Arthea tersenyum kecil ketika mengingat perkataan Bu Dini. Katanya ‘kalau bisa cara yang praktis mengapa harus yang rumit’. Sebenarnya bukan itu saja yang membuatnya kini mulai melebarkan senyum, melainkan wajah Archer yang tampak kesal. Akhirnya, hanya dalam beberapa hari ia berhasil membuat laki-laki itu sadar kalau tidak semua hal bisa terpatok hanya pada satu acuan.
Referensi memang diperlukan untuk konsep dasar. Masalahnya, di dalam soal-soal olimpiade ada berbagai macam tipe soal yang ketika hanya menggunakan dan mengacu pada satu referensi maka akan sangat terbatas dan tidak bisa berkembang. Perlunya berbagai sumber atau cara lain yang lebih efektif lebih diutamakan dalam menjawab soal seperti itu. Demikian juga dengan waktu yang diperlukan untuk menjawab setiap soal, kebanyakan buku-buku yang biasa digunakan para siswa terlalu banyak memakan waktu karena metode yang diguankan benar-benar detail. Jadi, memiliki trik alternatif atau cara baru yang efektif menjadi solusi terbaik.
Arthea sadar tidak semua orang memahami atau bahkan mengetahui setiap cara-cara baru yang dirinya temukan. Bahkan, di presentasi tadi Bu Dini juga sempat menanyakan detail angka yang dirinya masukan karena dianggap tidak masuk akal. Entahlah Arthea juga tidak tahu mengapa gurunya itu sempat berpikir demikian. Yang jelas, ia hanya menginginkan ajang ini cepat selesai.
Gadis itu tersentak ketika mendengar suara jeritan dari arah belakang sekolah. Ia pun lantas berlari ke arah sana. Sebenarnya jarak dari koridor kelas sebelas IPA yang dilewatinya untuk sampai ke parkiran memang lumayan dekat. Ia harus melewati koridor kelas dua belas IPA yang terletak di gedung yang berbeda dengan gedung kelasnya. Meski begitu, Arthea lebih memilih jalan memutar yang bahkan lebih jauh yaitu melewati koridor kelas sebelas IPS yang selalu tampak sepi karena dekat dengan gudang : tempat untuk meletakkan meja dan kursi yang sudah tidak terpakai. Lalu melewati gedung laboratorium bahasa, koridor kelas sepuluh IPS, dan taman kecil yang berada di samping perpustakaan.
Sebagian orang mungkin menganggapnya aneh, namun tidak dengannya. Suasana sepi dan tenang yang selalu dirinya buru membuatnya merasa nyaman. Seperti jam pulang sekolah sekarang. Tetapi, kali ini berbeda karena suara keras seseorag. Arthea berlari semakin cepat dan hampir mendekati tempat yang dituju. Ketika, ia ingin menyembur mengeluarkan semua kekesalannya. Ia diam terpaku ketika melihat satu orang gadis yang berpenampilan sedikit berantakan tengah menangis keras. Di sampingnya gerombolan anak-anak cewek tertawa keras. Setidaknya ada tujuh orang yang berdiri di antara gadis itu.
Arthea mendesis, sebenarnya ia sangat malas terlibat dengan para gadis itu. Namun tetap saja, langkah kakinya membawanya untuk mendekati kumpulan orang itu. Tatapan tajam dan hawa dingin yang dirinya bawa membuat satu di antara mereka tersadar akan kedatangannya dan membuatnya menyenggol orang yang mungkin bisa dianggap ketua.
Bibir berwarna pink dengan sedikit setuhan make up itu mengucap nama, “Arthea,” dengan nada gemetar.
Mendengar satu nama yang disebut, para gadis itu kompak menoleh dan membelalakkan mata. Mereka terkejut karena kedatangan murid yang dianggap paling tidak perduli dengan keadaan sekitar. “Eh … Arthea, tumben nyamperin kita.” Kata seseorang yang membawa handphone dengan casing berwarna pink. Di baliknya ada gambar monyet yang tengah tersenyum.
