Kegan sangat menghindari berbagai macam masalah murahan seperti ini. Laki-laki itu berusaha untuk hidup dengan tenang tanpa mencari masalah dengan orang lain yang dapat mempengaruhi hari-harinya. Namun, kehidupan tenang seperti itu rasanya harus Kegan buang jauh-jauh semenjak dia memutuskan berhubungan dengan seorang Kanina Salasar.
Wanita itu, entah mengapa selalu bisa menimbulkan masalah bahkan ketika dia tidak berada di dekat Kegan. Sejak kehadiran Kanin dalam hidupnya dan segala hal mengenai wanita itu mulai memenuhi hari-harinya, ada begitu banyak hal yang terjadi dalam hidup Kegan. Seperti sekarang, dia terpaksa harus berurusan dengan Agam Sangkara, mantan pacar wanita gila yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
“Saya senang karena Anda mau datang sesuai undangan saya,” ujar Agam seraya mempersilakan Kegan untuk duduk di depannya.
Kegan tidak memasang ekspresi apa pun di wajahnya meskipun saat ini dia sedang kesal karena Agam mengganggu waktu istirahatnya. Beberapa waktu lalu, sebuah pesan masuk ke ponselnya yang menerangkan bahwa Agam ingin bertemu dengannya di salah satu restauran yang cukup dekat dengan kantornya. Namun tetap saja, Kegan yang sangat menghargai jam istirahat untuk menenangkan dirinya sendiri merasa sangat terganggu dengan permintaan Agam.
“Sebentar lagi jam masuk kantor. Saya harap Anda memang punya sesuatu penting untuk dibicarakan,” tegas Kegan dengan tatapan lurus ke arah Agam.
“Tentu ada,” balas Agam dengan senyum miring di wajahnya. “Ini tentang pacar saya yang tiba-tiba akan menikah dengan Anda.”
Kegan sudah tahu bahwa pertemuan ini akan berujung membicarakan masalah Kanin. Tidak ada kepentingan lain dari Agam untuk repot-repot datang menemuinya padahal Kegan yakin pekerjaan laki-laki itu tidak lebih sedikit daripada dirinya selain untuk membicarakan Kanin.
“Kanin yang ingin menikah dengan saya,” ujar Kegan lalu menegakkan tubuhnya ke arah Agam. “Dan saya hanya mengikuti apa yang pacar Anda inginkan.”
Kedua tangan Agam terkepal erat di sisi tubuhnya saat dia mendengar ucapan Kegan. Kemarahan menguasai hatinya ketika dia sadar bahwa laki-laki yang sekarang dia hadapi selayaknya bom waktu yang akan siap meledak kapan saja di balik sikap tenang yang ditunjukkan Kegan. Laki-laki itu berbahaya, dan lewat sepengamatan Agam dan semua informasi yang dia kumpulkan mengenai laki-laki di depannya, Kegan Bratadikara bukanlah seseorang yang mudah ditaklukkan.
“Bukankah Anda berhak untuk menolak pernikahan itu jika di antara kalian sama sekali tidak ada perasaan?” tanya Agam yang masih berusaha mengendalikan emosinya yang naik ke ubun-ubun. “Dan setahu saya, Pak Kegan saat ini juga sudah memiliki pasangan, bukan?”
Giliran emosi Kegan yang saat ini dipermainkan oleh ucapan Agam. Namun laki-laki itu terlalu pandai untuk mengendalikan emosinya sehingga Kegan terlihat sangat tenang bahkan ketika perasaannya terganggu dengan kata-kata yang diucapkan oleh Agam. Raut wajahnya terlihat tenang, seperti air di permukaan yang sama sekali tidak terganggu apa pun di sekitarnya.
“Saya sudah pernah menolak,” jawab laki-laki itu dengan suara tenang. “Tapi mantan pacar Anda bersikeras untuk menikah dengan saya. Mungkin dia berpikir saya lebih hebat dari Anda dan keuntungannya jauh lebih banyak jika menikah dengan saya.”
“You called me here just to make me hear this really not important things?” Suara seorang wanita seketika membuat Kegan menoleh.
