Keadaan Barata memburuk satu bulan sebelum pernikahan Kanin dan Kegan direncanakan. Laki-laki itu harus kembali dilarikan ke rumah sakit dan kali ini menjalani perawatan yang bahkan lebih intens daripada sebelumnya. Semua pihak keluarga Kegan, bahkan termasuk keluarga Kanin sangat panik dengan keadaan Barata yang hampir memasuki fase kritis.
Kegan datang ke butik Kanin siang itu ketika mendapat kabar dari keluarganya bahwa keadaan kakeknya semakin memburuk. Tanpa peduli bahwa mungkin saat ini hubungan mereka berdua tidak bisa dikatakan dekat untuk saling membutuhkan satu sama lain, Kegan tetap datang kepada Kanin karena satu-satunya yang dia butuhkan saat ini adalah wanita itu.
“Permisi,” ujar Kegan ketika dia memasuki butik dengan pencahayaan yang sangat nyaman itu.
Semua orang yang semula sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing seketika menolehkan kepala ke arah Kegan. Beberapa saat setelahnya, Naira berjalan mendekat ke arah laki-laki berpakaian rapi yang saat ini berdiri di depan pintu butik dengan tatapan canggung.
“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Naira dengan senyum sopan.
“Saya nyari Kanin,” jawab Kegan lugas. “Tunangannya Kanin.”
Tatapan Naira tampak terkejut. Sementara Emmy dan Biley di belakang sudah bersiap mengupi pembicaraan dua orang itu. namun, Kegan tidak mengucapkan apa-apa setelahnya dan hanya memandang lurus ke arah Naira dengan wajah tanpa ekspresi.
“Bisa saya ketemu Kanin?” tanya laki-laki itu ketika ucapannya sebelumnya tidak mendapat tanggapan.
“Saya antar,” balas Naira lalu mempersilakan Kegan untuk mengikutinya.
Kegan masuk ke ruangan pribadi Kanin yang terlihat elegan bahkan hanya dari tampilan luarnya saja. Laki-laki itu mengetuk pintu beberapa kali, hingga sebuah seruan yang mengatakan agar dia masuk terdengar nyaring. Kegan yakin seratus persen bahwa suara itu adalah suara milik Kanin.
Wanita yang sedang duduk memperhatikan rancangan pakaiannya itu terkesiap saat melihat Kegan masuk ke ruangannya. Tatapannya memperhatikan penampilan Kegan yang tampak lebih berantakan daripada beberapa hari ketika mereka bertemu terakhir kali. Jambang halus di wajah Kegan pun terlihat samar, seolah memperlihatkan bahwa dalam beberapa hari terakhir laki-laki itu tidak memiliki cukup waktu untuk mengurus dirinya sendiri.
“Kenapa?” tanya Kanin seraya berdiri mendekati Kegan. “Kakek gimana?”
“Makin parah,” jawab Kegan lalu melenggang dan duduk di sofa ruangan Kanin.
“Parah gimana?” cerca Kanin, yang sekarang berjalan mendekati Kegan dan duduk di sebelah laki-laki itu.
Kegan menggelengkan kepala dengan tatapan berubah ketakutan. Selama ini, membayangkan bahwa dia akan menghadapi keadaan seperti ini selalu menjadi hal paling Kegan takuti. Laki-laki itu tidak bisa berada dalam situasi dimana dirinya merasa sangat panik karena pikiran akan kehilangan salah satu orang paling berharga dalam hidupnya selalu menghantuinya.
“Udah seminggu tapi Kakek nggak ada perubahan,” ujar Kegan dengan pandangan putus asa ke arah Kanin. “Keluarga saya bahkan hampir nyerah sama perawatan Kakek.”
“Kakek nggak dioperasi lagi?” tanya Kanin pelan.
Kegan menggeleng kembali. “Keadaannya udah nggak memungkinkan.”
“Ke …,” panggil Kanin lalu menyentuh pelan bahu Kegan. “Everything is going to be okay.”
Tatapan Kegan perlahan mengarah kepada Kanin yang sekarang mengusap bahunya perlahan. Wanita itu berusaa menenangkannya dan hal tersebut cukup membuat Kegan merasa sedikit tenang. Tatapan lembut Kanin, yang selama ini bahkan tidak pernah dia lihat sama sekali, sekarang tampak sedang memperhatikannya dengan saksama.
“Saya paling takut kehilangan Kakek,” ujar Kegan lirih.
