Bara menoleh saat melihat seseorang menjatuhkan diri di sampingnya. Senyum kecil Ayra langsung menyapanya. Ia menghela napas. Ia sedang duduk di bawah pohon rindang di taman kampus dan sedang tidak ingin diganggu. Namun ia tahu bahwa gadis itu tidak akan langsung pergi meski ia mengusirnya, sehingga ia membiarkannya. Ia tetap menatap ke depan. Ke hamparan rumput hijau yang membentang di depannya.
“Cinta itu nggak bisa ditebak, ya.” suara pertama keluar dari mulut Ayra. Bara menoleh dan melihat gadis itu menatap jauh ke depan. “aku juga nggak tahu kalau hati bisa membalik segitu cepatnya.” tambahnya.
“Tenang aja… Mungkin akan menyakitkan diawalnya. Lama-lama kamu akan terbiasa.” kata Ayra lagi. Ia boleh membanggakan diri karena ia telah berhasil mengolah luka dan s