Pagi yang cerah seperti harapan satu orang gadis yang masih sibuk menyisir rambutnya itu terkabul. Ia selalu mengharapkan pagi dengan sinar mentari yang menyorot ke bagian jendela kamarnya. Seolah mendapat ketenangan dan semangatnya kembali, ia bergegas mengambil tas gendong yang sudah disiapkan sejak tadi malam. Ia tersenyum manis di depan cermin, arah pandangannya pun jatuh di bagian lingkaran hitam di bawah matanya. Seperti pagi sebelumnya, ia harus mendapat wejangan pagi dari sang ibunda.
“Halo dan selamat pagi para penghuni rumah,” sapa Arthea dengan semangat. Wajahnya terlihat berseri-seri, melupakan satu hal yang akan menjadi topik di meja makan.
Ayunda memperhatikan seksama ke arah putrinya, ia menggeleng. “Bunda udah bilang jangan begadang sayang.”
Seno menoleh, mendapati si putri hanya tersenyum canggung. “Sini duduk, habis itu dengerin bunda kamu seperti biasa.” Sahutnya dengan menaikturunkan alisnya.
Ayunda melotot membuat Arthea hamper meledakkan tawanya. Ia pun langsung bergabung di meja makan. “Arthea lagi usaha nggak begadang kok, Bun. Cuma tadi malem lagi proses.”
“Ucapan itu sudah kamu bilang sejak sepuluh hari yang lalu,” dengus Ayunda.
“Kan belum satu bulan.”
“Terserah kamu ah, bunda capek ingetin. Lain kali bunda sita laptop kamu aja langsung.”
Arthea menatap bundanya cepat. Tentu saja ia tidak akan rela. “Nggak deh, Thea janji nggak ngulangin lagi. Kan baru proses, yang namanya proses kan ada lama waktunya, Bun,” bujuknya.
“Bunda tahu.”
Seno yang berada di antara mereka hanya diam dan terus menyuap makanannya. Tidak ada yang berbeda dengan pagi sebelum-sebelumnya. Ia heran apakah mereka berdua tidak bosan mengucapkan kata-kata yang sama hampir setiap pagi. Mendengarnya saja sudah enek. Maka ia ikut menyahut, “ayah diem aja deh. Siapa tahu beruntung dapat pujaan hati baru.”
Seolah tidak mendapat respon maka ia menggunakan cara lain. “Halo, ada orang di sini,” ujarnya sekali lagi. Namun, tampaknya ia memang tidak digubris. Bunda dan anak sama saja.
Selama lima belas menit yang terhitung sejak Arthea duduk di kursi, Seno sama sekali tidak mendapat perhatian, sudah beberapa kali menyambung namun tetap dibiarkan. Sampai akhirnya ia memukul sendok ke piringnya beberapa kali. “Sudah. Kalian nggak mau berangkat?”
Sadar dengan waktu yang terbuang, Arthea dan Ayunda segera membereskan meja makan dan bersiap untuk berangkat ke tempat masing-masing. “Lain kali kalau kalian masih berantem, ayah yang pergi duluan nggak ada toleransi.” Peringatnya dengan nada serius.
Arthea menelan ludahnya kasar, “iya, Yah. Maaf.”
“Bunda juga minta maaf.”
Seno mengangguk, “ayo berangkat.”
Dua mobil yang sudah terpakir berurutan segera dilajukan pemiliknya. Arah yang berlawanan membuat satu orang gadis bebas menggunakan laju kecepatan yang ia mau.
Sekolah. Tempat berlajar dan menimba ilmu bagi murid-murid yang haus akan pengetahuan. Tempat yang berada sekitar lima belas kilometer dari rumahnya itu sudah berada di depan mata. Ia hanya membutuhkan waktu kurang lebih delapan belas menit. Dengan pelan ia membawa mobilnya memasuki gerbang yang sudah dijaga seseorang yang berseragam putih hitam.
Sudah banyak murid yang datang dengan berjalan kaki atau membawa kendaraan seperti dirinya. Lokasi parkiran mobil dan motor yang bersebelahan membuat Arthea tahu, dirinya menjadi salah satu murid yang datang diawal waktu. Ia juga heran, padahal masih pagi namun sudah banyak yang datang.
