Di lain tempat, gedung serba guna tempat olahraga yang biasa dipakai Archer dan teman-temannya terlihat sepi. Mungkin karena sudah pukul sepuluh lebih dua belas malam.
Keempat orang itu duduk di tengah lapangan dengan keringat yang bercucuran. “Gila capek banget gue, lama nggak maraton jadi lemes gini,” keluh Adhit yang masih sibuk mengipasi wajah dengan selembar kertas ulangan Bahasa Indonesianya.
Raksa yang berada di samping Archer menanggapi, “halah lemah banget sih lo!” ejeknya.
“Bukannya lemah tapi gue lemes banget.” Tubuh laki-laki itu memang terasa begitu pegal karena sudah beberapa lama tidak berolahraga. Biar pun ia senang berlari ketika menggiring bola, namun hal itu sudah tidak dirasakannya selama satu bulan penuh karena tim futsalnya sedang ada masalah. Bukan masalah antar anggota, namun karena belum ada event. Jadi, teman-temannya pun malas untuk latihan.
Tim futsal SMA Garuda memiliki prestasi yang cukup membanggakan di kalangan sekolah lain. Kerja sama antar anggota yang baik membuat mereka berhasil mengalahkan beberapa saingan berat. Mungkin ada tiga saingan yang menurut mereka sulit untuk ditaklukan. Kualitas dan keterampilan yang mumpuni membuat mereka dikenal dengan saingan macan Garuda. Setidaknya sampai saat ini sekolahnya-lah yang menduduki peringkat pertama.
Adanya event yang diselenggarakan setiap tahun untuk mengadu skill dan kualitas tim futsal antarsekolah menjadi ajang yang ditunggu para pemain maupun penonton. Persiapan matang dan kemampuan yang baik akan menjadi tolak ukur siapa pemenangnya. Tidak kalah juga para suporter yang menggiring para jagoan dengan meriuhkan lapangan dan meneriakkan almamater masing-masing. Mereka bersatu dalam kebersamaan dan semangat juang untuk mengunggulkan nama sekolah. Beradu kekompakan dengan sekolah lain yang akhirnya menjadi persaingan sengit.
Tim futsal SMA Garuda yang memiliki total anggota empat belas orang itu berhasil menyabet kejuaraan tiga tahun berturut-turut. Maka tidak heran ada sekolah lain yang begitu berambisi dan menginginkan untuk menghabisi tim futsal mereka. Bahkan, ada kalanya permainan itu berisi taktik khusus dan tidak fair. Yang tidak mereka tahu, berbagai cara bodoh seperti itu hanya akan membuat dan menunjukkan ketidakberdayaan sekolah tersebut.
Sebetulnya kompetisi adalah mengadu skill. Penggunaan teknik dan cara bermain yang bagus adalah hal yang harus mereka pertimbangkan dibalik jadwal latihan yang mereka lakukan. Seperti keempat belas pemain sekolah itu, mereka rela mengorbakan waktu bersantai demi latihan matang. Persiapan yang memadahi memungkinkan mereka menjadi pemenang. Berbeda dengan hari itu, kali ini event itu sudah terlaksana, tepatnya satu bulan yang lalu. Jadi, untuk memulihkan tenaga, mereka memilih istirahat sejenak.
Menurut ketua tim futsal yang bernama lengkap Adhitya Bhalendra, pengambilan waktu istirahat harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Karena tidak menutup kemungkinan beberapa minggu kemudian event lain akan diadakan. Para anggota mengangguk setuju, biar pun waktu istirahat tidak begitu lama mereka masih bisa bersantai dan bermain-main.
Laki-laki yang baru saja kembali setelah mengambil air minum segera merebahkan tubunya di lantai dingin ruangan itu. “Gue berasa lagi simulasi mau koid.” Keluhnya sembari menutup mata. Berlari hampir sepuluh putaran membuat nafasnya tersengal. Ia pun kembali bersuara, “kalau gue koid sekarang kasihan lo semua sih.”
Adhitnya terkekeh paksa, ia berusaha menormalkan detak jantungnya. “Sialan, kalau lo mau koid gue tinggal melayat apa susahnya.”
Alkana ikut menyambung, “kalau lo berdua koid, gue juga yang seneng.”
Raksa mengumpat, “sialan lo!”
“Lemah banget lo semua.” Ucapan meremehkan itu keluar dari mulut seorang laki-laki yang santai sembari menenggak air minum di tangannya.
“Mentang-mentang lo nggak capek aja!” Kata Adhitya menyindir.
“Cher, gue sebagai temen yang baik hati cuma mau bilang, lo mending diem daripada gue sakit hati denger kata-kata maut lo,” peringat Raksa.
Alkana tergelak, “halah baperan lo semua. Gue yang tiap hari kena kata-kata mautnya biasa aja tuh.”
“Kan lo kunyang nggak punya hati.”
