Lunar ada di kamar apartemennya, berbaring di tempat tidurnya dekat jendela. Menatap ke angkasa luas yang gelap dan berbintang. Dia menerawang ke dalam pikirannya, mengingat semua kejadian yang telah dia lalui. Dia mengingat saat pertama menjalani misi sebagai Arz trainee, mengingat tragedi yang menimpa Mavis, terakhir yang membuatnya takut adalah saat Lithar membawa Taurus.
Jika yang dikatakan Sirin benar, berarti rencana Lithar sudah semakin dekat. Apa semua kejadian yang kualami itu diawasi oleh Lithar? Apa yang diinginkan olehnya, apa hanya sebatas menginginkan pengetahuan? Pertanyaan itu terus memenuhi pikirannya.
Saat dia memikirkan itu semua, bayangan Shein muncul di dekatnya. Suaranya yang lembut memecah lamunan Lunar.
“Derita akan selalu merasuki dirimu. Terima kasih dan maaf, hanya itu yang bisa kukatakan padamu.”
“Shein? Lalu kenapa kau meminta bantuanku? Bukankah kau telah mengetahui semua yang akan terjadi?” tanya Lunar yang hatinya dipenuhi kebingungan akan semua rencana yang telah dibuat Shein.
“Pengetahuan bukanlah kekuatan mutlak. Terkadang aku memikirkan sesuatu. Kembali ke awal mula, mencegah semuanya terjadi, mungkin itu adalah keputusan yang terbaik.”
“Mencegah semuanya terjadi?” kata Lunar terkejut mendengar kata-kata Shein itu, di kepalanya muncul pertanyaan-pertanyaan lain yang membuatnya semakin bingung. Lalu dia terpikirkan semua kejadian di masa lalu.
“Jika kita bisa memutar waktu, kita bisa mencegah Darlz Ildar bangkit lagi!”
Shein memejamkan kedua matanya, lalu menggelengkan kepalanya. Dia terlihat tak setuju dengan apa yang dikatakan Lunar.
“Apa hal itu juga tak terhindarkan? Lalu bagaimana tongkat itu? Kenapa kau memberikannya padaku jika kau tahu tongkat itu akan dicuri? Kalau tanpa tongkat itu, Darlz Ildar pun pasti takkan…”
Shein menghentikan Lunar melanjutkan kata-katanya, “Kita harus terus memilih satu dari pilihan yang tak terhingga. Bagi kami, hanya itu yang dapat dilakukan.”
“Tapi kenapa harus aku?”
“Karena hanya kaulah yang dapat menggunakan kekuatan pedang Chill, pedang pembuka gerbang waktu, dan hanya kau yang mampu melintasi aliran waktu.”
Lunar tercengang, dia tak menduga Shein mengatakan hal itu. Bahwa hanya dirinya yang mampu melakukan hal yang tidak mungkin itu.
“Kami semua mempertimbangkan banyak prediksi dan kemungkinan yang ada, lalu mengubah masa depan melalui perintah. Meski begitu, masih ada beberapa yang salah. Satu-satunya orang yang dapat melintasi waktu hanyalah dirimu, Lunar.”
“Hanya aku?” gumam Lunar masih tak percaya dengan kenyataan itu.
“Kupercayakan pilihan kepadamu. Kapan? Di mana? Siapa yang ingin kau selamatkan?”
“Siapa… yang akan ku selamatkan?” Lunar mengingat semua orang yang pernah bersamanya dan mengalami hal-hal sulit. Mengingat semua anggota tim saat dia menjadi Arz trainee, Melfon yang tewas saat Darlz Ildar bangkit, tapi ini hal yang tidak mungkin, dirinya bersama dengan Melfon saat dia terbunuh. Mavis juga tidak mungkin pikirnya.
Lalu dia teringat dengan orang yang memiliki hubungan dekat dengan Taurus, yaitu Marlu. Seorang pengendara vanguard armored vehicle yang tewas saat penye rangan Darlz Ildar di kapal 11. “Ya… mungkin dia. Dia yang mampu menyelamatkan Taurus dari pengaruh Lithar. Marlu. Benar, Marlu. Aku ingin menyelamatkan Marlu!”
“Kau yakin? Kalau begitu pergilah, Lunar,” kata Shein lalu menghilang.
Lunar mengeluarkan pedang Chill-nya dari capsule inventory, dengan keyakinan kuat dia menggenggam pedang itu. Lalu mengunci ingatannya pada tempat dan waktu saat dia bertemu Marlu dan wanita itu masih hidup.
Perlahan pedang di tangannya bercahaya putih, Lunar merasakan getaran kekuatan yang hebat dari pedangnya. Lalu dia mengayunkan pedangnya hingga lubang spiral putih muncul di hadapannya. Tanpa berlama-lama, Lunar masuk ke dalam lubang spiral putih itu. Membawa harapan untuk bisa menyelamatkan wanita yang memiliki peran penting bagi Taurus.
Di ujung lorong waktu yang serbaputih, Lunar melihat kekacauan terjadi di depannya. Debu-debu dari reruntuhan bangunan membuatnya kesulitan melihat dengan jelas. Dari arah yang berlawanan, samar- samar Lunar melihat vanguard armored vehicle yang dikendarai Marlu melintas.
