Kanin masuk ke rumahnya dengan wajah datar yang tampak lelah. Wanita itu memilih pulang setela pertengakaran kecilnya dengan Kegan yang seketika menguras emosinya begitu saja. Kanin tidak ingin menambah masalah karena harus bekerja dalam perasaan buruk seperti ini sehingga dia memutuskan untuk pulang tanpa kembali ke tempatnya bekerja.
Namun, ketika dia sampai di ruang tamu rumahnya, suasana hati Kanin semakin memburuk. Di sana, Kegan duduk bersama dengan kedua orangtuanya serta ibu dari laki-laki itu yang seketika membuat Kanin mengernyitkan dahi tidak suka. beberapa saat sebelum pulang, Kanin memang menyempatkan diri untuk makan di salah satu restauran sekaligus menenangkan hatinya sehingga setelah satu jam bertemu dengan Kegan, dia baru pulang.
“Oh, Kanin!” seru Sarah dengan senyum lebar menyambut kedatangan putrinya.
Semua orang di sana termasuk Kegan dan Anelis ikut menoleh ke arah Kanin. Anelis tersenyum ramah kepadanya sehingga ditanggapi Kanin dengan anggukkan kepala serta senyum yang terlihat canggung. Sementara itu, Kegan hanya memandangnya tanpa ekspresi yang sebenarnya sama sekali tidak ingin Kanin pedulikan.
“Tumben kamu udah pulang,” ujar Sarah lalu menarik tangan Kanin dan membawanya ikut duduk berkumpul dengan ayahnya, Kegan, dan Anelis.
“Tadi ada masalah dikit,” jawab Kanin seraya melirik sekilas ke arah Kegan. “Tante,” sapanya kepada Anelis kemudian.
“Tante lagi bicarakan masalah pernikahan sama orangtua kamu. Nggak masalah, kan?” balas Anelis dengan senyum yang tampak elegan.
Kanin tersenyum tipis lalu mengangguk singkat. “Nggak apa, Tante. Silakan lanjutin ngobrolnya, aku ke atas dulu.”
“Ajak Kegan sekalian, Nin,” sambar Sarah ketika Kanin hendak berdiri.
Wanita itu kontan menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Kemudian, tatapannya mengarah kepada Kegan yang terlihat tidak peduli dengan ucapan Sarah. Laki-laki itu tetap terlihat tenang dengan tatapan ke depan dan wajah datarnya yang sudah sangat Kanin hafal.
“Ayo, Ke.” Setelah berbagai pertentangan dalam dirinya, Kanin akhirnya berujar dengan nada terkendali.
Kegan mendongak lalu menatap sekilas ke arah Kanin. Ketika tatapannya kembali turun, dia menemukan Anelis yang sedang menatapnya penuh peringatan. sehingga mau tidak mau, Kegan pun beranjak dan mengikuti langkah Kanin dari belakang.
Dua orang itu berjalan menuju salah salah satu bagian rumah Kanin yang terlihat jauh dari ruang tamu tempat orangtua mereka sedang berbicara. Kanin sengaja memilih sisi kolam berenang rumahnya untuk dirinya dan Kegan karena dia tidak ingin orangtuanya maupun ibu Kegan mengawasinya yang hanya akan membuat Kanin tidak bisa bebas bertindak di hadapan Kegan.
“I’m sorry for the last time,” cetus Kegan ketika mereka berdua sudah duduk di kursi dekat kolam berenang itu.
Kanin seketika menoleh ketika mendengar kalimat itu dari Kegan. Ditatapnya laki-laki yang sekarang duduk di sebelahnya dalam kurun waktu cukup lama. Sebenarnya Kanin tidak ingin meladeni ucapan Kegan dan menganggapnya angin lalu semata, tetapi entah kenapa dia malah ingin memperpanjang pembahasan ini dengan perasaan menggebu di dalam hatinya.
“Buat yang mana?” tanya wanita itu kemudian
“Buat Nade,” jawab Kegan spontan.