“No. Kakek nggak bakal pergi,” balas Kanin cepat. “Kakek bakal sembuh.”
Harapan bahwa kakeknya akan benar-benar sembuh sungguh sangat jauh dari bayangannya saat ini. Keadaan kakeknya yang mungkin sudah di ambang kematian adalah satu-satunya kenyataan yang bisa Kegan genggam kali ini. Semuanya tampak begitu buram di kepalanya sampai-sampai Kegan bahkan tidak tahu bahwa masih ada harapan sedikit saja untuk kakeknya membuka mata.
Dering ponsel Kegan menghancurkan situasi di antara mereka seketika. Laki-laki itu dengan cepat merogoh sakunya, lalu mengambil ponsel dan mengangkat panggilan. Sejenak, Kegan terdiam dengan kening mengernyit yang memperlihatkan dengan jelas raut wajah paniknya.
“Kakek sadar?” Kegan menahan nada suaranya agar tidak melengking ketika mengucapkan pertanyaan itu.
Di sebelahnya, Kanin masih terus memperhatikan Kegan yang saat ini masih berbicara dengan lawan bicara laki-laki itu di seberang telepon. Kanin tetap diam hingga beberapa saat kemudian Kegan sudah selesai menelepon dan mengarahkan pandangan sepenuhnya ke arah wanita di sebelahnya.
“Kakek sadar. Dia pengen kita datang,” kata Kegan seraya memperhatikan dengan saksama perubahan ekspresi di wajah Kanin. “Ke rumah sakit,” lanjutnya.
Wajah yang semula terlihat tenang bak air di permukaan yang dalam itu mendadak riak menjadi tidak karuan. Kanin terlihat panik ketika mendengar ucapan Kegan, terlebih dengan kosakata terakhir yang disebutkan laki-laki itu.
Bayangannya mengenai rumah sakit dan seluruh rasa takutnya terhadap tempat itu masih begitu nyata. Rasanya Kanin benar-benar tidak lagi ingin menginjakkan kakinya di sana terlebih saat ini keadaan Brata tidak bisa dikatakan baik untuk bisa kembali pulih. Ada kemungkinan terburuk berupa kematian yang membayangi Kanin hingga membuatnya takut untuk menyetujui ucapan Kegan beberapa saat lalu.
“Kamu bisa nggak datang. Biar saya yang jelaskan ke Kakek,” ujar Kegan ketika Kanin sama sekali tidak memberikan tanggapan atas ucapannya sebelumnya.
“Aku ikut,” sambar Kanin cepat, yang tidak hanya membuatnya tercengang, melainkan juga menimbulkan keterkejutan bagi Kegan.
“Are you sure?” tanya Kegan seraya menilik ekspresi Kanin.
Wanita itu menganggukkan kepala sekilas. Keputusannya saat ini mungkin akan membuatnya terjebak di dalam ketakutan yang kemungkinan besar tidak bisa dia kendalikan. Namun, Kanin sungguh tidak ingin melewatkan satu saja kesempatan untuk bertemu Brata dalam keadaan sadar. Kanin sudah terlnajur menyayangi Brata selayaknya dia menyayangi neneknya dulu sehingga wanita itu bahkan rela melakukan sesuatu yang kemungkinan akan membuatnya dalam bahaya.
“I’m okay. But incase something happening, please hold me.” Kanin menatap lekat ke arah Kegan.
Kegan memandang lurus ke arah Kanin yang sekarang terlihat berusaha untuk menariknya masuk ke dalam dunia wanita itu. perlahan, Kanin mengikis jarak yang sempat terbentang sangat jauh di antara mereka berdua. Kegan seolah dibawa masuk ke dalam dunia Kanin ketika wanita itu memintanya untuk menggenggamnya jika ada sesuatu yang buruk terjadi.
“I will be. You are safe with me.”
--
Kedua tangan Kanin bergetar ketika dia menginjakkan kaki di lobi utama rumah sakit. Jantungnya berdegub kian kencang seiring dengan langkahnya yang semakin mendekat menuju area dalam rumah sakit. Tidak bisa dipungkiri bahwa ketakutan serta rasa trauma itu kini mulai datang dan memenuhi perasaannya hingga Kanin bahkan bisa merasakan kedua kakinya melemas sempurna.