Lunar berlari hendak mengejar Marlu. Sementara itu dari atas sebuah monster Darlz yang berbentuk burung berwarna hitam dengan bulu pada bagian sayap berwarna emas dan bulatan merah di d**a. Monster Darlz yang sama dengan yang menyerangnya saat di Planet Uiscela.
Monster itu terbang dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, menukik dengan tajam ke arah Marlu. Dalam sekejap monster itu menabrak Marlu dan membuat vanguard armored vehicle yang dikendarainya terbalik. Marlu keluar dari vanguard armored vehicle, dan terlihat kacau, kedua tangannya menggenggam rifle yang mengarah ke atas, sambil bersembunyi di balik vanguard armored vehicle yang terbalik. Sementara itu, monster Darlz yang sama kembali mengejar Marlu yang bersembunyi.
Wanita itu terlihat ketakutan dan tidak biasa menggunakan weapon yang ada di genggamannya. Dia menembakan secara acak hingga mengenai kendaraan di depannya. Dalam sekejap monster Darlz itu telah berada di hadapan Marlu, membuatnya berteriak meminta bantuan dan memanggil nama seseorang. Lunar mendengar dengan jelas kalau dia menyebut Taurus.
Lunar berlari secepatnya, pedang di tangannya telah siap ditebaskan pada makhluk yang ingin menye rang Marlu. Memanfaatkan vanguard armored vehicle di depannya sebagai pijakan untuk memompa kekuatan, Lunar melompat setinggi mungkin untuk menjangkau bagian merah yang diyakininya titik kelemahan monster itu.
Lunar berhasil mengenainya dengan satu tebasan, membuat monster itu terjatuh lalu berubah menjadi partikel berwarna hitam. Lunar berbalik dan menghampiri Marlu yang kelihatannya masih terguncang. Wanita itu membungkuk dengan kedua tangan melindungi kepalanya.
“Marlu. Untung masih sempat. Kau bisa bangun?” Lunar mengulurkan tangannya, membantu Marlu menghilangkan rasa takutnya.
“Lunar!” gumam Marlu, rasanya takutnya sedikit berkurang saat melihat Lunar. Namun, air matanya tidak tertahan lagi, dia menangis di hadapan Lunar.
“Apa kau terluka, Marlu?”
“Tidak. Aku mengirimkan sinyal SOS, tapi tidak ada jawaban!” jawabnya ragu-ragu. Seluruh tubuhnya masih gemetar saat dia meraih tangan Lunar.
Mendadak terlihat percikan api dari vanguard armored vehicle, dari bagian yang sebelumnya terkena temba kan Marlu .
“Awas, Marlu!” teriak Lunar sambil menarik tangan wanita itu.
Seketika vanguard armored vehicle itu meledak, beruntung Lunar berhasil menyelamatkan dirinya dan Marlu. “Hampir saja…”
Marlu berbalik, menatap vanguard armored vehicle yang terbakar di belakangnya. “Aku hampir mati dua kali,” gumamnya.
“Terima kasih, Lunar. Aku harus kembali bertugas!”
“Tidak boleh.” Suara yang telah dikenal Lunar terdengar dari atas kepalanya. Perlahan sosok yang mengeluarkan suara itu turun dan kini berada di depan wajahnya. Lunar melihat sosok makhluk yang dianggapnya mustahil berada di sana. Tapi dia tidak mungkin salah lihat, itu adalah Sirin. Dia mengenal suara itu, tetapi kini orang itu dalam wujud yang sangat berbeda.
“Kau mengenaliku kan, Lunar?” Kita harus menjauhi tempat ini. Seharusnya dirimu tewas dalam ledakan tadi, Marlu.”
“Benar! Aku harus memberi laporan kalau aku selamat!” ujar Marlu sambil mengaktifkan Uricle device di tangannya.
“Jangan. Tolong jangan lakukan itu. Lebih baik kau dikira tewas,” ujar Sirin sambil terbang menuntun Lunar dan Marlu ke dalam sebuah bangunan yang telah hancur sebagian.
“Apa maksudmu?”
“Lithar berencana membunuhmu. Dia memakai kekuasaannya sebagai petinggi Arz, untuk membuatmu lulus meski tanpa memiliki bakat, demi kepentingannya sendiri. Lalu kau dikirim ke barisan terdepan supaya bisa terbunuh.”
“Bagaimana mungkin?” Lunar tercengang mendengarnya.
“Tapi kenapa aku?”
“Agar dia bisa mendapatkan Taurus. Jika Lithar tahu kau masih hidup, dia tidak akan melepaskanmu hingga mendapatkan Taurus. Tidak ada yang bisa mencegah Taurus dikuasai Lithar. Hanya inilah kesempatan kita menyelamatkanmu.”
“Sepertinya begitu. Yang penting kau berhasil selamat, Marlu. Itu sudah sangat cukup,” kata Lunar sambil menarik napas lega.
