Sebagian orang bertanya kapan dirinya bisa berlibur. Tidak ada hari weekend karena banyaknya tugas atau pekerjaan yang menumpuk. Tetapi, banyak yang tidak disadari oleh orang bahwa hari libur bisa dirasakan kapan saja ketika kita menikmatinya atau lebih tepatnya hari untuk bersantai.
Memikirkan sesuatu yang terkadang membuat isi kepala penat memang membutuhkan sesuatu yang menyegarkan, entah itu beralih ke hal-hal yang disukai melalui film, musik, atau travelling.
Sedikit berbeda dengan cowok yang masih berkutat dengan soal dan beberapa rumus-rumus gila di depannya. Tumpukan buku dan beberapa bungkus obat sakit kepala juga tampak berserakan di meja belajarnya. Padahal, sudah beberapa kali suara teriakan menyuruhnya untuk istirahat terlebih dahulu.
Ia memandang tas hitam yang ada di pinggir ranjangnya. Di depan rak-rak yang juga berisi beberapa tumpukan buku tebal. Tanpa menunggu waktu lagi ia beranjak dan menyambar tasnya. Mata hitamnya fokus mencari lembaran soal yang kemarin ia kerjakan.
“Shitt!” Umpatnya.
Dari arah luar suara gedoran pintu membuatnya menghela nafas pasrah. Kalau sudah mendapat hal itu mau tidak mau ia harus segera cuci muka, gosok gigi, lalu sarapan berasa keluarga besarnya di bawah sana. “Tunggu.”
“Awas lo kalau nggak turun-turun!” Hardik sepupunya yang kesal karena dari tadi disuruh membangunkan abangnya itu.
“Iya!” Putusnya kemudian.
Ia membenahi tumpukan buku yang sejak tadi malam masih terbuka lebar menampilkan coretan-coretan berawarna hitam yang memenuhi setiap lembarnya. Sampah-sampah yang tadi bersarang dan berserakan di sekitar mejanya ia sapu bersih dan dimasukan ke dalam tempat sampah di ujung ruangan. Setelah lumayan rapih, ia mengambil handuk dan lekas mencuci wajah serta melakukan aktivitas pagi seperti biasa.
“Dateng juga tuh zombie satu. Capek nunggu lo!” Marah sepupunya yang sejak tadi sudah memasang wajah masam.
Dengan santai ia berjalan dan menarik satu kursi di depan sepupunya. “Bawel!”
“Wow, reaksi macam apa itu.”
“Udahlah sayang, abang kamu capek mau ada olimpiade lagi. Iya kan Bang?” Tanya wanita cantik yang tersenyum menenangkan.
Ia mengangguk sebagai jawaban.
“Bang, kalau belajar tuh ingat waktu. Mama tahu kamu belajar keras supaya bisa nyusul papa kan?” Tanya wanita itu lagi.
“Nggak, Ma. Cuma seneng aja.”
“Nanti kamu terlalu ambisius loh kalau dibiarin terus.”
Sepupunya ikut menyahut, “seratus buat, Tante.”
Archer hanya mengangguk tidak perduli.
Di sela-sela serapan, sepupunya itu mengeluarkan kalimat yang sama sekali tidak ingin Archer dengar. “Bang, jalan yuk. Temenin gue, nggak enak banget hari libur di rumah terus.” Pinta Bara, sepupunya.
“Ogah, gue banyak kerjaan,” jawabnya malas. Laki-laki yang terpaut tiga tahun di bawahnya itu lalu mendengkus sebal.
“Sekali aja deh, habis itu gue janji gak ganggu lo lagi.” Kata Bara membujuk penuh harap.
“Nggak.” Wajah songong yang ditampilkan Archer membuat Bara ingin melempar piring saat itu juga.
“Abang nggak tahu diri!” Teriaknya kemudian.