Di sebelahnya, Kegan tidak berhenti melirik ke arah Kanin untuk sekadar memastikan bahwa wanita itu tidak pingsan. Wajah Kanin pucat pasi sehingga Kegan cukup dibuat cemas dengan keadaan wanita di sebelahnya. Namun, Kegan sama sekali tidak bisa melakukan apa pun selain menatap ke arah Kanin beberapa kali untuk memastikan bahwa wanita itu masih mampu berjalan di sebelahnya.
“You okay?” tanya Kegan ketika mereka berdua berjalan melewati lorong rumah sakit.
Kanin menoleh ke arah Kegan lalu menggeleng singkat. Ketakutan itu mencengkramnya hingga rasanya Kanin kesulitan untuk bernapas. Keringat dingin membasahi separuh wajahnya hingga rambutnya bahkan ikut basah. Jantungnya bertalu sangat kencang, dan rasa takut itu sama sekali tidak melepaskannya barang sebentar saja.
“I’m afraid,” lirihnya pelan.
Selama mereka mengenal, Kegan sangat jarang melihat Kanin selemah saat ini. Wanita yang sekarang berjalan dengan kaki bergetar di sebelahnya ini selalu terlihat kuat dan tidak tersentuh. Bahkan ketika pertama kali mereka berkenalan, Kegan merasa bahwa aura yang dimiliki oleh Kanin terlalu kuat sampai berhasil membuatnya terintimidasi.
Namun, saat ini, wanita yang berjalan di sebelahnya tidak lebih dari seorang gadis ketakutan yang seakan sedang meminta perlindungan. Kanin terlihat lemah dan kecil. Tidak ada tatapan tajam atau ekspresi wajah dingin tidak tersentuh di wajah bak bangsawannya. Wanita di sebelahnya ini benar-benar definisi sempurna dari sebuah kelemahan semata.
Perlahan, seolah tersihir dengan sorot ketakutan yang ditampilkan oleh Kanin, tangan Kegan bergerak menggenggam tangan wanita di sebelahnya. Laki-laki itu menggenggam tangan Kanin yang bergetar hebat dengan dingin yang seakan ikut menjalarinya saat ini.
“It’s okay. Everything will be okay.” Kegan berujar dengan suara pelan.
Kanin melirik ke arah tangannya yang saat ini berada dalam genggaman hangat Kegan. Rasa takutnya masih sama besar, tetapi perlahan Kanin bisa menemukan ruang untuknya bernapas. Genggaman Kegan berhasil membuat Kanin sedikit tenang sampai mereka berdua tiba di depan ruang rawat kelas atas yang ditempati oleh Brata.
Di lorong ruang tunggu itu, anggota keluarga Kegan sedang berdiam diri dengan raut cemas di wajah mereka masing-masing. Paman dan bibi Kegan yang jumlahnya tujuh orang duduk saling berhadapan, dan beberapa di antaranya berdiri dengan tatapan cemas luar biasa. Kegan bisa melihat bagaimana saat ini seluruh anggota keluarga besarnya sangat-sangat ketakutan.
“Siapa di dalam, Om?” tanya Kegan kepada salah satu pamannya.
“Ibu sama ayahmu. Tadi Kakek sadar sebentar jadi mereka berdua yang masuk,” jawab laki-laki paruh baya dengan garis wajah yang hampir serupa dengan ayah Kegan.
Kegan menganggukkan kepalanya sekilas lalu kembali menoleh ke arah Kanin di sebelahnya. Wanita itu masih menggenggam tangannya, sementara tatapan Kanin terlihat lurus ke depan dengan wajah cemas dan takut bercampur jadi satu.
“Shall we now?” tanya Kegan seraya melirik ke arah pintu ruangan di depannya. “Kalau kamu belum siap, kita diam di sini dulu sebentar.”
Kanin menggelengkan kepala tetapi juga mengeratkan genggamannya pada tangan Kegan. Wanita itu merasa sedikit lebih berani jika dia masih berada di dekat Kegan dengan tangannya yang juga digenggam oleh laki-laki itu.
“We better go now,” balas Kanin.
Saat ini, Kanin berusaha untuk mengenyahkan semua rasa takutnya yang sama sekali tidak akan membantu. Wanita itu tidak ingin menambah ketegangan suasana yang hanya akan membuat semua orang semakin panik dengan keadaannya. Sehingga bahkan ketika rasa takut kini menjalari dirinya semakin besar, Kanin berusaha sebisa mungkin untuk mengendalikan dirinya dan tetap bersama Kegan masuk ke ruang rawat itu.