Saat Lunar kembali ke kamarnya, bayangan Shein telah menunggunya.
“Shein!”
“Apa tujuanmu telah terpenuhi, Lunar?”
“Ya!” jawab Lunar dengan wajah yang tampak Bahagia karena telah berhasil menyelamatkan Marlu. Dengan keyakinan di hatinya, kata-kata Marlu membuatnya lebih tenang dalam menghadapi rencana Lithar yang masih belum diketahui.
Tetapi sebaliknya, wajah Shein terlihat datar, di matanya tercermin rasa cemas. Dia tertunduk sesaat setelah mendengar jawaban Lunar. Ada jeda singkat saat dia akan mengungkapkan yang ada di pikirannya.
“Semakin besar perubahan, semakin besar pula konsekuensinya. Tolong ingatlah itu baik-baik.”
“Ya, aku mengerti. Boleh kuberi kabar pada Taurus? Aku ingin memberitahu padanya kalau Marlu masih hidup. Aku ingin dia bebas daari Lithar.”
“Tak masalah. Kau bisa mengatakan itu padanya.”
“Terima kasih. Aku akan menghubunginya sekarang.”
Lunar tidak dapat menahannya lagi, dia ingin segera memberitahu Taurus kabar baik ini. Dia mengaktifkan Uricle device-nya, lalu memasukkan Uricle ID milik Taurus. Tetapi, keanehan terjadi saat dia mencobanya. Selalu muncul peringatan saat dirinya memasukkan Uricle ID Taurus. Lunar mencobanya lagi, dan lagi. Tetapi dia tetap tidak bisa menemukan Uricle ID Taurus.
[Uricle ID yang dimasukkan tidak terdaftar dalam database]
Tulisan itu selalu muncul saat dirinya mencoba menghubungi Taurus dengan mencari Uricle ID pria itu.
“Apa yang terjadi? Taurus tidak ditemukan?” gumamnya.
Lunar terus mencoba, namun tetap tidak dapat menghubungi Taurus. Hingga suara operator kapal induk terdengar keluar dari Uricle device, berbarengan dengan perubahan tampilan Uricle device menjadi warna merah yang berkedip-kedip, dan bunyi sirine tanda emergency dari alat itu.
“Di sini dengan pusat kendali armada Uricle. Segala bentuk transmisi sedang dibatasi.”
Lunar tercengang melihatnya, lalu di pikirannya terlintas sesuatu. “Apa ini ulah…”
Lunar tak melanjutkan kata-katanya saat melihat di hadapannya Shein telah menghilang tanpa dia sadari. “Shein…?”
“Perintah darurat kepada seluruh Arz. Seluruh Arz yang tengah bertugas harap segera dibatalkan dan kembali ke armada dan posisi masing-masing.”
Suara operator kapal induk terus terdengar melalui Uricle device, membuat Lunar tercengang dan mendorong keinginannya untuk memastikan sendiri keadaan diluar. Lunar bergegas keluar dari apartemennya, menuju exit 1.
Di perjalanan dia melihat orang-orang menatapnya dengan sikap yang aneh, dan semuanya terkesan menjauhinya. Lunar tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sana.
Semua orang berbisik-bisik di belakangnya. Tidak satupun ada yang mau menekatinya saat dia mencoba menanyakan situasi yang sedang terjadi.
“Komunikasinya juga dibatasi. Apa yang terjadi?”
“Menurutku juga baru kali ini semuanya ditarik mundur dari misi.”
“Apa armada sedang terancam lagi?”
Ada satu suara yang membuatnya semakin khawatir. “Sudah dengar soal isu yang aneh, belum?” ujar seorang Arz trainee yang ada di belakangnya.
Saat Lunar berbalik untuk memastikannya, Arz itu langsung menjauh darinya.
“Hei, tunggu!”
