Waktu menunjukkan hampir jam dua dini hari ketika Kanin dan Agam masih duduk bersebelahan di sofa butik. Kedua manusia yang sama sama bungkam sejak pelukan mereka yang kali terakhir membuat tangis Kanin pecah itu tidak memedulikan seberapa larutnya hari. Mereka berdua hanya diam dengan pikiran yang entah mengarah ke mana sekarang.
Agam tidak banyak bertanya tentang apa yang terjadi kepada Kanin dan membiarkan wanita itu hanya diam di tempatnya. Meskipun banyak sekali pertanyaan yang ingin ia gumamkan di hadapan wanita yang masih menguasi separuh perasaannya itu, Agam lebih memilih diam dan menunggu Kanin membuka ceritanya.
“Kamu laper?” Tiba tiba saja pertanyaan itu terlontar dari Agam.
Kanin segera menoleh lalu tersenyum tipis ke arah laki laki di sebelahnya. “Kebiasaan kamu nggak beru