Kanin salah mengira bahwa Kegan tidak akan datang ke butiknya sesuai dengan permintaannya kemarin. Karena ketika siang hari saat semua kegiatannya hampir selesai, Kegan sudah berdiri di ruangannya dengan tatapan berkeliling memperhatikan sekitar. Laki-laki itu masih menggunakan setelan kerja yang terlihat sedikit kusut di bagian belakang.
“Kamu dateng,” ujar Kanin yang baru saja masuk ke ruangannya. “Aku kira nggak bakal peduli.”
“Mau gimana juga ini pernikahan saya,” balas Kegan lalu membalikkan badan untuk menatap lawan bicaranya.
Kanin tertawa kecil kemudian berjalan menuju meja kerjanya dan merapikan barang-barangnya yang sedikit berantakan. Pekerjaannya beberapa minggu ini memang sangat padat sehingga Kanin bahkan rela untuk lembur selama beberapa hari di ruangannya. Wanita itu akan berkutat mengerjakan desain untuk rancangan model gaun pernikahan milik kliennya yang harus diselesaikan dalam kurun waktu dua puluh empat jam. Bahkan saking sibuknya, Kanin harus rela jam makan dan tidurnya berantakan untuk mengerjakan satu desain baju dan langsung membuat rancangan kainnya.
“Do you want a coffee?” tanya Kanin seraya menawarkan segelas kopi yang sejak tadi ada di tangannya.
Kegan menggeleng dan lebih memilih memperhatikan wajah Kanin yang tampak sangat lelah. Kantung mata wanita itu terlihat menghitam dan terliha semakin jelas karena Kanin tidak menggunakan make up. Rambutnya berantakan meskipun sudah terikat begitu kencang di bagian belakang.
“Sepertinya kamu terlalu sibuk buat kita bisa nikah bulan depan,” cetus Kegan yang seketika membuat Kanin mendongak ke arahnya.
Wanita itu tertawa kecil seraya menggelengkan kepala. Tangannya sekarang sedang bergerak lincah membuat sebuah sketsa di atas kertas gambar putih dengan coretan-coretan abstrak yang berakhir membentuh sebuah desain pakaian. Setelah beberapa saat, Kanin memberikan kertas itu untuk Kegan.
“You can choose which is the best,” ujar Kanin.
Kegan memperhatikan gambar desain gaun pengantin yang diberikan oleh Kanin kepadanya. Laki-laki itu sedikit bingung kenapa Kanin melibatkannya dalam pemilihan gaun seperti ini, seolah mereka memang akan benar-benar menikah atas dasar cinta sehingga pendapat Kegan sangat penting untuk Kanin.
“Why I should choose?” tanya laki-laki itu lalu meletakkan buku itu di atas meja dan kembali menatap Kanin.
“Because you are the first person who will see me wearing this,” jawab Kanin.
“Seems like we a real couple,” cibir Kegan.
“Aren’t we?” Kanin tertawa kecil. “Cepetan pilih biar bisa diproses sama timku.”
Kegan menarik napas panjang lalu kembali meraih buku tebal itu dan memperhatikannya dengan saksama. Tatapannya menilik satu per satu gambaran gaun yang diberikan oleh Kanin kepadanya. Dari tiga pilihan gaun itu, perhatiannya terpusat kepada salah satu gaun berpotongan sederhana dengan ornamen mutiara di bagian depannya.
Panjang gaun itu sepertinya sangat sempurna di tubuh Kanin dengan bagian bawahnya yang mengembang tetapi tidak terlalu besar. Dan bagian paling pentingnya, Kegan sangat tertarik dengan detail yang diperlihatkan Kanin lewat gambarnya. Kegan seperti bisa membayangkan akan seperti apa gaun itu jika sudah selesai dijahit.
“This one,” ujarnya seraya menunjuk gambar ketiga di hadapan Kanin.