Arthea menyungingkan senyum. “Kalau bukan gara-gara dia,” tunjuknya ke arah gadis yang terdiam dengan air mata yang masih menetes. “Mana mungkin gue lari ke sini.”
Mendengar penuturan Arthea, ke tujuh orang itu dibuat semakin terkejut. Satu di antara mereka terkekeh, “tumben banget sih lo sampai lari.”
Arthea menatap gadis itu tajam, “lo masalahnya. Pulang sana, sebelum gue tendang lo dari sekolah ini.
Name tag bertuliskan Diva Argareta mendengus kesal, “jahat banget sih lo Thea,” jawabnya. “Ayo girl kita cabut,” tambahnya dengan nada centil.
Selepas itu, Arthea hanya menampakan wajah datar menatap miris ke arah gadis itu. Tangannya terulur sedikit, “bangun,” katanya dingin.
Dia mengangkat kepalanya sedikit, masih dengan wajah sembab karena tangisannya tadi. “Terima kasih,” ujarnya.
Suasana sore itu semakin sepi ketika mereka berdua sama-sama diam. “Gue pulang, lo bersihin baju lo dulu. Gue pesenin taksi. Nggak usah bayar.”
Nama Dara Rengganis sudah tidak begitu asing di telinga dan mata Arthea. Begitu juga bagi murid SMA Garuda. Seorang gadis dengan penampilan layaknya anak cupu dengan baju seragam yang bagian lengan menutupi sampai ke siku, dan membuat lekukan tubuhnya tidak begitu terlihat. Mungkin dia memang menyukai seragam kedodoran seperti itu. Rambutnya yang dibelah dua kemudian dipilin dan diikat membetuk kepang gaya klasik sudah terlihat acak-acakan. Begitu pula kacamata bundar dengan lensa tebal dan frame yang berwarna hitam membuat wajah gadis itu terlihat semakin bulat karena bentuk wajahnya yang juga bulat.
Dara, gadis itu mecoba berdiri setelah kepergian Arthea. Ia mengusap jejak air matanya pelan. Senyumnya mulai mengembang. Sejauh dan selama ia menjadi murid sekolah itu, hanya dia orang yang mau menolongnya. Arthea Carlotte. Orang yang disisi lain menjadi gadis yang tak perduli dengan keadaan sekitar namun disisi lain memiliki sisi baik yang tidak semua orang tahu. Mungkin ini adalah kedua kali gadis itu membantunya. Dara sangat ingin berkenalan dengannya. Satu kali, ia pernah membututi gadis itu, namun hanya dalam beberapa menit ia langsung ketahuan dan semenjak itu juga Dara lebih memilih mengamatinya dari jauh.
Mungkin keinginan berkenalan dengan putri donatur terbesar hanyalah mimpi dan akan selalu begitu. Orang kecil seperti dirinya hanyalah bumbu bagi kehidupan orang seperti dia. Menyesal telah dilahirkan sebagai putri orang miskin mungkin pernah sekali-kali dirasakan Dara. Ia sebetulnya menginginkan kehidupan orang kaya seperti anak-anak lain. Pakaian dan seragam modis, mobil yang siap mengantarnya tanpa membuatnya kepanasan atau kehujanan, tapi apalah daya hanya sepeda butut yang ia punya. Satu hal yang tak pernah gadis itu sadari bahwa apa yang ia idam-idamkan ternyata hanya titipan dan ketika sang pemilik mengambilnya, manusia hanya bisa merasakan sakit yang teramat parah. Kehidupan akan selalu berubah, begitu pula mereka yang merong-rong kekuasaan dan kekayaan.
Ia mengambil tasnya di bangku yang terletak di sebelah pagar. Tenaganya sudah lemas, ia berjalan tertatih menuju sepeda butut yang terletak di pojok parkiran. Ketika ia mendorong sepedanya, pandangannya jatuh kepada tiga orang gadis yang juga tengah mengamati seseorang. Tangan kirinya membenarkan kacamata, di ujung parkiran mobil ada seseorang yang baru saja menolongnya. Dara mengernyit, ‘aneh.’
