Semakin hari hubungan keduanya semakin dekat dan mesra, mereka tidak segan-segan menunjukkannya ditempat umum, walaupun belum ada kejelasan status hubungan keduanya, mereka tetap menikmati apa yang dijalani saat ini. Seperti saat ini Revan sedang menghampiri Rara.
"Ada apa, Ra? Kenapa belum pulang? Perasaan sudah pulang lebih dulu daripada aku." ujar Revan yang melihat Rara menunggu dipinggir jalan depan rumah sakit, dan memutuskan untuk menghampirinya.
"Eh Revan. Ini lagi nunggu bis belum lewat-lewat." gerutu Rara sambil melihat jam tangan yang ia pakai, karena sudah lama ia menunggu tetapi belum ada satu pun bis yang lewat.
"Bareng aku aja, Ra. Jam segini bis jarang lewat mungkin." ucap Revan sambil menarik lembut tangan Rara menuju mobilnya, membuka dan menutup pintu mobilnya untuk Rara. Setelah Rara masuk, Revan langsung berlari kecil kearah kemudi mobil dan mulai menyalakan mobil dan menjalankannya.
Suasana didalam mobil sangat sepi tidak ada yang membuka percakapan, sampai Rara akhirnya tertidur karena kelelahan. Revan yang mengerti jika Rara kelelahan pun membiarkan ia tidur, karena ia tahu jadwal Rara yang sangat padat hari ini. Setelah 30 menit kemudian Revan pun sudah sampai didepan rumah Rara, dan mengetuk pintu rumah tetapi tidak ada yang menjawab.
"Ra, bangun, Ra?" ucap Revan sambil menepuk pipi Rara.
"Emm.." gumam Rara, Rara malah mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Revan, membuat Revan menggelengkan kepalanya.
Karena Rara tidak juga bangun, Revan memutuskan untuk membawa Rara menuju apartmentnya.
“Tidur yang nyenyak ya, untung kamu pulang sama aku, gimana kalau tadi kamu naik bis dan tertidur seperti ini.” gumam Revan sembari membetulkan posisi tidur Rara agar lebih nyaman dan mencium kening Rara lembut.
Revan pun langsung membawa Rara ke apartmentnya. Saat sampai diapartment, Revan langsung menggendong Rara ala bridal style menuju apartmentnya dan meletakkan Rara ditempat tidur Revan dengan hati-hati takut membangunkannya.
Setelah menaruh Rara, Revan memutuskan untuk membersihkan dirinya karena merasa tubuhnya sudah sangat lengket, dia juga membersihkan wajah Rara menggunakan handuk yang sudah dibasahi oleh air hangat. Selesai dengan urusan membersihkan wajah Rara, Revan berbaring disamping Rara memandangi wajah polos dan nyenyak Rara saat tidur.
"Kamu sangat cantik Ra, wajah kamu begitu damai saat tidur. Entah kenapa, rasanya aku ingin ngelindungin kamu dan bikin bahagia kamu." ucap Revan sambil membelai pipi Rara saat berbicara dan setelahnya Revan mengecup kening Rara.
"Good night, Sweetheart." ucap Revan dan memeluk Rara dari samping, ikut memejamkan matanya dan mulai ikut ke alam mimpi seperti Rara.
***
Sinar matahari yang mengintip malu-malu dari luar jendela mulai mengusik seorang gadis yang tertidur pulas ditempat tidur. Saat sudah sadar sepenuhnya, Rara merasakan ada beban yang melingkari perutnya, saat berbalik badan Rara sangat terkejut melihat wajah Revan sangat dekat dengan wajahnya.
"Aaaaahhhhhhhh..." Rara langsung melepaskan tangan Revan yang melingkar dipinggangnya dengan kasar, membuat Revan langsung terbangun detik itu juga.
"Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Revan karena terkejut dan panik Rara berteriak kencang sekali.
"Kamu ngapain disini? Tidur sama aku, dikamar aku?" tanya Rara, menatap Revan dengan mata melotot, yang menurut Revan malah terlihat menggemaskan dimatanya. Rara belum menyadari perbedaan kamar yang ia tempati saat ini, karena sudah panik dengan adanya Revan yang satu ranjang dengannya.
"Kamar kamu? Seriously? Kamu engga lihat? Ini kamar aku." ucap Revan sambil menaikkan sebelah alisnya.
Rara melihat sekelilingnya dan membelalakan matanya karena kaget, dia ada di kamar yang tidak ia kenali, tetapi ia bisa langsung menebak itu kamar Revan, karena aroma tubuh Revan sangat terasa diruangan itu.
"Kenapa aku bisa ada dikamar kamu?" Rara menatap Revan dengan mata yang memicing curiga, membuat Revan harus menahan senyum gelinya karena wajah Rara tidak ada galaknya sama sekali.