Wanita itu ikut memperhatikan gambar yang dipilih oleh Kegan dan tersneyum puas setelahnya. Sebelum Kegan menjatuhkan pilihannyan kepada desain gaun itu, Kanin memang menginginkan gaun itu untuk pernikahannya.
“I like this too,” tanggapnya. “Potongannya nggak ribet. Hiasannya Cuma mutiara di bagian depan dan bawahnya juga nggak terlalu berlebihan.”
“I don’t understand,” potong Kegan cepat. “You can wear whatever you want I thought.”
Kanin mengalihkan pandangannya dari buku sketsa lalu menatap ke arah Kegan dengan tatapan penuh tanya. “Why?”
Laki-laki itu mengedikkan bahunya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. “All your design looks fine.”
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Kegan, senyum di wajah Kanin mau tidak mau terbit dengan sendirinya. Kegan memujinya dan hal itu cukup langka untuk dia dengar selama mereka mengenal di usia dewasa ini. Suatu hal yang sangat jarang mendengar Kegan memuji hasil karyanya secara langsung seperti ini.
“Oh ya,” cetus Kanin ketika mendadak dia teringat sesuatu. “I want to talk about something.”
“Apa?” tanya Kegan.
“Amara.”
Keduanya terdiam beberapa saat dengan tatapan yang saling terikat. Kanin memperlihatkan eskpresi serius sehingga Kegan juga ikut memperhatikan wanita di depannya dengan saksama. Laki-laki itu masih menunggu ucapan Kanin selanjutnya yang sekarang berhasil membuat Kegan penasaran.
“Amara kenapa?” tanya laki-laki itu kemudian.
“I don’t think I can tell you,” ujar Kanin lalu mendekatkan kursinya sehingga jarak mereka semakin terkikis. “But I think I should tell you. Amara hampir diperkosa.”
Raut wajah Kegan seketika berubah terkejut mendengar kalimat terakhir Kanin. Selama ini, meskipun hubungannya dengan Amara memang cukup dekat dibandingkan dengan sepupunya yang lain. Hal tersebut tentu saja membuat Kegan terkejut ketika Kanin memberi tahu masalah itu kepadanya.
“How can you know that?” Kegan berusaha mengendalikan emosinya.
“Waktu kamu jemput aku di bar, Galeo pergi karena harus nyari Amara,” jawab Kanin. “Galeo nemuin Amara dalam keadaan berantakan. Tapi untungnya belum terjadi apa-apa dan Galeo dateng tepat waktu.”
Kegan masih ingat malam dimana Galeo menghubunginya untuk menjemput Kanin dan mengatakan bahwa laki-laki itu sedang ada urusan mendadak. Karena saat itu Kegan terlalu fokus dengan rasa kesalnya harus kembali berurusan dengan Kanin, laki-laki itu bahkan tidak tidak sempat bertanya alasan kenapa Galeo meninggalkan Kanin tiba-tiba.
“Tapi Amara sama sekali nggak ngomong ke saya,” cetus Kegan dengan kening mengerut.
Kanin mengembuskan napas pendek. “What are you expecting for? Nggak bakal semudah itu buat dia bicara. Bahkan ke Galeo aja dia baru bilang setelah seminggu.”
“Tapi tetap aja saya keluarganya, bukan Galeo. Kenapa malah Galeo yang dikasih tau duluan?” Kegan menatap penuh tuntutan ke arah Kanin.
“Ya mana gue tau?!” Wanita itu membalas kesal. “Lagian kamu Cuma sepupunya. Sedangkan Galeo orang yang dia percaya. Tau bedanya, kan?”
“Beda, lah. Saya lebih deket sama dia daripada adik kamu,” bantah Kegan tidak mau kalah.
Kanin menggelengkan kepala dengan tatapan tidak percaya ke arah Kegan. Bahkan dalam situasi seperti ini, Kegan masih saja terus mengajaknya beradu argumen yang hanya berakhir membuatnya lelah berbicara.