Tatapan mata Kanin menajam ketika dia mendengar jawaban itu dari Kegan. Kanin kira Kegan akan meminta maaf atas tindakannya terhadap Kanin yang cukup mengecewakan. Tetapi ternyata laki-laki itu meminta maaf untuk perbuatan kekasihnya yang mungkin sebenarnya tidak terlalu Kanin pedulikan.
Tapi bukankah memang begitu seharusnya? Kegan melindungi reputasi Nadeline, wanita yang laki-laki itu cintai.
“No mind,” jawab Kanin singkat. “Dan sorry juga buat sikapnya Agam. He just too mad for this situation,” lanjutnya.
“They both are too mad,” ujar Kegan dengan helaan napas panjang.
“And we can’t doing anything for them,” balas Kanin.
“Kenapa nggak kita batalkan aja mumpung semuanya belum mulai?” Kegan tiba-tiba berujar yang seketika membuat Kanin mengernyitkan dahi.
Kanin tahu bahwa Kegan memang masih mencintai Nadeline bahkan sejak terakhir kali dua manusia itu memutuskan hubungan satu sama lain. Tapi untuk mengambil keputusan seperti membatalkan pernikahan yang terdengar sangat egois, menurut Kanin ini bukan sesuatu yang bisa Kegan lakukan seenaknya
Dalam pernikahan ini, bukan hanya Kegan yang harus merelakan kisah cinta bersama orang yang laki-laki itu cintai. Dirinya juga sama. Kanin juga harus berpisah dengan Agam yang selama ini sudah menemani begitu lama dan perasaan mereka sudah tumbuh teramat dalam satu sama lain. Namun, tidak pernah sekali pun Kanin berpikir untuk membatalkan sesuatu yang sudah mereka sepakati sebelumnya.
“Nggak,” sergah Kanin tegas. “Kamu dan kita sama sekali nggak boleh batalin pernikahan ini. We have made a decide, kan, Kegan?”
“But I think that’s not good for both of us,” balas Kegan dengan tatapan mata yang masih tampak tenang.
“Memang nggak ada bagusnya buat kita,” ujar Kanin. “Tapi dalam hal ini, kita punya tanggung jawab buat menuhin keinginan Kakek kamu dan mendiang eyangku.”
“Sejak kapan wanita modern kayak kamu masih mikirin sejenis ini?” Kegan tersenyum sinis, melontarkan pertanyaan sarkas yang berhasil membuat Kanin berang.
“Sejak aku lahir di keluarga ini dan tahu bahwa eyangku adalah salah satu orang yang harus aku hormati,” jawab Kanin lugas. “Dan sepertinya kamu nggak mikirin gimana perasaan kakekmu dan semua keluarga kamu.”
“I thinking about them,” bantah Kegan, lalu menegakkan tubuhnya menghadap Kanin. “Saya mikirin gimana mereka tapi kepentingan dan perasaan saya lebih utama.”
“Pathetic,” potong Kanin sinis.
Kegan menatap tajam ke arah Kanin ketika mendengar ucapan wanita itu. berhadapan dengan Kanin memang selalu berhasil membuatnya emosi seperti sekarang dan hal itu benar-benar membuat Kegan harus selalu menahan kemarahannya.
Sementara Kanin, wanita itu masih tidak habis pikir dengan pemikiran Kegan yang menurutnya sangat tidak dewasa. Laki-laki itu kembali menunjukkan keburukan di depannya yang seketika membuat image Kegan semakin buruk di matanya.
“Sejak awal kamu yang terlalu terobsesi sama saya, Kanin. I have said that I don’t want to marry you but you still want me as well,” ujar Kegan dengan tatapan lekat ke arah Kanin.
“Kamu sudah setuju sama ini sebelumnya. Why did you changed your mind?” tanya Kanin berang.
“Setelah saya lihat Agam yang begitu memuja kamu dan Nade yang bakal selalu ganggu hidup kamu. Bukannya memang lebih baik kita kembali ke pasangan masing-masing?”
Kanin menahn kemarhan ketika mendengar ucapan Kegan. Tangannya terkepal dengan begitu erat dengan tatapan tajam mengarah sepenuhnya untuk Kegan. Laki-laki itu berhasil melukai harga dirinya hingga Kanin bahkan kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan Kegan.