“Cukup ya, menurutmu Lunar. Kau masih ingat seberapa banyak korban jiwa saat penye rangan Darlz Ildar, kan? Ribuan orang tewas terbunuh olehnya. Di antara mereka, ada orang tak bersalah yang sengaja dilibatkan Lithar. Kebangkitan Darlz Ildar juga merupakan salah satu rencana orang itu.” Sirin meninggikan suaranya, dirinya tak menyangka Lunar mampu mengatakan hal itu.
“Tentu saja, aku ingat,” teriak Lunar.
“Tidak, Lunar. Kau tidak paham. Kaulah yang membuat keputusan. Memilih siapa yang selamat dan siapa yang tewas.”
“Terus kenapa? Aku bisa terus kembali ke sini untuk menyelamatkan semuanya!” Lunar tak mengerti maksud perkataan Sirin. Dia merasa sudah membuat pilihan yang tepat. Dan juga, dia tidak mengerti dengan maksud Sirin tentang kebangkitan Ildar.
“Mustahil jika kau bilang semuanya. Hanya aka nada beberapa yang bisa kau selamatkan.”
“Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya!”
“Kau pikir, kami tak mencobanya?” Suara Sirin berubah, mengikuti Lunar yang telah lebih dulu meluapkan emosinya. “Sudah kami coba ratusan bahkan ribuan kali. Tapi efek di masa depan karena mengubah masa lalu… tidak bisa kami prediksi sepenuhnya.”
Sirin tertunduk sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “Justru dalam percobaanku, jumlah korban jiwa malah semakin bertambah!”
“Apa Shein yang telah mencoba ribuan kali?”
“Kaulah yang mencoba, Lunar. Semua itu adalah kemungkinan yang telah kau coba. Hanya karena bisa ke masa lalu, bukan berarti bisa menyelamatkan semua orang. Meski begitu, kita terus berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin yang kita bisa.”
“Ya sudah. Meski aku sama sekali tidak mengerti dengan yang kalian bahas, tapi aku tahu kalian sama-sama kesal karena tak mampu menyelamatkan semuanya, iya kan?” Kata-kata yang keluar dari mulut Marlu menghentikan perdebatan Lunar dan Sirin. Menenangkan pikiran keduanya yang sama-sama terbawa emosi.
“Selain itu, kenapa kau tampak kesal karena dia memilih menyelamatkanku? Kesannya seperti lebih baik aku tewas dalam ledakan tadi saja!” tanya Marlu sambil menunjuk Sirin yang terbang di depannya. Lalu dia menyilangkan kedua tangannya di pinggang dan melanjutkan mengutarakan pendapatnya pada Sirin yang terkejut dengan reaksinya. “Kita hanya perlu mengalahkan si Lithar itu, agar Arz kembali ke jalan yang benar, kan?”
“Jika Lithar dikalahkan, berarti seluruh kekuasaannya di Uricle akan hilang dan beresiko mengacakan armada,” ujar Sirin. Di dalam kata-katanya terselip keraguan, meski begitu dia meyakini hal itu.
“Kalau semuanya kacau, membangun kembali memang terasa sulit. Tapi kita bisa membuat yang baru bersama-sama, kan. Asal semua saling membantu, pasti bisa! Aku juga pasti akan membantu!” ujar Marlu memberi semangat pada Lunar dan Sirin.
Sirin tertawa mendengar Marlu yang hampir mati bisa mengatakan hal itu, dia yakin wanita itu tidak mengetahui keadaan sesungguhnya.
“Memangnya apa yang lucu hingga membuatmu tertawa seperti itu?” tanya Marlu dengan wajah polos yang mengingatkan Lunar pada Mae.
Sudah lama Lunar tidak berbicara banyak pada Mae, dia tidak bisa mengatakan tentang misi rahasianya ini, dan juga Shein telah mengatakan kalau yang bisa melintas waktu hanya dirinya saja.
Sirin tak bisa menahan perasaan menggelitik setelah mendengar kata-kata Marlu, ditambah wajanya yang polos membuatnya sedikit menghilangkan rasa cemasnya. “Jawaban itu benar-benar mencerminkan dirimu. Kalian memang luar biasa.
“Buat yang baru ya?” gumam Lunar sambil tersenyum.
“Lunar, kembalilah ke tempatmu yang seharusnya. Biar aku yang mengurus Marlu di sini.”
“Ya. Terima kasih Sirin. Saat kembali, aku akan sampaikan pada Taurus bahwa Marlu masih hidup. Boleh, ya?”
“Masa depan masih bercabang-cabang. Berbuatlah sesuai yang kau yakini, Lunar.”
“Marlu, kau telah mengajarkanku banyak hal. Sampa jumpa di masa depan.”
Lunar langsung menggunakan kekuatan pedang Chill-nya dan kembali ke masanya, dia merasa sudah terlalu lama berada di masa depan. Dia tahu benar jika Lithar akan menyadari ketiadaannya jika dirinya terlalu lama hilang.
Cahaya putih menghantarkan Lunar kembali ke masa depan, dia memandang inti cahaya yang bersinar terang itu. “Menuju masa depan yang kuyakini,” gumamnya.