Kedatangan Nadeline Razmi ke butiknya siang itu benar-benar tidak terduga. Bintang film terkenal itu datang dengan langkah anggunnya yang seperti menyihir siapa saja yang menatapnya. Setelah melepas jaket yang dia pakai, Nadeline menatap sepintas ke tempat yang terlihat tenang sekaligus elegan itu.
Naira yang pertama kali menyadari bahwa seorang bintang film ternama datang ke tempatnya bekerja dengan sigap menghampiri wanita itu. tatapan Naira menilik penampilan Nadeline yang terlihat begitu memukai sekaligus mewah, seolah wanita itu baru saja datang dari tempat syuting.
“Selamat datang. Apa ada yang bisa saya bantu?” Naira berdiri di depan Nadeline dengan senyum ramah miliknya.
Nadeline tidak menjawab dan memperhatikan penampilan Naira dari atas sampai bawah. Dress berpotongan sederhana yang memperlihatkan dengan jelas bentuk gadis muda itu berpadu dengan rambutnya yang tergerai menyentuh bahu. Nadeline bisa mencium bau parfum mahal yang menguar begitu saja ketika gadis yang dia yakini sebagai salah seorang pegawai di tempat itu datang menghampirinya.
Sementara Nadeline masih terus memperhatikan Naira dengan pandangan menilai, di belakang tepatnya di antara gantungan baju-baju yang menjuntai, Biley dan Emmy sedang menatap penasaran ke arah artis ternama itu. Mereka kemudian saling tatap dengan sebelah alis terangkat.
“Ini yang katanya menang awards kemarin?” tanya Emmy setengah berbisik ke telinga Biley.
Laki-laki kemayu itu mengedikkan bahunya tanpa mau peduli. “Ngapain deseu ke sini?”
“Ini benar butiknya Kanina? Salasar butiuqe?” Nadeline bertanya dengan suara khasnya yang terdengar serak basah. “Aku ada perlu dengan dia.”
Naira yang masih berdiri di depan Nadeline sedikit mengernyit bingung saat mendengar ucapan wanita di depannya. Seingatnya, Nadeline sama sekali bukan klien lama Kanin sampai-sampai wanita itu ingin bertemu dengan atasannya. Ataukah mungkin Nadeline ingin bertemu dengan Kanin untuk memesan setelan baju atau dress dari butik ini?
“Kanina sedang keluar, Kak. Kalau mau buat pesanan bisa sama saya dulu,” ujar Naira yang masih berusaha mempertahankan kesan ramahnya.
Tatapan sinis seketika dia dapatkan dari Nadeline yang kini menatap tidak suka ke arahnya. Menurut Nadeline, wanita muda ini terlalu banyak bicara dan ikut campur dengan masalahnya. Dan Nadeline tidak pernah suka dengan tipe orang seperti itu sehingga dia secara tidak langsung memberikan respons tidak suka terhadap Naira.
Biley dan Emmy yang masih mengamati interaksi antara Naira dengan Nadeline seketika berjengit tidak suka melihat respons yang diberikan oleh artis terkenal itu. citranya di televisi benar-benar keterlaluan dalam menipu semua orang karen pada kenyataannya, semua sikap Nadeline di televisi sama sekali tidak sesuai dengan wanita itu di kehidupan nyata.
Nadeline yang diberitakan oleh semua acara hiburan itu adalah sosok yang begitu lemah lembut dengan sopan santun yang luar biasa. Wanita itu secara keseluruhan yang ditampilkan di televisi adalah sosok wanita sempurna yang akan diidam-idamkan oleh semua orang.
“Seoarang Nadeline Razmi datang ke butik kita. Sebuah kehormatan, bukan?”
Semua orang yang ada di tempat itu seketika mengalihkan perhatian mereka ke arah sumber suara, termasuk Nadeline. Seorang wanita berusia sekitar akhir dua puluhan datang dengan langkah tajam yang mampu memukau setiap orang dengan terpana. Kanin datang dengan penampilan yang terlihat begitu anggun dan menawan. Sebuah dress berpotongan ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya secara sempurna menempel di tubuhnya dengan begitu indah. Seolah pakaian itu memang diperuntukan hanya untuk kanin.