Archer yang tadi diam entah mengapa jadi ikut terlibat pembicaraan aneh itu, “riset dari mana tuh?”
“Gue pernah lihat sendiri.” Celetukan itu membuat tiga orang kompak bangun dan menatap horror ke arah Raksa yang masih tiduran. “Gue nggak bohong.”
Mendadak ruangan besar yang berisi empat orang itu terasa begitu dingin, entah karena sugesti mereka soal hantu gedung atau memang di sana ada peghuni lain, yang tentu saja tidak menampakkan diri. Bulu roma di mereka pun langsung berdiri. “L-lo indigo bro?” Pertanyaan Adhitya dengan nada cemas membuat Raksa bangun. Ia lalu menatap ketiga orang itu dan mengernyitkan alisnya.
“Lo takut?”
Adhitya dan Alkana refleks mengangguk, “sama gue juga. Untung gue lihatnya di mimpi.”
“Sialan lo!” Teriak mereka berdua yang langsung menimpuk laki-laki itu.
“Lo berdua juga b**o, ngapain ucapan si curut dipercaya,” timpal Archer.
“Lo juga takut b**o, gue lihat.”
“Si babang mah pura-pura berani aja, biar kelihatan keren ya nggak, Bang?” Tanya Alka yang sudah berhenti menimpuk sahabatnya.
Archer terdiam. Bukannya takut, ia hanya sedikit tidak nyaman karena hal berbau mistis atau horror selalu berhasil membuat bulu romanya merinding. “Biasa aja.”
Raksa yang sejak tadi memperhatikan laki-laki itu menarik senyum tipis, “Cher, yang gue tahu di gedung ini dulu sempet ada kecelakaan. Katanya sih dulu ada bullying dan menewaskan satu orang gadis. Mungkin karena nggak terima jasadnya di tinggal gitu aja sama pembullynya, dia jadi gentayangan.”
Sekarang, ketiga orang itu benar-benar menatap Raksa dengan tatapan serius. “Lo nggak usah ngarang, sejauh kita latihan di sini lo nggak pernah bilang cerita itu.”
Gedung latihan itu merupakan salah satu tempat kosong yang sudah tidak terpakai selama beberapa bulan. Raksa, laki-laki itu yang menemukan dan menyarankan mereka berlatih di sana. Mungkin karena tempatnya yang tenang dan tidak banyak orang datang ketika sore hari membuat mereka leluasa latihan. Jika dibandingkan pagi atau siang hari, tempat itu memang sedikit berbeda. Suasana yang sedikit ramai membuat tempat itu seakan tidak memiliki cerita dibaliknya.
Alasan yang paling masuk akal kalau tempat itu sepi karena jauh dari jangkauan masyarakat luas. Letaknya yang agak jauh dari perkotaan membuat orang-orang memilih tempat lain yang lebih dekat untuk dijadikan tempat olahraga. Mungkin sebagian dari mereka yang memilih ke sana karena ingin menikmati ketenangan atau suntuk dengan aktivitas sehari-hari.
Raksa mengambil air minumnya, “Lo tahu nggak kenapa tempat ini dulu pernah kosong?” Pertanyaan itu hanya ditanggapi gelengan mereka bertiga. “Katanya di sini sempet ada kebakaran juga dan merusak sisi kiri gedung. Sekarang udah di perbaiki.”
Makin aneh pembicaraan mereka membuat Adhitya mengoceh, “gue mau pulang, lagian udah malam juga.”
“Lo takut?” Tanya Raksa
“Nggak. Gue enek aja denger kisah khayalan lo itu.”
Raksa mendengus, “awas aja lo diintiling tuh cewek.”
“Sial!”
Mereka pun akhirnya membereskan perlengkapan dan segera meninggalkan ruangan itu.
Di luar gedung, ada satu warung yang masih buka. Karena terlalu sering ke sana mereka pun akrab dengan pemiliknya. “Mang, pulang dulu ya,” kata Alka dengan senyum lebar.
“Pak Joko yang jaga gedung ke mana? Kita udah selesai nih.”
“Dia lagi ke kamar mandi mungkin.” Jawab Mang Udin.
“Ya udah kita duluan ya, Mang.”
Mang Udin mengangguk, “nggak ngopi dulu?”
“Nggak dulu Mang besok sekolah.”
“Ohh… ya sudah, hati-hati di jalan,” pesannya.
“Siap.”
Pukul setengah sebelas malam mereka meninggalkan gedung dengan perasaan yang sedikit aneh. Mungkin karena cerita Raksa yang menyebalkan dan tubuh mereka yang sudah lelah. Jadi, sepanjang jalan itu pula mereka memilih diam.
….
Arthea menutup pintu ketika Grizelle dan Widhi baru saja meninggalkan rumah kediaman keluarganya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa depan televisi. “Lama banget sih, Yah tadi sama Om Widhi. Bahas apa?”