Usai memakirkan mobilnya, ia segera ke kelasnya. Pagi yang indah itu berubah menjadi suram ketika ia sudah berada di sekolah. Tidak ada wajah yang berseri melainkan wajah dingin dan datar. Tidak ada senyuman dan sapaan darinya.
Murid-murid lain sudah terlalu hafal dengan gadis pemilik mobil merah yang menjadi ikon setelah primadona sekolah. Baik pembenci maupun penggemarnya hanya bisa memperhatikannya dari jauh. Tidak berani mendekati dan menunjukkan keresahan mereka ketika melihat wajahnya.
Di tengah koridor kelas dua belas bukan jalan memutar. Tangannya dicekal seseorang, ia lantas membalikkan tubuhnya hendak melontarkan kata-kata pedas. Namun, gagal.
Wajah dingin itu masih tersemat jelas di hadapan iris hitam kecoklatan milik laki-laki dengan tinggi seratus tujuh puluh tujuh centimeter. “Langsung ke ruangan latihan. Kita ditunggu Bu Dini.”
Arthea hanya mengangguk kecil. “Oke.”
Lagi-lagi perihal olimpiade membuat kedua orang itu harus bertemu kembali. Melupakan pelajaran kelas sejenak namun dijejali tumpukan rumus dan cara-cara baru untuk taktik mereka. “Lo ke sana dulu, gue ke lapangan basket bentar.”
Arthea tetap mengangguk tanpa bertanya. Ia pun melenggang ke tempat tujuan.
Di balik itu, seorang Archer masih terpaku melihat kepergian gadis dingin dan cuek dihadapannya. Matanya tidak berkedip sampai di belokan yang membuat tubuh ramping itu menghilang. Tersadar dari lamunannya ia menggelengkan kepalanya. Aneh.
“Cher, katanya mau nemuin si curut dulu. Jadi nggak?” Tanya Alkana yang baru saja ingin ke kelas laki-laki itu.
“Ayo,” ajaknya.
“Lo nggak pamit ke Bu Dini?”
“Nggak usah. Bentar doang kok.”
Mereka berdua lalu berlari ke arah lapangan basket indoor. Di sana ada Raksa yang sedang berdiskusi dengan beberapa orang. Tampaknya mereka dari anggota tim basket sekolah.
“Sa!” Panggil Alkana.
Laki-laki itu menoleh, “Apaan?”
“Nanti pulang sekolah di suruh ke ruangan kepala sekolah.”
Raksa mengernyit, “kita?”
Alkana mengangguk pasti. “Kayaknya bakal ada sesuatu.”
“Sesuatu apaan? Kok gue kepo.”
“Mana gue tahu, nanti gue kabarin. Kalau gitu, kita cabut dulu, awas nanti lo kabur!” Peringkat Alkana. “Oh iya, ajak si Adhit juga.”
Raksa mendengus, “Iyee.”
Setelah menyampaikan berita itu, Archer langsung menuju ke ruangan latihan sedangkan Alkana kembali ke kelas.
Tidak ada yang tahu mengapa mereka dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Tadi, setelah mendapat kabar dari Ketua Osis yang menjabat sebagai sahabatnya sendiri, Archer segera berlari untuk memberi tahu beberapa ketua ekstrakurikuler begitu juga Alkana. Pagi itu, ia dibuat sibuk karena permintaan mendadak yang membuat nafasnya tersengal. Belum lagi perihal persiapan olimpiadenya. Memegang jabatan kepengurusan dan juga siswa olimpiade memang terbilang tidak mudah. Dia harus rela ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Wakil ketua Osis yang tidak begitu terlihat membuat sosok Archer tidak begitu disorot. Namun, ia justru bersyukur bahwa murid-murid lain tidak mengetahui fakta tentang dirinya. Mungkin ia hanya tersorot di kalangan murid penggila olimpiade yang dikenal masternya ilmu fisika karena kejuaraan yang berhasil ia raih. Jabatan yang dirinya dapatkan hanya sebagai pelengkap ketika sang ketua ada kepetingan mendadak. Jadi, wajar saja ia tidak banyak diketahui murid lain.
