Kantin yang sudah terisi banyak murid itu tiba-tiba berisik ketika kedatangan Archer dan teman-temannya. Rupanya mereka meneriakkan nama yang sama. “Alka pacar gue!” Histeris seseorang yang duduk di tengah.
“Ganteng banget sih lo, Ka!” Satu cewek yang duduk di dekat pintu kantin membuat keempat orang itu menoleh.
“Eh, ada Kirana,” kata Adhit yang mengambil alih tempat Raksa agar lebih dekat dengan gadis itu.
“Kenapa lo?” Tanya Kirana malas. “Minggir sana, jodoh gue ketutup sama lo.”
Raksa menahan tawanya. Ia lalu berbisik, “udah ngalah aja, dia cintanya sama pak ketos bukan sama lo.”
Alkana Desmon, primadona laki-laki yang banyak digandrungi cewek di sekolahnya. Bukan hanya parasnya yang tampan, ia juga menjabat sebagai ketua Osis yang dicintai. Banyak dari anak-anak cewek yang mengidolakannya, bukan hanya dari teman seangkatan bahkan dari adik kelas dan kakak kelasnya. Alkana kerap dipanggil Alka oleh teman-temannya. Ia seorang laki-laki baik dan humoris. Prestasinya yang tidak kalah membanggakan pun menjadi momok yang pantas diperhitungkan, Ia sering kali mendapat penghargaan olimpiade matematika.
“Ka, lo kok diem aja sih?” Tanya Kirana yang sudah berdiri di depan laki-laki itu.
Alka mengusap wajahnya kasar, “lo ngapain sih?”
“Nungguin lo,” ujar gadis itu enteng.
Raksa yang sudah gatal ingin menyahut pun angkat bicara. “Kasihan banget sih lo dicuekin abang ganteng.”
Kirana melotot, “maksud lo apaan?”
Acher yang muak dengan perdebatan itu memilih ke tempat duduk yang biasa mereka duduki. Ia lalu memesan bakso langganannya. Usai memesan, ekor matanya tidak segaja menangkap satu orang tengah duduk di kursi pojok dekat jendela sendirian. Gadis itu juga terlihat tengah memperhatikannya.
“Cher! Sialan lo main tinggal aja.” Kata Raksa yang sadar cowok itu sudah tidak ada di belakangnya.
Alka dan Adhit sama-sama menoleh. “k*****t!” Umpat Alka.
“Neng cantik yang bikin sakit mata, gue pamit mau makan.” Kata Raksa kemudian. Mereka bertiga lalu menyusul Acher dan memesan pesanan yang sama.
“Alka, lo kok ninggalin gue sih?” Ujar gadis itu kesal.
“Merinding gue lama-lama jadi lo,” kata Raksa tiba-tiba. Laki-laki itu berkali-kali menggelengkan kepalanya. Takut dengan satu diantara kumpulan cewek penggemar ketos.
…
Baru beberapa hari persiapan olimpiade saja sudah membuat kepala Archer pening. Bukan, bukan karena dirinya muak dengan soal-soal itu melainkan malas saja harus bertemu dengan cewek sok cuek seperti Arthea. Entah takdir atau apapun itu yang mengharuskan dirinya bertemu dengan gadis seperti itu Acher tidak menyukainya. Dia memang gadis pintar dan irit bicara namun disaat dirinya harus berdiskusi bukan kah harusnya ia juga ikut memberikan solusi? Bukannya memberikan saran yang baik ia justru mengeluarkan ucapan konyolnya itu.
Acher menghela nafas panjang, lebih baik ia menenangkan pikirannya di rooftop. Mungkin tempat itu satu-satunya yang bisa ia gunakan untuk istirahat. Laki-laki itu menaiki tangga dengan langkah cepat. Ia hanya ingin segera tidur.
Rooftop yang terkenal sebagai tempat penyendiri atau tempat yang paling aman untuk bersembunyi menjadi salah satu pilihan Acher. Ia lebih nyaman di sana daripada di uks. Ia menuju ke arah pinggir dan segera merebahkan dirinya. Kakinya ikut ia angkat kemudian ditekuk, posisi kaki kanannya di atas kaki kiri dan tangannya menghalangi sinar matahari. Matanya perlahan menutup.
Ia berharap dan bermimpi sedang berada di tempar-tempat indah yang bisa membawa ketenangan. Membayangkan suasana alam dan secoret lembayung khas matahari tenggelam membuatnya begitu nyaman. Tak lama ia kemudian jatuh tertidur. Namun, suasana yang ia harapkan sirna begitu saja ketika nada dering ponselnya menganggu pendengarannya.
Acher bangun dengan perasaan dongkol. Baru saja ia ingin mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya, tapi ada saja yang mengganggunya. “Apa?” Tanyanya sewot.
Suara yang di seberang tampak kesal juga, “lo ke mana? Udah jadwal latihan lagi? Mau bolos?” Cecarnya.
“Oke.” Jawabnya singkat, Ia pun langsung turun menuju ruangan tempatnya latihan.
Sesampainya di sana, satu orang gadis sudah menatapnya tak suka. “Buruan selesain ini, habis itu Bu Dini mau ke sini. Lihat presentasi kita.”
Archer hanya mengendikkan bahu, ia pun bergabung dengan Arthea yang sudah siap dengan buku dan bolpoinnya.
Suara ketukan pintu, membuat keduanya sama-sama mendongak. Dapat mereka lihat satu guru dengan perawakan dan wajah penuh ketegasan tengah berjalan ke arah mereka. Di tangan kirinya, terdapat kumpulan kertas tebal yang mereka kira itu modul baru yang harus dipelajari.