Wanita yang ada di depan mereka menggeleng sekaligus memijit pelipisnya. Tampaknya kehadiran anak dari kakaknya itu akan membuat rumah semakin minim ketenangan. “Bara, sayang jangan teriak-teriak. Nanti kucing tante kabur.”
Bara menoleh cepat, ia menatap horor ke arah Nadin yang juga masih menatap anak itu. “Tante kok nggak bilang pelihara kucing?”
“Biar apa?” Tanyanya kemudian.
Bara mengernyit heran, “apanya?” Tanyanya balik.
“Biar apa tante bilang ke kamu kalau punya kucing?”
Laki-laki itu tampak semakin kesal. “Tante!” Rengeknya seperti anak kecil. “Tahu ah!”
Wanita yang berusia empat puluhan itu tergelak. Sudah lama tidak mengerjai seseorang membuatnya sebahagia ini, pikirnya. Ia lalu membereskan piring-pirig kotor yang tadi digunakan.
Sementara itu, Bara yang masih kesal memilih untuk ke kolam renang. Matahari pagi yang bersinar kali ini membuatnya menarik ujung bibirnya. Lumayan juga untuk merefreshkan pikiran. Ia lalu membuka baju dan segera menceburkan diri. Rasa segar langsung menyambutnya kala tubuhnya bersentuhan dengan air.
Ia menengok, tidak ada siapapun. Baguslah, Tidak akan ada yang menganggunya saat ini.
…
Kamar yang berada di ujung dengan pintu bercat coklat tertutup rapat. Di dalamnya, laki-laki yang selepas sarapan tadi langsung berkutat dengan lembaran soal itu menghela nafas panjang. Kepalanya mendadak pening.
Tidak ingin berlama-lama dengan sakitnya itu, ia segera beralih ke ranjang dan membaringkan tubuhnya. Kepalanya ia pijit-pijit sembari matanya fokus menatap ke arah langit-langit kamarnya.
Satu bunyi notifikasi mengalihkan perhatiannya. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di nakasnya. Obrolan grup yang membuatnya ingin menyumpah serapah menjadi satu hal yang pertama kali ia lihat.
Dari arah seberang, satu orang manusia memulai obrolan. “Gue nggak ada kerjaan.”
“Sama gue juga,” sambung yang lain.
“Gimana kalau kita berkunjung ke rumah sodara-sodara?”
“Ide bagus, bagaimana pendapatnya tuan Archer yang terhormat?” Tanya seseorang dari mereka.
“Pastilah dia setuju, cabut yuk.”
“Jemput ya.”
Hanya membutuhkan beberapa menit sejak obrolan tadi. Archer yang berniat istirahat digagalkan begitu saja ketika segerombolan anak manusia sudah menggedor pintu kamarnya keras. Tiga orang temannya sudah berteriak meminta dibukakan pintu.
“Lama banget sih lo!” Ujar seseorang dari mereka.
“Gue tahu, pasti lo habis ritual kan?”
Dua orang yang mendengar itu melotot. Pandangan mereka beralih ke arah cowok yang tengah menatap mereka dengan tatapan heran. “Apa?”
“Jujur aja bro, kita tahu kok sesama cowok.”
Archer bergidik, heran dengan pikiran mereka bertiga. “Otak lo tuh perlu dicuci darah!”
“Lo ada olimpiade lagi?” Tanya Alkana, satu di antara tiga orang yang masih lumayan waras.
Acher mengangguk. “Jatah belajar gue hangus gara-gara kehadiran lo semua.”
“Weitsss … santai dong. Justru kita ke sini mau semangatin lo, ya nggak guys!”
“Betul tuh,” sambung Raksa yang masih berdiri sembari menikmati minuman yogury yang tadi ia bawa.
Percakapan mereka berempat terhenti ketika satu orang wanita mengantarkan minuman dan beberapa camilan. Nadin tersenyum hangat kepada teman-teman putranya.
“Tante baik banget sih,” ujar Adhitya sambil tersenyum manis.