Kegan membuatnya terlihat seolah dia yang memang terlalu menginginkan laki-laki itu. padahal sebenarnya, jika saja bukan karena hubungan dan kesepakatan masa lalu antara eyangnya yang sangat Kanin hormati, dia tidak akan pernah sekali pun setuju untuk menikah dengan laki-laki seperti Kegan.
“No. Pernikahan ini bakal tetap terjadi seberapa pun kamu pengen ini batal,” ujar Kanin lamat-lamat. “Bahkan kalau pernikahan ini juga bikin aku terjebak dan menderita, semuanya harus terjadi sebagaimana harusnya.”
--
Menurut Kegan, Kanin adalah wanita paling tidak masuk akal.
Di antara banyaknya pilihan yang masih bisa mereka lakukan, wanita itu tetap bersikeras untuk mempertahankan perjanjian masa lalu keluarga mereka yang menurut Kegan sudah sangat kuno. Kanin bahkan lebih memilih pernikahan tidak masuk akal ini daripada mempertahankan hubungannya dengan Agam yang secara langsung sudah bisa menjamin masa depan wanita itu.
Setelah perdebatan kecilnya dengan Kanin, laki-laki itu kembali ke rumahnya. tidak ada yang ingin Kegan lakukan saat ini karena suasana hatinya yang seketika memburuk sejak pertengkarannya dengan Kanin.
Laki-laki itu duduk di depan kamarnya dengan tatapan mata ke depan dan ekspresi wajah yang tidak bisa dibaca. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki yang lebih tua sekitar empat tahun darinya datang dan duduk di sebelah Kegan.
“Gimana persiapan pernikahan lo?” tanya laki-laki itu yang seketika membuat Kegan menoleh.
“Kapan pulang?” Alih-alih memberikan jawaban, Kegan melontarkan satu pertanyaan itu kepada laki-laki di sebelahnya.
“Tadi pagi,” jawab laki-laki itu pendek.
Leonard Sasmita Dikara duduk di sebelah adiknya dengan sebuah rokok terselip di antara jemarinya. Laki-laki dengan wajah sangar yang masih tampak berwibawa itu tampak sangat berbeda dengan penampilan Kegan yang selama ini cenderung rapi dan berkelas. Leon memperlihatkan sisi lain yang bisa dimiliki oleh keluarga Dikara selain penampilan sopan dan rapi yang biasanya tampil di depan banyak orang.
“Lo aja yang nikah sama Kanin,” cetus Kegan yang membuat Leon tertawa kecil.
“Mama nggak bolehin,” balas laki-laki itu santai. “Kalo aja boleh, udah gue nikahin dari lama. Gila, cuy! Wanita se-perfect Kanin nyari di mana lagi?”
Kegan mencibir ucapan kakaknya yang terdengar sangat terobsesi dengan kesempurnaan Kanin. Jika saja Leo tahu apa yang diperlihatkan oleh Kanin di depannya dan betapa buruknya wanita itu di depan Kegan, mungkin Leo akan menarik kata-katanya mengenai kesempurnaan Kanin.
“Itu perempuan gila bener,” ujar Kegan setengah menggeram.
Leo menoleh ke arah adiknya lalu memiringkan kepala. Tatapannya tampak bertanya-tanya ke arah Kegan melihat bagaimana kesalnya laki-laki itu ketika membahas Kanin yang selama ini dikenal Leo dengan sikap lemah lembut sekaligus reputasi baiknya di hadapan banyak orang.
“What is wrong?” tanya Leo.
“She is crazy!” pekik Kegan tidak tahan.
“Ya, she is perfectly crazy. Cantik, pintar, anggun, karir bagus, nama baik di semua kalangan, jago sosialisasi, punya pacar Agam Sangkara. Kurang gila apa lagi hidupnya?” Leo tertawa kecil ketika menyebutkan semua kebaikan yang dia tahu dari Kanin.
Sekali lagi, Kegan mencibir. “Dia bener-bener gila. Semua yang ditampilin di depan media sama sekali nggak sesuai sama kepribadiannya,” ujar laki-laki itu kemudian.
