Ciara turun dari ojek yang ditumpanginya di depan studio Mahesa. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, sudah jam setengah tujuh malam. Beberapa hari terakhir, intensitas komunikasi mereka berkurang. Mereka hanya bertemu saat Mahesa menjemputnya dan tidak pernah lama. Ia tahu bahwa laki-laki itu sedang memikirkan semua ucapannya beberapa hari yang lalu. Ia tidak masalah. Ia akan memberikan waktu sebanyak apapun agar laki-laki itu mengerti. Laki-laki itu harus tahu bahwa ia tidak mungkin mengubah rencananya. Tidak akan ada yang bisa menghentikannya.
Hari ini, ia memutuskan untuk mengunjungi laki-laki itu tanpa sepengetahuannya. Ia mendekati pintu transparan berkaca gelap itu dan masuk ke dalamnya. Ia langsung mendekati salah satu karyawan di sana dan bertanya apakah Mahesa ada