"Sudah selesai, Ra?" Revan menyembulkan kepalanya kedalam ruangan Rara.
”Sudah kok Van, ayo." Rara yang sudah berdiri, siap untuk pergi, ditahan oleh Revan dan dibawanya Rara kesofa diruangan itu, membuat Rara bingung melihat tingkah Revan.
“Ada apa, Van?” tanya Rara, tetapi tetap menuruti Revan yang menyuruhnya untuk duduk.
Revan tidak menjawab pertanyaan Rara, dan langsung berjongkok disebelah Rara duduk. Mengangkat kaki Rara dan memijatnya perlahan dipergelangan kakinya.
“Apa masih sakit?” tanya Revan perhatian dengan tetap memijat, membuat Rara tersanjung dengan perhatian yang diberikan Revan.
“Sudah tidak apa-apa Van, tadi sudah diberikan obat agar tidak bengkak, walaupun masih sedikit nyeri jika berjalan atau berdiri terlalu lama.” jelas Rara untuk menenangkan Revan yang terlihat masih khawatir dengan pergelangan kaki Rara.
Setelah memastikan Rara baik-baik saja, Revan membantu Rara berdiri dan mereka langsung berjalan menuju parkiran dengan tangan yang saling menggenggam, mengabaikan tatapan penasaran para tenaga medis dirumah sakit itu.
"Ra, kamu mau pulang dulu, apa langsung aja?" tanya Revan saat mobil sudah mulai berjalan meninggalkan rumah sakit.
"Langsung aja Van, biar engga kelamaan, kasihan nanti teman kamu harus nunggu lebih lama." jawab Rara yang diangguki oleh Revan, karena memang sebenarnya dia sudah terlambat dari jam pertemuan seharusnya. Tetapi jika Rara meminta untuk pulang terlebih dahulu, Revan akan langsung mengantarkannya, karena baginya temannya bisa menunggu lebih lama, yang penting kenyamanan gadisnya.
"Ra?" Revan menggenggam tangan kanan Rara dan menaruhnya dipangkuan Revan, Rara pun sudah sibuk menenangkan detak jantungnya yang berlomba-lomba.
"Kenapa, Van?" Rara menatap Revan yang sesekali meliriknya, karena ia sedang mengendarai mobil jadi tidak bisa menatap Rara terus-menerus.
"Terima kasih ya Ra, kamu sudah mau temani aku ketemu teman aku. Karena aku malas jika bertemu mereka tetapi datang sendiri, mereka pasti akan mengataiku." adu Revan membuat Rara tersenyum geli, Revan terus mengecupi punggung tangan Rara setelah berbicara seperti itu.
"Iya Van tidak apa-apa, lagian juga aku ada waktu kok dan sedang tidak sibuk. Kalau kamu mengajakku saat aku sibuk, tentu aku tidak mau, biarkan saja teman-temanmu mengataimu." ucap Rara sambil terkekeh.
“Untung saja kamu tidak sedang sibuk sekarang.” ucap Revan lega dan ikut terkekeh bersama Rara.
Revan dan Rara pun sampai direstoran 15 menit kemudian, karena jarak restoran yang dekat dari rumah sakit dan keadaan jalanan yang tidak padat. Mereka langsung masuk kedalam dengan Revan merangkul pundak Rara.
"Tuh Ra, teman aku. Hai guys," sapa Revan langsung saat sudah dekat dimeja teman-temannya.
Saat mereka mengalihkan pandangan kearah Revan dan Rara, Rara dan salah satu dari mereka langsung terkejut.
"LO??!!" pekik mereka bersamaan.
"Kalian kenal?" tanya Revan bingung, karena dari ekspresi mereka yang sama-sama terkejut seperti sudah kenal lama.
"Lo berdua duduk dulu mending." ucap teman Revan yang satunya lagi, karena merasa akan menjadi pembahasan yang panjang.
"So?" tanya Revan langsung setelah duduk, karena sudah penasaran dan juga cemburu, melihat keduanya yang sepertinya sangat dekat.
"Rara ini temannya Gwen, Van. Jadi otomatis gue kenal Rara." ucap Kenneth menjelaskan, membuat Revan menghela nafas lega dan temannya yang satu lagi menganggukkan kepalanya mengerti.
"Lo temannya Revan?" tanya Rara, karena selama ini ia tidak pernah kenal dengan teman-teman Kenneth itu.
"Yoi, aslinya sih ogah hahaha." Revan menjitak kepala Kenneth dengan kesal.
"Hahaha, santai bro cuma bercanda." Kenneth mengelus pelan kepalanya, karena jitakkan Revan tidak bisa dibilang pelan.
"Gwen mana Ken? Engga ikut?" tanya Rara saat tidak melihat keberadaan Gwen dimanapun.
"Ikut kok dia lagi ditoilet." Rara hanya manggut-manggut.
"Ra, kamu kenal sama teman aku yang satu lagi ga?" tanya Revan menunjuk kearah temannya itu.
