Pagi yang cerah dengan sejuta pesona milik Arthea membuat hari-hari sebagian remaja laki-laki menjadi lebih indah. Kenampakan bidadarinya yang begitu memesona membuat mereka seketika lupa kalau di depannya itu wajah tanpa ekspresi datang menyapa.
Sama seperti kebanyakan cewek idola yang setiap hari mendapat perlakuan khusus, Arthea mengacuhkan beberapa bungkus cokelat dan bunga yang ada di lacinya. Ia menggeser semua barang itu ke salah satu kantung keresek yang ia bawa. Bahkan, sekarang tidak hanya Hari Senin, hari berikutnya pun tetap ada yang memberinya barang-barang itu. Padahal ia sudah berada di sekolah sepagi mungkin untuk memperingatkan orang-orang yang selalu memberinya barang tidak berguna.
“Buat gue aja dong Thea, lumayan tuh cokelat daripada lo buang,” kata teman sekelasnya.
Wajah Arthea berubah agak cerah, “baguslah, nih.” Ia meletakkan sekantung penuh keresek hitam yang berisi cokelat dan beberapa bungkus oleh-oleh lainnya.
“Lo dapat juga nggak Gri?” Tanya Kirana yang duduk di belakang gadis itu.
“Jangan ditanya dong, punya dia pasti lebih dari punya Arthea.” Sahut Agni, komplotan yang menjadi anak buah Grizelle.
Grizelle tidak menanggapi serius ke arah mereka berdua, ia justru tengah fokus melirik ke arah Arthea. Pandangannya jatuh ke arah satu kantung yang dibawa teman sekelasnya. Ia menarik bibir tipis, “ini punya aku. Sekalian kalau kamu mau,” ujarnya seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Thea, makan yuk di kantin.” Ajaknya kemudian.
Arthea mencibir, “nggak usah lo sama mereka aja.” Ia lantas membawa tasnya untuk pergi menemui guru pembimbingnya.
“Songong banget sih tuh anak. Lo juga Gri, digituin diem aja,” omel Kirana yang tidak terima sahabatnya mendapat perlakuan yang tidak baik.
“Sogongnya gue, lebih baik daripada songongnya lo!” Balas Arthea yang kepalanya muncul kembali di depan pintu.
Kompak satu isi kelas menertawakan tingkah Kirana. Gadis itu menghentakkan sepatunya dan mengenggam erat tangannya. “Awas ya lo!”
“Gri, lo kok diem aja sih. Temen lo tuh!”
Grizelle tersenyum, “kamu mending diem dulu.”
…
Arthea melangkahkan kakinya menuju ruangan yang akan menjadi tempatnya latihan minggu-minggu ini. Aktivitas yang padat menuntutnya untuk terus siaga. Sebenarnya, harus dirinya akui kalau ia sangat malas berhadapan dengan guru dan satu orang yang membuatnya hampir terjungkal kemarin. Parahnya bukan teman sekelasnya yang menjadi timnya melainkan dia, laki-laki itu. Setelah pengumuman tim olimpiade sepulang sekolah kemarin, ia dan laki-laki itu harus mau menjadi partner.
Sampai di sana, ia belum melihat tanda-tanda kehadiran mereka berdua. Arthea memutuskan untuk ke kantin membeli minuman untuknya nanti.
Baru saja ia ingin berniat pergi, ia hampir jatuh terjerembab karena kepalanya menabrak seseorang. Ia mendongak sembari memasang wajah galak. “Lo punya mata nggak sih!” Hardiknya.
“Lo yang harusnya minggir!” Tatapan tajam yang berasal dari satu orang laki-laki itu membuat Arthea semakin naik pitam.
“Harusnya lo minta maaf dong! Udah salah duluan juga!” Omelnya.
Archer yang baru datang segera meletakkan tasnya di bangku. Ia mengacuhkan satu orang gadis yang masih berdiri di tempat. Masa bodoh, dirinya lebih membutuhkan tidur sekarang.