Jika dibandingkan dengan ketua Osis yang katanya menjadi primadona, ia kalah. Archer tidak semenarik Alkana yang kerap menyapa murid-murid lain. Dia bukan tipe orang yang bersikap ramah, dan murah senyum.
…
Ruangan yang sudah berisi tiga orang itu terbawa suasana serius ketika penyampaian satu diantara mereka selesai. Di meja besar itu berserakan tumpukan kertas, pensil, dan bolpoin. Sudah tidak terhitung coretan di kertas buram yang menjadi sarana memasukkan angka dalam rumus untuk mencari hasil akhir yang paling tepat. Enam kursi yang tadinya rapi sudah tergeser karena tempat duduk mereka yang berpindah-pindah.
Detikan jam di dinding putih itu terus melaju sampai dua setengah jam berlalu begitu cepat. Tidak tersadar mereka sudah melewati waktu selama itu.
“Sebentar lagi, waktunya jam istirahat. Kalian sejenak bisa merefesh otak dulu, saya beri tambahan waktu sepuluh menit,” kata Bu Dini dengan wajah sedikit lebih santai.
“Terima kasih, Bu,” balas keduanya.
Archer menyandarkan tubuhnya ke kursi, ia meregangkan otot-otot leher dan tangannya. Tanpa aba-aba ia menyeletuk, “lumayan juga cara lo gampang.”
Arthea menoleh, mendapati seulas tarikan tipis di bibir laki-laki berjambul kira-kira
tingginya lima sampai tujuh centimeter, Entah sadar atau tidak Arthea merespon sedikit lebih lembut, “gue emang pinter.”
Mulai tadi sesuai arahan Bu Dini, Arthea mengajari Archer cara-cara yang berhasil ia temukan. Mengulik berbagai sumber dan tipe soal yang menjadi pedoman mereka latihan. Sedikit susah karena beberapa kali laki-laki itu terus mengucapkan konsep dasar yang ada di dalam buku. Padahal, metode yang digunakan Arthea sudah masuk ke arah pengaplikasian.
Archer tidak heran ketika gadis itu berujar dengan nada sombong. Sepertinya lama-lama ia akan terbiasa dengan sikap aslinya. “Gue akui.”
Arthea tergelak, “segitu pinternya gue sampai lo ngalah?”
“Mungkin. Kalau lo aktif di olimpiade gelar master fisika tersemat di nama lo bukan gue.”
Gadis itu membalas, “sayangnya itu udah melekat di nama lo. Tuan Archer.” Tidak ingin melanjutkan perbincangannya yang hanya menghabiskan waktu istirahat, Arthea memilih ke kantin lebih dulu.
Tempat yang sudah tidak asing dengan jajaran makanan dan kios pemuas nafsu lapar sudah dikerubungi para siswa. Meja dan kursi yang ada di sana pun sudah hampir penuh. Arthea mendesah, dengan malas ia menghampiri warung mi ayam tempat langganannya.
Gadis itu mengarahkan padangannya ke penjuru kantin untuk menemukan satu kursi yang berada di pojokan. Ada satu meja yang dibiarkan kosong. Ia tahu tidak seharusnya berada di sana, namun siapa perduli. Lagi pula itu fasilitas sekolah.
Arthea membawa pesanannya ke meja itu. Ia menarik salah satu kursi yang akhirnya membuatnya menjadi sorotan. Tanpa mengacuhkan pandangan orang lain, dengan santai ia menikmati pesananya sampai datanglah empat orang siswa yang menjadi pembuat riuh kantin. Suara yang sangat ia benci karena terlalu berisik.
•••••••
HAI HAI
selamat membaca kalian, buat perhatian aja kisah ini bakal sedikit lama di awal. Muncul konfliknya agak panjang dari part-part sebelumnya. Jadi, sabar buat ke tahap konfliknya.
jangan bosen membaca karena akan ada kejutan yang mungkin nggak kalian duga.
seperti pesanku sebelumnya, jangan lupa follow, comment, dan tap lovenya.
thanks:)