"Kemarin kamu tidur dimobil, aku ketuk pintu rumah kamu engga ada yang bukain dan aku bangunin kamu tapi kamu engga bangun. Ya sudah, aku bawa kesini." jelas Revan yang memang sesuai dengan kenyataannya.
"Ini dimana Van?" Rara memfokuskan diri menatap kesekelilingnya, warna hitam, putih dan abu-abu yang mendominasi kamar itu, membuat Rara tidak menyadari Revan yang mendekatinya.
"Apartement aku Ra, lebih tepatnya kamar aku." bisik Revan menggoda, membuat Rara merona dengan cepat, Revan hanya tersenyum geli.
"Lalu kalau aku tidur di mobil, gimana aku ada disini?"
"Aku menggendongmu sampai kesini."
Pipi Rara langsung bertambah bersemu merah saat mendengar jawaban Revan. Entah mengapa jantung Rara menjadi berdegub kencang, membayangkan jika ia digendong oleh Revan dari parkiran sampai ke unit apartmentnya.
"Mengapa dengan pipimu apa kamu malu? Atau membayangkan digendong sama aku?" tanya Revan menggoda Rara sambil mencolek pipinya.
"Ish tidak, kalau begitu terima kasih atas tumpangan yang kamu berikan semalam, aku mau pulang sekarang." ucap Rara sambil bangun dari tempat tidur.
“Nanti aku akan antar kamu, tapi setelah kita makan dulu. Tetapi sebelumnya aku mau mandi." ucap Revan sambil menahan tangan Rara.
"Baiklah." Rara mengalah dan duduk diranjang kembali.
Revan langsung bangun dari tidurnya setelah mengecup kening Rara dan meninggalkan Rara yang terpaku karena kecupan kilat yang diberikan oleh Revan, walau sudah sering ia terima, tetapi ia sering merasa terkejut dan malu.
Saat Revan sedang mandi, Rara keluar kamar dan melihat-lihat isi apartment Revan. Sampai pandangannya jatuh pada sebuah pigura di ruang tamu yang terdapat foto dua bayi laki-laki dan perempuan didalamnya.
Wajah mereka kaya engga asing. – batin Rara
"Ayo, Ra, makan dulu."
"Eh, ayo."
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Revan karena merasa Rara lebih diam daripada sebelum ia mandi.
"Engga kok." ucap Rara gugup.
"Engga perlu gugup, ada yang mau kamu tanyain? Tanya aja, Ra, engga perlu sungkan." Revan mengusap lembut punggung tangan Rara.
"Itu diruang tamu foto siapa, Van?"
Revan tertegun dan hanya diam, ia tidak menyangka jika Rara akan melihatnya, ia bingung harus menjelaskannya dari mana.
"Eh kalau engga mau jawab engga apa-apa kok." ucap Rara cepat, karena tidak enak saat melihat Revan yang hanya diam.
"Itu anak-anak ku, Ra."
"Anak-anak kamu? Kamu sudah punya istri?" Rara mersakan sakit dihatinya, karena Revan sudah memiliki pasangan bahkan sudah memiliki anak.
"Iya Ra anak-anak aku, aku sudah tidak punya istri, istriku meninggal dalam kecelakaan saat sedang pergi bersama dengan selingkuhannya. Apa setelah ini kamu akan menjauhi aku karena aku sudah punya dua anak?"
"Eh? Maaf aku engga bermaksud, aku tidak tau jika istri kamu sudah meninggal. Menjauh karena apa?" Rara memandang Revan bingung
"Tidak apa-apa, Ra, kamu juga engga tau tentang istri aku yang sudah meninggal, menjauh karena kamu malu dekat sama duda kaya aku." Revan menundukkan kepalanya, karena tidak sanggup untuk melihat wajah Rara.
"Memangnya kenapa dengan duda? Duda juga manusia kan, Van, jangan karena status itu kamu jadi engga percaya diri, oke." Rara mengusap punggung tangan Revan, membuat Revan menatap Rara dengan senyumnya.
Revan mengecup punggung tangan Rara, "Terima kasih, Ra, aku beruntung bisa bertemu dengan kamu. Kalau gitu, ayo kita makan."
Setelah selesai makan, Revan langsung mengantarkan Rara pulang kerumahnya.
"Aku langsung pulang ya, Ra."
"Iya, kamu hati-hati ya, Van."
"Oke, take care dirumah, bye." Revan mengecup kening Rara dalam dan lama, yang dibalas oleh Rara dengan mengecup pipinya.
Rarapun langsung masuk kedalam rumah dan kekamar untuk membersihkan diri. Setelah memastikan Revan sudah pergi dari depan rumahnya.