Esok harinya Rara bangun terlambat karena terus memikirkan Revan semalaman, membuatnya baru bisa tidur pukul 1 dan saat dijalan menuju ke rumah sakit, Rara keserempet mobil saat ia ingin menyebrang.
"Auhh.. sudah kesiangan pakai keserempet segala lagi. Ada-ada saja, engga tau orang sudah telat kali." gerutu Rara sambil mengelus kakinya yang sepertinya keseleo.
Orang yang membawa mobil tersebut langsung turun saat sadar telah menyerempet seorang wanita, tetapi Rara belum menyadarinya jika orang itu turun dan masih terus menggerutu tidak jelas.
"Maaf Nona, saya tidak melihat karena saya tadi sedang mencari ponsel." ucap orang tersebut menyesal, karena membuat seorang wanita terserempet dan membuat kakinya sakit, dilihat dari cara wanita itu memegang kakinya.
Rara langsung melihat kearah orang tersebut, dan mereka sama-sama terkejut saat melihat satu sama lain.
"Re-vann, tidak apa-apa, maafkan aku juga karena jalannya tidak melihat-lihat." ucap Rara shock saat melihat Revan ada didepannya dan sedikit terkejut saat mengetahui Revan yang menyerempetnya.
"Kamu, Ra. Maafin aku ya Ra, kamu tidak apa-apa Ra? Ada yang sakit engga? Maaf ya, maaf." ucap Revan dengan nada khawatir yang tersirat, Revan jongkok disebelah Rara agar lebih bisa melihat dengan jelas, dan Revan memegang pergelangan kaki Rara yang sebelumnya dipegang oleh Rara.
"Tidak apa-apa Van, aku baik-baik aja kok." ucap Rara, Rara menyingkirkan perlahan tangan Revan yang mengusap pergelangan kakinya, karena merasa tak nyaman.
"Ya sudah, kamu bareng aku aja kerumah sakitnya, sekalian sebagai permintaan maaf aku karena sudah nyerempet kamu." ucap Revan.
"Baiklah. Terima kasih, Van." ucap Rara tanpa menolak, karena ia tidak mau tambah terlambat karena harus menunggu bis terlebih dahulu.
Revan langsung menggendong Rara ala bridal style tanpa protesan dari Rara dan Rarapun langsung mengalungkan tangannya dileher Revan, Rara hanya bisa menundukkan wajahnya untuk menutupi wajahnya yang memerah dari Revan.
Rara dan Revan pun menaiki mobil dan langsung menuju rumah sakit. Saat sampai rumah sakit, mereka langsung menjadi bahan tontonan dan gosip karena Rara datang bersama Revan, dengan Revan memapah Rara, karena Rara tidak ingin digendong kembali oleh Revan, dengan alasan ditempat umum. Rara dan Revan pun masuk kedalam rumah sakit, Rara menundukkan kepalanya karena tidak berani melihat tatapan semua rekan kerjanya.
"Rara," panggil Revan dengan mengusap lengan Rara yang ia pegang untuk membantu Rara berjalan.
"Ii-yaa ke-na-paa, Van?" tanya Rara gugup.
"Kamu tidak perlu takut dan gugup seperti itu, jangan mendengarkan omongan mereka, anggap saja kamu tidak kenal dengan mereka." ucap Revan, karena merasa Rara sedikit risih dengan keadaan sekarang.
"Iya, Van, kalau begitu aku permisi dulu ya, Van, terima kasih atas tumpangan dan bantuannya." Rara melepas lengan Revan yang merangkul lengannya.
"Sebentar, Ra." Revan mencekal tangan Rara.
"Kenapa, Van?"
"Nanti pulang temani aku ya ketemu teman aku, please." Revan memelas, karena ia malas jika harus pergi sendiri untuk bertemu dengan teman-temannya, mereka pasti meledeknya karena datang sendiri.
"Oke-oke, ya sudah aku masuk dulu ya." ucap Rara dan langsung pergi dengan berjalan cepat meninggalkan Revan walau kakinya sakit, Revan hanya mengawasinya saja karena tidak ingin Rara tambah merasa tidak nyaman kalau ia mengantar sampai ruangannya.
***
Rara menuju taman belakang untuk bertemu dengan si kembar dan ternyata si kembar sudah menunggu disana, duduk dikursi taman dengan mengayunkan kedua kakinya.