"Engga, Van." Rara menggeleng polos, karena Rara memang tidak mengenal temannya itu sama sekali.
Revan mengacak rambut Rara, "kamu ini. Ini Marco, teman aku sama seperti Kenneth."
"Haii, gue Marco." sapa Marco riang dan melambaikan tangannya semangat.
"Haii, Rara." Rara membalasnya dengan senyumnya yang selalu membuat Revan jatuh cinta.
Mereka berbincang-bincang ringan dan sampai akhirnya tiba-tiba Gwen kembali dari toilet dan cengo melihat Rara, karena setahunya, Rara tidak mengenal satupun teman-teman dari Kenneth.
"Lo ngapain disini Ra?" Gwen langsung mengambil posisi duduk disebelah Kenneth, karena itu satu-satunya yang kosong dan memang disediakan untuk Gwen.
"Diajak Revan, Gwen." sahut Rara sambil menunjuk kearah Revan yang sedang menikmati minumannya yang baru sampai.
"Lo siapanya Rara?" tanya Gwen ke Revan dengan tatapan menyelidik, membuat Revan ingin memukul kepalanya itu, karena tidak pantas sama sekali, Gwen dengan tatapan menyelidiknya.
"Calon pacar." jawab Revan santai sambil merangkul pundak Rara dan mengecup pipinya singkat.
Mereka yang melihatpun hanya melongo mendengar jawaban Revan, bahkan Rara pun terkejut mendengarnya, kedua pipi Rara juga sudah bereaksi, rona merah mulai terlihat, tidak menyangka jika Revan akan mengenalkan dirinya seperti itu.
"Gila gila gila. Teman gue akhirnya suka sama cewe juga." sahut Marco heboh dengan tepuk tangannya yang kencang, membuat beberapa pengunjung yang lain melihat kearah mereka, temannya lain hanya bisa meminta maaf dan menutup sedikit wajah karena malu dengan tingkah Marco.
"Gue emang suka sama cewe ya." Revan menatap tajam Marco. Rara, Gwen dan Kenneth hanya terkekeh.
"Dunia sempit ya ternyata, kalian punya gebetan saling kenal. Kapan gue yang tampan maksimal ini punya cewe." ucap Marco dramatis, sambil pura-pura mengelap air mata, yang tidak keluar sama sekali.
"Kurangin alay lo, ntar juga dapat cewek kalau memang sudah waktunya." celetuk Kenneth karena sudah geli dengan sikap alay yang dimiliki oleh Marco.
"Jahat banget kamu bang, aku tersakiti."
"Jijik." ucap mereka bersamaan dan memasang wajah pengen muntah.
"Oke fine, gue ngambek." Marco melipat tangannya didepan d**a dan mengerucutkan bibir. Sontak mereka yang lain terbahak-bahak melihat Marco seperti itu.
Hampir dua jam mereka berkumpul dan berbincang bersama, karena jika sudah berkumpul, mereka pasti tidak ingat waktu, waktu terasa cepat.
"Guys, gue pulang dulu ya, kasihan Rara baru pulang kerja langsung datang kesini."
"Ya sudah, hati-hati ya." ucap mereka ddan melambaikan tangannya kearah Revan dan Rara.
"Duluan ya semuanya." ucap Rara.
"Hati-hati, Ra." ucap Gwen.
Revan dan Rara pun langsung pulang dan menuju rumah Rara.
"Ra, besok aku jemput ya?" tanya Revan yang mengantar Rara sampai didepan pintu seperti biasanya.
"Terserah kamu aja, Van."
"Ya sudah, kamu istirahat ya, good night."
"Good night." Revan mengecup kening Rara, yang sepertinya sudah menjadi kebiasaannya sebelum berjauhan dari Rara.
Saat Rara sampai didalam rumah, Rara melihat Ryan dengan tas besarnya.
"Mau kemana, Yan?"
"Eh kakak, aku mau ijin kak pergi liburan sama teman-teman. Boleh ga, Kak?"
"Biar pun engga boleh, pasti kamu tetap pergi, orang kamu sudah siap dengan tas digendongan kamu." ucap Rara pura-pura ketus, membuat Ryan hanya menyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kemana emangnya Yan? Berapa lama?"
"Kita mau ke Indonesia kak, ke Bali. Mungkin sekitar dua minggu atau sebulan kak, karena teman aku ada rumah disana, jadi ga keluar uang buat tempat tinggal. Boleh ya??" tanya Ryan memelas.
"Ya sudah tidak apa-apa hati-hati ya, jangan lupa kabarin kakak terus, jaga kesehatan ya. Jangan lupa oleh-oleh." ucap Rara diakhiri kekehan.
"Oke kak, kakak hati-hati dirumah ya, bye." Ryan mengecup pipi Rara dan langsung keluar rumah.
Rara pun langsung masuk kekamar dan membersihkan diri.