“I don’t think you will come here,” balas Agam yang saat ini menatap sepenuhnya ke arah Kanin.
Wanita yang tidak lain adalah Kanin itu menatap bengis ke arah Agam. Ketika laki-laki itu menghubunginya untuk datang, Kanin tidak berpikir bahwa Agam sengaja mengajak Kegan dan dirinya untuk bertemu. Tidak hanya itu, Kanin sama sekali tidak menyangka bahwa ketika dia datang, yang didengarnya adalah kata-kata pedas dari Kegan.
Sementara Kanin masih berdiri dengan tatapan berang mengarah kepada Agam, Kegan hanya mengembuskan napas kecil melihat bagaimana pasangan itu akan bertengkar. Dia lantas berdiri saat menyadari bahwa tidak ada gunanya dia berada di antara ketegangan sepasang mantan kekasih yang bisa-bisa membuat dirinya ikut terseret masalah yang tidak seharusnya dia terima.
“This is not how you solve a problem, Gam,” ujar Kanin dengan nada datar. “Kamu nggak pernah nyelesaiin masalah pakai acara bohong begini.”
Tepat ketika Kegan hendak berjalan mendahului tubuhnya, Kanin sudah lebih dulu meraih tangan laki-laki itu sehingga membuat Kegan berhenti. Alisnya naik sebelah dan tatapannya mengarah kepada wajah Kanin yang saat ini masih menatap Agam yang duduk di depan mereka.
“So tell me how to solve this problem, Kanin? Do you have any suggestion?” tanya Agam dengan senyum sinis. “You even don’t know what you have did.”
“I do. I know what I did,” sambar Kanin seraya mengeratkan pegangannya pada tangan Kegan. “And this is none of your bussiness to setting what should I am doing. You don’t have that permission.”
Tanpa menunggu jawaban yang akan Agam berikan, Kanin sudah menarik tangan Kegan untuk pergi dari restaurant itu. Wajahnya terlihat pucat pasi ketika meninggalkan Agam yang sekarang terlihat menahan emosi karena menyaksikan bagaimana Kanin yang membawa Kegan keluar seraya menggenggam tangan laki-laki itu.
Ketika Kanin membawanya keluar dengan penuh emosi, Kegan hanya mengikuti langkah kaki wanita itu tanpa berniat melepaskan genggaman tangan mereka. Dibiarkannya Kanin menggenggam tangannya hingga mereka sampai di basement.
“Sorry for make a problem to you,” ujar Kanin tanpa menatap wajah Kegan.
Kegan hanya menatap datar ke arah Kanin tanpa merespons ucapan wanita itu. dia terlalu lelah untuk menanggapi ucapan Kanin dan segala hal yang terasa tidak masuk akal untuk terjadi. Jujur saja, Agam yang tiba-tiba memintanya untuk bertemu hanya karena hal tidak penting sangat membuatnya kesal.
“Saya mau ke kantor. Just talk to your ex if I don’t want to bothered by him anymore,” ujar Kegan setelah beberapa saat terdiam.
“You ex girlfriend did the same thing,” balas Kanin yang akhirnya mengangkat pandangannya ke arah Kegan. “Nade dateng ke butikku tadi pagi. She is mad.”
“Of course. As she should be,” tanggap Kegan dengan sebelah alis naik. “Memang apa yang kamu harapkan sama reaksi Nade? She will act fine infront you or something like that?”
Kanin mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan mata nyalang ke arah Kegan. Wanita itu hampir saja melupakan bahwa hubungan mereka memang tidak baik sama sekali sehingga tidak akan ada kemungkinan bahwa Kegan akan lebih membelanya daripada Nadeline. Bagaimana pun juga, mereka adalah dua orang saling benci pada awalnya.
“Whatever to you,” sinis Kanin. “But I think you should know if she is bothering me too.”
Setelah itu, Kanin beranjak dari hadapan Kegan tanpa mengatakan apa pun. Wanita itu masuk ke mobilnya lalu melaju meninggalkan Kegan yang saat ini mengembuskan napas berat. Hubungannya dengan Kanin dan segala hal yang terkait di dalamnya selalu berhasil membuat Kegan merasa lelah.