“Tante emang baik dari dulu.” Telak Nadin seraya mengangkat kedua alisnya. Ia lalu beralih ke arah mereka berempat, “jangan lupa nanti dibersihin.” Pesannya kemudian.
Tiga orang yang merasa menjadi tamu itu mengangguk cepat. Selepas kepergian Nadin mereka tergelak, “gila mama lo nggak berubah sama sekali. Percaya dirinya nambah terus. Bangga gue,” curhat Raksa sembari menggelengkan kepalanya.
“Gue juga bangga!” Sambung Adhit yang ikut menggelengkan kepalanya.
Ketika tengah asyik dengan kegiatan-kegiatan tidak berfaedah seperti hanya tiduran atau makan-makan, gerombolan itu dibuat terkejut dengan kehadiran Bara yang tiba-tiba datang. “Hallo, abang-abang ganteng!” Sapanya dengan suara yang lumayan keras.
Alkana yang sedang menikmati sajiannya menghelus d**a sambil terus mengumpat. Di sebelahnya Raksa dan Adhit tengah tarik nafas untuk menstabilkan detak jantungnya. “Anak setan! Hampir aja gue mati serangan jantung!” Omel Alka.
“Ya ampun, Bang. Hari gini masa serangan jantung. Kurang nerapin pola hidup sehat tuh pasti, kayak gue dong pagi-pagi udah renang. Namanya pola hidup berkualitas.” Ujarnya menyombongkan diri.
“Gue wakil lo aja deh, capek badan udah pada remuk gini,” balas Raksa asal. “Atau lo mau pijitin gue? Lumayan nanti ada uang jajan.”
“Sialan!”
“Heh! Mulut lo berbisa banget.” Ingat Alka yang menatap anak itu tidak suka.
“Pada bisa diem kayak Bang Archer nggak sih, kuping gue gatel.”
“Wah … kurang ajar nih anak!”
Berdebat dengan satu-satunya sepupu kurang ajar seperti Bara memang butuh kesabaran ekstra. Tidak mau kalah dan tidak mau mengalah menjadi satu kombinasi pertempuran yang luar biasa.
Satu jam beradu mulut, akhirnya teman-teman Archer memilih diam. Mereka lalu beralih ke layar monitor besar di hadapannya. Bara yang juga ikut memainkan stik ps milik Archer bergumam, “Bang, jalan-jalan yuk. Capek pikiran gue nih,” rengeknya kemudian.
Archer menatap sinis dan segera menyumpal telingannya dengan earphone putih. Ia lalu kembali memencer stik ps yang dipegangnya. Di depan sana, ada Raksa, Adhit, dan Alka yang kewalahan dengan permainan itu.
“Bang, gue bosen.” Rengek laki-laki itu lagi.
“Lo berisik banget, nggak lihat nyawa gue tinggal satu!” Kata Alka yang masih fokus menatap layar.
Satu tembakan terakhir dan akhirnya nyawa Alka habis. Dia menatao lesu ke arah Archer, “lo kok menang terus? Pakai ilmu nyogok ya?”
Di sebelahnya Raksa menjitak kepalanya keras. “Lo kalau bukan temen gue udah gue cemplungin ke sumur belakang rumah nenek gue. Bodohnya tuh meresap sampai ke dalam.”
“Sadar diri bro, lo sama dia begoan lo!” Mendapat dukungan dari Adhit Alkana menjulurkan lidahnya.
“Mampus!”
“b**o kok teriak b**o!” Ucapan pedas yang keluar dari mulut Bara membuat darah Raksa mendidih. Laki-laki itu lalu menghampirinya dan siap melayangkan gelitikan mautnya.
Tidak sampai lima menit, kamar Archer berubah menjadi ajang baku hantam oleh keempat orang itu. Si pemilik kamar yang bosan dengan tingkah mereka pun memilih keluar dan bersantai di balkonnya. Menikmati sinar matahari pagi sepertinya lebih menarik daripada melihat tingkah gila mereka semua.