Seno yang baru saja mengambil kopi dari dapur ikut duduk di sana. “Pekerjaan sayang, lagi pula kenapa kamu tiba-tiba tanya ini?”
“Nggak papa, cuma tanya aja. Oh iya, bunda mana?”
Baru saja dirinya ditanyakan, perempuan itu bersuara, “kenapa nyaraiin bunda? Kangen?” Perempuan itu mengulas senyumnya.
“Kok bunda tahu sih. Sini dong, Bun. Thea mau peluk.”
Ayunda terkekeh, “kamu kenapa jadi manja?”
“Bukan manja bunda sayang, masa mau peluk aja manja.”
“Ya ya.” Setelah ia mendaratkan bokongnya di sofa samping Arthea. Anak gadisnya itu segera memeluk dirinya. Rasa hangat dan nyaman membuatnya ikut membalas pelukan itu.
Seno melirik dengan tatapan iri, “kok cuma bunda sih yang dipeluk. Ayah kamu nggak?”
“Nggak dulu.”
Dua orang perempuan itu sama-sama tertawa. “Sudah, kamu tidur besok sekolah, inget jangan begadang. Kalau sampai ada kantung mata hitam lagi di bawah mata kamu, bunda sita laptopnya.”
Arthea cengengesan, “kalau Arthea khilaf gimana?”
“Kamu itu ya dibilangin,” kata Ayunda gemas. “Sana tidur.”
Arthea menekuk tangannya dengan sudut empat puluh lima derajat, posisi jarinya tepat menempel di samping kanan alisnya seperti sikap hormat. “Siap Bun.”
“Bye, Yah. Bun.” Gadis itu mencium pipi ayah dan bundanya sebelum beranjak ke kamar.
“Mimpi indah sayang,” kata Seno.
“Thea berdoanya juga gitu.”
Ia pun melangkah menuju ruangan yang berada di lantai dua. Kamar yang bercat putih dengan pintu berwarna senada menjadi tujuannya. Arthea mengambil handphonenya di nakas. Tidak seperti anak-anak lain yang ikut meramaikan obrolan grup kelas, gadis itu memilih menengoknya sebentar. Jika ada informasi penting maka ia akan merespon dan jika tidak tangannya memilih tombol kembali. Isi handphonennya tidak sesunyi hidupnya ketika di sekolah, ada puluhan pesan yang masuk namun tetap ia biarkan begitu saja. Ia bahkan terlalu malas untuk menghitung ada berapa banyak pesan itu. Yang Arthea tidak habis pikir adalah dari mana mereka mendapatkan nomornya. Rasanya ia tidak pernah memberikan nomornya kepada siapapun. Bahkan kontak yang ia simpan hanya milik ayah, bunda, dan beberapa orang terdekatnya. Selain itu nihil. Sepertinya gadis itu lupa kalau grup kelas yang ada dirinya juga memasukkan nomor teleponnya.
Arthea meletakkan kembali handphonennya ke nakas, ia melupakan pesan Ayunda untuk tidak begadang. Baginya terlalu lemah untuk tidur sebelum jam dua belas malam. Ia pun mengambil laptop dan menjelajah ke beberapa blog yang menampilkan beberapa ulasan tentang olimpiade fisika, tepatnya lebih ke pengalaman dan cerita orang yang pernah mengikuti event-event tersebut. Baginya mempelajari pengalaman orang seperti ini membuatnya tahu apa saja yang menjadi poin ketika ia bersaing dengan para lawannya.
Bukan kali pertama ia mengikuti olimpiade, Arthea juga menjadi penyumbang piala di sekolahnya. Biar pun ia juga tidak disukai beberapa guru karena terlalu menonjolkan sikap dingin yang terkesan arogan, ia tetap memberikan yang terbaik untuk kreadibilitas sekolahnya.
Usai menjelajah puluhan blog, ia membuka folder khusus film yang ia simpan. Sepertinya lumayan juga untuk menghilangkan penat, pikirnya.
Koleksi film yang berisi biografi atau dokumenter menjadi pilihannya. Ia tahu kalau sebagian remaja sepertinya pasti membenci hal-hal seperti itu, namun tidak baginya. Mempelajari kisah hidup seseorang melalui film terkadang memunculkan motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan diri. Apalagi, jika di dalamnya terdapat ambisi, Arthea percaya kalau dirinya juga ikut tersugesti.
Kisah romantis dari genre film romance sepertinya tetap menjadi favorit bagi remaja seumurannya. Meski begitu, ia justru berpikir terlalu membosankan. Apalagi, kisah remaja yang dibalut adegan romantis benar-benar membuat Arthea sakit kepala. Sebenarnya ada banyak tipe film romantis bagus, namun ia memilih untuk tidak menguliknya lebih dalam. Malas. Itulah satu alasan yang membuatnya tidak menyentuh genre film tersebut. Pada dasarnya, ia lebih menyukai kisah film romantis yang hanya dijadikan bumbu saja.