Arthea memicingkan matanya melihat laki-laki itu justru meletakkan kepalanya di atas meja. Dengan santai terlelap tidur. Akhirnya, daripada memilih bertengkar yang tidak berguna ia pun langsung menuju kantin. Sepertinya s**u cokelat tampak enak, pikirnya.
Kantin yang terletak lumayan jauh dari tempatnya latihan membuat gadis itu mendesah malas. Ia harus melewati beberapa koridor dan sapaan-sapaan pagi dari teman-temannya. Telinganya bahkan sampai berdengung karena mendengar mereka menyapa. Bukan bermaksud karena ia sombong hanya saja ia malas menanggapinya. Bayangkan kalau ada seratus orang yang menyapanya pagi itu dan ia jawab semua. Mulutnya pasti berbusa.
Meja dan kursi yang ada di sana sudah terisi beberapa siswa yang memilih sarapan di sekolah. Arthea ke warung ujung, milik Mbak Santi, satu-satunya orang yang paling memahami dirinya. “Mbak s**u biasa dua.” Katanya sembari duduk di kursi.
“Tumben banget pagi-pagi ke sini, Non. Bunda nggak bawain bekal?” Tanya Mbak Santi dengan logat kemayunya.
“Nggak, Mbak. Bunda lagi sibuk urus bisnis.”
“Wah, kasihan banget. Nih susunya, jangan lupa mbak dapat titipan cokelat.”
Arthea bergidik, tidak cukup di kelas bahkan sekarang pegawai kantin di sana juga mendapat titipan. Oh tuhan, Arthea benar-benar ingin menghilang saat ini juga. “Buat mbak aja,” balasnya. “Arthea pamit, sibuk.”
Setelah membayar ia langsung kembali ke ruangan itu dan kembali bertemu dengan orang yang hampir membuatnya naik darah. Arthea membuka halaman-halaman buku yang sudah ia pelajari tadi malam, biar pun ia sangat malas, tapi hanya untuk menunjang ingatannya ia harus rela membuka buku.
“Lo udah dapat apa aja?” Suara yang tiba-tiba masuk ke gendang telinga Arthea tidak menjadikan gadis itu menjawab. Ia lebih suka diam daripada menanggapi omongan orang lain. “Lo punya mulut nggak?” Tanyanya sekali lagi. Namun, tetap saja tidak dijawab.
Archer mengusap wajahnya. Sesaat pintu ruangan itu terbuka, dan menampilkan satu orang guru yang sepertinya sudah berpengalaman mengajar anak-anak olimpiade. Dari tatapan dan raut wajahnya sudah menganggambarkan kalau dia begitu professional. “Pagi semua,” sapanya.
“Pagi, Bu.” Jawab kedua orang itu.
“Mulai hari ini kita sudah mulai menyusun dan mengatur strategi untuk olimpiade kalian. Ingat Archer kamu yang jadi ketua kelompoknya. Dan kamu Arthea, jadi harus aktif juga.”
Sebagai ungkapan rasa sopannya Arthea mengangguk diikuti Archer. Mulai hari ini pun keduannya akan jarang masuk ke kelas karena harus mengikuti beberapa perbekalan untuk ikut olimpiade. Sepertinya hari-hari tersulitnya akan segera Arthea temui.
“Bagus, ibu sudah bawa beberapa bendel soal latihan. Kalian bisa mengerjakan bersama atau sesuai kemampuan kalian dulu baru didiskusikan. Terserah. Nanti hasilnya, ibu mau kalian presentasi dan kasih bagaimana penjelasan soal-soal itu.”
Usai mengatakan itu, guru pembimbingya meninggalkan ruangan dan tinggallah mereka berdua yang dibalut keheningan. Arthea memilih mengerjakan soal yang baru ia terima. Matanya melirik ke arah laki-laki yang masih sibuk menata beberapa lembar soal. “Ngapain nglihatin gue?”
Arthea sontak terbatuk. Sial!
Gadis itu menarik nafas dan membuang rasa gengsinya. “Lo mau pilih yang mana?”
