk sampai ke kapal induk.
“Kita harus menemukan cara untuk ke kapal induk. Harus! Aku tak peduli jika Arz memakiku atau meneriakiku penghianat, penjahat, atau apapun. Ada hal besar yang sedang terjadi di sana, di tempat Shein berada.” Lunar melepaskan genggaman tangannya dari Mae, lalu dengan cepat menyelinap masuk ke exit 1.
Mereka melihat ada beberapa kapal yang dapat mereka gunakan untuk ke kapal induk. Lalu menunggu waktu yang tepat untuk menyelinap masuk ke kapal. Beberapa Arz terlihat sedang berjaga di sana. Tampaknya keamanan di sana telah diperketat saat Lunar berada di blue room.
Mae menggerutu, dia tidak menyukai harus melakukan ini. Mengendap-endap seperti penjahat yang ingin kabur. Lalu dia mengambil langkah berani, dia tak sabar jika harus menunggu para penjaga itu pergi dari pos mereka.
Mae mengarahkan tangannya ke depan, lalu perlahan pola aktivasi sihir muncul dari tangaannya, berbarengan dengan partikel berwarna ungu kehitaman. Dari arah berlawanan, partikel ungu itu terlihat menyelimuti para penjaga, dan dalam sekejap Arz yang menjaga exit 1 berjatuhan.
“Hei, apa yang kau lakukan? Jelas itu sebuah pelanggaran, Mae!” teriak Lunar yang terkejut melihat Arz di hadapan mereka terbaring di lantai.
“Tenang saja, itu adalah sihir yang baru kupelajari. Itu elemen kegelapan, hanya membuat mereka tertidur untuk beberapa saat dan tidak akan menyakiti mereka.” Mae berjalan cepat, mendekati Arz yang tergeletak, memastikan mereka sudah terkena efek sihirnya. “Lihatlah, mereka hanya tidur. Kau masih bisa merasakan detak jantung dan napas mereka.”
Lunar tak ingin melakukannya, dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Dia yakin Mae tidak akan berbuat gegabah. Lalu dengan cepat dia berlari menuju salah satu kapal yang ada di sana. “Ayo Mae. Aku percaya padamu.”
Lunar bersyukur kapal itu masih dapat digunakan, dan tidak ada pembatasan perjalanan. Hanya Uricle device saja yang sepertinya tidak berfungsi dengan baik. Lunar langsung memacu kapal itu dengan kecepatan maksimal. Dia ingin segera sampai dan memastikan keadaan kapal induk. Lebih tepatnya dia ingin memastikan kondisi jantung kapal induk. Kata-kata Shein sangat mengganggu pikirannya.
Mae duduk di sebelahnya, menatap monitor kapal yang berkedip-kedip. Tulisan emergency yang muncul di monitor kapal itu membuatnya sedikit khawatir. Kemudian suara dari operator kapal induk terdengar memperingatkan mereka.
“Kepada kapal yang mendekat, dilarang memasuki wilayah kapal induk. Tolong ganti jalur sekarang juga.”
Namun sesaat kemudian tulisan emergency barubah diikuti persetujuan mendekati dari operator kapal induk. Tentu saja hal itu membuat Lunar dan Mae semakin khawatir dengan keadaan armada saat ini.
“Kepada campship 367: Kalian diberi izin mendekat.”
“Apa ini berkat Shein?” tanya Mae ragu-ragu.
“Entahlah, tapi sepertinya begitu.”
Lunar juga ragu dengan hal itu. Namun dia menepis keraguan itu dan segera mendarat di entrance 16, lalu memastikan keadaan di sekitarnya. Tidak ada Arz yang berjaga di sana. Lunar cemas, tapi tidak ada pilihan lain. Mereka sudah sampai sejauh ini, tidak ada alasan untuk kembali lagi.
Lunar menyusuri lorong kapal induk bersama Mae, menuju tempat yang dimaksud Shein. Dia tidak merasa ragu saat memilih jalan yang akan mereka lalui, seakan dia sudah terbiasa pergi ke sana. Meski begitu, setelah kehilangan ingatan dan menjadi Arz setelahnya, dia dan Mae belum pernah masuk ke dalam jantung kapal induk. Lebih tepatnya tidak ada Arz yang diizinkan masuk jika tidak misi untuk ke sana. Dan, sampai saat ini belum ada misi di tempat itu.