Lunar merasa diabaikan, semua orang menjauhinya. Uricle device juga tidak bisa digunakan. Dia tidak bisa menghubungi Mae, Eucli, atau Ava. “Apa yang sedang terjadi?” gumamnya. Lalu dia memutuskan untuk mengabaikannya, dia berpikir bahwa kemungkinan ada kerusakan pada sistem informasi Uricle. Dan, Arz trainee serta orang-orang yang dia temui mungkin merasa sungkan karena bertemu dengannya yang merupakan anggota tim dewan penjaga Uricle.
Lunar menyusuri shopping center, lalu menuju kafetaria yang ada di tengahnya. Pikiran buruk kembali memenuhi kepalanya. Bahkan warga sipil menjauh saat dia berjalan di sana. Lunar mendekati salah satu Arz yang tampaknya adalah Arz senior untuk menanyakan situasinya. Namun Arz senior itu langsung pergi sebelum Lunar berkata apapun.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
“Hei, senior!”
Lunar menoleh pada sumber suara itu, dan mendapati seorang Arz trainee yang pernah dia temui sebelumnya. Seorang Arz dari ras draykos yang sempat membuatnya kebingungan.
“Ah, kau yang bernama…” Lunar merasa bersalah karena tidak dapat menyebutkan namanya. Lebih tepatnya dia telah lupa nama orang itu. Padahal sebelumnya dia berbicara cukup lama dengannya.
Arz trainee itu sedikit marah karena Lunar melupakan namanya. Dia berkacak pinggang dan menatap tajam pada Lunar. “Cih, baru kemarin bertemu sudah lupa? Namaku Mira! Mi-ra!”
“Ah, iya maksudku itu… maaf.” Lunar menggaruk kepalanya karena merasa malu.
“Aku malah belum mengenalkan diri, ya?” ujar Lunar sambil melirik kanan lalu kiri, seperti belum menghilangkan perasaan tidak enaknya pada Mira.
“Kau Lunar, kan? Anggota muda dari tim dewan penjaga? Siapa yang tidak kenal dengan orang terkenal seperti dirimu, senior?
“Terkenal?” tanya Lunar dengan wajah yang kebingungan.
“Kau adalah prajurit baru yang langsung terkenal dengan cepat. Bahkan sampai banyak isu tentanmu, loh.”
“Isu? Isu apa?”
“Eh? Kau tidak tahu, senior? Kata orang, kau terlibat dengan semacam kejahatan.”
Lunar terkejut dengan perkataan Mira tentang dirinya, terlebih lagi soal kejahatan yang dikatakan wanita itu. “Kejahatan? Apa maksudmu?” Wajahnya menegang.
“Entahlah. Aku katakan tad ikan isu, itu karena aku tidak tahu lengkapnya.”
“Baiklah, aku pergi dulu, senior,” ujar Mira sambil melambaikan tangannya.
Lunar merasa ada yang tidak benar dengan situasi yang sedang terjadi saat ini. Dia memutuskan untuk segera kembali ke kapal induk untuk menemui ketiga anggota timnya, berharap mereka ada di ruang jaga tim mereka.
Namun, suara langkah kaki yang terdengar mengikutinya dari belakang, membuat Lunar menoleh. Dia mengenal wajah itu, orang itu adalah salah satu anggota tim dewan penjaga Itasuke. Orang yang memiliki kesan seram di matanya itu telah berada di belakangnya sambil mengarahkan rifle padanya.
“Kekejaman apa yang telah kau perbuat, Lunar?” tanya wanita itu sambil memiringkan kepalanya dan dengan suara khas seorang ras cyborg.
“Apa maksudmu?’ tanya Lunar sama sekali tak mengerti.
“Tapi Ruelia adalah orang yang suka menyimpan yang terbaik untuk saat-saat terakhir, sih,” kata wanita itu sambil menarik rifle-nya lalu mengusap weapon itu dengan tangan robotnya perlahan. Matanya terlihat seperti sedang berbicara dengan rifle yang ada di genggamannya. “Jadi, akan kutahan untuk nanti saja.”
Lunar merasa feeling tentang wanita yang ada di depannya itu benar. Wanita aneh yang berbicara dengan weapon-nya sendiri dengan tatapan ingin menghabisi musuhnya, itu adalah kesan yang dia rasakan selama ini.
