Aura yang terlihat lidah api semakin membesar, bergerak-gerak di atas gurun pasir menjulur hingga menembus gumpalan awan yang tampak kelabu. Kabut ungu menyusup dari celah bebatuan dan pintu masuk terowongan, memenuhi udara berdebu.
Mae masih bersandar di pundak Lunar, menikmati momen itu seakan tidak terganggu dengan udara di sekelilingnya yang berdebu. Tak sepatah katapun keluar dari bibir mungilnya, matanya terpejam, namun pikirannya melayang entah kemana.
Lunar yang duduk di sebelahnya memperhatikan, melihat wajah Mae yang kotor terkena debu. Dia tidak berusaha untuk mengatakan apa pun, bahkan sekadar memastikan perasaannya. Dia juga ingin menikmati setiap detiknya sebelum menghadapi pertempuran yang sudah di depan mata.
Lunar menepuk pundak Mae, “Ayo, Mae! Dia sudah kembali.” Lun