Mataharinya terik sekali,padahal belum terlalu siang. Aku dan teman-teman yang lain sedang berdiri di depan sebuah gedung.
Mengamati gedung itu sebagai utama objek tugas proyek kami hari ini.
Pekerjaan kami di lapangan tidak berjalan dengan lancar karena panas sekali. Kepalaku pusing ,Amber yang menyadari wajahku memucat segera meminta tugasnya di pending. Amber membantuku berjalan mencari tempat berlindung.
"Ga usah kayak gini ber,nanti anak-anak curiga"kataku.
"Gpp sih,ga akan ada yang mikir sampe kesana"jawab amber padaku.
Semoga Amber benar,semoga rahasia ini tetap terjaga,batinku.
????
Teman-teman sudah membubarkan diri setengah jam yang lalu,sakit kepalaku juga sudah mereda.
"Yaudah,kita pulang yuk".
"Iya,aku pesen Go-jek bentar"kataku pada Amber.
"Eh ga usah,Go-jeknya udah aku pesenin"katanya.
"Bener ? Waahh.. makasih,Amber memang terbaik"kataku pada Amber sambil memeluknya.
"Apasih.. Alay..!"ketusnya.
Amber mengajakku bercanda dan itu sukses membuat perutku sakit karna tertawa.Dia tak pernah kehabisan topic.Jika ada yang bertanya padaku siapa comedian terbaik di dunia.. maka Amber lah orangnya.
"Tuh Gojeknya udah dateng"kata Amber padaku.
Aku yang membelakangi jalanan menoleh ke belakang.
"Dika ?"
Tidak ada pembicaraan setelah itu.
"Udah sana naik"kata Amber memecah keheningan diantara kami.
Dika mengisyaratkan matanya yang menyuruhku untuk duduk di belakang motornya.
Aku pun langsung duduk setelah berpamitan pada Amber.
Di jalan..
"Gimana tadi ngerjain tugasnya ?"Dika mulai membuka suara.
"Ya gitu deh,belom ada hasil apa-apa"kataku.
Kemudian.. hening..!!
Tidak ada pembicaraan.
Aku tidak suka saat-saat seperti ini.
"Dika" aku memanggilnya berusaha mencari topik.
Dika hanya berdehem.
"Kamu beneran jadi driver Gojek ?".
"Ya nggaklah Zee,siapa yang bilang?".
"Amber"kataku.
"Kamu polos banget sih Zee,Mau-mau nya dikibulin Amber"katanya sambil tertawa.
Dasar Amber.. batinku.
"Lain kali kalo mau minta di jemput,bilang aja kali Zee,jangan malu"kali ini Dika membuka suara.
"Hah?.. eh.. iya"jawabku ragu.
Meskipun Dika benar adalah pacarku tapi aku masih terlalu asing untuk meminta bantuannya. Aku merasa tidak enak jika terus merepotkan Dika.
"Zee.." panggil Dika.
"I..iya,kenapa?" Jawabku terbata karna kaget.
"Ga pengen jalan kemana gitu ?".
"Kemana?"
"Yee.. malah balik nanya".
Aku hanya tersenyum simpul dan bingung harus bersikap bagaimana.
Jujur saja,setiap kali di dekat Dika jantungku menggila.
"Gimana Zee?,jalan-jalan bentar ya" rengek Dika padaku.
"Iyadeh,tapi jangan lama-lama,aku ga izin bakal pulang malem soalnya,nanti dicariin"kataku.
Dika melajukan motornya lebih kencang. Aku tak tau Dika akan membawaku kemana,yang sekarang ku fikirkan. Aku bahagia bersama Dika.
????
Dika memarkirkan motornya. Tempat ini belum pernah ku kunjungi sama sekali. (Yaiyalah ga pernah,anak rumahan mah aku tu?).
Aku mengikuti langkah Dika.mencoba mensejajarkan langkahku dengannya. Aku kelelahan mengikuti Dika,jalannya cepat sekali.
"Dika,masih jauh ga sih tempatnya?"kataku.
"Bentar lagi Zee,gimana bisa kamu nanjak kalo segini aja udah capek".
"Siapa juga yang pengen nanjak".
"Kamu".
"Emang aku pernah bilang?".
"Pernah"
"Kapan"
",bentar lagi kamu juga bakal bilang pengen diajak nanjak sama aku kalo udah sampe diatas".
Kemudian mempercepat langkahnya dan meninggalkanku.
Aku mendengus kesal. Apa Dika selalu meninggalkan orang yang dia sebut sebagai pacar seperti ini.
"Dikaa... aku capek..!" Rengekku pada Dika. Aku benar-benar tidak kuat lagi.
Dika yang juga kelihatan lelah ikut berhenti.Dia menyenderkan tubuhnya pada sebuah pohon.
"Dikit lagi Zee,semua perjuangan kamu,capek kamu,keringat yang keluar bakal terbayarkan dengan apa yang kamu lihat diatas nanti".
"Kamu mah gampang ngomongnya Ka,kamu kan emang sering nanjak gunung sana sini,lha aku ? Jalan di bukit kecil ini aja aku nyerah"
Aku yang menghadap pada Dika terus protes karna aku benar-benar lelah. Dika tiba-tiba menarik tanganku dan memelukku dari belakang.
Detak jantung Dika dapat kurasakan dengan jelas,aku gugup sekali.. ini diluar kendaliku.
Setelah sadar aku segera menjauh dari Dika,tapi Dika menahan tubuhku.
"Sebentar aja Zee"ucapnya lembut di telingaku.
Aku tak berkata apapun lagi,untuk beberapa saat kami sama-sama terdiam. Dika melepaskan pelukannya kemudian berjalan meninggalkanku.
"Ayo Zee,jangan lama jalannya nanti aku tinggal"
Aku segera berlari menyusul Dika. Aku menyamai langkah dengannya dan kami saling tersenyum satu sama lain. Lagi-lagi jantungku menggila,aku semakin tenggelam kedalam hitamnya bola mata Dika itu.
"Cepetan Zee..!!" Teriak Dika yang sudah ada diatas sana.
Saat sudah sampai diatas,
Aku takjub melihat pemandangan ini. Seisi kota terlihat jelas dari atas sini,aku sejenak melupakan lelahku tadi,benar kata Dika,kalo kita berjuang walaupun susah,capek, semua itu akan terbayar dengan hasil yang kita dapatkan.
"Jadi gimana?,udah niat mau nemenin aku nanjak ?"tanya Dika.
"Iihh.. ga mau,kan aku udah bilang enggak Dika"jawabku.
"Yaudah,besok aku tanya lagi".