“Harusnya kamu ngomongin gimana caranya biar keadaan Amara nggak memburuk. Bukannya malah berantem gini sama aku,” ujar wanita itu dengan nada bosan.
Kegan menatap datar ke arah Kanin. “Gimana caranya?”
“Aku telfon Galeo. Kita dateng ke rumahnya Amara. Tapi kamu jangan asal bicara, biar aku yang bicara sama dia,” jelas Kanin seraya meraih ponsel dan mulai menghubungi nomor adiknya. “Dan jangan pernah bahas hal ini di depannya Amara.”
Kegan hanya diam sembari memperhatikan Kanin yang saat ini sedang berbicara dengan Galeo lewat telfon. Satu hal yang baru Kegan temukan dalam kepribadian Kanin yang selama ini menurutnya selalu buruk adalah, bahwa wanita itu memiliki rasa peduli yang sangat tinggi untuk orang-orang di sekitarnya.
Kanin tidak akan segan-segan menunjukkan perhatiannya kepada orang yang menurut wanita itu berharga dalam hidupnya. Untuk Brata, Kanin rela datang ke rumah sakit meskipun dirinya bahkan tidak berani menginjakkan kaki di tempat itu. Dan untuk Amara, meskipun hubungan mereka tidak bisa dikatakan sangat dekat, Kanin masih sempat memikirkan keadaan gadis itu di tengah kesibukannya yang luar biasa padat.
Dan untuk semua itu, Kegan menemukan satu alasan mengapa pernikahannya dengan Kanin tidak terlalu buruk untuk dijalani.
--
Amara berdiam diri di kamarnya seorang diri. Setelah kemarin meminta Galeo meninggalkannya, gadis itu merasa bahwa keputusannya sangat salah tetapi dia juga tidak ingin meminta Galeo datang. Amara terlalu mementingkan harga dirinya sehingga tidak ingin menarik lagi kata-kata yang sudah dia lontarkan untuk Galeo.
Ketika Amara mengira bahwa dia akan benar-benar sendiri dan semakin terpuruk dengan keadaannya saat ini, bel rumahnya berbunyi beberapa kali. Gadis itu kemudian berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan lesu ke arah pintu rumah dan membukanya. Di depannya sekarang, Kegan dan Kanin berdiri dengan senyum yang menyambutnya.
Cepat-cepat Amara mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedikit lebih ceria daripada sebelumnya.
“Mas Kegan,” sapanya kepada Kegan. “Mbak Kanin.”
“Kamu nggak kerja, Ra?” tanya Kegan tanpa menghiraukan sapaan Amara beberapa saat lalu.
“Lagi cuti,” jawab Amara singkat. “Masuk dulu, Mas.”
Kegan dan Kanin kemudian masuk mengikuti langkah Amara menuju ruang tamu rumah itu. Amara mempersilakannya duduk setelahnya dan gadis itu segera berlalu menuju dapur. Sekarang, di sofa ruang tamu itu hanya ada Kanin dan Kegan yang masih saling tatap satu sama lain.
“Jangan ngomong macem-macem,” peringat Kanin setengah berbisik.
“What I supposed to say?” balas Kegan.
“Don’t say anything,” jawab Kanin cepat.
“Ke sini bawa undangan ya, Mbak?” Amara datang dari arah belakang sehingga mereka berdua berhenti berbicara.
Kanin dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi ramah ketika Amara datang dengan gelas berisi minuman yang diberikan untuknya dan juga Kegan. Wanita itu memperhatikan Amara dengan saksama dengan raut wajah ramah yang tidak terlihat mencurigakan sama sekali.
“Belum, nih, Ra. Tadi habis fitting baju jadi sekalian mampir ke sini,” balas Kanin yang dengan lihainya merangkai kebohongan. “Kamu tinggal sendiri di sini?”