Wanita itu berjalan anggun mendekat ke arah Nadeline yang kini memperhatikan penampilanya dari atas sampai bawah.
“Saya Kanina Salasar. Senang bertemu dengan Anda,” ujar Kanin seraya mengarahkan tangannya ke arah Nadeline.
Tatapan tajam Nadeline sekarang mengarah kepada Kanin yang bersikap selayaknya mereka sama sekali tidak memiliki masalah. Kanin bersikap begitu santai dan terlalu profesional seolah dirinya adalah klien yang akan memesan pakaian dari butik wanita itu. wanita yang terlihat begitu menawan dalam balutan lipstik merah merona itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa di antara mereka ada hubungan yang lebih rumit daripada sekadar ini.
“Aku perlu bicara sama kamu,” ujar Nadeline tanpa berusaha menunjukkan keramahannya atau sopan santun yang biasa dia tunjukkan di depan awak media.
Kanin menatap sekelilingnya dan menyadari beberapa pegawainya sekarang sedang menatap penasaran ke arahnya dan Nadeline. Demi mengurangi kerusuhan dan berbagai macam spekulasi, Kanin memilih untuk membawa Nadeline ke ruangannya.
“Ikut saya,” ujar wanita itu seraya berjalan mendahului Nadeline menuju ruangan pribadinya.
Sementara itu, Biley dan Emmy masih menatap tidak percaya ke arah pintu ruangan Kanin yang sudah tertutup sepenuhnya. Dua orang itu sama-sama tidak menyangka bahwa si artis terkenal yang selama ini dikenal sebagai sosok sempurna tanpa cela ternyata memiliki kepribadian yang sungguh bertolak belakang.
“Gue nggak nyangka aslinya kayak mak lampir!” cetus Emmy dengan suara tertahan.
“Asli! Merinding!” sambar Biley seraya bergidik ngeri. “Kira-kira mereka ngomongin apa? Eike tebak laki rebutan laki.”
Naira berjalan mendekat ke arah dua rekannya itu lalu memukul pelan bahu Biley. “Jangan ngomong sembarangan. Nanti dia denger,” peringatnya.
Biley memutar bola mata malas mendengar ucapan Naira. Sementara itu, Emmy mengernyitkan dahinya sekilas, terlihat sedang berpikir.
“Mungkin juga. Iya, nggak sih?” tanya gadis itu tiba-tiba. “Mbak Kanin kan bilang mau nikah sama siapa itu … yang pengusaha itu, gue lupa siapa namanya.”
“Kegan?” sambar Naira.
“Iya! Kegan!” seru Emmy menatap antusias ke arah Naira. “Mungkin nggak, kalau Nadeline ini pacar lamanya Kegan terus nggak terima Mbak Kanin nikah sama Kegan itu?”
Naira dan Biley tampak berpikir mengenai tebakan Emmy. Jika dipikirkan lagi, memang terasa masuk akal bagi keduanya. Mulai dari Kanin yang mengatakan akan menikah secara tiba-tiba lalu Nadeline datang tanpa janji sebelumnya ke butik mereka. Semua itu tidak akan mungkin terjadi jika tidak ada hubungan yang menyambungkan mereka berdua.
“Ah! Udah deh. Mending selesaiin ini dulu,” cetus Naira yang tidak mau memperpanjang tebakan dan rasa penasaran Emmy lebih jauh. “Kita bakal dihajar Mbak Kanin kalau sampai lewat deadline.”
Biley dan Emmy mengedikkan bahu mereka lalu kembali ke pekerjaan masing-masing. Emmy yang masih penasaran dengan alasan mengapa Nadeline tiba-tiba datang ke butik mereka masih belum bisa melepaskan pandangan dari pintu ruangan Kanin. Sementara Biley, laki-laki itu mendekati Emmy dan berbisik di telinga gadis itu.