Archer mengernyit sebentar. Ia lalu menganggukkan kepalanya, “kerjain dulu baru diskusi.”
“Bagus deh, gue juga mikir gitu.”
Mereka berdua akhirnya tenggelam ke lembaran-lembaran soal yang ada di tangan masing-masing. Terhanyut dengan banyaknya cara yang harus mereka gunakan, mencoret banyak rumus dan memasukkan angka-angka menjadi aktivitas yang paling menyenangkan.
Selama satu jam mereka berdua hanya diam dan sibuk mengisi jawaban, Arthea lebih dulu angkat bicara, “udah belum?”
Archer meletakkan tangannya, berkali-kali ia menguap menahan kantuknya. “Udah. Sini,” suruhnya sembari menepuk kursi di sampingnya.
“Lo yang sini.”
“Ya udah kalau nggak mau gue tidur.”
Gadis itu menghela nafas sebal. Langkah kakinya ia hentakkan keras, “sialan. Nih!” Ia meletakkan lembaran soal itu ke atas meja. Dengan berat hati, ia menyeret kursi dan duduk di sebelah Archer.
“Jadi, cewek ngomongnya yang lembut!” Archer yang tersadar dengan ucapannya cepat-cepat mengkoreksi, “Tapi terserah lo, mulut-mulut lo juga.”
“Itu tahu!” Balas Arthea. “Cepet mulai dari mana?”
“Nih,” tunjuk laki-laki itu ke arah soal nomor lima. “Lo salah.” Obrolan mereka berlanjut sampai setengah jam ke depan. Jam-jam yang mereka habiskan pun terasa menyiksa.
…
Jam istirahat pertama membuat Archer dan Arthea sama-sama menghembuskan nafas lega. Berdebat dan menyalurkan pendapat masing-masing sudah cukup membuat kepala mereka sama-sama terasa ingin botak.
“Bro, kantin yuk,” Raksa datang menghampiri Archer yang baru saja keluar ruangan. Cowok itu salah satu orang yang paling tahu apa yang dibutuhkan sahabatnya. “Eh, ada dewi Yunani juga.”
Arthea mendesis, “Raksa Aleron yang terhormat, minggir lo!”
“Galak banget sih lo, Neng! Takut gue.” Ujar Raksa ciut ketika berhadapan dengan sosok cuek di sekolah.
“Suka-suka gue.” Sebelum meninggalkan mereka berdua, dua orang yang sudah mengamati mereka dari jauh terbahak. Tampak dua orang cowok sama-sama melayangkan senyum tanpa dosa.
“Mampus kan lo kena semprot cewek gue,” kata Adhit dengan kepercayaan tingkat tinggi. Di sebelahnya, Alkana menyenggol sikunya.
Arthea mendelik, “siapa lo?”
“Kenalin gue Adhitya Bhalendra, ketua basket sekolah ini. Salam kenal can—” Belum selesai Adhit menyelesaikan kata-katanya, kakinya sudah ditendang lebih dulu oleh gadis di depannya.
“Gue nggak butuh kata-kata gila lo!”
Laki-laki itu mengaduh kesakitan. Berkali-kali ia menyumpah serapah gadis itu. “Sialan!” Teriaknya kemudian. Bukannya menolong ketiga orang itu sama-sama tertawa. Adhit yang kesal pun hanya bisa mendengkus sebal.
“Ayo, ah cacing gue udah muntah-muntah kena maag.” Ajak Alkana.
“Cher, lo sama tuh cewek jadi olimpiade bareng?” Tanya Raksa yang berusaha menahan tawanya.
Acher mengangguk. “Nggak ada orang lain selain dia kan tadi?” Pertanyaan menohok dari laki-laki itu membuat Raksa kicep. Lebih baik diam daripada terkena lidah pedang milik Acher, setidaknya itu prinsipnya untuk saat ini.
•••••••••••
GAISS BACA YUKKK KOMEN JUGA JANGAN LUPA FOLLOW MY AKUN.
INI SALAH SATU CERITA YANG PENUH KEJUTAN HIHI