Amara mengangguk singkat. “Iya, Mbak. Tapi kemarin Galeo dateng nemani aku,” jawab gadis itu.
“Galeo?” beo Kegan dengan tatapan penuh tanya ke arah Amara. “Ngapain dia ke sini?”
Air muka Amara seketika berubah mendengar pertanyaan Kegan. Hal tersebut tentu saja membuat Kanin menatap penuh peringatan ke arah Kegan yang ditanggapi laki-laki itu dengan anggukkan kepala singkat.
“There is something happened?” tanya Kegan ketika Amara tidak kunjung menjawab pertanyaannya sebelumnya.
Kanin yang duduk di sebelah Kegan langsung menyikut laki-laki itu untuk memberikan tanda agar Kegan tidak lanjut bertanya. Namun, Amara sudah lebih dulu menjawab pertanyaan Kegan sehingga keduanya sekarang fokus mendengarkan cerita gadis itu.
“Aku hampir dilecehin dan Galeo nyelametin aku,” ujar Amara dengan suara bergetar. “Kalau aja Galeo nggak dateng malam itu, aku nggak tau bakal gimana keadaanku sekarang.”
Dengan sigap Kanin langsung mengubah tempat duduknya menjadi di sebelah Amara. Wanita itu memeluk Amara tanpa mengucapkan satu patah kata pun agar gadis yang sekarang menangis dalam pelukannya tidak merasa terbebani.
Kegan memperhatikan setiap tindakan Kanin dan mulai merasa bahwa wanita itu memang benar-benar memiliki sisi lain yang tersembunyi selama ini. Kanin tidak bertindak menyebalkan atau keras kepala seperti ketika mereka bersama. Wanita itu juga tidak bersikap arogan dan hanya mementingkan dirinya sendiri yang selama ini selalu berhasil membuat Kegan kesal. Kali ini, Kanin menunjukkan kedewasaannya dan hal tersebut berhasil membuat Kegan tertegun selama beberapa waktu
“You will be okay, Ra. Everything is going to be okay,” bisik Kanin, masih berusaha menenangkan Amara dalam pelukannya.
Wanita muda itu mengangguk lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Kanin dan menatap ke arah wanita di depannya dengan tatapan cemas. Ada ketakutan serta kesedihan mendalam di kedua bola mata Amara yang terlihat sangat jelas lewat sorot matanya yang sendu.
“Aku minta Galeo pergi dari sini dua hari lalu,” ujar Amara parau. “Mungkin Galeo salah paham, tapi aku Cuma nggak pengen kelihatan lemah di depan dia.”
Kanin menganggukkan kepala, paham sepenuhnya dengan apa yang diucapkan oleh Amara bahkan tanpa dia minta. Gadis di depannya ini hanya sedang ketakutan dan Kanin sebisa mungkin menempatkan dirinya sebagai pihak pendengar yang bisa menjadi kenyamanan bagi Amara.
“Kamu tenang aja, ya? Galeo pasti dateng lagi buat jagain kamu,” ujar Kanin seraya mengusap pelan tangan Amara dengan senyum lembut di wajahnya.
Semua tindakan yang dilakukan oleh Kanin dan interkasi wanita itu dengan adik sepupunya benar-benar mengejutkan Kegan. Laki-laki itu tidak menyangka bahwa di balik sikap dingin dan keras kepala Kanin selama ini, ada satu sisi dari wanita itu yang terasa sangat hangat dan menyenangkan.
Kanin bisa menjadi pendengar yang sangat baik tanpa berniat untuk menghakimi lawan bicaranya. Wanita itu juga berusaha untuk memberikan ruang agar orang yang diajaknya bicara bisa merasa nyaman berada di dekatnya. Dan entah karena hal itu atau alasan lainnya, Kegan perlahan mulai memahami bahwa Kanin tidak seburuk yang dia bayangkan sebelum ini.
--