Lunar dan Mae mulai melewati jalan yang menurun, dan mulai melebar. Setelah persimpangan, mereka memilih jalan ke kanan. Dan, kini hanya ada satu jalan menuju sebuah pintu besar. Pintu itu mengingatkan Lunar dengan mimpinya beberapa waktu lalu. Selain itu jalan yang terkesan sangat lebar itu seakan membawanya kembali ke masa lalu.
Lunar menikmati perjalanan itu meski hatinya dipenuhi kecemasan. Dia seperti bernostalgia, berjalan dengan Mae melewati lorong aneh dengan pintu yang super besar. Saat mereka telah sampai di depan pintu logam yang besar itu, Lunar memantapkan hatinya. Meski keanehan telah terjadi di sana, tidak ada penjaga di tempat itu, tidak ada tanda peringatan dari manapun. Seolah jalan mereka sangat mulus tanpa hambatan.
Mae berjalan terlebih dahulu sebelum Lunar sempat menyetujuinya, wanita itu membuka pintu besar yang ternyata sangat mudah untuk dibuka. Pemandangan di seberang pintu itu benar-benar membuat Lunar terkesima. Lorong yang sama, tiang-tiang tinggi menjulang yang sama, dan aliran photon yang sama seperti yang dia lihat di dalam mimpinya. Cahaya kebiruan dari aliran photon yang menyelimuti tempat itu membuatnya merasa ada kerinduan yang memenuhi hati dan pikirannya.
Lunar perlahan melewati pintu itu, menerawang jauh ke atas langit-langit yang tak terlihat. Lalu mengaggumi tempat mereka berada saat ini, sangat tenang, cahaya biru yang memenuhi tempat itu membuatnya teringat dengan mimpinya, Mae, dan Shein.
“Mungkinkah mereka adalah keluargaku, dan tempat ini rumahku?” gumamnya.
“Ayo Lunar! Tidak ada waktu untuk mengagumi tempat ini,” ujar Mae memecah keheningan tempat itu.
“Maaf, ya ayo.”
Lunar dan Mae mulai berjalan cepat, di hadapan mereka ada beberapa jalan yang harus mereka pilih, namun Lunar langsung memilihnya dengan cepat tanpa keraguan. Lunar memilih jalan yang sama seperti di dalam mimpinya. Jika dia benar, jalan inilah yang akan membawanya ke tempat Shein berada. Dia sudah pernah melihatnya, tidak… mereka berdua sudah sering melewatinya, dulu sebelum mereka kehilangan ingatan dan terpisah.
***
Sementara itu, di depan dinding kaca. Lithar berdiri memandang dinding kaca yang bercahaya biru. Tangannya mengelus dinding itu penuh dengan perasaan.
“Di momen inilah, momen yang telah tunggu. Rasanya sungguh teramat sangat lama. Akhirnya sekarang aku bisa memahamimu dan memahami semua yang ada.”
Lalu beberapa orang berpakaian laboratorium mendatanginya, mengganggu dirinya. Salah satu orang itu berkata, “ Ketua, persiapan sudah siap.”
“Bagus,” jawab Lithar singkat. Lalu dia berbalik ke arah lima orang berpakaian laboratorium sepertinya.
“Siap, apa saja pasti akan kami lakukan untuk anda, ketua. Sekarang kami bisa jadi photoner seperti anda, kan?”
“Ya. Sekarang kalian semua sudah bisa dibuang.” Lithar mengayunkan tangannya ke depan, ke arah lima orang itu, dan dalam sekejap mereka semua tergeletak tak sadarkan diri.
“Oh iya, yang harus disingkirkan bukan cuma mereka ya. Aku lupa masih ada serangga pengganggu. Tapi sebentar lagi, semua tak kubutuhkan. Asal ada kau dan aku, sudah cukup.”
Lithar membuka tangannya, lalu muncul tongkat Klays yang bercahaya dari tangannya. Dia tersenyum lalu menatap tongkat di tangannya dan berganti ke dinding kaca.