“Nggak sesuai gimana?”
“Dia keras kepala.”
“As she should. She is an independent woman, Ke. Do you expect she will be a good girl who doesn’t has that keras kepala?” Leo menekankan kata terakhirnya.
Kegan membual. “Dia ngambil keputusan sesukanya.”
“Dia punya pendirian kuat,” potong Leo.
Kegan menggeram lalu melayangkan tatapan protes ke arah kakaknya. Jika seperti ini, kenapa bukan Leo saja yang dijodohkan dengan Kanin? Kakaknya itu terlihat jauh lebih memahami Kanin daripada dirinya yang sudah terlanjur kesal dengan wanita itu.
“Kenapa bukan lo aja yang nikah sama dia?” ujar Kegan dengan tatapan mata tajam.
“Mama ngelarang,” balas Leo seraya mengedikkan bahu. “Andai aja Mama ngizinin, gue juga mau nikah sama dia.”
Ucapan Leo berhasil membuat Kegan menggelengkan kepala heran. Entah apa yang membuat semua orang di sekitarnya begitu memuja Kanin sebagai seorang wanita sempurna dengan gelar menantu idaman yang sangat melekat di dalam diri wanita itu. kanin bahkan jauh dari kata baik di mata Kegan yang sama sekali tidak bisa menoleransi sifat wanita itu terhadapnya.
“Terus lo sama Nade gimana? Dia pasti nggak terima,” tanya Leo.
“Menurut lo aja gimana,” jawab Kegan asal. “Ngamuk lah dia. Gue sampe tiga hari didiemin setelah bilang bakal nikah sama Kanin.”
“g****k,” umpat Leo cepat.
“Kanin yang g****k,” balas Kegan. “Gue udah nolak tapi dia keras kepala pengen tetep nikah,” lanjutnya setengah mendumel.
“Artinya Kanin masih punya sopan santun sama hubungan keluarga kita,” ujar Leo. Laki-laki itu kemudian menegakkan tubuhnya ke arah Kegan. “Lo mikir nggak kenapa Kanin rela lepasin Agam Cuma buat nikah sama laki yang nggak seberapa kayak lo?”
Kegan memincingkan mata mendengar ucapan kakaknya. Jika dibandingkan dengan Agam Sangkara, dirinya memang tidak seberapa. Tapi tetap saja ucapan itu membuat Kegan kesal karena merasa direndahkan dan sangat tidak pantas untuk bersanding bersama Kanin.
“Gue bingung kenapa dia keras kepala banget pengen nikah sama gue,” cetus Kegan tanpa memedulikan pertanyaan Leo beberapa saat lalu.
“Dih, GR. Dia nggak ngebet pengen nikah sama lo, kali. Kanin Cuma pengen nepatin perjanjian keluarga kita,” balas Leo.
“Kak lo percaya juga sama perjanjian yang dibikin bahkan pas gue belom lahir? Kuno banget, serius!” Kegan menatap tidak percaya ke arah kakaknya.
Leo hanya mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Kegan. Mungkin bagi Kegan, hal semacam ini hanyalah bualan semata. namun bagi seluruh anggota keluarga Dikara yang lain, menghormati keluarga Priyaningrum adalah suatu keharusan yang harus mereka terapkan.
Keluarga besar Kanin adalah penyelamat keluarga mereka. Dan nenek Kanin adalah pahlawan bagi hidup kakeknya.
“Lo nggak bakal ngerti,” ujar Leo kemudian.
Kegan sudah hendak berbicara, tapi Leo lebih dulu berdiri dari tempatnya. Laki-laki itu menepuk pundak Kegan singkat sebelum beranjak meninggalkan adiknya itu.
“Lo mau ke mana?” teriak Kegan.
“BALI!” Leo balas berteriak seraya melambaikan kepala tanpa menoleh ke arah Kegan.
Kegan sukses dibuat melongo dengan jawaban kakaknya. Tapi, tidak heran. Ini Leonard Sasmita yang bisa ke mana saja yang dia mau. Manusia nomaden yang bisa berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain dalam hitungan jam.
--