"Hallo kesayangan Aunty. I miss you boy and girl." ucap Rara dan langsung memeluk si kembar dari belakang, membuat si kembar sedikit terkejut akan tingkah Rara itu.
"AUNTY!!"
"AUNTY!!"
Pekik si kembar, langsung berbalik kearah Rara. Mereka langsung memeluk Rara dan mencium pipi Rara. Rara pun juga membalas mencium pipi mereka.
"Kami rindu sama Aunty." ucap Devano.
"Aunty juga rindu sama kalian. Bagaimana keadaan kalian?" ucap Rara sambil mengangkat mereka untuk duduk dipangkuannya.
"Baik, Aunty." ucap si kembar bersamaan.
"Bagus sayangnya Aunty. Oke sekarang kita makan dulu ya." ucap Rara, mengeluarkan tempat bekal dari tas yang masih ia sampirkan dibahunya.
"Siap, Aunty." ucap si kembar girang dengan tangan memberi hormat, membuat Rara terkekeh karenanya.
Mereka makan bersama-sama dengan bahagia dan setelah makan mereka bersantai seperti biasa dibawah pohon sambil bernyanyi-nyanyi.
"Aunty," ucap Devano.
"Hm? Ada apa sayang?" ucap Rara, mengusap pelan rambut keduanya yang sedang bersender manja ditubuhnya.
"Aunty, kata Grandma kami tidak akan kesini selama 2 bulan, Aunty. Karena kami ikut Grandma ke Jerman." ucap Devano.
"Benarkah?" lirih Rara dengan tatapan sendunya.
"Iya. Tapi Aunty jangan sedih ya. Aku sama kakak kasih ini ke Aunty, jadi kalau Aunty rindu kami, bisa melihat ini." ucap Devina sambil memberikan kalung berbentuk love yang didalamnya ada foto Devano dan Devina kepada Rara. Rara memperhatikan kalung itu dengan senyum lembutnya.
"Huh.. Baiklah Aunty tidak akan sedih. Dan Aunty juga akan kasih sesuatu untuk kalian, agar kalian tidak rindu Aunty." ucap Rara sambil mengeluarkan gantungan kunci teddy bear dari kantong jas dokternya.
"Lucu, Aunty. Aku dan kakak akan menyimpan ini. Terima kasih, Aunty." ucap Devina tersenyum-senyum melihat lucunya gantungan itu. Si kembar langsung mencium pipi Rara dan memeluk Rara dengan erat.
"Rara, Aunty bawa si kembar ke Jerman sebentar ya, jangan sedih oke. Nanti kalian ketemu lagi kok." ucap Erlita yang tiba-tiba sudah ada disamping mereka.
"Baiklah, Aunty. Aunty dan si kembar jaga diri ya disana." Rara berdiri, begitu juga si kembar saat melihat Erlita sudah datang.
"Pasti sayang. Kalau begitu kami pamit ya sayang sampai jumpa." ucap Erlita sambil mengecup pipi Rara, Rara membalas mengecup pipi Erlita.
"Kami pergi dulu ya Aunty. Kalau kami sudah kembali kesini kami akan langsung menemui Aunty." ucap Devano.
"Oke Aunty, sampai jumpa. hati-hati disana ya sayangnya Aunty. I love you, my little boy and my little girl." ucap Rara mendekap si kembar erat untuk yang terakhir kalinya sebelum keberangkatan si kembar.
"I love you, Aunty." ucap si kembar dan mengecup pipi Rara setelahnya langsung lari meninggalkan Rara.
Rara melihat kepergian si kembar dengan tatapan sendu tanpa dia sadari, dia mengeluarkan air matanya karena sedih berpisah dengan si kembar, selama beberapa waktu ini, ia sudah terbiasa dengan kehadiran si kembar. Hampa rasanya jika harus melewati hari tanpa melihat si kembar.
Aunty sangat beruntung bisa bertemu dengan kalian dan menjadi Aunty kesayangan kalian. Aunty akan sangat merindukan kalian my prince and my princess – batin Rara.
Kami pasti rindu Aunty, tunggu kami kembali kesini ya Aunty, semoga nanti Aunty ketemu dengan Daddy dan menjadi Mommy kami – batin si kembar.
Semoga kamu wanita yang tepat untuk jadi ibu si kembar Ra. Maaf sekarang Aunty membawa si kembar dulu – batin Erlita.