“Yang kumaksud adalah isu tentangmu,” ujar Ruelia dengan wajah datar, lalu dia menurunkan rifle-nya, mengarahkan weapon itu pada lantai.
“Kau juga, ya? Entahlah, aku tidak tahu apa-apa mengenai isu itu. Malah aku baru mendengarnya saat berjalan di sini.”
“Semua orang jahat kan memang bicara seperti itu?”
Lunar tidak tahan dengan ekspresi Ruelia yang membuatnya semakin frustasi, dia berbalik lalu meninggalkan Ruelia yang sepertinya masih ingin mengatakan hal lebih banyak. Dia berpikir kalau bersama dengan wanita itu semenit lagi saja akan membuatnya benar-benar gila.
“Eh? Kau mau pergi ke mana?” tanya Ruelia bingung. Tapi Lunar terus berjalan menjauhinya dan tidak memberi respon apapun.
Lunar mengabaikan tanggapan buruk semua orang yang ditemuinya. Mempercepat langkahnya untuk menuju exit 1. “Aduh, siapa dan untuk tujuan apa menyebarkan isu tak jelas begini?” gumamnya dengan wajah yang mulai murung. Lunar melihat ke sekelilingnya, semua orang menatapnya dengan tatapan aneh, seperti dia telah melakukan kejahatan besar.
“Seorang Arz buronan, ditemukan! Ayo tangkap Lunar sekarang juga!”
Suara itu datang dari sebelah kanannya, terlihat dua orang Arz kembar Haru dan Haku berlaga seperti telah menemukan orang yang berbuat kejahatan di armada.
“Hei, diam dulu, Haru!”
“Kalian berdua juga, ya? Jangan ikut-ikutan terpengaruh isu tak jelas, dong!” ujar Lunar dengan suara yang terdengar kesal.
“Maaf atas sifat jelek kakakku.”
“Lalu apa maksud dari perkataanmu tadi?” tanya Lunar pada Haku yang masih merasa geli dengan tanggapan serius Lunar.
“Tidak perlu pura-pura tidak tahu segala, Lunar! Banyak yang bilang, kau bertanggung jawab atas banyak kejahatan, loh.”
“Aku? Memangnya apa yang sudah kulakukan?”
“Sebenarnya isunya masih tak beralasan, sih. Seperti kabar angin yang disebarkan oleh seseorang. Tapi banyak sekali yang percaya dengan isu itu.” Haku merasa bersalah karena sikap kakaknya yang telah menyinggung Lunar tadi. Dia sendiri belum mengetahui kebenaran isu yang beredar di seluruh armada Uricle itu.
“Memang awalnya siapa yang telah menyebarkan isu itu?”
“Itu dia pertanyaannya! Meski kami selidiki ke mana pun, tetap saja tidak ditemukan awal mula isu tersebut. Keanehan mulai menyebar luas sejah semua Arz ditarik mundur. Kesannya jadi ada suatu kelompok yang ingin membuatmu terpojok. Lunar, sebaiknya kau tetap berada di apartemenmu dulu untuk sementara waktu. Biar kami yang akan membantumu menyelidikinya!”
Sikap dan kata-kata Haku sangat berbeda dari kakaknya, dia mampu mengubah suasana hati Lunar menjadi sedikit tenang.
“Benarkah? Terima kasih, Haku, Haru!”
“Percayakan pada kami, Lunar!” kata Haru yang secara tiba-tiba berubah menjadi memberi dukungan pada Lunar.
Setelah mengatakannya Haru dan Haku pergi meninggalkan Lunar yang masih menyimpan kecemasan di hatinya. Keinginannya untuk segera menemui Mae dan juga dua anggota timnya tidak dapat ditahan lagi. Dia ingin segera mengetahui kebenaran isu buruk tentangnya yang beredar, dan memastikan kalau teman-temannya tidak beranggapan buruk tentangnya. Lunar mempercepat langkahnya, mengabaikan saran dari Haku.