“You bagus juga analisisnya,” bisik Biley sepelan mungkin, takut terdengar oleh Naira. “Eike penasaran banget, cuy!”
“Sama. Gue juga penasaran banget,” balas Emmy yang juga berbisik.
“Selesaikan pekerjaan atau aku laporin kalian ke Mbak Kanin.” Peringatan itu mampu membuat Emmy dan Biley berpisah, lalu kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.
--
Kanin mempersilakan Nadeline duduk lalu mengambil dua cangkir dan menyeduh kopi. Sementara itu, Nadeline memperhatikan bagaimana ruangan Kanin yang tampak sangat minimalis tetapi tetap memberikan kesan elegan nan cantik. Nadeline belum membuka suaranya sampai ketika Kanin datang dan memberikannya secangkir kopi.
“Aku nggak tahu kamu minum kopi atau enggak. But I think one glass coffe would not a problem for you,” ujar Kanin dengan senyum cantiknya yang tampak menawan.
Nadeline balas tersenyum, tetapi dengan tarikan bibir sinis sebelum dia menyesap kopi yang diberikan oleh Kanin beberapa saat lalu. Wanita itu masih belum berbicara bahkan ketika Kanin sudah duduk di depannya dengan tatapan yang terus mengintimidasinya.
“It’s not bad,” ujar Nadeline seraya meletakkan cangkir kopi yang sudah selesai dia nikmati.
Kanin tersenyum sopan mendengar ucapan itu. telinganya menangkap suara merdu Nadeline yang selama ini hanya dia dengar lewat televisi atau pemberitaan di internet. Suara Nadeline ternyata jauh lebih berat daripada apa yang biasanya wanita itu tampilkan ketika menjadi seorang aktris yang cenderung lembut dan nyaring.
“Aku sebenarnya tau kamu ke sini untuk apa,” ujar Kanin yang tidak membiarkan Nadeline mengutarakan maksudnya terlebih dulu. “This is about Kegan. Am I right?”
Nadeline tertawa kecil mendengar tebakan yang langsung ditembakkan oleh Kanin kepadanya. Wanita itu menyilangkan kakinya lalu menatap tegas ke arah Kanin yang sama sekali tidak mengubah ekspresi tenangnya. Kanin yang duduk di depannya hanya memasang wajah tenang seolah dia sama sekali tidak terganggu dengan keberadaan Nadeline di hadapannya.
“You know it,” jawab Nadeline lalu tersenyum sinis. “Aku udah dengar alasan Kegan tentang kenapa dia nikah sama kamu. But I also want to hear it from you,” lanjutnya.
“We have the same reason,” balas Kanin cepat. “Apa yang diberi tau Kegan, itu juga menjadi alasanku.”
“Perjanjian keluarga?” Ada nada skeptis ketika Nadeline melontarkan pertanyaan itu.
Kanin mengangkat sebelah alisnya ketika mendengar nada suara Nadeline yang seperti tengah merendahkan. Wanita itu tahu bahwa Nadeline sangat tidak terima dengan pernikahan ini dan Kanin pun merasa bersalah karena harus menghancurkan hubungan sepasang kekasih. Tetapi dalam pikirannya, merendahkan suatu perjanjian keluarga yang sudah berlangsung selama sekian tahun bukanlah sikap yang tepat untuk menunjukkan kekecewaan.
“Apa masalahnya kalau itu memang murni perjanjian keluarga?” tanya Kanin lalu menautkan kesepuluh jemari tangannya di atas meja.
“Desainer mode ternama yang katanya punya pikiran modern ternyata masih percaya sama trdisi kuno seperti itu. I’m a bit surprised about it.” Nadeline tersenyum dengan tatapan tajam ke arah Kanin.