“Udah selesai?”
Acher kembali ke tempat duduknya yang ada di seberang Arthea. Ia ikut membenahi meja yang sudah seperti kapal pecah. “Sudah, Bu,” jawab keduannya.
“Nggak perlu lama buat kalian sama-sama presentasi. Ibu akan duduk di sini, tunjuknya ke arah kursi paling ujung meja itu. Oke, bisa langsung mulai,” katanya.
Acher lalu menyalakan Lcd yang sudah terpasang di ruangan itu. Ia mengotak-atik laptop yang disediakan dan menunjukkan kumpulan soal yang akan mereka bahas. Mereka berdua lalu mulai dengan Bu Dini sebagai pengamatnya.
Masih banyak perdebatan yang kedua orang itu lakukan. Mungkin di antara sepuluh soal enam soal masih mereka debatkan. Bukan karena jawaban yang sudah benar, melainkan masing-masing metode atau cara yang mereka gunakan. Cara Arthea yang lebih praktis atau cara Archer yang mengacu pada metode yang diajarkan pembimbingnya meski sedikit lebih rumit.
Persiapan seperti ini yang diinginkan wanita yang duduk sembari meletakkan bolpoinnya di depan dagunya. Ia ingin muridnya bisa belajar bagaimana cara mengambil kesempatan di setiap waktu yang ia berikan, maksudnya bukan hanya terpaku pada buku atau cara-cara yang mereka pelajari melainkan cara baru untuk menyelesaikan masalahnya sehingga tidak mebutuhkan waktu lama. Ia bisa mengatur waktunya dengan sempurna.
Wanita itu tersenyum, lalu menghentakkan bolpoinnya ke atas meja. Bunyi itu membuat muridnya menoleh takut. “Dengarkan saya Arthea, semua cara yang kalian gunakan tidak ada yang salah. Kamu yang menemukan cara lebih simple atau Archer yang sangat terpaku pada metode buku. Sama-sama jawabannya benar.” Terangnya.
Arthea menautkan alisnya, pertanda ia sedikit mengganjal dengan arah pembicaraan itu. “Maksud ibu saya harus ikut cara rumit seperti dia?”
Bu Dini terkekeh, “dia yang kamu maksud itu temen seperjuangan kamu. Sebut namanya dong,” godanya.
Arthea memanyunkan bibirnya, “Acher maksudnya.”
“Bukan, seperti itu maksud ibu. Kalian harus sama-sama bisa menerima pendapat, kalau seperti tadi, waktu yang mereka berikan akan kurang. Terlebih waktu untuk mengerjakan persoal pasti sudah ada standarnya.”
Kini bukan hanya Arthea yang bingung namun juga Archer. “Jadi, ibu minta kamu Arthea ajari Archer untuk memahami metode yang kamu gunakan. Kalau bisa yang lebih praktis kenapa kamu memilih yang rumit. Itu hanya akan membuang waktu saja.”
Archer nampak keberatan dengan keputusan Bu Dini, “tapi, Bu kalau cara dia tiba-tiba nggak bisa digunakan sama saja. Kita juga butuh konsep dasarnya,” bela laki-laki itu.
“Itu gunannya saya menginginkan kalian diskusi. Beruntung ketahuan dari sekarang kalau kalian sama-sama keras nggak mau kalah. Jadi, ibu bisa tahu apa yang harus dilakukan. Jangan sampai potensi kalian yang lebih besar itu hanya disimpan sia-sia.”
Dua orang itu sama-sama berpandangan.
“Sudah, lanjutkan dulu. Kalian masih banyak kekurangan walau sebagian besar soal sudah terjawab. Ingat kerja kelompok itu juga utama. Kalau kalian sama-sama egois dan menang sendiri lebih baik berjuang individu. Ibu memilih kalian berdua bukan hanya belajar untuk menaikkan ego masing-masing melainkan bagaimana cara kalian menerima pendapat orang lain dan bekerja sama, seperti yang kalian tahu banyak murid lain yang mengeluh kalau orang pintar akan pelit bagi-bagi ilmu.
Karena apa? Karena mereka merasa kalau berbagi ilmu hanya akan membuat mereka rugi, mereka takut kalian yang akan lebih pintar. Jadi, saingannya makin banyak."
"Mungkin ada juga yang berpikiran kalau berbagi ilmu kepada kalian yang nilainya jauh di bawah rata-rata hanya membuang waktu karena kalian tidak cepat tanggap dan mungkin kalian bukan standar mereka untuk bisa mendapatkan ilmu-ilmu itu.”
Mereka berdua menganga mendengar penjelasan dari guru pembimbing. Bahkan sampai saat ini Arthea baru sadar apa yang ia lakukan mungkin bisa saja menyakiti hati murid lain karena ia sering tidak suka kalau ada yang bertanya. Sebenarnya bukan karena ia pelit ilmu melainkan ia hanya malas bicara. Toh, mereka juga yang memaksa dirinya memberikan buku tugasnya. Jadi, apa dia salah?
Acher bungkam. Inilah satu-satunya orang yang perlu ia jadikan panutan. Tegas dan penuh kejutan. “Ayo lanjut dulu.” katanya kemudian.
Acher dan Arthea mengangguk. Mereka lalu menjelaskan sesuai apa yang tadi diinstruksikan untuk saling menerima pendapat. Satu di antara mereka berpikir, mungkin setelah ini dirinya harus belajar memiliki pikiran terbuka. Tidak hanya terpatok pada buku.
••••••
Sudah mulai update untuk cerita ini. Jadi, buat kalian jangan lupa ikutin ya.
Jangan lupa follow dan tap love nya hihi
thanks :)