--
Berbeda dengan kakaknya yang dengan mudah mendapatkan jalinan cerita dengan salah satu anggota keluarga Dikara, Galeo harus melalui berbagai macam rintangan untuk memenangkan salah satu putri keluarga terkenal itu. Sejak mereka mengenal dari kecil, Galeo sudah menaruh perhatian kepada gadis kecil yang terlihat sangat lembut serta berkepribadian menawan. Gadis kecil itu adalah Amara, yang sejak pertama kali sudah menarik perhatian Galeo sedemikian dalamnya.
Amara memiliki kepribadian menarik sehingga Galeo bahkan tidak peduli sudah seberapa sering gadis itu menolaknya. Galeo sempat menyerah beberapa tahun lalu, sampai pagi tadi dia bertemu dengan Amara dan mengetahui bahwa gadis itu belum memiliki pasangan, niatnya untuk mendekati Amara semakin gencar.
Galeo berdiri di depan gerbang sebuah sekolah TK untuk menunggu Amara keluar. Dibanding dengan anggota keluarga Dikara yang lain, Amara memang sangat sederhana sehingga gadis itu lebih memilih untuk menjadi guru TK daripada meneruskan perusahaan keluarganya yang menurutnya bikin pusing.
“Amara!” teriak Galeo seraya melambaikan tangannya ke arah Amara.
Gadis berambut panjang tergerai itu segera menolehkan kepala saat mendengar seseorang memanggilnya. Senyumnya terangkat melihat Galeo lalu berjalan mendekat ke arah laki-laki itu.
“Kamu kenapa bisa di sini?” tanya Amara saat dia sudah berdiri di depan Galeo.
“Tadi kebetulan lewat terus tau kamu kerja di sini,” jawab Galeo. “Udah makan? Mau makan bareng, nggak?”
Amara terlihat menimang beberapa saat sebelum dia mengangguk singkat. “Boleh. Kamu tau tempat bagus?”
Galeo mengangguk antusias lalu membukkan pintu untuk Amara. Tangannya dengan cekatan menyangga bagian atas pintu mobilnya ketika Amara masuk. Hal kecil itu tentu saja membuat perasaan Amara menghangat meskipun dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menunjukkan ekspresi senangnya.
Setelah memastikan bahwa Amara sudah duduk dengan benar di sebelahnya, Galeo langsung duduk di kursi kemudi. Laki-laki itu menoleh ke arah gadis di sebelahnya lalu tersenyum kecil melihat sabuk pengaman Amara yang tidak terpakai. Spontan saja Galeo bergerak memasangkan seatbelt itu kepada Amara sehingga posisinya dengan gadis itu menjadi sangat dekat.
“Seatbelt, Ra. Kebiasaan,” ujar Galeo lalu menjauhkan tubuhnya dari Amara.
Pipi Amara memanas dengan degup jantungnya yang bertalu kencang saat mendapat perlakuan selembut itu dari Galeo. Laki-laki di sebelahnya ini memang selalu tahu bagaimana cara untuk membuatnya terkesima dengan setiap tindakan gentle-nya sebagai seorang laki-laki. Dan untuk itu, Amara sebisa mungkin mengendalikan perasaannya agar tidak membuncah terlalu dalam untuk Galeo demi ketenangannya sendiri.
Mereka bisa saja bersama sejak lama jika Amara tidak membentangkan jarak itu. jika Amara mau sedikit membuka hatinya untuk Galeo dan memberikan laki-laki itu ruang untuk menunjukkan ketulusannya, mereka mungkin akan menjadi sepasang kekasih mendahului hubungan Kegan dan Kanin.
Namun, ada ketakutan besar dalam diri Amara yang membuatnya selalu ingin menghindar dari Galeo. Gadis itu juga menyukai Galeo sejak lama, tapi berbagai pertimbangan yang dibuatnya sendiri mengharuskan Amara untuk menjaga jarak seaman mungkin agar tidak terlanjur terjebak dengan laki-laki sempurna di sebelahnya.
Amara takut merasakan sakit, dan dekat dengan Galeo berarti harus siap dengan segala konsekuensi rasa sakit itu kedepannya.
--