Lewat tatapan itu, Kanin tahu bahwa saat ini Nadeline berusaha memprovokasinya. Nadeline pandai berakting dan Kanin bisa membaca setiap ekspresi yang wanita itu tunjukkan di depannya. Saat ini, Nadeline hanya berusaha membuatnya berpikir bahwa keputusannya untuk menikah dengan Kegan adalah hal yang salah dan tidak sesuai dengan citra dirinya selama ini. Namun hal tersebut tentu saja tidak cukup menggoyahkan Kanin yang bahkan sama sekali tidak peduli dengan pandangan Nadeline terhadap pemikirannya.
“Aku rasa nggak ada yang salah tentang itu. Selama Kegan juga berpikir yang sama, nggak ada masalah sama sekali dengan tradisi kuno keluarga kami,” balas Kanin yang diakhiri dengan senyum tipis.
Kedua tangan Nadeline meremat satu sama lain dan tatapan Kanin langsung mengarah kepadanya. Kanin tersenyum tipis, lalu kembali menatap wajah Nadeline yang sampai saat ini masih terlihat sangat terkendali, berbeda dengan gestur tubuhnya yang lain yang mulai menunjukkan bahwa dia terganggu.
Nadeline menurunkan salah satu kakinya lalu menatap lurus ke arah Kanin. Tidak ada lagi ekspresi ramah yang berusaha dia tunjukkan hanya untuk mengimbangi raut wajah tenang yang ditunjukkan oleh Kanin kepadanya. Saat ini, wajahnya terlihat berang dengan tatapan tajam yang sarat akan kemarahan.
“Apa jadinya publik tau kalau desainer yang ternama ini ternyata ngerebut pacar orang bahkan sampai menikah?” Nadeline berbicara dengan tenang.
“Kayaknya itu nggak bakal berdampak banyak ke karirku,” balas Kanin lalu tersenyum penuh perhitungan. “Sebaliknya, reputasi kamu bakal hancur kalau sampai orang-orang tahu kamu ngemis sama seseorang yang udah membuang kamu.”
Kemarahan Nadeline memuncak hingga tanpa sadar wanita itu meraih cangkir kopi yang masih berisi setengah lalu melemparkan isinya ke wajah Kanin. Beruntunglah Kanin yang sudah memikirkan skenario ini sejak Nadeline datang ke kantornya sehingga ketika dia menyiapkan kopi, Kanin mengatur suhunya agar tidak terlalu panas. Wanita itu hanya mengerjap beberapa kali sebelum membuka mata dan tersenyum sinis ke arah Nadeline.
Nadeline terlihat begitu emosi di depannya. Napas wanita itu naik turun, menandakan bahwa saat ini emosi sedang menguasai sebagian dirinya. Sedangkan Kanin, meskipun tumpahan kopi itu cukup membuat matanya perih, dirinya tetap berlagak tenang dengan senyum elegannya.
“Ternyata Nadeline Razmi masih suka melakukan cara murahan gini, ya,” cetusnya yang sukses membuat Nadeline semakin marah.
Wanita dengan setelan dress panjang selutut itu berdiri dengan napas yang masih terengah. Tatapan tajamnya mengarah kepada Kanin sebelum dia beranjak dari hadapan wanita itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sepeninggal Nadeline yang ditandai dengan tertutupnya pintu ruangan pribadinya dengan begitu keras, Kanin mengambil selembar tisu lalu mengusap wajahnya kasar. Kesabarannya sudah begitu menipis di detik-detik terakhir Nadeline ada di sana tetapi Kanin sukses menahan amarahnya.
Kanin menghela napas panjang lalu beranjak dari kursi kerjanya. Wanita itu meraih handuk kecil, lalu mengusap kasar wajah dan rambutnya yang basah karena kopi yang ditumpahkan Nadeline kepadanya. Kanin tahu bahwa setelah ini, akan ada berbagai kejadian dramatis sejenis ini selama dia masih berhubungan dengan Kegan dan Nadeline masih terobsesi dengan laki-laki itu.
--