Semakin ia mendekati tiga orang gadis itu, ia tahu bahwa satu di antara gadis-gadis itu adalah sang primadona. Putri kesayangan sekolah dan kaum adam. Dara menyayangkan sikap murid lain yang membenci Arthea Carlotte. Mereka bahkan tidak tahu sebaik apa gadis itu di dalamnya. Dibandingkan sang primadona ia sangat-sangat lebih memilih seorang Arthea. Bukan karena ia putri donatur melainkan sosok pembatu orang tertindas. Mungkin itu julukan yang paling tepat. Walaupun yang ia tahu hanya dirinya yang pernah ditolongnya. Mungkin.
Ternyata suara bisik-bisik di antara mereka bertiga tidak bisa ia dengar baik. Mereka sangat pandai merahasiakan sesuatu. Dara berpikir itu hanya sekelompok orang yang iri dengan kehidupan orang lain. Ia berjalan sembari mendorong sepedanya dan wajah tertunduk. Sampai di depan mereka, suara menyakitkan harus ia dengar kembali. “Yang diselamatin sama tuh cewek ternyata kelasnya hampir sama ya, pantes sama-sama murahan. Beruntung banget lo hari ini. Untung si Diva gak bikin lo babak belur."
Agni terkekeh, “lo seneng diperhatiin sama putrinya donatur sekolah ini?”
Kirana menyahut, “ya senenglah, kan dia emang butuh perhatian.”
Dua gadis yang mengatakan kata-kata pedas itu tidak membuat Dara terpancing untuk memberanikan diri membalas pekataan mereka. Ia justru diam sampai akhirnya suara primadona sekolah bertanya kepadanya, “kamu mau pulang?” Tanyanya dengan senyuman manis.
Dara hanya diam tidak membalas. “Tuh, ditanya malah jadi bisu.”
Tiba-tiba suara klakson mobil dari arah belakang membuat keempat gadis itu terkejut, “lo bertiga minggir,” ujarnya dingin.
“Sialan ya lo!” Kirana yang sudah mulai terpancing emosi mengumpat keras.
“Thea, aku boleh bareng kamu nggak?” Tanya Grizelle, sang primadona.
Arthea memutar bola matanya, kalau saja ayahnya tidak menyuruhnya untuk membawa pulang gadis itu ia pasti sudah di jalan sekarang. Perdebatan kecil yang membuat mood-nya turun benar-benar mengesalkan.
“Naik.”
Grizelle tersenyum manis, “terima kasih Arthea sayang.” Ia pun segera membuka pintu mobil dan duduk disebelah Arthea.
“Aku duluan ya, kalian bisa pulang kan?” Tanya Grizelle ke arah dua orang temannya.
“Bisa, lagian gue juga males semobil sama anaknya kunti.” Kirana menanggapi.
“Lo hati-hati, siapa tahu dia punya rencana buruk,” pesan Agni.
Grizelle terkekeh, “iya.”
Arthea masih menunjukkan wajah datarnya, tetapi kemudian menoleh. “Lagi pula gue juga nggak sudi nyediain kursi buat lo berdua.” Ucapan itu membuat Agni dan Kirana sama-sama mengumpat.
“Awas ya lo!”
Tidak mengacuhkan ucapan dua gadis itu, Arthea memilih mengarahkan kepalanya ke samping kanan. Dara, gadis itu masih berdiri dengan kepala tertunduk, mungkin mendengarkan interaksinya tadi dengan tiga orang itu. “Taksi lo udah di depan, cepet,” katanya dan langsung melajukan mobil meninggalkan tiga orang dengan suasana hati yang berbeda-beda.
..........
Tahan bab-bab awal masih santai-santai
Oh iya, jangan lupa tap love dan follow semua
thanks:)